Half Eye – Part 2

Author: Fla

Main Cast: Kim Kibum, Han Hyuna,  Lee Jinki

Rating: PG-15

Genre: Romance

Length: Sequel

 Half-Eye2

Disclaimer:

Semua yang ada di dalam cerita ini hanya fiktif belaka. Nama cast hanya dipinjam untuk kepentingan cerita semata.

Fla © 2013

Family

Kelelawar malam bergelayutan pada dahan pepohonan, bintang malu-malu bertahta di langit. Ini sudah pukul dua dini hari dan Hyuna baru terbangun dari tidur lelapnya. Kepalanya terasa pening, mungkin terlalu lama berleha-leha di dalam alam mimpi. Beberapa detik ia mengerjapkan matanya hingga tersadar bahwa siang tadi sebelum tertidur, Key berada di sampingnya.

Astaga, apa tadi aku tidur bersamanya?’ Pertanyaan itu terbesit berbarengan dengan leher yang menengok ke sisi kanan tubuhnya. Ia tidak berhasil mendapati Key tertidur di samping guling yang menyekat keduanya tadi. ‘Hosh, syukurlah,’ batinnya lega.

Hyuna memang tahu bahwa Key adalah penyuka sesama jenis, namun ia tidak bisa meyakini sepenuhnya bahwa seorang pria sama sekali tak memiliki ketertarikan untuk menyentuh tubuh wanita. Seorang banci sekalipun tidak mustahil mencabuli seorang gadis tak berdosa. Apalagi seorang Kim Kibum yang masih tampak seperti pria normal, tidak mustahil.

Perlahan Hyuna beranjak dari ranjang, jemarinya yang masih terasa lemas pun dipaksakan untuk bergerak, patah-patah mencari tas yang ternyata sudah aman tersimpan di atas meja. ‘Ah, pasti Key yang melakukannya.’

Hyuna mengecek agendanya melalui tablet, besok ia harus tiba di Busan sebelum pukul 12 siang. Dua hari rencananya tercatat selama di sana. Selepas berpartisipasi dalam Fashion Week, ia berniat mengunjungi ayahnya terlebih dahulu, baru keesokan harinya harus menghadiri pertemuan dengan para investor.

Ah, bagaimana gerangan kabar pria tua itu? Rasanya cukup lama Hyuna tak bersua dengannya. Terakhir kali ia bertemu sang ayah, keduanya hanya berbincang beberapa menit, setelah itu Hyuna tak sanggup lagi bertatap wajah dengan pria tua yang sudah mulai kehilangan energi mudanya itu.

Ada canggung tak terbendung—bahkan sebelum ia bertemu dengan ayah kandungnya itu. ‘Sudahlah, tak usah dipikirkan.’ Lagi-lagi Hyuna menepis segala pikiran buruk yang sekiranya bisa memecah konsentrasi dan menghancurkan mood kerja.

Hei, kerja? Ya, ya. Meski hari sudah malam, bukan berarti menjadi dalih untuk tak produktif, ada sesuatu yang harus dilakukannya. Kaki Hyuna segera melangkah ke galeri mimpinya, ada beberapa ide melintas setelah mengamati beberapa bagpacker asal Kanada yang berkeliaran di Incheon Airport tadi siang. Sytle mereka yang sederhana dan terkesan urakan justru mengilhami Hyuna untuk menorehkan goresan pensilnya.

Belum sempat ia memijak anak tangga pertama, sebuah aroma dari arah dapur menarik minatnya, telingannya menangkap bunyi gesekan stainless steel. Hyuna menyempatkan diri menengok dapurnya yang bergaya kontemporer—berisikan funitur serba ramping yang didominasi oleh peralatan berbahan stainless steel. Benar saja, Key sedang asyik bermain-main dengan adonannya. Hyuna kini tahu aroma apa yang menggelitik hidungnya. Ya, aroma khas mentega, wangi yang selalu digemarinya sejak dulu. Menyeret rindunya pada sosok sang ayah.

Tadinya Hyuna berniat langsung menghampiri Key, tapi semua itu tertahan tepat ketika ia menjejakkan kaki di pintu dapur. Sorot mata serius milik Key menjadi sebuah objek amatan yang menarik bagi Hyuna. Pria itu, berujung mata runcing dan tajam layaknya rubah, memiliki alis cukup tebal dengan garis rahang yang tegas. Hmm, kalau dipikir, memang sangat tampan. Hyuna merasa beruntung telah menemukan pria seperti Key—tampan, tak banyak menuntut, bisa menutupi celahnya, sekaligus tak perlu menghancurkan prinsip yang dibangunnya sejak awal.

“Key, kau tidak mengantuk?” sapa Hyuna berbasa-basi. Sesungguhnya ia tak tahu harus menampakkan diri dengan cara seperti apa. Sejak tadi kehadirannya di ambang pintu tak kunjung disadari Key. Tentu tidak lucu jika menyapa pria itu dengan teriakan girang di tengah malam seperti ini.

“Kau sendiri? Bukankah setiap malam kau nyaris selalu terbangun di waktu-waktu seperti ini?” timpal Key sembari menambahkan susu bubuk secara hati-hati ke dalam adonannya.

“Kau mengetahuinya? Bukankah kau selalu tertidur pulas ketika aku bangun?” balas Hyuna tanpa menjawab pertanyaan Key.

“Hyu, aku memang tidur, tapi kau sadar tidak? Bunyi alarm ponselmu itu sangat keras. Ckck, mengganggu saja,” protes Key setengah bercanda. Ia meletakkan bungkusan susu bubuk tadi dan kemudian menopangkan dagu di atas kitchen table biru. “Hyu, ada hal-hal yang bisa diketahui tanpa harus berniat ingin mengetahuinya.” Key mengedip nakal—entah apa maksudnya.

Hyuna tertawa dan lantas meniru pose yang sama dengan Key. Ia sedikit mendongakkan dagunya agar matanya tak langsung tertuju pada Key. “Yah, terserah kau saja, aku senang karena kau berusaha mengetahui tentangku walau aku sama sekali tak meminta.” Ditepuknya bagian pipi Key dengan kedua telapak tangan. Kali ini Hyuna menujukan seluruh fokusnya pada wajah Key—bahkan hingga menelisik pori-pori kulit namja itu.

Lembut, tak ada jerawat nakal, pun tak ada bopeng kecil walau hanya satu. Benar-benar seperti wajah yang terawat dengan baik, Hyuna sampai menggelengkan kepalanya karena merasa heran, “Key, apa pria sejenismu gemar merawat kulit? Eumm, sepertinya kau berperan sebagai pihak feminim dalam hubunganmu dengan Jonghyun?” tanyanya iseng.

Key hanya membalasnya dengan senyum. Tentu, apalagi yang bisa dijawabnya? Hubungannya dengan Jonghyun hanyalah rekayasa. Mereka hanyalah sobat karib yang kini harus terenggangkan jaraknya setelah debut Jonghyun sukses besar dan menghantarkan pria itu ke dalam deretan penyanyi Korea Selatan bersuara emas.

Key memegang balik pipi Hyuna, memutuskan untuk mengelusnya pelan. Entah siapa dan apa yang mendorongnya, ia hanya ingin menyentuhkan tangannya pada kulit Hyuna. Pria itu menikmati setiap detik yang berlalu, terkunci bersama hening dalam posisi yang saling terhubung melalui telapak tangan dan pipi masing-masing.

Ah, bodoh, bodoh! Apa yang kau lakukan, Key?’ Baru beberapa menit kemudian Key segera tersadar dari segala tingkah konyolnya, ia mengakhiri kegiatan aneh itu dengan sebuah tepukan pelan di pipi Hyuna. “Jangan berpikir macam-macam, Hyu. Aku hanya mencuci wajahku setiap mandi dan sebelum tidur, selebihnya adalah anugerah Tuhan.” Key buru-buru menyibukkan dirinya lagi, kali ini dengan mengendalikan arah gerak mixer.

“Oh, begitu. Tapi kurasa kau memang tidak terlalu suka membahas perihal hubunganmu dengan Jonghyun? Kenapa? Bukankah kita teman hidup yang seharusnya saling berbagi kisah?” pancing Hyuna iseng. Ia begitu penasaran dengan hubungan sesama jenis. Bagaimana cara mereka berinteraksi, menyalurkan cinta dan perhatian, bagaimana proses saling memahami yang terbentuk di antara keduanya, dan bagaimana mereka memposisikan diri di hadapan pasangannya. Dalam dunia kerjanya memang ada beberapa rekan yang juga gay, tapi Hyuna sama sekali tak berani bertanya.

“Hyu, aku heran kenapa kau terlahir dengan mulut yang begitu ringannya berbicara,” tanggap Key malas. Ia menekuk satu tangannya di pinggang, mukanya menampakkan rasa enggan meladeni.

Hyuna segera melangkah, memposisikan diri di sebelah Key. Yeoja itu menyadari bahwa Key merasa sebal dengan pertanyaannya tadi. “Tidak, aku hanya seperti ini di hadapanmu. Key, walaupun pernikahan kita hanya sebatas surat nikah, tidak dalam artian saling menautkan jiwa dan raga, tapi aku ingin kita menjadi sahabat berbagi yang baik. Oke?” Dirangkulnya pundak Key dengan erat, alisnya naik-turun seirama dengan gerak kelopak mata humoris yang sengaja diciptakannya.

Otak Key segera berputar mencari cara. Ya, rasanya pelan-pelan ia akan mengalahkan akting Kwon Sang Wo ataupun Song Seung Hun—karena faktanya Key berhasil bermain indah di hadapan Hyuna selama beberapa tahun. ‘Santai Key, santai. Kau harus menanggapinya dengan ringan. Sama halnya dengan Hyuna yang berbicara tanpa beban kepadamu,’ tekan otaknya.

Yes, aku juga ingin yang seperti itu. Tapi Hyu, begini…,” Key melepaskan tangan Hyuna dari pundaknya. Ia segera menggiring Hyuna ke kursi bar stool abu-abu yang ada di depan kitchen table tadi, mendudukkan wanita itu dengan sopan. Lantas kedua tangannya beranjak ke atas bahu Hyuna, tersenyum tipis menatap gadis itu, “bayangkan posisi kita terbalik. Lalu, apa kau suka kalau ada orang yang memberondongimu dengan pertanyaan seputar hubungan homoseksualmu? Tentu tidak, ‘kan?”

Hyuna mengangguk setuju, Key selalu tahu cara mengunci keliaran mulutnya. Sebuah senyum kecut melayang dari bibir Hyuna. Detik berikutnya yeoja itu berdeham grogi, merasa canggung ditatap Key dengan intens. Ditambah lagi dengan kulit tangan Key yang terasa hangat di bahunya. Ia menyesal mengganti pakaian kerjanya tadi dengan sebuah busana tidur tanpa lengan. “Ehm, Key… lepaskan tanganmu…, Honey,” pinta Hyuna sembari menujukan gerak bola mata ke arah pundaknya.

Key segera tersadar atas tingkah lakunya, secepat kilat ia memenuhi tuntutan Hyuna tadi. “Oke, Nona cantik, apapun yang kau inginkan. Baiklah, ini waktunya kau bertapa di galeri mimpimu, bukan? Aku tidak keberatan mengantarkan pancake yang sudah jadi nanti ke ruanganmu. Tapi kau tidak boleh menolakku karena alasan diet, ya?”

***

Srekkk.

Pintu terbuka otomatis begitu ada orang yang datang. Semua kepala menoleh dan mendapati Key tersenyum sumringah di depan pintu kaca tadi. “Selamat pagi, Kawan!” Key menyapa seluruh karyawannya dengan riang.

Tak peduli siapa—entah orang yang sedang sibuk mengepel lantai, menyingkirkan debu di langit-langit dan jendela, membersihkan mesin espresso, ataupun yang sedang memasukkan aneka camilan basah ke dalam etalase kaca—semuanya membalas sapaan Key dengan hati gembira. Merasa beruntung memiliki bos yang super baik plus bersahabat.

“Bos, kau tampan sekali hari ini,” puji Changmin—sang pakar pembuat croissant[1] dan waffle[2].

“Wohoho, tapi tetap saja Hyuna pernah mengatakan padaku bahwa kau lebih tampan dariku,” balas Key dengan tawa renyahnya. Ia mengambil satu croissant berisikan selai anggur, “Aku lapar, tadi tidak sempat makan karena harus membantu Hyuna bersiap-siap ke Busan, dia mengambil KTX Train pukul 7 pagi,” celotehnya dengan mulut yang cukup berisi.

“Menggunakan kereta? Kenapa wanita karir seperti dia tidak menggunakan pesawat saja agar lebih cepat?” seloroh Changmin asal.

“Sayangnya tidak ada penerbangan jam pagi, yang tercepat adalah penerbangan pada pukul 18.30 dari Gimpo Airport. Yah, alhasil dia memilih kereta. Dan parahnya, pagi tadi kami sama-sama bangun terlambat,” balas Key.

“Hei, hei? Omong-omong kenapa kalian sama-sama terlambat? Bukankah bisanya kalian bangun pagi? Holaaaa, sepertinya tadi malam habis terjadi sesuatu? Hoahh, semoga kalian segera mendapatkan momongan.” Daehyun yang sedang membersihkan kaca ikut ambil bagian, ia paling gemar menggoda bosnya itu.

Pipi Key memerah tomat, senyum terkembang otomatis—namun buru-buru ia menyanggah, “Wohoho, jangan berpikir aneh-aneh. Semalam aku bereksperimen membuat pancake, dan Hyuna tetap bergelut dengan pekerjaannya. Yah, kami memang sempat berbincang di dapur dan… hmmm, memang ada sedikit momen manis di antara kami. Ah, aku hanya membawakan pancake ke ruangannya dan kami makan bersama, tidak bisa juga disebut istimewa. Aku tidak bisa berbuat semauku, tentu saja. Dia punya prioritas juga dalam hidupnya.” Volume suara Key makin menciut di akhir, pria itu menggaruk tengkuk yang tak gatal sama sekali.

Changmin mengamati ekspresi wajah Key menjelang akhir kalimatnya. Yah, ada sedikit nuansa kelam di dalamnya, hanya saja bosnya itu pandai menyembunyikan perasaan. Changmin tak tahu ada masalah apa yang dipendam bosnya, yang jelas ia tak ingin merusak suasana hati Key. Maka, pria jangkung itu buru-buru menyambar, “Ah kau memang suami yang baik, Bos. Oh ya, bagaimana dengan rencana menambahkan beberapa jenis pancake dan souffle[3] ke dalam menu kita?”

“Baiklah, aku setuju. Tapi aku tidak akan menambah jumlah koki dulu sementara. Café ini masih dalam tahap berkembang. Eummm, aku tidak keberatan membantumu di dapur. Aku akan datang lebih pagi dari biasanya. Bagaimana?”

“Ya, ya! Shim Changmin, kau mau membuat coffee shop ini berubah menjadi toko pastry atau bakery, huh?” Paman Ahn—sang roaster[4] handal—berteriak dari balik pintu ruangan khusus mengolah kopi.

“Tidak apa-apa, Paman. Di tengah bisnis coffee shop yang makin menjamur, kita butuh mengusung daya tarik lain. Jadi para pengunjung tak hanya puas dengan menikmati kopi, mereka pun bisa mengisi perut dengan hidangan yang tidak terlalu berat. Kurasa aneka dessert yang sering disajikan di restoran memang cocok untuk menyandingi kopi. Tentu aku tidak akan lupa mengembangkan menu-menu minuman kopi kita, Paman.” Key berjalan ke ruangan pamannya, menghirup damai aroma kopi yang sedang dipanggang.

“Undang SNSD saja, kujamin pengunjungnya ramai!” keluh Paman Ahn dengan ekspresi kekanakan.

Key tertawa, paman yang satu ini memang lucu kalau sudah sewot. Ia tahu pamannya ini memang cukup konsisten menekuni segala seluk-beluk mengenai kopi, tapi orang tua seringkali tak peka dengan selera pengunjung yang mayoritas didominasi oleh kalangan muda. “Ah… Paman, aku tahu kau hanya cemburu karena nantinya aku akan lebih banyak melimpahkan perhatianku untuk Changmin selama beberapa waktu, bukan begitu?” celoteh Key ketika bergelayut manja di pundak pria berusia 50 tahunan itu.

“Ya! Jangan banjiri aku dengan rayuan genitmu itu. Kau limpahkan saja pada Hyuna agar kalian cepat dikaruniai anak!” sembur Paman Ahn galak.

Kalah telak. Oh, no, no, no! Jangan bicarakan soal rayu-merayu Hyuna, Key akan terpukul mundur karenanya. Pria itu hanya memanyunkan bibir, sampai rambutnya beruban pun Hyuna tak akan pernah mau rahimnya terisi individu baru. ‘Oh, hidupku dengan Hyuna hanya akan dilalui berdua sampai kakek-nenek bergigi dua! Aih, dipandang indahnya saja. Berarti tak  ada pengusik masa tua, bukan?’ Key mencoba menghibur dirinya dengan sebuah pemikiran tolol. Tentu tak ada pengusik, tapi artinya tak ada pula tawa indah cucu tercinta.

Srekkk.

 

Pintu terbuka lagi. ‘Siapa yang datang? Ini belum waktunya café buka,’ pikir Key.

Belum sempat Key melihat wujud sang tamu, celotehan cempreng familiar sudah memekakkan telinganya, “Oppa! Adikmu yang cantik ini datang berkunjung! Woahhh, Changmin Oppa, boleh aku cicipi spinach croissant ini? Kau boleh menjadi Popeye-ku nanti, yuhuhuuu, akulah si Olive cantik.”

Terbayang di otak Key bagaimana tingkah adiknya itu. Saat ini gadis itu pasti sedang melemparkan tatapan genit pada Changmin dengan jemari yang mengetuk-ngetuk bagian atas lemari kaca, plus bibir bawah yang tergigit gigi atas. Heran, kenapa bisa ada mahasiswa Pendidikan Matematika di Seoul National University yang secentil adiknya ini? Biasanya anak sains cenderung serius dan kalem dibandingkan anak yang bermayorkan bidang social.

“Hei, adikku yang terlalu percaya diri dan merasa dirinya cantik. Ada apa pagi-pagi merusuh kemari? Kau kehabisan uang bulanan, huh?” Key segera menarik adiknya dari hadapan Changmin, ia risih melihat kelakuan murahan macam tadi. Terlebih Key tahu betul hobi Changmin yang gemar menonton blue film. Key takut Changmin tergiur melihat lekuk tubuh adiknya itu.

Oppa, ckck, aku tidak semiskin itu, paling tidak aku masih punya penghasilan dari mengajar privat,” sungut Jiyoung—adik Key tadi.

“Lalu? Ooo, jangan bilang kau sedang tergiur dengan koleksi busana brand tertentu dan berniat merayuku untuk membelikanmu, begitu? Tidak, itu pemborosan!” sembur Key galak.

Jiyoung mengangguk seraya terkekeh konyol, “Ah… kau tahu saja. Oppa, aku naksir salah satu rancangan Hyuna Eonni. Tidak bisakah aku mendapatkannya satu secara gratis? Ah, ayolah… untuk adik ipar harusnya tidak masalah.”

Key berdecak malas, ia paling tidak suka dengan permohonan atau apapun yang membuatnya harus meminta pada Hyuna. Tidak, cukup sekali saja ia pernah merendahkan harga dirinya di hadapan Hyuna—saat ia memutuskan menerima tawaran Minho untuk menikahi Hyuna dengan beberapa penawaran yang diajukan yeoja itu.

Aigooo, Jiyoung-ah. Kau tahu, rancangan Hyuna itu merupakan koleksi terbatas dan harganya selangit. Aku tidak ingin dicap sebagai suami matre hanya karena permintaanmu itu! Jangan berpikir muluk-muluk, dasar bodoh!”

“Hei, hei! Pertama, aku tidak bodoh. Biarpun begini, aku berhasil meraih IPK nyaris 4. Kedua, tentu bukan matre. Apa sih artinya sehelai baju demi adik dari suami tercinta? Oh, kau yang terlalu banyak berpikir, Oppa! Baiklah, nanti aku akan bertemu sendiri dengan Hyuna Eonni!”

Hoaaaah, Key malas menanggapi. Tentu adiknya itu sama sekali tak tahu-menahu mengenai rahasia di balik pernikahannya. Hyuna mencintainya? Osh, tidak pernah ada dalam kamus bahasa manapun. Key kembali ke ruangan Paman Ahn, menurutnya lebih baik membantu pria setengah abad itu.

“Ah, Oppa, kalau begitu kabulkan permintaanku yang lain, ya?” teriak Jiyoung manja. Kali ini sambil mengusili Nona Zou yang sedang menata gelas pada rak. “Hey, Zou Eonni. Bantulah aku membujuk kakakku yang keras kepala itu, please?” imbuhnya sembari merebut sebuah gelas dari tangan yeoja yang berusia 6 tahun lebih tua darinya itu.

“Astaga, Key… lihat, adikmu merayuku sekarang. Sesekali jadilah kakak yang baik tidak ada salahnya, mungkin.” Nona Zou tertawa kecil. Mata sipit khas keturunan tionghoa milik Zou bertambah menyipit hingga menyisakan satu garis saja.

“Tidak, Nona Zou. Adikku ini terlalu terpengaruh budaya anak muda yang hanya tahu belanja. Kalau aku konglomerat sih tidak masalah, nyatanya bukan,” tegas Key. Pria itu kembali menghampiri Jiyoung sebelum adiknya berulah lebih parah. Kali ini Key berkacak pinggang ala bos yang sedang menceramahi anak buahnya.

“Huh, siapa yang mau minta barang lagi, Oppa? Aku hanya ingin minta izin tinggal di rumahmu selama seminggu. Huh, aku bosan tinggal berempat di dalam satu apartemen sesak,” dumal Jiyoung keki.

WHATTT?” Kelopak mata Key melebar maksimal. Tingkat kepanikannya seketika muncul dan langsung menanjak drastis menuju titik puncak. Andwae, andwae… Jiyoung bisa curiga dengan rumah tanggaku! Tidak, tidak bisa. Bagaimana aku harus melarangnya? Oh, katakan saja Hyuna butuh privasi. Atau, Hyuna tak suka ada orang luar? Eh, tapi adikku itu masih terhitung sebagai kerabat. Atau… Hyuna tak suka suara cempreng khas Jiyoung? Ah, oke, masuk akal.

“Jiyoung-ah… kau tahu, ‘kan? Bekerja dan mendesain itu butuh konsentrasi penuh. Jadi, Hyunaku akan terganggu dengan teriakan manjamu itu. Lagipula, beradaptasilah dengan suasana apartemenmu itu. Jangan terlalu banyak menuntut, ne?”

Bukan Jiyoung namanya jika ia takluk. Ia merupakan tipikal orang yang meyakini seratus persen bahwa kalimat ‘ada kemauan maka ada jalan’ adalah sebuah kebenaran mutlak. Gadis itu segera memasang wajah polos tanpa dosanya dan mengacungkan dua jari—tengah dan telunjuk—membentuk tanda V. “Aku janji tidak akan berisik. Lagipula, cara ini sekaligus jadi ajang pendekatan demi mendapatkan baju yang kumaksud tadi. Aku jenius, bukan? Wohoho… kalau kau masih melarangku, aku akan minta izin langsung saja pada Hyuna Eonni. Aku yakin dia tidak seketat dan sepelit dirimu, Oppa! Atau aku akan memasang wajah tebal saja—muncul di depan pintu rumah kalian.”

***

Hyuna tampak anggun dengan atasan coklat pastelnya—berkerah bertha[5] putih, beraksen pita coklat kopi di leher—dan tapered skirt [6] berwarna fallow [7]. Pinggang rampingnya dikunci sempurna dengan obi [8] silver. Rambutnya digelung rapi di sisi kanan kepala, sementara poni kirinya yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai. Jari manis lentiknya dihiasi kemilau Swarovski [9] mungil.

Setelah seharian ini mengawasi sang asisten dalam memilih aksesoris yang sesuai dengan balutan busana para model, akhirnya ia bisa bernapas lega begitu pragawati pertama menampakkan diri di atas panggung, disusul dengan yang lainnya. Mata Hyuna tak lepas dari layar LCD TV yang tersedia di belakang panggung.

Selang beberapa menit, keriuhan kecil terjadi di backstage—tak lain berasal dari para asisten yang sibuk mengganti busana para model yang telah suskes tampil pada ‘ronde’ pertama. Setelah ini para model tersebut harus kembali menampakkan diri ke khalayak dengan mengenakan pakaian yang berbeda. Hyuna mau tak mau ambil bagian dalam kesibukan itu. Yah, walau hanya memasangkan kancing busana sang model. Pada pagelaran busana kali ini Hyuna menunjukkan kepiawaiannya dalam merancang paletot [10] yang tak monoton.

Bagian akhir yang selalu ditunggunya, ya, ia tersenyum sumringah tatkala gilirannya tiba—muncul di panggung bersama deretan modelnya. Badannya membungkuk sempurna memberikan penghormatan bagi hadirin yang hadir.

Sekali lagi sukses dituainya. Terbukti dengan banyaknya peminat fashion yang segera mengerubungi ketika yeoja itu menyempatkan diri singgah di stand milik brand-nya. Tak sedikit dari mereka yang minta tanda tangan. Hyuna pun tak segan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan antusiasnya bertambah ketika ada yang menanyakan planning desain produknya mendatang.

Di belakang kerumunan itu, ia melihat sesosok pria yang sudah menahun tak dijumpainya. Hyuna ingin segera menyudahi perbincangannya dengan kalangan sosialita kelas atas tadi, namun canggung untuk memotong celotehan mereka, khawatir dinilai tak sopan. Beberapa menit berlalu hingga akhirnya perbincangan berhasil ditutup dengan salam perpisahan hangat dari seorang Han Hyuna.

Ia segera berlari mencari kawannya tadi. Tidak mudah menemukan satu wajah di antara ratusan kepala. Lutut Hyuna bergetar, tumitnya terasa linu, rupanya ia terlalu lelah berlari sekalipun kakinya hanya terbalut kitten heels [11].

‘Orang itu, kenapa bisa ada di tempat seperti ini?’ Hyuna jelas tahu bahwa pria tadi bukanlah penyuka fashion, juga bukan pebisnis yang bergerak di industri ini. Seorang arsitek seperti dia tergolong cukup cuek dengan penampilannya.

‘Apa mungkin istrinya seorang desainer? Ah bukan, sejauh ini aku hanya mendengar gosip bahwa ia menikahi seorang perawat. Oh, bisa jadi istrinya cukup tertarik dengan busana, dan ia hanya mengantar pasangan hidupnya itu,’ simpul Hyuna dalam hatinya. ‘Omona, Hyu. Kenapa kau memusingkan hal itu? Astaga, sungguh tidak penting.’

Hyuna tak lagi ingin memikirkan pria itu. Ya, pria yang sempat ia ceritakan pada Tiara tanpa menyebutkan nama. Kakak tingkatnya yang sempat membuat hatinya ragu—antara ingin jatuh cinta namun terkalahkan oleh paranoid masa lalu.

***

Rumah tradisional Korea sederhana yang masih didominasi oleh kayu. Pekarangannya tak begitu luas, tapi paling tidak cukup untuk menjemur pakaian dan memuat sebuah gerobak lapuk. Hyuna ingat betul bagaimana kebiasaannya jika harus diperintahkan menjemur pakaian—sebagai anak yang baik, ia memang melakukannya. Tapi, mulutnya tak pernah henti mendumal setiap kali ia mengambil sebuah baju baru untuk digantungkan di tali tambang.

Hyuna terkekeh malu sekaligus haru ketika mengingat semua itu. Bagaimana bisa, dulu ia selalu mengeluh mengapa baju yang dijemurnya hanya itu-itu saja, selama delapan tahun nyaris tak ada yang pernah menyilaukan matanya karena tak ada yang berwarna ‘cling’. Ia merasa bosan sekaligus iri dengan teman-teman sepermainannya yang nyaris selalu mempunyai baju baru bahkan setiap bulan. Lantas suatu hari, ayahnya tak sengaja menguping ocehan Hyuna. Pria itu… awalnya Hyuna mengira ayahnya marah karena beberapa hari mendiamkannya. Ayahnya juga semakin sulit ditemui di rumah. Selepas pulang dari pekerjaannya sebagai guru di sebuah sekolah dasar, biasanya sang ayah akan beristirahat di rumah. Barulah di malam hari pria itu kembali mengais rejeki, menggeret gerobak tua tanpa lelah—mangkal di satu spot untuk menjajakan crepes. Tapi sudah seminggu belakangan, pria itu tak pernah lagi terlihat di rumah untuk beristirahat siang, ia baru muncul menjelang pukul 5 sore dan lantas bersiap untuk pekerjaan malamnya—tentu tanpa menyapa Hyuna. Yeoja itu akhirnya tahu kenapa ayahnya jarang terlihat di rumah nyaris sebulan. Rupanya, pria itu mengambil sebuah tawaran menjadi kuli panggul di pasar ikan, demi membelikan Hyuna beberapa helai baju!

Lantas bagaimana dengan ibu tirinya? Cih, jangan ungkit itu di hadapan Hyuna. Ada hal yang membuat Hyuna membenci ibu tirinya, wanita pemalas itu tak lantas berusaha kerja demi menyokong perekonomian keluarga, ditambah lagi dengan tiga anak nakal yang sudah dibawanya saat menikah dengan ayah Hyuna. Kenyataan itulah yang membuat keluarga mereka tetap kekurangan sekalipun sang ayah sudah bekerja ganda.

Pria itu, sungguh, tak banyak bercakap. Karakter seperti itulah yang membuatnya tak bisa dekat dengan sang ayah. Namun Hyuna jelas tahu bahwa ayahnya sangat sayang padanya. Sayangnya, semua kecanggungan itu semakin parah sejak Hyuna mendapatkan konfirmasi bahwa sebuah sekolah mode di Prancis menerimanya dengan memberikan sejumlah beasiswa yang tak seberapa besar. Sejak hari itu, sang ayah bertambah bisu. Pria itu tak melarang, juga tak mengizinkan—membuat Hyuna uring-uringan seorang diri hingga akhirnya gadis itu nekat mengejar impiannya.

Tanpa sadar air mata menitik pelan, kisah masa lalunya dan sosok ayah. Selalu berhasil memancing bulir-bulir bening penuh haru. Hyuna buru-buru mengusap matanya, ia tak mau menemui sang ayah dalam keadaan dirinya yang tengah menangis. Ia tak akan sanggup menanggapi tatapan kosong khas ayahnya yang mungkin hanya akan berujar, “Nak, jangan menangis hanya karena pria tak berguna sepertiku.”

Krietttt…

Pagar kayu tua menyuarakan bunyi khasnya begitu tangan Hyuna mendorong benda itu. Kerikil berserakan di lantai Bumi, beberapa lembaran daun tumpah-ruah dari pohon tua yang sudah ada sejak Hyuna kecil, berdiri kokok di pojok halaman. Dahulu pohon itulah yang dijadikan tempatnya belajar tatkala ia merasa muak dengan tingkah polah saudara tirinya yang manja. Dahan kokoh pohon itu telah menjadi saksi bagaimana Hyuna begitu giat belajar dan begitu rajin mengasah kemampuan imajinasinya dalam menggambar.

Tak ada suara apapun dari dalam rumah. Aneh, biasanya di tengah senja seperti ini sang ayah gemar memetik gayageum—kecapi bersenar 12 khas Korea yang diciptakan pada abad ke-6 di Kerajaan Gaya. Apalagi yang bisa dilakukan pria tua itu di masa tuanya? Berkebun? Dulu memang sering dilakukan, tapi kini asam urat telah menggerogoti pria itu hingga ia tak kuasa berdiri lama.

Cukup lama wanita itu berdiri di depan pintu, bermaksud untuk meredam gejolak batinnya yang mendadak buncah kembali. ‘Apakah Appa sudah tidur?’ hatinya bertanya-tanya. Ah, tidak, ayahnya bukan tipikal pemalas yang gemar tidur di sore hari.

Tok, tok, tok.

Tiga kali mengetuk pelan, tak ada jawaban. Akhirnya ia menambah tenaganya untuk mengetuk pintu. Namun tetap nihil. Yeoja itu memutuskan untuk menanyakan keberadaan ayahnya pada tetangga. Ia berjalan beberapa meter hingga berhasil menemukan penduduk yang tengah mengangkat jemurannya. Dengan sopan ia menanyakan perihal ayahnya itu.

“Hmmm, aku kurang tahu kemana beliau pergi dan kapan pastinya. Tapi, Nyonya Oh sempat menyinggung bahwa ayahmu sedang pergi ke rumah seorang kerabat… kalau tidak salah… ke Gangwon.”

Gangwon? Otak Hyuna berpikir sesaat. Ah, ya. Memang ada seorang kerabat ibu tirinya di wilayah yang terletak di timur laut Korea selatan itu. Ada apa gerangan dengan kepergian ayahnya ke wilayah itu? Sepengetahuan Hyuna, ayahnya tak pernah lagi menjalin kontak dengan kerabat istrinya selepas perceraiannya dengan wanita berbadan tambun itu. Ya, ayahnya menceraikan wanita itu ketika memasuki tahun ketiga Hyuna menimba ilmu di Paris.

“Oh, ne. Khamsahamnida, Ahjumma… kalau ayahku sudah pulang, sampaikan padanya bahwa anaknya pernah datang kemari.” Raut kekecewaan menguasai Hyuna pada akhirnya. Jelas saja, tidak mudah baginya untuk menjejakkan kakinya di tempat ini. Tak hanya masalah waktu, melainkan keberanian untuk menghadap sang ayah dengan segala kebisuan yang sering dipertontonkan pria itu. Hyuna merasa bersalah—ia sadar bahwa keputusannya pergi ke Paris telah membuat ayahnya terluka, menambah rasa sepi dalam hidup ayahnya. Dan waktu 4 tahun rupanya justru membuat sang ayah menjelma menjadi sosok yang seolah tak bisa berbicara.

Dengan lemas ia kembali lagi ke mobil sewaannya, mungkin Hotel menjadi destinasi satu-satunya kini. Walau ia bisa saja menumpang tidur semalam di rumah keluarga Minho. Ah, ia baru teringat bahwa dirinya sama sekali tak mengabari Minho tentang kepergiannya ke Busan.

Jemarinya mengetikkan deretan kalimat pada ponsel, tertuju untuk Choi Minho.

Minho-ya… aku di Busan. Gerobak tua itu masih ada, pohon besar tempat kita bernaung pun masih berdiri kokoh, rumah kayu itupun masih serupa dengan segala kesederhanaannya. Ah, ada yang berbeda, aku tak mendapati ayahku hari ini. Ia sedang melancong ke Gangwon, katanya.

To Be Continued

Footnote:

[1] croissant : Roti yang berasal dari Negara Prancis. Dibuat dari adonan tepung terigu, mentega, telur dan ragi. Adonannya berlapis tipis karena lemak yang digilas berlapisan dengan adonan tepung

[2] waffle : Dibuat dari adonan yang terdiri dari tepung, telur, gula, mentega, susu dan baking powder, dimasak di cetakan khusus sehingga bentuknya memiliki lubang-lubang.

[3] souffle : Hidangan manis dan lembut, terbuat dari kuning telur dan putih telur kocok serta bahan-bahan lain yang kemudian dipanggang/dioven. Ketika baru diangkat dari oven, ukurannya lebih besar dan mengembang, selanjutnya akan kempis setelah 20-30 menit.

 [4] roaster : gabungan antara chef dan mekanik yang bertanggung jawab memilih kopi terbaik kemudian meramu panas yang sesuai dan lamanya proses roasting—sehingga didapatkan biji kopi dengan warna yang diinginkan.

[5] bertha : Bentuk kerah yang biasanya terbuat dari renda, popular di abad ke-19.

[6] tapered skirt : Rok yang mengecil di bagian paha.

[7] fallow : coklat ravi.

[8] obi : Ikat pinggang yang biasanya dikenakan di bagian perut atau di bawah dada.

[9] Swarovski: Brand Kristal mewah yang berasal dari Austria, sudah berdiri sejak tahun 1895. Memiliki keindahan warna dan gemerlap kemilau.

[10] paletot: Pada awal abad ke-19  paletot merupakan mantel pria telangkup tunggal, mempunyai bagian rok yang dijahitkan dengan bagian atas. Seiring dengan perkembangan, paletot bisa disebut juga mantel yang dapat dikenakan wanita.

[11] kitten heels : Model sepatu yang berhak tidak terlalu tinggi, biasanya hanya 3-5 cm saja.

Iklan

  1. Yaayyy!! Lanjutannya udah rilis
    Baca bagian ini mood-nya lebih santai kayaknya, tapi Kibum tegang banget takut perasaannya yang sebenarnya terbongkar. Alamak, Hyuna, beneran nggak mau punya momongan sampai tua? Tapi bagian akhir mellow gitu, pas Hyuna ke rumah tapi nggak ketemu dengan ayahnya.
    Adegan di dapur itu keren *?* banget deh, pegang-pegangan pipi *duagh* ya, pokoknya gitu deh, romantis tapi nggak biasa.
    Adegan di kafe mengingatkan aku dengan film Antique Bakery, deh. 😀
    Tentu kau tidak boleh menolakku karena alasan diet, ya? >> aku merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam kalimat ini, entah susunannya atau apa. Kira-kira kalau kata ‘tentu’ dihilangkan jadi aneh atau nggak?

    bag packer >> backpacker (setahuku sih begitu)
    film Blue >> ini maksudnya film yang berjudul Blue atau blue film (film porno)
    di part ini kayaknya dirimu lupa menulis ‘obi’ dengan huruf miring, kata serapan dari bahasa Jepang kalau nggak salah.
    Emm dan aku salut dengan riset fashion dan kulinernya, detil tetapi tidak terlalu berat. Yah, walaupun aku agak cengo pas baca istilah-istilah busana, buta fashion, sih.

    Lanjuuut

    • Emang santai mi. Aku baca ulang part ini juga berasa aneh, ga biasa2nya bikin yang santai macem ini. Gpp lah, ksian klo tokohnya dibebani masalah mulu.

      Obi, eoh, dr jepang ya? Aku nemunya di web indo sih, jd ga tau deh. Sip mi, udah di edit kok yg obi, bagpacker, blue film. Dan… di kalimat janggal itu, aku ganti kata ‘tentu’ dgn ‘tapi’. Mendingan ga?

      Aku ga pernah nonton antique bakery mi, tp waktu nulis ini ngebayangnya coffe prince, haha…

      Iya ya, aku juga suka adegan itu. Kan sebenenrya Key-Hyu ini ya bukan 2 orang yang hatinya tertaut, tp entah knp suka aja sama cara mereka berinteraksi. Dan KEY…. aaaaargh, aku lg sinting gegara makhluk yg satu ini. Mendadak jd fans norak deh ini…

      makasih ya mi udah mampir… habis ini mau garap blood yg ngadat di hlm k3 dulu deh… seling2 mi ama 3 tulisan yg laen

      • Iya, barusan aku cek, obi itu ikat pinggang untuk kimono 🙂
        Nah, iya, pas diganti jadi ‘tapi’, kalimatnya jadi nggak janggal lagi
        Hahaha…Key sukses tebar pesona tuh 😀
        Aku malah belum pernah nonton Coffee Prince. Dan film Antique Bakery itu ada adegan homo-homoannya, makanya langsung keinget pas baca cerita ini *kan Hyuna ngira Key gay beneran*
        Siippp..sama-sama 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s