Half Eye- Part 1

Author: Fla

Beta reader: Lumina

Main Cast: Kim Kibum, Han Hyuna,  Lee Jinki

Rating: PG-15

Genre: Romance

Length: Sequel

Half-Eye2

Disclaimer:

Semua yang ada di dalam cerita ini hanya fiktif belaka. Nama cast hanya dipinjam untuk kepentingan cerita semata.

Fla © 2013

Part 1: Black and White

 

Kilatan kamera bukan lagi hal asing baginya, bagai pelengkap hidup yang selama ini ia dambakan. Setelah ini, namanya mungkin akan muncul di beberapa majalah fashion terkemuka Jepang, lengkap dengan jepretan beberapa koleksi busana rancangannya—bersanding dengan busana-busana milik popular brand lainnya.

Bukan semata menginginkan publikasi, tetapi ada makna lain yang membuatnya merasakan kepuasan tak terbendung. Ini tentang sebuah pencapaian. Berpeluh keringat di masa lalu, beradu argumen dengan orang tua yang menentang keras kepergiannya ke Paris. Selanjutnya, tidak mudah untuk bertahan hidup di kota yang merupakan pusat fashion di seluruh dunia itu. Dahulu, pekerjaan sampingan apapun ia lahap. Uang beasiswa yang diterimanya tidaklah cukup untuk menutupi semua kebutuhan hidup.

Diiringi dua orang asistennya, satu make up artist dan dua bodyguard berbadan perkasa, ia melangkah ke luar convention centre megah tempatnya menghadiri pagelaran busana tadi. Beberapa wartawan masih saja memotret, ingin mengabadikan sosok desainer muda berbakat nan cantik itu. Hyuna tidak terlalu memedulikan semua itu. Ia hanya ingin kakinya segera mendarat di hotel tempatnya akan bermalam. Aktivitas seharian ini sungguh membuatnya lelah, ingin segera merebahkan tubuh.

“Hyuna-ssi, ada telepon,” ujar asistennya ketika mereka hampir sampai ke tempat parkir di basement hotel.

“Kemarikan ponselnya,” sahut Hyuna kilat. Ia sudah menyangka akan ada seseorang yang menghubunginya hari ini. Dan entah berapa besar rindu yang ia pendam untuk si penelepon itu, sudah tidak bisa didefinisikan lagi rasanya. “Hey Tiara, miss you so bad, Girl.” Nada bicaranya berubah 180 derajat, sarat dengan luapan kebahagiaan.

“Hyu, kau menginap di hotel mana? Aku ke tempatmu ya malam ini? Kau tidak keberatan kan kedatangan tamu tengah malam?” Suara di seberang sana menanggapi.

“Tentu tidak. Pintuku selalu terbuka untuk sahabatku. Dini hari pun tidak apa-apa.” Hyuna membalas ringan, diiringi dengan tawa kecil yang merupakan simbol kebahagiannya. Rasa lelah yang tadi menggerogoti, mendadak menguap entah ke sudut mana.

“Oke Hyu, see you. Kau ingin kubawakan masakan Jepang apa? Aaaah, tapi bagi orang sepertimu tentu sudah tidak asing lagi melahap makanan Jepang.”

Hihi, kau benar. Berulang kali aku kemari, hanya saja baru kali ini aku berhasil mendapatkan nomor kontakmu. Hmm, aku ingin masakan Indonesia saja, bagaimana? Aku rindu yang simpel saja, rendang bagaimana?”

Wohoho, kau salah. Membuat rendang tidak mudah. Baiklah … aku segera meluncur ke supermarket terdekat untuk membeli bahan-bahannya. By the way, kau keberatan kalau suamiku ikut ke tempatmu?” tukas Tiara.

“Jelas tidak, aku juga ingin mengobrol lebih banyak dengan suamimu itu. Bahkan, kalau kau mengajak putri mungilmu itu pun aku tidak keberatan.”

“Dia sudah tidur, Hyu. Aku tidak tega membangunkannya. Baiklah, kita sambung obrolannya di tempatmu nanti ya? Kalau terlalu malam bisa-bisa aku tidak jadi membuat rendang. Bye bye, Hyu.”

Pembicaraan berakhir dan senyuman pun mengembang lepas di bibir Hyuna.

Akhirnya, setelah empat tahun, ia akan bertemu sahabatnya semasa kuliah itu. Tiara, perempuan asal Indonesia yang akhirnya berhasil ditaklukkan oleh mahasiswa asli Jepang bernama Kimura dan memutuskan tinggal di negeri asal suaminya itu.

“Nona, kau sepertinya senang sekali hari ini. Pagelaran busanamu sukses besar, kulihat beberapa wartawan media fashion yang hadir tadi tampak terkagum-kagum dengan rancanganmu, terutama dengan kejeniusanmu memasukkan unsur sakura ke dalam rancangan mantel. Lalu, setelah ini kau akan bertemu dengan sabahatmu pula. Aigoo, aku iri denganmu.” Asistennya berkomentar setelah beberapa saat mengamati senyum Hyuna yang tidak kunjung pudar.

“Ah Reum-ah, kau sedang menggerutu, huh? Ya, ya, aku bisa mengerti karena kau sudah lama tidak bertemu kekasih backstreet-mu itu. Tohoshinki sedang sibuk tour keliling Asia, maklumi saja kalau Changmin tidak bisa menemuimu sekalipun sekarang kalian sama-sama berada di Jepang.”

Ne, ne. Ini memang sudah resikoku berpacaran dengan seorang bintang besar. Ingin bertemu saja susah, setelah bertemu pun masih susah karena harus sembunyi-sembunyi dan menyamar. Hhh, Nona … terkadang aku lelah dengan perasaanku ini.” Ah Reum, gadis yang sudah mengiringi perjalanan Hyuna selama dua tahun ini pun menghembuskan napasnya berat.

“Makanya … eumm, jangan terlalu memasukkan terlalu banyak cinta dalam sebuah hubungan. Supaya tidak terbebani, supaya tidak terluka nantinya.” Hyuna hanya menanggapi sembari terkekeh. Tangannya masih tidak melepaskan ponsel. Sesekali matanya mengamati layar ponsel itu, merasa heran karena hari ini Key sama sekali tidak mengirim pesan. ‘Apa yang terjadi pada Key? Hey, sangat sibukkah ia hingga tak sempat menyapa lewat beberapa kata saja? Ah, ya terserah saja, tidak terlalu penting bagiku,’ batin Hyuna.

“Nona, bagaimana dengan hubunganmu dengan Tuan Key? Memangnya kau tidak memasukkan unsur cinta dalam rumah tangga kalian. Kurasa itu mustahil. Ah, sebenarnya mungkin saja. Tapi, bukankah hidup tanpa cinta itu rasanya hambar?”

Hyuna tersenyum, otaknya berputar mencari-cari jawaban yang tepat, sementara hatinya mempertanyakan apakah benar dirinya sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap Key. “Ah Reum-ah, kau belum menikah, jadi belum tahu. Kata orang-orang, menikah itu hanya beberapa bulan saja indah dan dipenuhi cinta. Bulan-bulan berikutnya bisa jadi sepasang suami istri hidup bersama bukan lagi karena cinta, melainkan kewajiban mengikuti garis takdir. Kalau ditanya apakah aku mencintai Key, hmmm … ada beberapa hal yang tidak bisa kuutarakan padamu karena aku sudah berjanji untuk menyimpannya seorang diri saja.” Hyuna mengedipkan satu matanya. Beberapa detik berikutnya, ia sudah disibukkan dengan melihat deretan e-mail yang masuk di ponselnya. Ya, ya, lusa sepertinya akan menjadi hari yang melelahkan. Hanya esok yang bisa digunakannya untuk beristirahat.

***

Gemerlap lampu bar tiada henti menerangi, walau cahayanya tetap saja membuat tempat itu sarat dengan nuansa remang-remangnya. Di depan sana seorang DJ tiada lelahnya menyuguhkan musik yang membuat pengunjung tempat itu mengikuti irama dan beat-nya. Di lantai dansa, berpuluh-puluh pasangan menari saling berhadapan, sesekali bercumbu mesra lewat ciuman panas.

Key meletakkan kepalanya di meja bar, anggur merah sudah sedikit merobohkan kesadarannya. Dua orang menghampiri Key, yang seorang duduk di sebelah kanan Key dan segera berinisiatif mengelus-elus kepala Key. Sementara seorang lainnya memilih duduk di sebelah kiri, mendaratkan tangannya pada bahu Key.

Pria itu merasa dunianya semakin gelap kini, ia tidak lagi bisa menangkap wajah dua orang itu dengan jelas. Dari gestur tubuhnya, ia hanya tahu mereka berbadan lebih besar darinya.

“Sudah lama kau tidak kemari, Tampan. Ow, ow, kau sudah puas minum? Mau melewati malam ini bersamaku?”

Euuuhhh,” gumam Key samar-samar. Pria itu memaksakan diri mengangkat kepalanya kemudian melayangkan senyum, tidak jelas lagi senyum untuk orang yang mana.  Kondisinya membuat ia tidak bisa menanggapi dengan normal, tidak berselang lama, kepalanya kembali ditelungkupkan ke meja counter. Selanjutnya ia hanya pasrah membiarkan tangan kedua orang itu menyusuri dadanya. Ia tak lagi peduli dengan rasa risih yang singgah, yang terpenting malam ini ia tidak berada di rumah seorang diri.

Hei, hei, jangan lupa. Dia milikku. Kau tahu, aku suka pria seperti dia, tidak mudah untuk ditaklukkan.” Orang yang di sebelah kanan protes pada si kiri. Baginya malam ini adalah momen yang bagus karena Key sangat jarang datang ke tempat ini. Mangsa yang tidak boleh lolos.

Haha, sudah jangan berebut. Aku tidak yakin Key mau melayani kalian. Ssst, asal kalian tahu, dia sudah tidak sama seperti dulu.” Sang bartender mengeluarkan seringainya, kepalanya mendekati kepala Key. “Pria ini sudah tidak lagi black seperti kalian. Warnanya sudah putih. Konon dia sudah menikahi seorang wanita. Makanya kubilang, dia belum tentu menginginkan kalian lagi, sekarang dia tertarik pada wanita.” Mata bertender itu mengerling pada keduanya yang tampak ternganga.

Eits, sebentar. Kalau memang dia sudah putih, mengapa Key datang kemari? Bukankah ia sudah tahu dengan jelas ini tempat apa? No no no, dia masih hitam. Heum … barangkali hanya abu-abu, maybe?”

“Ya, ya, kali ini aku sependapat denganmu. Menikah bukan akhir segalanya. Hei, tapi malam ini dia milikku. Lain kali boleh menjadi giliranmu.”

Hei, hei, Key bukan milik siapa-siapa. Tidak kau, tidak kau juga,” seseorang datang merelai perebutan di antara dua orang tadi. Terlihat jelas bahwa orang yang datang barusan memiliki wibawa berlebihan karena kedua orang itu bungkam seribu bahasa dan hanya berani memalingkan wajah.

“Dia sudah menjadi milik istrinya. Aigoo, Key … sudah kubilang jangan datang lagi ke tempat ini. Ayo kita pulang, Kawan.” Orang itu segera mengangkat tubuh Key bangkit dan kemudian memapahnya.

“Minho-ssi, selamat malam. Jaga Key dengan baik, ya? Oh, ya, omong-omong aku penasaran apa benar Key sudah putih?” celetuk bartender tadi iseng, sedikit berharap tamu bernama Choi Minho itu menjawab rasa penasarannya.

Minho mendengus kesal, baginya ini adalah pertanyaan menggelikan. Batinnya merutuk diam-diam, ‘Kenapa bartender itu sejak dulu selalu ingin tahu urusan orang? Tidak bisakah ia hanya melayani pesanan tamu saja?

Ishh … supaya kau puas dan tidak pernah bertanya lagi kalau Key datang, asal kau tahu, sejak dulu dia memang putih,” jelas Minho dengan sedikit kesal. Susah payah memapah Key untuk segera meninggalkan tempat ini.

Ne, ne, kulitnya memang sudah putih dari dulu,” sambar sang bertender. Gelak tawa bersambut, menertawakan hal yang sebenarnya sama sekali tidak lucu.

***

Jarum pendek jam sudah menunjuk pada angka dua. Namun Hyuna tidak peduli, sekalipun matanya esok akan terpejam penuh di pesawat atau bahkan tubuhnya akan lengket tertahan di kasur seharian begitu sampai rumah, mungkin.

Malam ini adalah waktunya melepas rindu. Ia tidak lagi peduli dengan lemak tubuh yang jelas akan bertambah setelah puas melahap rendang sapi buatan Tiara. Kelezatan masakan khas Indonesia yang satu itu memang sudah sejak dulu ia gemari. Sebulan sekali Tiara meluangkan waktunya demi memuaskan hasrat Hyuna untuk mencicipi salah satu kekayaan budaya negaranya itu.

Untung saja kamar hotel dirancang agar kedap suara, kalau tidak, bisa jadi penghuni kamar tetangga tidak akan bisa memejamkan mata karena gelak tawa dua wanita muda yang baru dipertemukan dengan takdir lagi itu.

Aigoo, putrimu lucu sekali, memang, ya, anak kecil itu masih polos. Bisa-bisanya dia meniup kondom dan mengiranya sebagai balon. Lagipula, salah kau sih, menaruh benda sakral seperti itu di laci yang tidak terkunci.”

“Kau tahu, Hyu. Setelah sukses meniup, dia bermaksud memecahkannya. Bodohnya aku juga lupa kalau itu bukan balon dan masih asyik saja memutar DVD drama lama Endless Love. Beberapa menit kemudian dia merengek padaku, rupanya dia merasa kesal karena tidak juga berhasil memecahkannya.” Tiara semakin semangat bercerita, ia menaikkan satu kakinya ke atas sofa tempatnya duduk. Menegakkan posisi tubuhnya sehingga tidak lagi bersandar. Setelah puas tertawa, ia pun melanjutkan, “Oh, Tuhan … aku bingung harus menjawab apa saat dia bertanya mengapa balonnya itu sangat ajaib sampai tidak bisa pecah.”

Omona, Ra, kau sudah menodai anakmu di usianya yang masih sangat mentah. Lalu akhirnya kau jawab apa?”

“Tidak kujawab. Sungguh sama sekali tidak terpikirkan harus memberi penjelasan macam apa. Buru-buru kuajak dia main ke rumah tetangga saja agar pikirannya teralihkan. Omong-omong, kau belum berbadan dua setelah setahun menikah, Hyu?”

Tidak ada lagi tawa, bahkan senyum yang sejak tadi terlukis di wajah Hyuna pun kini mendadak raib. Beberapa pilihan jawaban berkelebat di dalam otaknya dan ia belum memutuskan akan mengutarakan yang mana. Ia benci berbohong pada sahabatnya sendiri, tapi ia juga tidak ingin menjelaskannya secara gamblang. Ia tahu alasannya ini akan dicap tidak logis oleh Tiara, bahkan oleh siapapun kecuali oleh dua orang.

Aku divonis mandul.

 

Rasanya ingin sekali menjawab singkat seperti itu, tapi kenyataannya bukan demikian. Lagipula ia malas diberondongi pertanyaan Tiara yang jelas-jelas merupakan istri dari dokter spesialis kandungan, yang mungkin saja cukup mengerti dengan diagnosis mengenai kemandulan.

Aku ingin fokus pada karir.

Ah, alasan itu terlalu klasik dan kuno. Tiara pasti akan menghujaminya dengan rentetan petuah bijak tentang kodrat seorang wanita. Hyuna sudah hafal betul tabiat sahabatnya itu, dibesarkan dalam keluarga yang memiliki banyak anak menjadikan Tiara yakin bahwa anak itu akan datang dengan rezekinya tersendiri. Menunda karir pasti akan Tiara nilai sebagai sesuatu yang harus direlakan seorang wanita, dan tentu akan Tuhan bukakan jalan lain untuk meraup pundi-pundi harta. Lalu sebaiknya apa yang harus kujawab? Hyuna terjebak dalam kepanikan pikirannya sendiri.

Oh, ayolah Hyu, jangan bilang kalau kau belum siap punya anak. Kau tidak penasaran akan setampan atau secantik apa keturunanmu nanti? Kau tidak ingin merasakan nikmatnya mengurus bocah mungil? Sungguh, Hyu, awalnya aku juga takut punya anak. Kau tahu kan kalau aku ini tidak apik dalam mengurus sesuatu? Aku sedikit takut anakku akan ditelantarkan, terutama kalau ibunya sedang serius nonton drama Korea. Tapi, semua keinginan untuk mengurusi putriku muncul dengan sendirinya setiap kali aku meraba tangan mungilnya. Saat itu aku merasa bahwa keajaiban terbesar dalam hidupku sedang terjadi.”

Betul saja, tanpa Hyuna jawab pun Tiara sudah tangkas menyuarakan kalimat-kalimat khasnya yang sarat dengan keterbukaan. Sedikit banyak, yang Tiara duga itu ada benarnya. Namun Hyuna hanya bisa pasrah saat tubuhnya diguncang-guncangkan pelan oleh Tiara yang terlampau bersemangat malam itu.

“Ra, maafkan aku. Tapi bolehkah kali ini aku menyembunyikan sesuatu darimu? Intinya, aku memang belum siap hamil.” Hyuna menjawab malas. Ia segera melangkah menuju kulkas untuk mengeluarkan soft drink yang sempat dibeli oleh asistennya sebelum memasuki area hotel.

Tiara terdiam, entah mengapa penampakan punggung Hyuna yang sedang berjalan—terasa sangat kelam. Mungkin sahabatnya itu tidak suka dengan perbincangan tentang anak, Tiara tidak bisa menerka secara pasti, tapi ia jelas tahu kebiasaan Hyuna untuk ‘lari’ dari sesuatu yang dibenci. Reuni pertama tentu tidak boleh dirusak dengan hal-hal menyedihkan.

Tiara mengalah, ia berusaha memutar otaknya, mencari topik pembicaraan lain karena Hyuna masih tak kunjung angkat bicara. “Ckck, baiklah. Tidak usah dilanjutkan bahasan ini kalau alasanmu seperti itu. Hmm, Hyu, bagaimana dengan Key? Eh, apa profesinya?”

“Key … dulunya dia barista di sebuah coffe shop. Tapi beberapa bulan belakangan dia menjalani bisnis coffe shop miliknya sendiri,” jawab Hyuna sambil menyodorkan sebuah jus dalam kemasan botol untuk Tiara.

Woah, syukurlah. Hyu, aku tidak tahu bagaimana kisah asmaramu dengan Key. Kalian bertemu di mana? Berapa lama penjajakan? Dan kenapa kau memutuskan menikah dengannya? Bukankah sejak dulu kau begitu sulit membuka hatimu untuk pria?”

Hyuna menyalakan televisi, berharap suara gaduhnya bisa sedikit mencairkan kepusingannya untuk menjawab pertanyaan Tiara. Oh, ayolah, berbohong bisa saja dilakukan, tapi apa harus juga menyembunyikan fakta dari sahabatnya sendiri? Hyuna bimbang.

“Ra, aku tidak pernah bisa membuka hati bukan karena aku tidak suka. Kau tahu, dulu waktu kuliah, ada kakak senior yang berhasil menawan hatiku? Maaf aku tidak menceritakannya padamu karena aku juga sudah memutuskan untuk berjuang melenyapkan namanya sejak awal, meski sulit. Dan, sejujurnya aku tidak pernah pacaran dengan Key. Aku hanya mengenalnya dari temanku, Minho. Dan aku langsung menyetujui tawaran Minho untuk menikah dengan Key.” Hyuna memberanikan diri membuka rahasianya, dimulai dari hal yang terkecil.

What? Jadi Minho itu semacam mak comblang? Tunggu, tunggu, berarti Key yang mengajakmu menikah lebih dulu?”

“Tidak, aku yang minta Minho mencarikan pria untukku,” sambar Hyuna. Rasa grogi menghampirinya, ia tak pernah menceritakan kisah ini sebelumnya. Detik ini pun ia tak yakin jika keputusannya ini tepat, tapi ia tak ingin berbohong pada Tiara. Jus campuran buah di tangannya segera ditenggak habis untuk menutupi getaran tubuh.

Kening Tiara berkerut, alisnya yang panjang nyaris bertemu, ia merasa ada sesuatu yang tak wajar dalam kisah Hyuna. “Maksudmu? Hyu, hei, sekalipun kalian dipertemukan melalui kencan buta, pasti ada waktu untuk pendekatan. Tidak mungkin menikah begitu cepat. Han Hyuna, kau tidak bodoh kan saat mencari pendamping hidup?”

“Tidak, justru aku sangat pintar. Aku sangat yakin Key adalah orang yang kucari, makanya langsung kusambut tawaran Minho.” Hyuna tersenyum, perlahan rasa gugupnya mencair. Ya, untuk apa takut bercerita pada sahabat sendiri?

Wuooow, cinta pada pandangan pertamakah? Hei, hei, tentu ada hal istimewa dalam diri Key hingga kau yakin seratus persen begitu.” Tiara menjadi heboh sendiri. “Aku jadi penasaran dengan sosok Key. Dia sangat tampankah? Atau kepribadiannya sangat baik? Aku yakin Key bukan pria sembarangan sampai-sampai membuat seorang Han Hyuna takluk sekejap mata.”

Heummm, tampan? Ya, sangat. Baik? Ya, lumayan baik. Setidaknya dia bisa memahamiku. Istimewa? Bukan istimewa, tapi berbeda. Baiklah, dia seorang gay.” Hyuna terkekeh santai, mengunyah buah apel sebagai penutup santap malam. Kakinya tersila sempurna di atas sofa.

Ya! Han Hyuna! Jangan bercanda! Bagaimana bisa kau menikah dengan seorang gay? Kau sengaja mencari yang seperti itu?” Mata Tiara yang sudah lebar-khas orang Indonesia—terbelalak semakin lebar mendengar pengakuan Hyuna. Aih, sahabatnya ini sakit! Ya, sakit. Wanita mana yang sengaja memilih menikah dengan pria penyuka sesame jenis? Osh, hidup wanita itu akan dirundung sepi seumur-umur.

“Tidak bercanda. Alasannya sederhana. Seorang gay tidak akan menuntut untuk bercinta denganku. Aku tak perlu cemas karena ini dan itu. Dan kau jangan bertanya aku ini lesbi atau bukan. Aku wanita tulen.” Sorot penuh makna Hyuna layangkan pada atap putih yang menyusun bagian atas kamar hotelnya. “Kau tahu Ra, aku tidak mau hamil. Seumur hidup. Yah, akhirnya kubeberkan juga alasanku padamu. Tidak apa, aku percaya kau adalah sahabat yang pandai menjaga rahasia. Kau selalu memahamiku apa adanya, ‘kan?”

Tiara bungkam, bukan berarti setuju. Hanya saja, ia mendadak tak bersahabat dengan kosakata. Mata keduanya saling bertemu, berbicara lewat isyarat gerak bulatan hitam. Makna sorot milik Tiara kurang lebih, ‘Kau orang gila! Sahabatku yang aneh! Hyu, apa yang bisa kuperbuat untuk membantumu?’

Hyuna hanya menggeleng pelan, “Kau tidak perlu membantuku. Aku dan Key sama-sama bahagia dengan kehidupan yang seperti ini. Ini jalan yang sama-sama kami sepakati. Kau tak perlu cemas.”

***

Key, bisa menjemputku di bandara?

Itulah deretan kata yang baru saja Key baca dari ponselnya. Pesan tersebut berasal dari Hyuna, masuk pada pukul 11 siang. Dan ini sudah jam 2 siang!

Key langsung terlonjak begitu menyadari ia sudah melewati banyak waktu dalam tidur panjangnya. Semalam, ia hanya ingat bahwa dirinya menenggak begitu banyak anggur merah di bar yang kerap ia kunjungi sebelum bertemu Hyuna dulu. Setelah itu, ia tak lagi mengingat detail kejadian yang menimpanya.

Jalannya terasa limbung. Bau keringat bercampur dengan bau alkohol, sungguh tak sedap. Kemeja biru lautnya kusut, beberapa kancingnya terbuka, kerahnya sudah tidak lagi tertekuk rapi di posisi awalnya. Rambutnya? Jangan ditanya. Beruntung saja karena ia tak pernah punya rambut gondrong.

Hal pertama yang diingatnya adalah gosok gigi. Menjemput Hyuna di bandara? Sepertinya sudah terlambat. Lagipula Key pikir, Hyuna pasti sudah minta bantuan supir kantornya. Toh, selama ini saja ia nyaris tak pernah menjemput Hyuna karena wanita itu selalu menolak tawarannya.

“Tumben, Hyu. Ckck,“ sungut Key dengan kondisi mulut yang masih dipenuhi odol putih. Sikat giginya masih tertahan di sela bibir. Ia memandangi kaca wastafel di depannya. “Hyu, kau rindu aku? Ah, rasanya tidak mungkin. Tidak pernah ada kata rindu dalam kamusmu. Sialnya, belakangan ini mulai tercatat dalam lembaran milikku.”

Key tertawa sendiri, melanjutkan kegiatan gosok giginya. Tak lama ia sudah berjibaku dengan derasnya air dari shower. Rasanya begitu nikmat merasakan sensasi dingin di tengah cuaca musim panas akhir Agustus. Busa sampo membuat kepalanya terbebas dari rasa gatal, beberapa di antaranya turun ke area dahi. Membuat Key sedikit kelabakan karena matanya yang sudah sakit bertambah pedih.

Di balik suara gemuruh air, Key bisa mendengar bunyi klakson mobil. Itu pasti Hyuna, batinnya. Ia mempercepat mandinya agar bisa segera menjumpai Hyuna. Entah mengapa, berbincang dengan wanita itu terasa menyenangkan sekalipun seringkali diwarnai sindiran sarkatis.

“Key, kau ada di rumah? Tumben kau pergi hari Sabtu. Huaahhh, baiklah, menyenangkan sekali bisa beristirahat saat sepi.” Suara Hyuna semakin terdengar mendekat. Betul saja, tak lama Key bisa menangkap bunyi pintu kamar yang dibuka seseorang, tentu itu Hyuna.

“Hyuna-ya! Jangan ke kamar mandi, ne? Aku ada di rumah. Maaf tidak menjemputmu karena aku baru bangun beberapa menit yang lalu!” teriak Key dari dalam kamar mandi. Ia mematikan shower agar Hyuna bisa mendengar jelas. Setelah itu, berlari mengunci pintu kamar mandi.

Ckck, semalam kau begadang? Bagaimana? Berhasil menemui kekasihmu tidak? Key, aku bawa oleh-oleh untukmu. Taraaaaa … sake Jepang! Kapan-kapan kita minum bersama, ya? Sekalian membandingkannya dengan rasa soju.”

Ah, tidak, kan sudah kubilang Jonghyun sedang sibuk. Semalam aku memang ke bar, kapok, ogah mabuk parah seperti ini lagi kecuali karena sake-mu itu. Lain kali kalau kesepian aku akan mengunjungi ibuku saja.” Key melanjutkan konversasi ini dari balik pintu kamar mandi, kali ini ia mulai menyalakan air lagi.

“Astaga, kau sungguhan kesepian, Key? Aigooo, aku terharu. Hari ini, seharian aku di rumah. Bagaimana kalau kita nonton bersama? Tapi aku sedikit ngantuk, jangan marah, ya, kalau tidak sengaja tertidur?” tukas Hyuna.

“Tidak usah, Hyu. Aku tadi mendengar, kau ingin istirahat bukan? Aku tidak ingin mendengar cerita tentang amukan kolegamu karena kau tidak berkonsentrasi besok. Kau harus ke Busan untuk acara fashion week bukan?”

Ah, gomawo. Kau memang partner terbaik. Oh ya, Key, semalam aku bertemu Tiara. Dia sahabatku saat kuliah. Yah, sekarang dia sibuk mengurusi rumah tangganya, tidak berkarir sepertiku. Dia bercerita banyak tentang putri mungilnya ….” Hyuna berceloteh sembari membaringkan tubuhnya di kasur. Selama perjalanan di pesawat tadi ia tak henti merenungi kisah hidup Tiara. Terbesit sedikit keinginan untuk bisa bermain dengan bocah lucu. Namun, selain sisi lain dirinya menolak, Key juga tidak akan pernah …

“Kau ingin punya anak, Hyu? Aku bisa melakukannya kalau kau mau.” Key memotong cepat bisikan-bisikan yang ada di otak Hyuna.

YA! Kim Kibum, candaanmu tidak lucu! Tidak, tidak! Tidak akan pernah. Dengar, kalau aku berniat hamil, sejak awal aku tidak akan menikah denganmu. Lagipula, jangan paksa dirimu demi keinginanku. Aku tahu kau sama sekali tak bernafsu melihat wanita. Sesuatu yang dipaksakan akan terasa sakit, Key. Aigoo, lagipula, kalau dipikir-pikir repot juga punya anak. Aku jadi tidak bebas melakukan perjalanan ke luar negeri,” sahut Hyuna seraya merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Ia meraih sebuah bantal untuk menutupi wajahnya, bersiap mengambil posisi tidur.

Key terdiam, ia mengelapi tubuh basahnya dengan handuk. Sengaja diperlambatnya, mendadak ia tak ingin bertatap muka dengan Hyuna. Mimik wajahnya jelas harus dikontrol dulu sebelum ia keluar dari kamar mandi. Ia menyisir rambutnya dengan jari, lantas menumpukan telapak tangan pada wastafel. Di titik itu ia membuang banyak sisa ekspirasinya. Dadanya mendadak melakukan aksi kembang kempis. Suhu di kamar mandi mendadak panas sekalipun sudah dipasangi exhaust fan.

 

Han Hyuna, andai kau ingin. Aku juga ingin. Hyuna-ya ah, aku takut melanggar kesepakatan kita. Hyu, apa kau tahu? Sejak awal aku adalah pria normal. Hyu, aku bodoh sekali, berani-beraninya mulai jatuh cinta padamu. Hyu, aku harus menjawab apa? Nyatanya aku tidak merasa terpaksa.

 

“Key? Kau tidak tertidur di kamar mandi, kan? Kenapa tidak ada suaranya?” Lamunan Key terbuyarkan.

Ah, ne, aku hanya masih merasa pusing karena alkohol.” Key segera membalut tubuhnya dengan handuk baju, ia keluar menemui Hyuna. Dilihatnya gadis itu sedang membunyikan jemari tangan, gemeletuk renyah memenuhi ruangan. “Ah iya, Hyu, bagaimana perjalananmu ke Jepang kemarin?” Tanya Key dengan suara senormal mungkin.

“Peluncuran busananya berhasil, responnya sangat bagus. Juga, tak ada insiden sang make up artist lupa membawa satu set bulu mata palsu lagi.” Hyuna menyingkirkan bantal penutup wajahnya, memberi isyarat agar Key berbaring di sisinya.

“Baguslah, aku turut bahagia.” Key menuruti permintaan Hyuna. Keduanya terlentang bersebelahan kini. “Hyu, ada seorang pelayan baru di kafeku. Kau tidak akan cemburu, kan?” Key meraih guling dari atas kepala, membentangkannya di antara dirinya dan Hyuna. Tentu, sekuat tenaga ia menciptakan batas untuk dirinya sendiri.

“Jelas tidak. Lagipula sudah tertulis di dalam kesepakatan kita, tidak boleh mencampuri urusan yang sangat pribadi. Tidak boleh juga ada rasa cemburu. Aku tidak ambil pusing, Key. Lagipula di matamu hanya ada Jonghyun, kan?” jawab Hyuna sembari memindahkan jemarinya ke rambut Key yang masih basah. Yeoja itu memainkan sejumput rambut Key dengan telunjuknya.

Hahaha, benar juga. Omong-omong, sesekali kenalkan aku dengan teman priamu,” Key berusaha bercanda. Kalimat Yang dilesatkannya barusan sebenarnya sungguhan, tapi maknanya tak seperti yang tersurat dalam kata. Ia ingin tahu siapa saja teman Hyuna dan seperti apa dunia sosial wanita itu. Key ingin mengenal lebih jauh pasangan hidupnya itu.

Hmmm, apakah nanti Jonghyun tidak marah padaku kalau kau sampai jatuh hati pada pria tampan lain? Key, aku tidak ingin membuat hidupku tak tenang.” Hyuna tertawa kecil, memaksa Key untuk menciptakan tawanya juga.

Ah ya, Key. Aku bercerita pada Tiara tentang kebenaran di balik rumah tangga kita. Kau tahu, dia memang tidak marah-marah lewat kata. Tapi dari matanya, aku tahu bahwa aku telah dianggapnya tidak waras. Key, apa betul aku tidak waras? Aku tidak menyakiti siapa-siapa bukan dalam hal ini. Aku bahagia, kau pun hidup nyaman. Bukan begitu, Key?”

Godam berat memukul keras. Key terpojokkan oleh perasaannya sendiri. Sayangnya, suhu kamar cukup dingin karena AC, jadi tidak ada alasan berkelit dengan berpura-pura mengeluhkan cuaca. Lantas, Key harus menjawab apa? Benarkah tak ada yang tersakiti? Bagaimana dengan decitan yang tengah berkeliaran di dalam batinnya kini? Pria itu resah, ia meraih tangan Hyuna dari rambutnya.

“Hyu, kau tahu? Kata orang, kita bisa menebak karakter manusia lewat jempolnya. Entah mitos dari mana, aku juga heran. Hyu, kau tidak tertarik melihat jempolku?”

Jawaban aneh Key membuat Hyuna bingung sekaligus tergelak. Sungguh, terkadang Key ini sangat lucu! Wanita itu sukses dibuat terpingkal karena menurutnya jawaban Key itu tak ada sangkut-paut dengan pertanyaaannya, tak jelas apa maknanya, bahkan mitos itu tak pernah ia dengar sebelumnya.

“Key, Key. Tidak perlu. Jempolmu yang tidak kotor, tidak pecah-pecah, dan tidak bau saja sudah cukup bagiku. Artinya kau pria yang apik dan tidak jorok.” Hyuna menutup percakapan siang itu dengan membunyikan jemari Key. Lantas ia menaruh telapak itu di perutnya. “Ah, Key … biasanya seorang ayah selalu meletakkan tangannya di saat perut wanita terisi dengan bayi. Biarkan aku berkhayal sebentar ya?”

Key hanya mengangguk pasrah, sama kalahnya dengan air liur yang takluk ditelan sang pemiliknya. “Hyu, kau tidak sungguhan ingin punya bayi, ‘kan?” Sekali lagi Key bertanya. Tapi tak ada jawaban.

Pria itu melirik Hyuna, yeoja itu mulai terpejam rupanya.

To Be Continued

Iklan

  1. woah…. cuma bs bilang ‘woah’
    pernikahan dg gay yg bukan gay(?) idenya cukup unik….suka bahasanya mengalir…tau2 udah TBC aja… waiting 4 next part… *grin*

  2. Wuah… ini cerita romance keberapa ya, yang bisa bikin geregetan plus otak jadi muter2 karena sibuk mikir, mungkin yang pertama atau yang kedua. Asli, ini out of the box banget, dan sepertinya bakal seru 😀
    Hmmm, nanti Jonghyun marah tidak padaku kalau kau sampai jatuh hati pada pria tampan lain? >> bagaimana kalau “Hmm, apakah nanti Jonghyun tidak marah padaku kalau kau sampai jatuh hati pada pria tampan lain?”
    Lanjuuuttt

    • Uwoooo, Ami berkunjung ke ff romance.

      Ide ini udah dari bulan kapan ada, abis nonton drama tt dokter kandungan, jd kepikir nasib cewe2 yang takut meninggal krn hamil. Hhehe, semoga ke depannya bisa lebih oke
      Nah bener, lebih enak pake kalimat ami, udah diganti mi, gomawo ya…

      Makasih juga udah ngeluangin waktu untuk berkunjung ya mi ^^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s