No Perfect Marriage

No Perfect Marriage

Author: Fla

Main Cast: Lee Jinki, Park Yoochun, Han Hyuna, Kim Kibum

Length: Oneshot

Genre: Romance

Rating: PG-15

 free-wallpaper-19 (4)

 

© Fla 2013

Aku suka, aku sayang, aku cinta sekali sejak 3 tahun lalu. Dan aku tidak ingin dia menciumnya walau hanya sedikit. Kau hanya boleh mengatakannya kalau aku ditakdirkan meninggalkan dunia ini lebih dulu daripada kau. Haha… kau tidak pernah menyangkanya, bukan? Tapi bagiku semua itu sudah tidak lagi penting, aku sudah berkomitmen pada satu janji.

Message sent successfully to Kibum

Date: 23-01-2013

Time: 18.08 KST

***

Selamat tinggal masa lajang! Aku akan mengakhiri semua pencarianku hari ini. Aku tidak pernah tahu apakah hatiku telah benar-benar memilih jalan ini atau tidak. Tapi, aku selalu percaya bahwa Tuhan telah memisahkan pria yang terbaik untukku. Aku percaya bahwa jalan yang telah digariskan Tuhan selalu benar. Dan kalaupun keliru, maka Tuhan akan tunjukkan hikmahnya di belakang hari.

Maka di sinilah aku, berjalan bersama pengiringku menuju altar. Lengkap dengan gaun putih menjuntai dan tudung putih yang membatasi jarak pandangku. Hari ini semua kerancuan akan segera berakhir. Sejak dulu aku selalu bertanya-tanya siapa jodohku kelak. Apa ada pria yang mau meminang gadis tomboy super cuek sepertiku—yang bahkan hanya ber-shampo ria setiap weekend, yang hanya mencuci baju seminggu sekali selama masa kuliahku, yang sering tidak mandi kalau pergi ke kampus, yang sering membersihkan kotoran hidung tanpa melihat tempat, apa ada? Aku bahkan sempat mempertanyakan apakah betul diriku ini layak dikatakan wanita? Bahkan aku kalah bersih dengan sahabatku, Kim Kibum, yang berjenis kelamin pria.

Ternyata ada, luar biasa sekali. Pria ini, pria dengan pipi bulat menggemaskan plus lesung pipinya yang tampak menggoda tatkala senyumnya merekah. Pria dengan sorot mata super teduh yang awalnya kutolak mentah-mentah ketika eomma menjodohkannya denganku. Jelas, aku saat itu dengan lantang berkata: aku tidak ingin menikah dengan Ahjusshi! Umur kita terpaut 12 tahun. Ini gila!

Park Yoochun namanya, tingginya hanya sekitar 170-an. Wajahnya tidak bisa dikatakan tampan, tapi tidak juga buruk. Yah, sedang-sedang saja. Tapi jelas ada hal menarik di dalam dirinya yang membuatku akhirnya luluh. Dia begitu sabar. Sabar ketika aku tidak membalas pesannya, sabar ketika aku marah-marah di telepon karena syndrome menstruasiku yang tidak terkendali, sabar membantu mencari sumber untuk tugas makalahku. Dan tentu, dia begitu sabar menungguku membukakan pintu hati untuknya. Poin terakhir itu yang akhirnya membuatku luluh.

Pria itu menantiku di depan altar, tersenyum menantiku. Andai ini negara India, lalu beri backsound lagu khas Bollywod, mungkin tingkahnya akan super norak: berlari-lari menyambutku dan kami akan berpelukan di tengah jalan menuju altar ini. Haha, untung ini Korea Selatan.

Di sinilah aku berdiri, tertunduk malu-malu tanpa berani menyaksikan wajah para tamu undangan, apalagi wajah Yoochun. Janji suci itu berkumandang agung, lantas kami ikrarkan. Janji sehidup semati untuk mengarungi ombak kehidupan. Kata orang tua, menikah itu hanya indah satu bulan pertama. Setelahnya, yang kau hadapi sudah realita yang harus dihadapi dengan penuh kebijaksanaan. Ah, entahlah. Tapi semoga Yoochun tetap sama seperti dia yang biasanya, tidak lantas berubah menjadi diktator atau suami sok penuh kuasa yang menuntut ini itu tanpa ampun setelah menikah.

Dan sebentar lagi, aku akan melihat sahabatku berdiri di depan. Aku tidak tahu hal apa yang akan dilakukannya, entah dia akan menyanyi atau bisa jadi mempersembahkan tarian luwesnya itu. Aku hanya tahu, apapun yang diminta sahabatku pasti akan kulakukan selama itu mungkin. Ia hanya meminta waktu dan sebuah mikrofon.

Annyeong haseyo. Selamat pagi menjelang siang, semuanya. Aku Kim Kibum, entah siapa di mata kedua mempelai di depan ini. Yang jelas, aku selalu sayang dengan Hyuna. Gadis terpolos, ah, terbodoh dan terkonyol lebih tepatnya. Dia sahabatku yang sangat sederhana, sesederhana pikirannya ketika memasukkan kelingking ke dalam lubang hidung di depan orang banyak.”

Tamu undangan terbahak, bersorak riuh dan turut terbawa dengan kebahagiaan yang Kibum tularkan lewat nada bicaranya yang begitu bersemangat. Seperti itulah ia, selalu mampu menghidupkan suasana. Bahkan tragedi pun bisa menjadi lawakan ketika bercerita dan berbagi kisah dengannya. Harusnya saat ini aku ikut terbahak seperti biasa. Dasar Kibum, dia selalu saja begitu. Senang membuatku malu di depan umum. Dulu, dia suka berteriak di tengah jalanan kampus, bersama Kim Jonghyun yang sebelas-dua belas usilnya. Bunyi kalimatnya tidak jauh-jauh dari ini,  ‘Hyuna pakai baju yang kemarin! Ih jorok’ atau ‘Ih Hyuna belum mandi ya hari ini!”

Normalnya, aku akan berlari mengejar kedua bocah ini, atau paling tidak melempar sepatu kets-ku. Mengutuki mulut mereka yang sialannya berlebihan itu. Tapi hari ini aku hanya mampu tersenyum, menitikkan air mata mengingat bagaimana mereka biasa mewarnai hariku dengan tingkah anehnya yang sama sekali tidak menggambarkan sikap seorang mahasiswa.

“Selama kuliah, Hyuna ini sering sekali menjadi korban keisenganku dan Jonghyun. Dia memang marah, tapi aku tahu bahwa sesungguhnya dia tidak pernah betul-betul marah. Kami menjalani banyak sekali hari melelahkan ketika tugas benar-benar datang berduyun-duyun. Kami telah melalui banyak hal aneh bin ajaib yang tidak akan menjadi fokusku kali ini.” Kibum tersenyum, menatapku penuh makna.

Hei hei, keusilan apalagi yang akan diperbuatnya kini? Jangan bilang ia akan membeberkan semua kebiasaan anehku di depan semua tamu? Jangan bilang ia akan menceritakan bagaimana posisi tidurku yang aneh itu, kaki naik ke tembok. Atau jangan-jangan ia akan membeberkan bahwa selama kuliah aku sering menempel-nempelkan kotoran hidung di kaki bangku kelas? Oh, andwaeeee… nanti aku akan dimintai ganti rugi oleh pihak jurusan karena dianggap telah mengotori fasilitas umum.

“Di balik semua keanehan yang melekat pada diri Hyuna. Ada satu hal yang membuatku kagum padanya. Satu hal yang tidak pernah kusangka bahwa ternyata selama ini dia memikirkan sesuatu.” Kibum menghentikan kalimatnya, mendadak tertunduk dengan aura muram. “Hyu, dulu aku sering bercanda menanyakan apakah kau mencintaiku atau tidak, dan siapa orang yang sebenarnya kau cintai.” Kepalanya kembali tegak menatapku, dengan bulatan hitam yang tampak kosong.

Kibum-ah… apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Tentu kau tidak akan berbuat konyol dengan tiba-tiba mengatakan, ‘Oh Hyuna, selama ini aku menganggapmu lebih dari sabahatku. Sesungguhnya aku mencintaimu. Selama ini ada satu hal yang aku kagumi dirimu. Kau adalah manusia paling cinta Bumi karena kau jarang mandi! Hahaha’. Oh shit shit shit! Pikiranku sangat aneh. Kibum-ah… tapi apa betul bahwa selama ini aku tidak menyadari perasaanmu? Hei, apa yang kupikirkan ini?

“Sebelum aku melanjutkan ceritaku. Aku ingin minta maaf terlebih dahulu pada Yoochun Hyung, maaf jika setelah ini aku melukaimu atau membuatmu cemburu. Ah, baiklah, untuk membuatmu kuat nantinya. Aku minta sekarang kau mencium gadis bodoh di sampingmu itu agar kau yakin bahwa ia tidak akan meninggalkanmu setelah ini.”

Nah nah. Apa betul dia akan mengutarakan cintanya yang selama ini terpendam. Hei Kibum-ah, kenapa tidak dari dulu kau utarakan? Sebelum aku diperkenalkan dengan Yoochun, atau sebelum aku …

Dan… apa pula ini? Berciuman di depan khalayak? Osh, Kibum sialan! Sudah tahu aku ini bukan tipe wanita romantis dan bukan pula tipe orang yang menyukai keromantisan yang dinyatakan secara gamblang ataupun melalui kontak fisik seperti ciuman. Kau benar-benar berniat mempermalukanku, Kim Kibum! Untung saja Jonghyun hari ini berhalangan hadir karena sedang menjalani tugas kantor ke Australia. Kalau tidak… bisa makin aneh saja. Jemari kakiku menggeliat, mulai pontang-panting memikirkan cara berkelit atau bahkan lari dari ruangan ini. Pura-pura kebelet pipis mungkin tidak?

Yoochun melirik ke arahku, semacam mengirim sinyal, atau bahkan meminta izin. Aku menggerakkan bola mata tidak teratur, panik. Kalau aku menolak, apa Yoochun akan marah? Nanti dia bisa menganggapku tidak mencintainya.

Cinta… ah ya benar, aku memang tidak mencintainya. Lebih tepatnya, belum. Tapi aku tidak mau bertindak bodoh dengan menolak pinangan pria sebaik dan sesabar Yoochun. Toh, belum tentu ‘pria yang sesungguhnya aku cintai’ itu melirikku, ia bahkan sama sekali tidak pernah memikirkanku. Setidaknya aku ini bukan wanita berparas cantik, tidak seksi—badanku rata, mirip kotak alias tidak kentara bentuk pinggulnya. Aku jelas tahu bahwa ‘pria yang sesungguhnya kucintai’ itu tipikal orang yang menyukai wanita cantik—di samping keindahan hatinya. Jelas aku tidak memiliki keduanya. Ragaku maupun hatiku, asem! Kecut! Seasam bau ketiakku setelah melakoni trip ke pulau Jeju tanpa mandi sama sekali.

Aku sadar bahwa yang kubutuhkan itu bukan cinta, melainkan komitmen. Aku yakin, cinta itu bisa muncul dengan sendirinya setelah menikah. Sama seperti ketika kau memutuskan untuk mencintai si A demi melupakan si B. Itu bukan yang sering dilakukan oleh banyak wanita di dunia ini untuk menutupi luka batinnya setelah disakiti yang lama?

Yoochun meraih jemariku, mengusapnya pelan dan sangat lembut. Membuat peluhku tertahan karena tergantikan oleh dingin yang menyelimuti kulit. Oh tidak, sebentar lagi aku akan dipermalukan di bawah kilatan cahaya kamera begitu Yoochun benar-benar mengikuti keinginan Key. Osh, tenang Hyuna, tenang. Kalian sudah resmi jadi suami istri, jadi harusnya tidak susah berciuman di manapun. Anggaplah ini sebagai awal manis, Hyu. Bukan sebuah hal yang layak disebut aib.

“Maaf, bukannya aku tidak romantis. Bukan pula aku tidak mencintai istriku ini. Tapi, saking cintanya, aku tidak ingin mempertontonkan adegan romantisme itu di depan umum. Jadi, nanti saja kucium Hyuna. Karena aku yakin, dengan atau tanpa kucium, ia tidak akan lari dariku. Boleh aku percaya dengan keyakinanku itu, Hyu?” Yoochun melepaskan genggamannya, membuat hatiku melompat-lompat penuh syukur. Ucapannya barusan benar-benar menyelamatkanku.

Aku buru-buru mengangguk. Bukan karena mengiyakan, aku hanya tidak ingin berciuman di depan umum. Yoochun ini memang selalu bisa memahamiku tanpa harus mulutku berkata. Satu lagi hal yang aku suka darinya. Terlepas dari setuju atau tidaknya, goyah atau tidak nantinya. Diam-diam hatiku menguatkan dirinya sendiri, untuk selalu mendekap erat semua janji yang pernah dibisikkan pada lembaran-lembaran hari. Bahwa aku, akan setia pada orang yang mencintaiku dengan sempurna.

“Owh… baiklah Hyung, aku hormati prinsipmu. Padahal Hyung, bibir Hyuna masih perawan. Aku jamin bahwa belum ada satu pun yang menjamahnya, termasuk aku. Sayang sekali. Wah wah, bisa-bisa aku diusir pihak keluarga karena ucapanku barusan. Baik, lupakan. Hyung, yang jelas kau beruntung. Hyu itu gadis yang lugu, sederhana. Ah, sebelum kulanjutkan. Aku ingin memanggil seseorang untuk menemaniku di depan sini.”

Deg.

Kibum sialannnn! Kalau saja saat ini aku memakai sepatu kets sobek-sobek kesayanganku itu, sudah kulempar wajahnya. Ini tidak sekonyol yang kupikirkan tadi, bahwa Kibum bermaksud mengatakan cinta atau sejenisnya. Ini lebih… lebih segala-galanya dari apapun.

LJK. Tiga huruf maut yang tidak pernah enyah dari otakku sejak pertama kali menjejakkan kaki di bangku perkuliahan. Pelan-pelan kusapu air mata haru yang sejak tadi menetes di pipiku. Sungguh, di depan pria ini, pria yang sedang berjalan dari arah pintu ruangan ini aku tidak ingin menitikkan air mata. Kibum-ah… kau telah melanggar janjimu sendiri. Bukankah kau telah berjanji bahwa rahasiaku yang satu ini tidak akan pernah kau bocorkan? Lee Jinki. Ya, kau jelas tahu bahwa pria itulah yang selalu mendekam di sudut jiwaku, menawarkan bayang-bayang senyum indahnya dan kesempurnaan karakternya yang begitu menyihirku.

Lee Jinki, pria itu melenggang dengan seluruh kharisma yang mengiringinya. Dia dia dia… ahhh, kalau tidak ada Yoochun di sini, aku mungkin sudah memilih pura-pura tak melihat Jinki, misalnya dengan berakting sedang mengamati rayap di sudut-sudut ruang. Tapi, kalau aku melakukan itu sekarang, akan terlihat jelas bahwa aku sedang lari. L-A-R-I. Ya, lari berarti aku sedang menghindari sesuatu, yang kelak akan mudah ditebak bahwa aku sedang bermain kejar-kejaran dengan perasaanku sendiri. Dan apa itu yang ada di tangannya? Sebuah piala? Oh Tuhan, aku baru teringat sesuatu.

“Hyuna-ya… selamat menikah dan menjalani sebuah kehidupan yang benar-benar baru.”

Jinki baru mengucapkan beberapa kata yang seketika terangkai, berkomplot membuat jantung ini terasa bagaikan dikebiri, lari pontang-panting, terseok, jatuh di lubang yang tidak disangka—mengantarkanku pada sebuah taman yang sama sekali tak dipenuhi bunga, melainkan dihiasi deretan proyektor yang berpadu apik dengan layar putih; memainkan kisah lama selama 4 tahun belakangan.

Kurasakan tangan Yoochun beralih ke pinggangku, lama-lama semakin terasa bahwa ia sedang menjagaku. Ah, atau bisa jadi sedang memberikan aku sebuah keyakinan berbunyi: tenang saja Hyuna. Hidup barumu akan bahagia bersamaku.

Gomawo…,” Beberapa detik kemudian lidahku baru terbebas dari kelunya.

“Aku sebagai ketua kelas dari jurusan kita, pernah sekali mengutarakan celetukan ria. Demi menjaga hubungan pertemanan satu angkatan, setiap ada yang menikah maka akan mendapatkan kesempatan memegang piala bergilir. Dengan begitu kita akan tahu siapa saja yang sudah menikah dan mau tidak mau ada rantai komunikasi ketika si pemegang lama harus menyerahkan pialanya pada pengantin baru.” Lagi-lagi ia tersenyum, menengok ke belakang—ke arah teman-teman kuliah yang tampak ramai berderet di bangku barisan tengah. Lantas tak lama pidatonya itu disambut teriakan riuh mereka.

“Sungguh aku tidak pernah menyangka bahwa…”

Oh Yoochun Yoochun, I need you! Jangan bilang Jinki akan mengatakan bahwa dia tidak menyangka bahwa selama ini aku memendam rasa padanya, dan lebih terkejut saat mendapati aku yang bertitel ‘Pemengang Piala Pertama’.

“Ah, ya ya ya… di dunia ini memang banyak hal yang tidak disangka.” Menyambar, aku tidak tahan lagi mengendalikan rasa salah tingkahku. Kalau ini bukan resepsi pernikahan, aku sudah menggoyang-goyangkan tubuhku tidak jelas, ke kanan ke kiri, salto, atau apapun yang bisa membuatku terbebas dari kunci Bumi yang menahanku di permukaannya: menjadikanku seperti patung bodoh.

“Ya, memang kisah Tuhan tidak bisa disangka. Kau yang selama ini kukenal sebagai manusia super cuek, ternyata adalah hawa beruntung yang tidak harus menunggu lama adamnya. Padahal di luar sana banyak wanita yang masih digantung-gantung nasibnya mengingat jumlah wanita jauh lebih banyak daripada jumlah pria.” Jinki menuntaskan penjelasannya, kali ini tidak ada lagi jeda untuk memotong.

“Oke, sebentar Jinki-ya. Sebelum kau serahkan piala itu pada Hyuna. Aku punya sebuah pertanyaan kecil untuk kalian berdua.” Kibum bicara lebih dulu sebelum aku sempat memikirkan kalimat tanggapan untuk ucapan Jinki. Ia pun melanjutkan, dan ini yang membuatku ingin menjadi super hero yang bisa menendang seorang penjahat hingga ke Samudera Antartika. “ Ini semacam permainan kejujuran. Hyuna! Kau pernah mengatakan bahwa permintaan sahabatmu pasti dikabulkan. Oleh karena itu, jawablah pertanyaanku.”

Pasrah. Aku hanya bisa melirik pada Yoochun, mencari izinnya untuk menanggapi Kibum atau tidak. Dan jawaban Yoochun membuatku takut bercampur cemas. Ia mengangguk sekali, tersenyum, dan berbisik, “Hyu, hadapi. Jangan pernah hindari apapun di dunia ini.”

“Oke Hyu, aku kenal kau. Diam artinya pasrah. Hyu, selama kuliah, apa yang kau pikirkan tentang seorang Lee Jinki?” Kibum mulai menjelma menjadi musuhku. Sumpah, ia adalah pengkhianat besar! Kurang ajar!

Lalu sekarang aku harus menjawab seperti apa? Mengaku terang-terangan bahwa selama ini aku memang mengagumi setengah mati seorang Lee Jinki? Tidak, hatiku maupun otakku menolak pilihan itu. Keraguanku selanjutnya adalah, apa benar aku masih punya pilihan jawaban yang lain? Kibum akan jelas-jelas tahu kalau aku memberikan jawaban bohong.

Sebentar. Kali ini aku tidak akan menjadi gadis lugu, tolol, dan menjawab polos begitu saja. Ada sesuatu yang mendorongku untuk merubah semua ciri khasku itu, setidaknya untuk saat ini. Pejamkan mata, Hyuna. Tenang. Pasti kau akan menemukan apa yang sebetulnya ingin dikatakan hatimu kalau kau mendengarkan bisikannya yang hanya bisa ditangkap dalam kesunyian.

Lama aku berdiam diri, membiarkan hadirin yang mulai riuh untuk bersabar sedikit lagi. Aku, di saat seperti ini harus bisa membedakan dengan jelas aneka perasaan yang bercampur aduk acak-acakan di dalam relung hatiku.

Detik ini aku mempertanyakan, apa yang sesungguhnya pernah kusebut sebagai cinta, dan apa benar bahwa cinta itu bukan ilusi yang sengaja diciptakan otak saja. Karena nyatanya, aku jelas tahu bahwa ketika aku mulai mengagumi seseorang, aku akan mengamatinya lebih dulu. Baru ketika aku menyukai karakternya, aku akan memutuskan apakah perasaanku ini layak meningkat pada tahap berikutnya atau tidak. Itu yang kini tergambar di dalam dunia sunyiku.

Sekarang, aku sudah tahu apa yang ingin kusampaikan. “Lee Jinki… maafkan aku. Selama ini aku telah sembarangan mengagumimu. Tanpa berpikir panjang apa aku cukup layak untuk melakukannya. Tega benar aku menilai semua sifat dan sikapmu. Yang ini jelek dan yang ini bagus. Dan karena aku menilai kepribadianmu didominasi oleh  ‘bagus’, maka aku memutuskan bahwa rasa kagumku berhak dilanjutkan menjadi cinta. Padahal? Memangnya aku bagus? Jelek, suram. Tapi, memang itulah proses tentang bagaimana nantinya aku bisa begitu memfokuskan semua duniaku pada sosokmu. Berawal dari sebuah proses seleksi hingga akhirnya tanpa sadar aku telah terseret terlalu jauh. Duniaku adalah sebuah kegelapan yang terbalut cahaya terang. Hanya seolah terang dan indah, tapi kenyataannya aku sudah tidak tahu apa-apa lagi. Begitu sadar, aku sudah tidak punya lagi mata untuk melihat sikapmu. Apapun, semua tentangmu menjadi indah di mataku.”

Aku menghentikan kalimatku sejenak. Bisa kurasakan bagaimana jantung ini berdegup super duper kecang dan cepat. Seperti diajak bermaraton penuh sengsara. Sekarang aku sama sekali tidak ingin membunuh Kibum ataupun meneriakinya. Berkat pertanyaannya, aku menjadi tahu jawaban atas pertanyaan Yoochun—bahwa aku tidak akan pergi dari sisinya.

Lee Jinki, pria itu menyimakku antusias, tampak menahan senyum tapi bisa kudapati mata indahnya itu agak samar-samar di pengelihatanku. Kacamata berbingkai hitam yang dikenakannya itu mungkin sedikit berembun, atau memang mata itu yang sedang berusaha menutupi wujud aslinya di balik embun-embun yang menempel di berbagai area kaca.

“Sampai sekarang aku masih buta, jujur. Dan itu yang membuatku takut dan mengambil sebuah langkah berani. Kemudian hari ini aku sadar, bahwa segala sesuatu yang sempurna itu sesungguhnya tidak pernah ada. Yang ada, aku buta. Aku tidak ingin terus terjebak dalam dunia palsu itu. Dan detik ini aku meyakini, bahwa aku bukan mencari kesempunaan dari diri seseorang, sekalipun itu dari seorang Lee Jinki. Untuk hidup, aku hanya butuh satu. Pria yang bisa menerima diriku dengan sempurna, lengkap dengan semua kekurangan yang melekat pada diriku. Lee Jinki, terima kasih telah membuatku buta sehingga begitu menemukan setitik cahaya saja, aku segera bersyukur bahwa Tuhan telah memberiku jalan yang terbaik.”

Mataku basah, aku memang menangis. Benar-benar menangis. Tapi air mataku ini bukan air mata kesedihan karena harus diikat oleh seorang Park Yoochun, bukan Lee Jinki. Dan semua ini semakin menjadi tatkala aku melihat seorang Lee Jinki ikut menangis di hadapanku. Sungguh aku dibuatnya bingung. Untuk apa ia menangis? Apa kalimat panjangku tadi sangat menyedihkan? Atau terdengar minta dikasihani? Apa begitu?

“Terima kasih, Hyu. Aku suka pemikiranmu dan itu sungguh masuk akal. Terima kasih pula atas kejujuranmu dan kebutaanmu. Dengan demikian, setidaknya aku yang punya banyak cacat ini pernah menjadi sosok yang begitu sempurna. ‘Pernah’, memang kata yang cukup menyesakkan. Tapi memang kata ‘selalu’ itu hanya punya Tuhan.” Lee Jinki, selalu membuatku terpesona dengan wibawanya dan kalimat-kalimatnya yang bijak, tidak merendahkan dan tidak pula menyakitkan. “Hyuna, melangkahlah ke depan. Terimalah piala bergilir ini dari tanganku,” titahnya kemudian. Dan aku pun patuh begitu saja.

Tanpa ditemani Yoochun, aku menghampiri Jinki yang berdiri di sisi sebelah kanan dekat altar. Lama kami saling membisu, hanya saling menatap dalam posisi berhadapan yang hanya terpaut jarak dua langkah. Seolah sinar mata bisa berperan layaknya telepati yang menyuarakan akad serah terima piala.

Andaikan dunia ini hanya berbau matematika dan segala jenis perbandingannya. Aku sudah pasti kelimpungan menjumlahkan total keunggulan seorang Park Yoochun yang kemudian harus dibandingkan dengan kelebihan yang dimiliki Lee Jinki. Untunglah bukan. Dunia itu milik pujangga. Siapa yang bisa menyusun barisan kisah menyentuh kalbu, maka dia yang akan lebih terasa kehadirannya.

Memang betul aku baru mengenal Yoochun setahun yang lalu, jauh jika dibandingkan dengan waktuku berteman dengan Jinki—empat tahun. Tapi sekali lagi Matematika itu tidak bisa diterapkan sepenuhnya di dunia ini.

“Han Hyuna. Perlu kau tahu dan sadari. Sampai detik ini aku adalah sahabatmu. Aku tidak pernah membocorkan rahasiamu, kau sendiri yang mengatakan. Semua ini aku lakukan semata-mata agar semuanya terurai. Sedalam apapun perasaan yang pernah kau punya, semua itu tidak ada lagi artinya kini. Bukan karena penolakan, melainkan takdir memang sudah menggariskannya.” Ucapan Kibum selanjutnya tidak bisa kubantah. Aku yang memutuskan untuk menjawab ini, mengutarakan semuanya, yang secara tidak langsung memang telah menjebloskan diriku sendiri ke dalam permainan kata Kim Kibum. Lagi-lagi, sahabatku itu tak pernah sukses membuatku marah padanya.

“Baiklah, Hyu. Karena kau telah menjawab. Sekarang aku juga harus melakukannya. Selama ini aku hanya memandangmu sebagai sosok yang polos, tidak pernah berpikir aneh-aneh. Sesederhana itu. Dan Hyu, selanjutnya kau harus menyerahkan piala ini pada orang yang mengikuti jejakmu untuk menikah. Untuk itu, dua bulan ke depan. Kutunggu kau menyerahkannya padaku, datanglah bersama suamimu.”

Suara Jinki membuat suasana hening. Membeku, mulut ternganga bodoh.

Fin

 

Iklan

  1. Nggak kebayang deh perasaan Hyuna, kalau wajah manusia bisa berubah warna sesuai perasaan, mungkin wajah Hyuna udah kayak pelangi gitu ya, ganti-ganti warna terus 😀
    Ucapan Jinki yang terakhir itu…ehm..sesuatu, wajar sih Hyuna jadi kaget. Dan mulutnya Kibum nggak bisa direm as always 😉

    • Campur aduk pasti rasanya kalo ada kisah begini dlm pernikahan kita, Mi. Dan sebuah pengalaman bikin aku takut maen truth or dare, temenku ada yg pernah ditodong ngaku suka sama siapa gara2 pertanyaan macem kibum.

      Yeah, Key tukang ngomong sejati. Ga tau kenapa, image-nya selalu begitu di otakku nih

      Tengkyu ami udah berkunjung ^^

  2. td di awal smpt misconception gtu.
    pas baca deskripsi pipi bulat /eh itu ya tadi?/ trus lesung pipi, pikiran tuh udh ke jinki. tp merasa janggal jg, biasanya klo jinki pasti deskripsinya jg gak jauh dr mata segaris gtu. trus jg nyebut ajussi. msh mikir ‘oh jinki ceritanya jd ajussi di sini’
    eh pas bc paragraf slnjutnya baru ngeh… lol… lupa ada satu cast lagi. hahahahahahahahhahahahaha

    bener2 ya key. iya sih dia gak bocorin rahasia sahabatnya scra langsung. tp dia ngebocorinnya melalui org yg punya rahasia itu. hahahaha kibum babo.

    eh tp td smpt jg mikir key mau nyatain cinta ke hyuna. wahahahahaha

    bener kaaaan jinki jg mau nikah. wkwkwk
    tgl 10 april kmrin fitting baju pengantin sama aku.

    • JInki….nggg, blom cocok jd ahjussiiiii… mukanya masih cocok jd anak SMP imut-imut malah .___.

      Ih kok kibum babo sih, justru Key ini pinter eon, dia tetep dpt inti yg dia mau tanpa harus dia yg bongkar…

      makasih ya eonni udah mampir ^^

  3. Wah, ini daebak. Aku baru pertama kali ke sini dan langsung terpikat sama susunan kalimat yang gentle–ringan, tapi tetap mempesona. Kadang lucu, kadang melankolis. Ah, love it very much 😀

    dan ga nyangka waktu Jinki bilang pialanya bakal berpindah tangan secepat itu. Haha.

    Ah, I love your style, really ❤

  4. OH MY GOD
    ah gila si Jinki gokil banget!
    aku semacem kebawa gitu sih, jadi berasa di posisi Hyuna. Antara mau marah sama Kibum sama mukulin diri sendiri
    kupikir akan ada twist kalau Jinki ternyata suka sama dia, atau kibum yang diem diem naksir hyuna. kayak cerita kebanyakan
    ternyata dia justru… dua bulan lagi… ya ampuuunn!

    awalnya sempet salah fokus… lesung pipi… tampangnya Lay langsung kebayang hahahaha
    jauh banget yeee dari yoochun ke lay xDD
    sempet ngira juga plot ceritanya bakalan kayak Operation Proposal.
    seriously, amazing.

  5. Lay? Jaoh bangettt, Lay masa udah ahjusssi sih?

    Oh, manusia macem kibum dan jonghyun di cerita ini beneran ada, dua sahabatku yang rasanya pingin aku lempar sepatu ato pukul pake bata kalo mulut embernya udah kumat.

    ini semi curhatan sih sebenerna, hehehe….

    makasih kunjungannya ^^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s