Half Eye [Prolog]

Half Eye [Epilog]

Author: Fla

Beta reader: Lumina

Main Cast: Kim Kibum, Han Hyuna,  Lee Jinki

Rating: General

Genre: Romance

Length: Sequel

Half-Eye2

Disclaimer:

Semua yang ada di dalam cerita ini hanya fiktif belaka. Nama cast hanya dipinjam untuk kepentingan cerita semata.

Fla © 2013

Prolog

 

Malam memekat, melarutkan pria itu dalam mimpinya. Di sampingnya, seorang wanita hanya berdiri mematung dengan tangan menyilang di dada. Ia tidak berani merapatkan tubuhnya pada kasur empuk, lebih tepatnya, ia tidak mau membaringkan tubuhnya di samping pria yang sedang terlelap tadi.

Tanpa kata, tanpa isyarat mata yang menyiratkan emosi apapun, wanita itu meninggalkan ruangan yang menurutnya paling keramat di rumahnya. Bau khas pria itu, entah terpancar dari parfum ruangannya atau berasal dari tumpukan baju milik pria itu, wanita itu tidak suka, lebih tepatnya anti.

Lantas ia melangkahkan kakinya ke sebuah ruang khusus, tempat teristimewa di dunia, ruangan terbesar di dalam rumah itu. Ruang kerjanya. Didominasi dengan warna putih, tampak bersih di bawah sorot lampu neon yang berpendar. Hanya ada satu sisi dinding yang nampak berbeda, dicat hitam. Di sana, tertempel banyak sekali kertas-kertas sketsa gambar.

Berseberangan dengan dinding tadi, ada sebuah area yang dipenuhi oleh seperangkat komputer lengkap dengan penunjangnya. Di sebelah meja komputer itu, terdapat sebuah ranjang tempatnya merebahkan tubuh tatkala penat menguasainya di tengah kesibukan.

Bagian tengah ruangan itu dibiarkan kosong, hanya diisi dengan tangga yang menjadi penghubung dengan ruangan di atasnya. Galeri mimpi, demikianlah nama ruangan di lantai atas. Di sana, semua hasil karyanya diabadikan dalam bentuk miniatur. Semua yang pernah dirancangnya, mulai dari busana, tas hingga sepatu, semuanya sengaja dibuat dalam bentuk mini. Selain unik, dianggap efisien—tidak perlu banyak space untuk memajangnya.

Ini adalah area favoritnya, tempat yang sudah ia cita-citakan sejak kelas 3 SMP. Pemimpi, ya, julukan itu rasanya tepat untuknya. Sebelum tidur ia selalu merancang impiannya. Dan semua yang menjadi targetnya, akan ia kejar dan pertahankan dengan sekuat tenaga.

Malam itu, ia kembali meleburkan diri bersama mimpinya. Lewat goresan-goresan pensil lincah, terbentuklah sebuah karya yang lantas membuatnya tersenyum. Ada hal yang sulit ia lakukan, tetapi harus berhasil dirampungkannya. Sebuah gaun pengantin. Membuat sebuah desain gaun pengantin merupakan kepuasan tersendiri. Bukan karena ia suka, justru karena butuh perjuangan khusus untuk mendapatkan rancangan yang sesuai dengan permintaan pelanggan. Ada sebuah kenangan yang ia simpan rapat-rapat, tentang pernikahan yang selalu mampu membuatnya merasa menjadi makhluk tersadis yang pernah ada.

***

“Oh Darling, kau sungguhan ingin terus hidup seperti ini?” Pertanyaan yang paling ia benci, yang paling malas ia jawab karena jawabannya sudah jelas. Hyuna, yeoja itu hanya bisa menatap tajam si penanya.

Yes, Key. Bersamamu. Seperti ini terus. Kau keberatan?” Jawaban mati, tidak bisa ditawar lagi. Key hanya bisa mengunci mulutnya.

Key, pria super rapi itu kembali menyibukkan diri dengan nasi gorengnya. Aroma sedap sudah menguar dari kuali, dengan tangkas ia segera memindahkan hidangan sarapan pagi itu. Menyajikan dua piring, untuknya dan untuk Hyuna.

Suasana bisu masih menyelimuti, tak ada lagi yang bisa Key tanggapi. Semuanya memang telah ditakdirkan seperti itu. Beberapa hal, memang harus diterima bulat-bulat dengan hati lapang. Di antara banyak pilihan, ia sendiri yang telah memilih jalan ini. Takdir untuk menjadi pendamping hidup seorang Han Hyuna.

”Key, kemana temanmu yang tampan itu? Siapa namanya? Errr … Jonghyun?” Kalimat Hyuna memecah keheningan. Ia hanya berusaha mencari topik pembicaraan. Basa-basi.

Oh, dia … sedang sibuk konser solo keliling Asia. Biarlah ia mengejar obsesinya,” tanggap Key datar. Pria itu sengaja menjawab seminimalis mungkin. Bagaimanapun besarnya gejolak hati, ia harus tetap mempertahankan sikapnya.

“Kenapa hanya ‘oh’? Kalian sedang bertengkar?” Hyuna memutuskan untuk melanjutkan topik ini. Menarik baginya.

“Lalu? Harusnya kujawab apa?” Key menggedikkan bahu santai, menyendok sesuap nasi ke dalam mulutnya.

Wah, berarti benar, memang sedang terjadi sesuatu. Errrr, Key, di antara pasangan seperti kalian, memangnya sering terjadi pertengkaran juga ya?”

Key menelan ludah. Bingung harus menjawab seperti apa. Ia tidak ingin terlalu banyak berbohong lagi. “Kau tenang saja, Hyu. Kami ini seperti kakak beradik. Bertengkar, adu jotos, tapi akan akur lagi nantinya.”

Hyuna terkekeh. Memang seharusnya tidak ada yang perlu ia risaukan. Walaupun memang, ia berharap hubungan Key-Jonghyun akan selalu baik-baik saja. Dengan demikian, akan ada sebuah kekhawatiran yang bisa Hyuna lenyapkan dari ruang pikirannya.

Eum … Key. Aku akan ke Jepang untuk peluncuran koleksi busana musim gugur. Kau ingin ikut?”

“Tidak, terima kasih, Hyu. Aku tahu kau tidak suka aku ikut. Kau pasti tidak ingin terusik dengan pertanyaan teman-temanmu tentangku, kan?” Senyuman kecut terlukis di wajah Key.

Yes, benar. Kau memang selalu memahamiku. Gomawo.”

“Tidak. Hanya sedikit yang bisa kupahami darimu, Hyu. Seorang Han Hyuna masih misterius bagiku,” sela Key mantap. Pria itu lantas terkekeh, menertawakan kekonyolannya sendiri selama ini.

“Kau sama sekali tidak perlu memahamiku. Cukup seperti ini. Dengan caramu selama ini, telah membuatku merasa dipahami.”

 

Prolog End

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s