Blood [Prolog]

Blood

Author: Fla

Main Cast: Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Jinki

Rating: General

Genre: Sci fi, romance

Length: Sequel

blood-poster

Disclaimer:

Semua yang ada di dalam cerita ini hanya fiktif belaka, aku bukan ilmuwan yang mengerti seluk beluk dunia farmasi dan kedokteran, bukan juga mahasiswa yang bergelut di bidang itu, jadi mohon maaf apabila ada ketidaklogisan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Nama cast hanya dipinjam untuk kepentingan cerita semata.

Fla © 2013

Prolog

Namanya tengah bersinar, tahun ini menjadi tahun bersejarah bagi umat manusia. Berkat seseorang yang jenius yang dijuluki “King of Blood”. Puluhan nyawa terselamatkan berkat penemuannya. Sesuatu yang tadinya hanya mimpi belaka, ternyata bisa terealisasikan melalui sebuah terobosan besar.

***

Seoul, 7 February 2013.

“Tuan, ada sebuah undangan untuk Anda.” Pria paruh baya itu duduk di depan meja majikannya. Ah tidak, ia telah menganggap tuannya itu seperti anak kandungnya.

Ne, khamsahamnida. Ah, undangan dari siapa?” Tuannya menyahut, mengalihkan pandangan sejenak dari catatan jurnalnya.

“Dari FDA. Mereka ingin anda menjadi pembicara dalam simposium yang akan digelar bulan April nanti di New York. Ah, maaf aku lancang membukanya. Aku khawatir Anda mengabaikan undangan penting ini. Bukankah itu kebiasaan Anda? Aku tahu banyak email yang tidak kau bahas jika isinya serupa dengan surat undangan ini.”

“Tidak apa-apa, yang paman lakukan benar. Aku memang tidak tertarik untuk hadir.”

“Ahh, sudah kuduga. Anda tidak menyukai ketenaran, bukan begitu? Tapi Tuan, bukankah ada baiknya kau datang ke beberapa pertemuan ilmiah penting? Bukan dalam rangka mengincar publikasi atas temuanmu, tapi… siapa tahu akan banyak orang yang terinspirasi dengan apa yang kau peroleh. Bisa jadi akan banyak ilmuwan lain yang mengembangkan formulasi dari obat itu menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.” Pelayan setia itu melayangkan tatapan serius pada tuannya. Lewat mata tuanya, ia masih bisa menangkap dengan jelas bagaimana tuannya itu menyeringai, bisa jadi separuh mencibir.

“Paman, justru itu aku tidak ingin. Kalau orang tahu tentang rahasia ramuan obatku, akan banyak yang mengembangkan. Kau tahu apa yang kutakutkan? Ini tentang keserakahan manusia. Mereka bisa saja mengembangkan obat ini menjadi lebih canggih, dan aku yakin mereka akan menjualnya dengan harga selangit. Kalau begitu, sama saja bohong. Orang yang sedang butuh darurat, tetap akan sulit mendapatkan obat ini.”

“Ah ne, aku paham. Maafkan aku, Tuan. Baiklah, kalau Anda tetap tidak tertarik untuk memenuhi undangan itu, seperti biasa, aku yang akan membalas tawaran itu.” Tunduk, tak ada lagi keinginan untuk protes. Sedikit banyak pria tua itu sepaham dengan tuannya tentang tabi’at buruk manusia.

Ne, lakukan saja seperti biasanya, tolak tanpa ragu. Omong-omong, saat ini aku sedang fokus pada penelitianku. Kalau ini berhasil, maka ini akan sangat bermanfaat untuk orang banyak.” Kilatan penuh semangat menggelora, terpancar jelas dari manik mata ilmuwan itu, serta ada nada menggebu terselip di dalam suaranya. Dan semua itu didukung dengan senyum kepuasan yang beberapa detik kemudian terlihat jelas di wajah tampannya.

“Hmm, apapun yang kau teliti, aku yakin semuanya demi kebaikan manusia. Boleh tahu apa?”

“Sebentar lagi. Kalau sudah hampir rampung akan kuberitahu.” Kalimat pamungkas itu, khas sang majikannya. Pria tua itu hanya tersenyum untuk menanggapi. Ia jelas tahu bahwa rute pembicaraan seperti ini akan memiliki akhir yang sama. Seperti biasa, ia akhirnya membalas, “dengan senang hati aku akan mendengarkanmu nanti.”

***

Hanyang Women’s University, 12 Februari 2013.

Langit sudah gelap, tapi tidak lantas menyurutkan semangat para mahasiswi yang masih bertahan di kampus untuk merampungkan tugas laporannya. Ruang kelas itu memang sudah tidak begitu ramai, hanya beberapa kepala saja yang masih sibuk menatap serius layar laptopnya.

Di meja lain yang tidak dihuni, beberapa maket tergeletak apik di atas meja, tidak ingin ada gangguan luar yang menyebabkan benda itu rusak walau hanya sedikit. Tugas itu harus dikumpulkan besok. Sementara para perancang-perancangnya masih sibuk berkutat merampungkan laporan dan mempersiapkan slide presentasi sambil sesekali bergosip ria.

“Hyuna-ah, hari valentine nanti kau akan pergi ke mana bersama Jinki?” Di tengah keseriusan, seseorang kembali memecah keheningan.

Orang yang disodori pertanyaan mengerucutkan bibir sesaat, menggedikkan kepala pelan, dan mengeluarkan decakan pendek. “Ah, molla. Aku bahkan tidak yakin Jinki akan mengajakku keluar hari itu. Sekarang saja dia sama sekali tidak merespon pesanku. Manusia yang satu itu memang sebaiknya beristrikan penjaga laboratorium  saja.” Hyuna menggerutu kesal, sudah berulang kali ia melewatkan hari-hari spesial tanpa Jinki. Malam Natal, malam tahun baru, hari Valentine, bahkan hari ulang tahunnya sendiri. Jinki tidak pernah ada.

“Hyu, kau ini tolol atau memang cuek sih? Punya kekasih tapi seperti tidak punya. Kalau aku jadi kau, sudah pasti akan kuterima pernyataan cinta si pria jangkung teman SMA-mu itu, siapa namanya? Errr… Key?” Temannya yang lain menimpali.

“Ah, kau percaya kalau Key sungguhan menyukaiku? Kau baru mengenalnya beberapa waktu saja. Aku tiga tahun bersamanya, jelas-jelas aku tahu dia melakukan itu hanya karena kalah taruhan main game online. Siapa yang kalah harus menyatakan cinta pada seorang gadis. Jadi jangan pernah kau memercayai playboy kelas kakap yang satu itu, Soojin-ah” Hyuna terbahak keras-keras, menertawakan nasibnya yang hanya pernah ditembak dua pria. Key dan Yoochun.

“Ck, Hyu. Memang ya, orang golongan darah B itu cuek dan tidak peka. Coba kau pikir, kalau Key tidak serius, lalu buat apa dia mengatakan cinta berulang kali?” Soo Jin masih tidak ingin kalah, di dalam pengelihatannya sebagai saksi mata dalam aksi penembakan yang dilakukan Key, ia yakin bahwa Key tidak sedang main-main.

“Ya berarti dia kalah main game berulang kali,” balas Hyuna ringan. Ia tidak ingin ambil pusing masalah ini. Lagipula, ia juga tahu bahwa Key memiliki golongan darah yang sama dengannya, B. Kemungkinan besar, Key sengaja memilih dirinya karena sama-sama tahu tingkat kecuekan masing-masing. Yakin bahwa seorang Hyuna hanya akan menganggap ini sebagai tindakan main-main. Bahkan bisa jadi Key sama sekali sudah tidak ingat akan pernyataan cinta palsunya itu sekarang.

Omona, Hyu… kalau aku jadi kau, terima sajalah Key itu. Lumayan untuk menambah daftar mantan.” Yoora, temannya yang lain ikut masuk dalam pembicaraan itu.

“Mantan tampan pula. Ya ampun Hyu, bukankah keren, seorang Hyuna yang cuek bebek—jarang mandi kalau pergi ke kampus—berhasil menjadi yeojachingu seorang Key yang tampan?” Soo Jin menimpali lagi.

Gelak tawa pun memenuhi ruangan itu, membuat Hyuna hanya mampu memutar bola matanya karena geli mendengar pernyataan itu.

“Eummm, tapi kurasa bukan seperti itu bunyi gosipnya. Aku khawatir bunyinya akan seperti ini ‘Hyuna, gadis kumuh yang menjadi sasaran empuk si tampan Key. Dicampakkan setelah dua minggu berpacaran’. Malang sekali kau, Hyu,” komentar Ah Reum.

Tawa yang lebih keras membahana, menjadikan malam tidak lagi berjuluk sepi. Kali ini Hyuna ikut terbahak, menertawakan ironi tentang dirinya sendiri. Naas, tapi kali ini ia setuju dengan prediksi temannya yang terakhir itu. Tidak, tidak. Ia tidak akan sedikitpun dirinya dipermainkan dengan pria manapun lagi. Cukup Jinki yang mempermainkan hatinya dengan tingkat kecuekan namja itu yang telah mencapai level akut. Ah, bukan cuek sebenarnya, Hyuna tahu Jinki bukan tipe orang seperti itu. Sebagai kekasih yang baik, Hyuna berusaha memahami karakter Jinki. Pria itu memang begitu ketika sudah fokus dan punya obsesi. Lagipula Hyuna tahu, Jinki ingin segera meraih gelar masternya tahun ini. Lab mau tak mau harus menjadi tempatnya bermalam selain rumah.

***

Sudah dua hari Jinki tidak pulang ke rumah. Hari ini ia memutuskan untuk pulang karena persediaan bajunya sudah habis. Lagipula, eomma-nya sudah berulang kali menelepon. Minta diantar ke bank, ke salon, ke perkumpulan ibu-ibu sepermainannya, dan ke beberapa tempat lainnya. Jinki sadar betul bahwa eomma-nya itu tipikal orang yang mandiri, sebenarnya tidak butuh diantar. Wanita itu hanya ingin bersua dengan anak semata wayangnya, dan Jinki tidak ingin menjadi anak durhaka dengan berpura-pura tidak paham maksud eomma-nya itu.

 Dan betul saja, begitu Jinki menjejakkan kaki di rumah, wanita yang telah mengandung dan melahirkannya ke dunia dengan mempertaruhkan nyawa itu sudah menyambutnya dengan sehelai handuk. Sama sekali tidak minta diantar kemanapun.

“Mandi, Sayang. Belum menjadi profesor saja kau sudah urakan begini. Anak eomma harus rapi supaya terlihat ketampanannya,” ujar ibunya setelah menyodorkan handuk.

“Ne, Eomma. Sebelum mandi, aku mau memberikan pelukan hangat untukmu dulu.” Tanpa menunggu lama, Jinki sudah menggelayuti tubuh eomma-nya dari belakang, memeluk mesra wanita itu selayaknya memeluk seorang kekasih. “Hmmm, aku tahu ada seseorang yang merindukan pelukanku ini sampai-sampai beralasan menjadi wanita super sibuk yang butuh supir,” tambahnya lagi.

“Ya ya ya, siapa yang pura-pura? Aku serius, habis ini antar eomma ke supermarket, stok sayuran sudah menipis. Lagipula, jangan peluk aku saat kau belum mandi! Aku tahu kau tidak mandi selama dua hari kemarin. Bau badanmu mengacaukan tatanan bulu hidungku saja, aish!” Rupanya wanita itu gengsi mengakui perasaan kehilangannya. Walaupun ia sungguhan merindukan Jinki, tetap saja ia tidak ingin anaknya itu menganggapnya manja dengan selalu ingin ditemani.

Ne, siap. Akan kuantar eomma kemana saja. Dan perihal bau badanku ini, kau tahu tidak, inilah yang membuat Hyuna merindukanku. Aroma ini menjadi semacam candu baginya, aku tahu walau ia sama sekali tidak bilang.”

Aish, jelas saja dia ingin mencium bau ini. Sebab jika bau ini tidak ada, artinya seorang Lee Jinki tidak menemuinya. Aigooo, malangnya kekasihmu itu… Jinki-ya, malam valentine nanti ajaklah dia jalan dalam keadaan penampilanmu yang rapi, juga tidak bau.”

“Hmm, sudah kupertimbangkan sejak beberapa hari yang lalu, aku minta izin profesorku dulu. Tapi eomma, sekalipun aku tampil rapi dengan tuxedo misalnya, dia akan tetap menjadi Hyunaku yang cuek bebek. Tetap dengan kaos, jeans belel dan sepatu kets atau flat shoes-nya.” Jinki terkekeh, mengingat kekasihnya itu selalu membuat ia ingin tertawa, entah kenapa.

Aigoo, kalian ini sepasang kekasih yang lusuh. Kalau begitu kupastikan malam itu kalian sama-sama berpenampilan rapi. Bahkan kalau perlu akan kuculik Hyuna pagi-pagi untuk kudandani.”

Jinki tertawa kecil. Terkadang eomma-nya ini tidak tampak seperti wanita berusia lima puluh tahunan. Masih saja mempermasalahkan soal fashion. Terkadang juga bertingkah kekanakan dengan mencampuri hubungan asmara anaknya melalui cara yang konyol. Jinki tahu eomma-nya tidak main-main soal ‘penculikan’. Sebelumnya, ibunya  itu sudah pernah melakukan aksi bodoh serupa, menculik Hyuna yang sudah berhari-hari marah karena Jinki lupa hari ulang tahunnya. Wanita paruh baya itu tidak ingin anak kesayangannya kehilangan kekasih. Bagi wanita itu, memiliki seorang kekasih akan mampu membuat Jinki menjadi manusia normal yang masih memedulikan soal hati, tidak melulu bergulat dengan labirin otaknya.

“Terserah saja, pastikan saja Hyunaku tidak kau buat menor ala ahjumma genit. Buat dia menjadi putri muda yang cantik ya, Eomma.” Jinki mengecup pipi ibunya, lalu bergegas lari sebelum eomma-nya sempat melotot kaget.

***

Bola basket itu menggelinding begitu saja ke tepian lapangan. Tidak lagi berusaha diraih. Setelah puas menyalurkan emosi dengan berlarian di lapangan sembari men-dribble bola, Key membaringkan tubuhnya. Keringat membuat kulit putihnya menjadi mengkilat di bawah penerangan remang-remang arena indoor itu. Dari pinggir lapangan, Changmin mengamati gerak-gerik sahabatnya itu sambil menahan senyum. Ia tahu mengapa Key menjadi uring-uringan seperti ini. Jelas sahabatnya itu frustasi setengah mati, kehilangan kata-kata untuk membuat seorang Hyuna percaya.

“Salahmu sendiri Key dulu sering main-main. Sampai mulutmu berbusa pun Hyuna hanya akan menertawakanmu,” ledek Changmin sekali lagi. Pria itu lantas tergelak karena ucapannya sendiri.

“Diam kau! Jangan memberikan komentar tidak penting. Aku tidak pernah berniat mempermainkan wanita. Dulu aku memang sering menembak orang hanya karena kalah main game,” tanggap Key kesal.

“Hmm, bagaimana kalau kau operasi plastik saja, lalu muncul ke hadapan Hyuna dengan identitas baru. Rasanya hanya itu satu-satunya cara supaya Hyuna tidak lagi melihatmu sebagai playboy kelas dunia.” Candaan Changmin makin menjadi. Namja itu tampak puas benar dengan selorohannya, tertawa keras-keras sambil memegangi perut.

“Ya! Besok jangan mengaku sebagai sahabatku kalau kerjamu hanya bisa mengejek. Konyol, jelas-jelas kau tahu bahwa aku tidak ingin mengubah sesenti pun dari wajahku yang sudah tampan ini. Semua yang ada adalah anugerah Tuhan, termasuk double eyelid-ku yang sudah ada sejak kelahiranku.” Key membusungkan dadanya. Untuk urusan fisik, ia yakin betul bahwa dirinya adalah salah satu makhluk Tuhan tertampan di muka Bumi ini.

Aigooo, ternyata kau masih punya sisi baik juga, tidak kusangka.” Changmin berjalan mendekati Key, menyodorkan sebotol air mineral yang buru-buru diraih Key dan ditenggak isinya. “Omong-omong, kau tidak lupa kalau Hyuna sudah punya pacar, ‘kan?”

Ish, menurutku dia masih single. Buktinya setiap malam minggu dia tidak pernah terlihat kencan. Pacarnya itu semacam antara ada dan tiada. Lebih baik menjadi kekasihku saja. Tidak ada malam minggu sepi, kalau rindu tinggal jalan kaki melewati beberapa rumah, juga tidak perlu naik bus ke kampus karena aku akan setia mengantarnya.” Key merasa semakin terpancing, ia sama sekali tidak ingin dirinya terkalahkan dalam hal ini. Merasa yakin bahwa dirinya itu akan mampu menjadi kekasih yang baik untuk Hyuna.

Omo omo, aku tidak salah dengar? Sedalam itukah perasaanmu pada Hyuna sampai-sampai kau mau bersusah payah setiap hari mengantarnya? Lagipula Key, ada sesuatu yang tidak sempurna kau pahami. Menjalin asmara itu bagaikan berhubungan dengan hantu. Gaib. Bisa jadi dekat di mata dekat pula di hati, bahkan banyak pula yang jauh di mata dekat di hati. Mungkin Hyuna menganggap kekasihnya itu sebagai hantu yang tak tampak, namun dekat di hati.” Bak pujangga, Changmin melantunkan ungkapan bijak ala pecinta.

“Ckck, prinsipku beda. Cinta itu ibarat tanaman. Harus dirawat dan dipupuk. Kalau bertemu saja jarang, aku tidak yakin perasaan cinta itu akan tetap bertahan. Ketika namja-nya itu jarang datang, saat itu seharusnya hati Hyuna mengendur. Eh tapi sebenarnya, aku tidak yakin kalau yeoja cuek itu punya hati. Barangkali hatinya itu sudah lama digantikan dengan otak. Parahnya aku tidak yakin kalau otaknya itu masih berfungsi dengan benar.” Memang keahlian Key dalam urusan meledek, dan dengan mudahnya ia menertawakan lelucon yang seringkali terbesit di otaknya itu.

“Nah, aku juga sama seperti Hyuna. Tidak yakin kalau kau benar-benar menyukainya. Orang macam apa yang mengaku cinta tetapi di saat yang bersamaan justru mengejek orang yang dicintainya itu?”

“Ya! Shim Changmin! Besok jangan lagi berbicara denganku kalau kau masih tidak bisa percaya padaku!” Key menjambak rambut temannya itu keras-keras, rupanya candaan Changmin berhasil menaikkan tingkatan emosinya. Kalau saja dirinya seorang kanibal, sudah Key pastikan bahwa hanya tulang-belulang Changmin yang tersisa di ruangan ini.

***

Tikus-tikus putih itu memang tidak betah diam rupanya. Di dalam sangkar besinya, mereka berkeliaran ke sana kemari, menikmati waktu hidup mereka sebelum akhirnya harus bernasib sama seperti teman-teman yang lain. Kelinci percobaan, ya, nasib memang. Walaupun wujud mereka sama sekali tidak mirip dengan kelinci, tapi istilah itu bagaikan sabahat setiap yang melekat sepanjang sejarah kehidupan genus mereka nantinya.

Mus musculus yang satu itu harus pasrah ketika berbagai zat kimia disuntikkan ke tubuh mereka. Mata hitam polosnya hanya bergerak-gerak pelan begitu tangan seorang pria membuka sangkar mereka sedikit. Tak lama satu tikus berhasil ditangkap pria itu, ia mengangkat telapaknya hingga sejajar dengan mata.

“Hei, tikus mungil, maaf ya aku harus mengorbankanmu. Kalaupun kau harus mati nantinya, yakinlah bahwa kematianmu itu membawa banyak manfaat untuk hidup manusia.”

Tidak lama ia menyuntikkan sejenis cairan ke dalam tubuh tikus tadi, membelai pelan tubuhnya lembut dan tersenyum. “Done, kita lihat esok atau beberapa hari ke depan. Tuanku mungkin akan melalukan hal yang lebih sadis jika kau masih bertahan hidup.”

***

Brukkkk

 

“Ah, cheosohamnida. Maafkan aku, Tuan.” Gadis yang menabraknya itu buru-buru minta maaf. Jonghyun mengurungkan niatnya untuk marah begitu ia melihat raut kepanikan gadis tadi. Mimik wajahnya sangat lucu menurut Jonghyun, setidaknya gerak bibir gadis itu sudah tidak lagi beraturan, ditambah lagi dengan alisnya yang ikut-ikutan bergerak setiap kali yeoja itu terlihat seperti akan mengeluarkan kata lanjutan, membuat Jonghyun ingin terkikik. “Ah, aku buru-buru. Sekali lagi maafkan aku!”

Jonghyun belum sempat membalas permintaan maaf gadis itu, juga tidak sempat memperhatikan detail seperti apa wujud utuhnya. Yang Jonghyun tangkap hanya satu, gadis itu masih menggunakan sandal selop berbulu yang biasa dipakai orang kalau hanya ingin berkeliaran di dalam rumah. “Itu… kau baru bangun tidur?” Spontan begitu saja pertanyaan itu terlontar.

Gadis yang hampir melanjutkan aksi larinya itu mendadak membalikkan badan kembali. Ia mengangguk dengan polos dan wajahnya sudah jelas terkejut, mungkin heran dengan pertanyaan pria yang baru saja ditemuinya itu.

“Hyuna-ya!” Sebuah suara lantang mengusik telinga Jonghyun, suara berat ala ibu-ibu.

Gadis itu buru-buru lari, dan beberapa saat kemudian Jonghyun mengerti kenapa gadis itu tergesa-gesa. Ekor mata Jonghyun menangkap sosok ahjumma yang tergopoh-gopoh dan sedikit disibukkan dengan tas-tas belanjaannya yang sudah lebih dari tiga itu, terlebih hanya satu tangan yang dipakai untuk menjinjingnya. Tangan yang satunya lagi, memegang… errrr….

“Hyuna-ya! Percaya padaku, kau akan cantik dengan ini!” Ahjumma tadi berteriak-teriak dengan tangannya yang teracung. Sepasang sandal perak dengan heels sepuluh senti menggantung-gantung di udara meskipun pemegangnya masih berlari.

Andwaeeee… aku tidak ingin memakai itu, Omonim. Kakiku akan lecet-lecet dan aku akan keseleo! Kau tidak mau calon menantumu pincang hanya karena sepatu, ‘kan?”

Samar-samar Jonghyun menangkap bunyi teriakan gadis tadi yang sosoknya sudah menghilang di balik tikungan.

Sedikit-sedikit Jonghyun mengerti dengan suasana yang terjadi barusan. Semacam gadis tomboy yang bersikukuh tidak ingin dirombak menjadi gadis anggun. Pemandangan tadi membuat Jonghyun tersenyum, sungguh gadis yang lucu. “Aaa, namanya Hyuna,” gumamnya pelan.

Pria itu melanjutkan kegiatan berbelanjanya yang sempat tertunda, tidak ingin memikirkan lebih lanjut tentang kemunculan gadis bernama Hyuna tadi, karena memang bukan waktu yang tepat menurutnya.

Selama satu jam berkeliling, ia hanya berhasil mengantungi arloji yang sesuai seleranya. Masih ada jas, sepatu, tas, dan parfum yang masih harus didapatkannya sore ini juga. Besok-besok ia tak yakin apa dirinya masih bisa meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan main-main seperti ini.

Hal menarik menantinya, ia dan segenap cita-citanya.

Prolog End

 

Iklan

Satu komentar

  1. permulaan yang keren, romance-nya juga disisipkan dengan baik
    jarang-jarang aku menemukan sci-fi berbau medis, dan sejauh ini aku puas karena sesuai dengan fakta 🙂
    kutunggu lanjutannya 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s