Half Eye – Part 3

Author: Fla

Main Cast: Kim Kibum, Han Hyuna,  Lee Jinki

Rating: PG-15

Genre: Romance

Length: Sequel

Half-Eye2 

Disclaimer:

Semua yang ada di dalam cerita ini hanya fiktif belaka. Nama cast hanya dipinjam untuk kepentingan cerita semata.

Fla © 2013

Unforgettable Meeting

 

Meskipun hari-harinya di Busan tak berjalan semulus yang ia harapkan, Hyuna tetap tak berjalan lunglai begitu ia menjejaki domestic terminal Gimpo Airport. Ia tetap menyeret koper mininya dengan langkah tegak. Bukan karena berhasil mengalahkan rasa sedih yang berkecamuk, melainkan ia sadar bahwa dirinya termasuk publik figur. Yah, meskipun ia bukan bintang K-pop yang setiap pergerakan bahkan gaya berpakaiannya di bandara pun dipotret dan diperhatikan oleh netizen [1].

Oh, masih pukul 3.25 PM. Hyuna sedikit menghembuskan napas lega setelah melirik jam tangannya sejenak. ‘Masih ada waktu sampai malam tiba, mungkin sebaiknya aku sedikit refreshing sebelum pulang,’ batin Hyuna. Memang tidak lapar, Hyuna hanya ingin mengalihkan pikirannya sejenak, mungkin saja bisa memperbaiki mood-nya setelah mengisi perut. Hmm, bagaimana dengan membawa sedikit oleh-oleh untuk Key? Boleh juga. Bibir Hyuna seketika melengkung ke atas ketika membayangkan betapa tampannya namja itu dalam balutan busana formal, ah, casual style pun tetap tampan.

Kakinya segera melangkah menuju lantai 2, ia sedikit mematung sejenak dengan arah kepala yang berputar untuk menentukan pilihan awal outlet brand yang akan didatanginya. Pilihannya jatuh pada Commodo Square. Busana yang dipasangkan pada manequin display di bagian depan cukup mengunci mata Hyuna.

Jas  biru yang terbuat dari bahan semi jeans di bagian luar, dipadu dengan rompi rajut hitam dan kemeja panjang berwarna ungu gelap . Imajinasinya mengatakan semua itu akan sangat cocok di tubuh Key. Hei, tunggu, busana yang ada di sebelahnya juga cukup menarik. Sejenis jumper [2] berwarna biru gelap, dipasangkan dengan vest [3] soft blue dengan aksen kancing coklat-putih berukuran cukup besar, kemeja biru laut pada lapisan terdalamnya, celana kain yang senada dengan warna kancing vest tadi, plus sepatu kulit dengan warna coklat yang setingkat lebih gelap. Hmm, layered style, menurutnya gaya seperti itu pas untuk Key yang berbadan agak kurus.

Hyuna menimang sejenak sembari mengira-ngira seperti apa sosok Key nanti ketika mengenakan kedua busana tadi. Ooh, pilihannya jatuh pada yang kedua, terlihat lebih menonjolkan jiwa muda pemakainya. Tak perlu waktu lama untuk memilih ukurannya, Hyuna sudah bisa membayangkan sebesar apa tubuh Key. Begitu urusan dengan kasir selesai, ia segera beranjak ke outlet lainnya. Kali ini ia benar-benar menujukan pikirannya untuk mencari pakaian bergaya formal, dan pilihannya jatuh pada Sieg Fahrenheit. Di outlet itu ia berhasil membawa pulang sebuah jas formal berwarna coklat gelap yang dipadu dengan kemeja putih dan vest coklat tua dengan dasi bermotif garis-garis diagonal berwarna coklat-merah maroon.

Kegiatan belanja Hyuna terusik ketika ada sebuah tarikan dari arah bawah. Sontak ia segera memegang rapat roknya karena terkejut. Tadinya Hyuna ingin segera mengomel pada orang yang dianggapnya tidak sopan itu. Tapi… hei, dia seorang bocah? Sendirian?

“Hai, kau sendirian, Cantik?” Hyuna berjongkok agar ia bisa menjalin komunikasi yang baik dengan bocah mungil itu. Hyuna mencubit pipi bulat halusnya dengan pelan. Warna kulitnya tak seperti orang asia, putih namun dengan rona merah yang kentara. Aih, matanya biru, layaknya mata kucing. Hyuna mengamati lekat sosok bocah itu. Sebersit hasrat ingin memeluk timbul. Mengapa anak ini sangat lucu?

My Daddy left me alone…,” keluh bocah itu sambil memainkan kantong Hello Kitty yang terkalung di lehernya.

Alis Hyuna mengernyit. Oh, ia lupa pada kemungkinan bahwa bocah itu tak bisa berbahasa Korea. “How can it happen? Can you remember about the lastest place when you stayed near your dad?” Untunglah ia mengerti apa yang dikatakan bocah ini karena tidak semua orang Korea bisa berbahasa Inggris.

Bocah itu menggeleng dengan tatapan kosongnya, telunjuknya terselip di antara sela bibir. Ia hanya bisa menggantungkan harapannya pada Hyuna. Sejak tadi ia telah berusaha berbicara dengan beberapa orang, tapi tanggapannya hanya wajah hampa—yang sepertinya sama sekali tak paham dengan ucapannya. Bocah itu terlalu polos, disangkanya semua orang di dunia bisa berbahasa yang sama—bahasa Inggris.

Hyuna memutar otak sejenak. Satu-satunya cara adalah membawa bocah ini ke pusat informasi bandara—berharap ayahnya mendengar berita anak hilang. Hei tunggu, dia bukan sengaja ditinggal pergi oleh ayah yang tidak bertanggung jawab, ‘kan? Oh, tentu tidak, mengingat bocah ini sepertinya keturunan asing. Tidaklah lucu ada orang asing yang jauh-jauh pergi ke Korea demi ‘membuang’ anaknya.

Hyuna belum sempat melaksanakan idenya karena sebuah suara sudah membuat hatinya lega, “Lily! Oh, syukurlah…untung kau tidak pergi terlalu jauh.”

‘Hei? Ayahnya tadi berbicara dalam bahasa Korea? Wait, suaranya seperti pernah kudengar?’ Hyuna segera mengalihkan pandangannya pada pria yang mengaku dirinya sebagai ayah dari bocah ini.

Holaaaa, apa ini yang disebut jodoh? Hyuna yakin ia baru saja bertemu dengan pria ini di Busan, dan sekarang? Ia kembali mendapati wajah ini di bandara. Sungguh kebetulan yang klise. “Kau ayah dari bocah ini? Siapa tadi… namanya Lily? Hai Lily,” Hyuna segera menutupi rasa keterkejutannya dengan menyapa Lily. Pria di hadapannya ini, ia yakin siapa dia—ingatannya tidak mungkin salah. Tapi, apa pria ini tak ingat padanya? Yah, memang mereka tak pernah saling memperkenalkan diri, hanya Hyuna yang mengenal pria ini secara sepihak.

Annyeong, Agassi. Terima kasih telah menjaga Lily-ku… aku sungguh ayah yang teledor, terlalu asyik mengamati koleksi dasi.”

Oh, ternyata benar. Pria ini sama sekali tak ingat bahwa keduanya pernah bertemu di masa lalu—di kota Paris tempat keduanya menimba ilmu. Hyuna segera mengubur impiannya untuk segera memulai perbincangan akrab dengan pria ini. Tentu saja, mereka bahkan bukan teman.

“Hmm, aku tidak menjaganya. Ya sudah, lain kali kau harus ingat dengan anakmu.” Hyuna ingin segera pergi dari hadapan pria itu. Bukan hal yang baik ketika dirinya harus kembali tenggelam dalam perasaan yang pernah dimilikinya untuk pria ini. Tidak boleh jatuh cinta pada pria, Hyu! Ia segera memberi penegasan untuk dirinya sendiri.

Hyuna nyaris saja berbalik kalau Lily tak menahan roknya kembali. Ish, kenapa anak ini gemar menarik pakaian bawah orang lain? Hyuna terpaksa menahan langkahnya.

“Ah, maafkan putriku. Sepertinya ia menyukaimu. Oh ya, kita belum saling kenal. Aku Lee Jinki.” Juluran tangan Jinki segera disambut Hyuna, keduanya saling berjabat erat. Hingga akhirnya Hyuna memutuskan untuk menarik telapaknya setelah waktu memberikan space untuk menikmati keheningan yang mendamaikan lewat sentuhan kulit itu.

“Hmmm, tapi aku merasa wajahmu sangat familiar. Apa sebelumnya aku pernah melihatmu?” Hyuna salah kira, ternyata daya ingat Lee Jinki masih menyisakan ruang untuknya. Wanita itu tersenyum lebar, mencari untaian kata-kata yang tepat untuk menguraikan pertemuan di masa muda.

Hmm, bagusnya mulai dari titik mana? ‘Lee Jinki, sebenarnya aku dan kau pernah bertemu di Paris. Kau teman satu apartemennya Chris, dan aku adalah teman akrab pria itu, beberapa kali aku pernah bertandang ke tempat tinggal kalian. Tapi, kau selalu sedang berkutat serius dengan meja gambarmu.’

Apakah itu permulaan yang cukup apik? Ah, tapi terlalu menyiratkan bahwa seorang Han Hyuna sering memperhatikan Jinki. Tidak, tidak, Hyuna merasa tak ada gunanya andai pun Jinki tahu perihal perasaan lawasnya itu. ‘Lalu apa? Ah ya, cukup katakan saja bahwa aku pernah beberapa kali melihat Jinki di apartemen Chris,’ putus Hyuna dalam batinnya.

“Hmm, apa kau seorang publik figur? Rasanya wajahmu pernah kulihat entah di majalah atau televisi.” Perkataan Jinki selanjutnya benar-benar merusak semua angan dan rencana Hyuna. Osh, hanya pernah melihat melalui media. Kenapa harus sempat memberikan harapan kosong jika kenyataannya seperti ini? Hyuna menelan ludahnya, kecewa.

“Ohhh, mungkin saja. Aku seorang perancang busana, namaku Han Hyuna. Eumm… mungkin kau pernah melihatku di rubrik fashion dalam surat kabar atau majalah fashion. Mungkin, siapa tahu.” Hyuna menggedikkan bahunya malas.

“Oh, begitu? Eh, tidak, tidak. Aku sama sekali tak pernah melirik rubrik sejenis itu, apalagi majalah fashion, menyentuhnya pun tak pernah. Ah… maafkan daya ingatku yang payah ini, Nona.”

“Tidak masalah… bahkan bisa jadi kau memang tak pernah melihatku sebelumnya, mungkin wajahku saja yang terlalu pasaran,” Hyuna menganggapi asal. Ia menyadari kesalahannya sejak awal, hingga kecewa pun harus direguk di akhir ketika faktanya adalah… yah, kalaupun Jinki ingat, lalu apa bagusnya? Toh, Hyuna tetap tak akan meneruskan rasa kagumnya untuk pria itu. Bukankah ada Key? Pendamping sekaligus teman yang baik—yang bisa menerima dan memahami yeoja itu dengan sempurna. ‘Apa lagi yang kau cari, Hyu?’ Wanita itu mulai merasakan sedikit kelapangan di dadanya.

Mengingat Key membuat Hyuna ingin segera menemui pria itu, sungguh tidak sabar ingin memaksa Key untuk mencoba bingkisan yang baru saja dibelinya beberapa menit lalu.

***

Kim Kibum memang tipikal orang yang penuh keceriaan—tapi ia belum pernah terlihat sebahagia itu sebelumnya. Sore itu suasana coffee shop memang cukup ramai, well, itu tentu membahagiakan bagi seorang pemilik café. Tapi, bukan itu penyebab utamanya. Ia begitu girang karena akhirnya kesempatan ini datang menghampirinya.

Sore itu, Key segera hengkang dari balik mesin espresso begitu terdengar lengking sambutan Changmin akan kedatangan seorang pengunjung. Ya, tentu saja Changmin menyambut girang. Yang datang adalah tamu istimewa. Key bahkan harus menunggu beberapa saat hingga tamu itu bebas dari kerumunan beberapa anak muda yang berteriak histeris meminta tanda tangan maupun berfoto bersama. Tamunya itu adalah Kim Jonghyun—sahabat karibnya yang sudah lama tak pernah lagi berstatus “senggang” sejak namanya naik daun.

Key segera memeluk sahabatnya, menit berikutnya ia segera mengamankan Jonghyun ke lantai tiga café—yang merupakan area privat crew—agar penyanyi top itu terbebas dari usikan fans. Jonghyun hanya bisa pasrah begitu Key memeluknya, begitu pula saat tubuhnya ditarik paksa naik tangga. Ya, ya, Jonghyun memang kalah gesit dengan sahabatnya itu. Penyanyi itu hanya terkekeh kecil seraya menggoda geli, “Key, sebesar itukah kau merindukanku?”

Aigoo, manusia mana yang tidak merindukan sahabatnya?” Key tak terlalu menanggapi serius pernyataan Jonghyun. Di otaknya berkelebat beberapa hal penting yang harus segera ia jelaskan sedetail mungkin pada Jonghyun—tentang kisah rekayasa romantika ala gay yang Key karang demi menikahi seorang Han Hyuna.

“Hei, Key, kau sungguh tidak sopan. Aku ini manusia padat aktivitas yang butuh asupan kafein demi menunjang mataku. Tidakkah kau menawariku secangkir kopi? Kenapa kau buru-buru sekali?” cerocos Jonghyun asal.  Pria itu penasaran dengan gelagat Key. Terlihat betul bahwa sang owner café tersebut tergesa-gesa ingin berbicara empat mata dengan dirinya. ‘Oh, oke, oke. Tidak usah iseng bertanya lagi, rasanya Key memang memiliki hal penting yang harus dikatakan,’ simpul Jonghyun begitu Key tak meresponnya sama sekali.

Key baru menanggapi begitu keduanya sampai di sebuah tempat istirahat di lantai tiga. Ia mendudukkan Jonghyun di atas kasur lipat, sementara dirinya menutup pintu rapat-rapat plus mengunci selot pintunya. “Jjong, aku tahu kau super sibuk dan tidak punya waktu banyak. Untuk itulah aku ingin… Ah, aku mau minta maaf dulu karena tak meminta izin darimu. Aku minta maaf juga karena tidak menyambutmu dengan lebih sopan. Kau tahu, Jjong? Sudah lama sekali aku menantikan kehadiranmu di hadapanku. Aku benar-benar kehilangan nomor kontakmu sejak karirmu mendadak meroket.”

“Ah ya, maafkan aku, Key. Aku sempat kehilangan ponsel saat berada di tempat karantina, jadi aku tidak punya nomor kontakmu, baru beberapa hari lalu aku bertemu dengan Minho di sebuah tempat gym dan ia memberitahuku tentang tempat usahamu ini. Jadi aku…,”

“Setelah ini kumohon jangan potong ucapanku hingga aku sendiri yang berhenti, ya?” sela Key begitu tempo bicara Jonghyun mulai melambat.

“Wow, pemaksaan yang kedua. Ckck, sejak kapan kau gemar memaksa orang? Baiklah, di dunia ini hanya kau dan pihak manajemenku yang berhak memaksaku. Lekas katakan, dan sebagai bayarannya, buatkan aku kopi terenak!” titah Jonghyun di tengah tawa kecilnya.

Yes, Sir. Tidak masalah dengan urusan kopi. Begini, Jjong, kau tahu kan aku sudah menikah?”

“Ya… aku tahu, maafkan aku tidak bisa hadir karena seharian itu aku masuk dapur rekaman, aku sama sekali tak berkutik. Ah, seharusnya waktu itu aku memaksa saja untuk izin sebentar,” sesal Jonghyun sekali lagi. Berulang kali pria itu melayangkan maaf, dan Key selalu mengampuninya tanpa keberatan. Tapi tetap saja Kim Jonghyun merasa dirinya adalah manusia terjahat karena sama sekali tidak menghadiri resepsi pernikahan sahabatnya sendiri.

“Tidak masalah, Jjong. Aku paham kondisimu. Justru aku yang minta maaf karena aku melibatkanmu dalam pernikahanku,” sambar Key gusar. Ia menghentikan penjelasannya karena memang bingung harus memulai dari titik mana. Osh, pria itu tahu betul bahwa dirinya harus memilih cara yang tepat untuk menjelaskan. Sekalipun dirinya dan Jonghyun sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMP sampai SMA, bukan hal yang mustahil jika Jonghyun marah besar setelah Key memaparkan.

Kedua alis Jonghyun berjingkat, ia sama sekali tak mengerti dengan pembukaan yang Key lontarkan.

 “Hei? Ada apa, Key? Aku bahkan tak pernah bertemu istrimu? Bagaimana mungkin aku terlibat di dalam rumah tangga kalian? Kau tidak sedang lupa ingatan atau mengigau? Atau kau sedang banyak pikiran hingga ucapanmu…-”

“Kim Jonghyun, mulai sekarang kau dan aku adalah pasangan gay!” sambar Key kilat. Ia memejamkan matanya dan menarik banyak-banyak oksigen di sekitar. Ia masih mengatupkan kelopak matanya untuk beberapa saat, tak siap melihat reaksi Jonghyun detik ini.

Kim Jonghyun hanya bisa mengedipkan matanya berkali-kali, ia tidak yakin bahwa Key sedang serius. Hei, sejak kapan sahabatnya itu menjadi penyuka sesama pria? Dan, apa barusan? Apa Key sedang menyatakan perasaannya? Ataukah Key sedang menodongnya untuk menjalin suatu hubungan? Wow, ini lucu. Beberapa detik kemudian tawa Jonghyun memenuhi ruangan mungil tersebut, ia sampai terbahak sembari mengguncang-guncangkan tubuh Key dan mengeluarkan komando kecil, “Ya! Kim Kibum! Basuh mukamu sekarang juga! Kau mengantuk sepertinya. Bagaimana mungkin kau memaksaku untuk menjadi…,” lagi-lagi terpotong. Kali ini Key berhasil membungkam mulut Jonghyun dengan telapak tangannya.

Ssst, sudah kubilang jangan memotongku!” sentak Key keki.

“Hai, hai, aku tidak memotongmu, kalimatmu tadi kurasa sudah selesai. Kau yang selalu memotongku,” balas Jonghyun setengah tidak terima.

Key menggaruk-garuk puncak kepalanya hingga merusak tatanan rambutnya. Ia sempat menggigit bibirnya dan menengadahkan wajah ke atap. “Oh, baiklah, kau benar. Begini, Jjong. Kisah tadi hanya ada di dalam sandiwara. Aish… aku tak tahu harus menjelaskan seperti apa, ini sedikit langka dan tidak masuk akal. Tapi, kau tahu? Hyuna menikahiku karena aku seorang gay. Osh, tidak, tidak, tentu saja aku bukan gay sungguhan.” Dan tak lama, Key tak lagi bisa tenang berdiam diri dalam posisi duduknya. Ia bangkit dan melangkah bolak-balik di dalam ruangan itu.

Mwo?” Hanya itu yang bisa Jonghyun lontarkan, ia terlalu terkejut dengan penuturan Key. “Ah, sebentar… jadi kalian tidak saling mencintai? Hyuna menikah denganmu karena… tunggu, dia memang sengaja mencari gay? Lalu kau? Atas dasar apa kau bersedia menikahinya?”

“Pelankan suaramu, Jjong. Ini rahasia besar. Hanya aku, kau, dan Minho yang tahu.”

“Minho tahu? Ah, ya, ya… sejak dulu kalian teman bersekongkol yang baik. Sekarang jawab semua rasa kebingunganku, Key!” tuntut Jonghyun tak sabar.

Belum sempat Key menjelaskan, ia mendengar sebuah derap langkah mendekat. Itu suara heels yang beradu dengan parket yang melapisi lantai. Siapa? Yang Key ingat, semua karyawannya tak ada yang menggunakan heels. Nona Zou yang feminim saja memilih menggunakan sepatu kets agar kaki tak lekas pegal.

“Key, Paman Ahn bilang kau ada di atas. Halooo, Key? Aku datang…!”

ITU HYUNA! Mata Key melotot lebar, kepanikannya bertambah memuncak. Ia mengintip dari celah kunci pintu, Hyuna hanya berjarak sekitar 10 langkah dari pintu! Lalu, Kim Jonghyun masih menghujaminya dengan tatapan penuh tuntutan—layaknya seorang polisi yang sedang menginvestigasi terduga suatu kasus kejahatan besar. Bagaimana ini?

“Baiklah, Key. Sepertinya itu wanita special-mu. Karena aku sahabat yang pengertian, kau boleh menjelaskannya lewat ponsel nanti. Ini kartu namaku.” Sikap Jonghyun melunak karena tidak tega menyaksikan keringat dingin yang mengucur di wajah Key. Ia menyerahkan selembar kartu nama dari dompetnya.

Key semakin terdesak waktu, ia memilih melepas selot pintu secara halus agar tak terdengar, baru akan mengambil kartu nama Jonghyun. Selot terlepas, tapi… o-ow!

Ckrek

Hyuna membuka gagang pintu, dan Key segera mengeksekusi skenario singkat yang mendadak muncul di otaknya setelah kemurahan hati Jonghyun tadi terlontar. Di peluknya Jonghyun erat, “Gomawo, gomawo. Kau memang Jonghyun-ku yang paling baik,” ucapnya dengan nada sok mesra. Diam-diam tangannya bergerak meraih kartu nama Jonghyun.

Sungguh, Jonghyun ingin muntah mendengarnya. Tapi ia tak tega protes karena ia baru saja melihat seorang wanita cantik berdiri di ambang pintu dengan tangan tersilang. Wanita itu tersenyum penuh makna, dan ia sama sekali tak berusaha memalingkan wajah—justru asyik mengamati.

Tapi, Jonghyun tak bisa lagi tahan saat Key berusaha merambah bibirnya. Ia segera mencubit paha Key sebelum keduanya sempat berciuman dalam posisi berdiri. Key mengerti maksud Jonghyun, untuk itulah ia mendorong pria itu ke tembok, sedangkan dirinya segera mengambil posisi yang membelakangi Hyuna. Sungguh sahabat yang saling memahami, Key hanya berpura-pura menjelajahi bibir Jonghyun sementara sang penyanyi itu pun berakting dengan mendesah agak keras dan memejamkan matanya dengan sedikit gerakan kepala nakal.

Semua lakon palsu itu terhenti saat Hyuna berdeham dan berseloroh, “Jadi seperti ini ya caramu berinteraksi dengan Jonghyun? Woah… terjawab sudah pertanyaanku.”

Key merasa lega dalam hati, sekaligus mempersiapkan diri untuk melakukan kebohongan selanjutnya, “Hyu? Sejak kapan kau ada…?”

“Ya, ya… sejak beberapa menit lalu. Hmmm, pasti hangat ya berpelukan seperti itu?” Hyuna tak bisa menahan tawanya. Ia kemudian melangkah dan berdiri di depan Jonghyun. “Halo, Kim Jonghyun. Salam kenal, aku Han Hyuna—partner hidup Key di dunia yang lain. Oh ya, dalam kesempatan lain aku ingin mendengar suara emasmu. Mmmm, mempersembahkan Key sebuah lagu romantis, mungkin.” Hyuna menjulurkan telapak tangannya, disambut dengan jabatan hangat dari Jonghyun.

“Senang berkenalan denganmu, Nona. Terima kasih telah menjadi teman hidup yang baik bagi Key,” balas Jonghyun berbasa-basi. Setelah bersalaman ia segera memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Getaran jarinya tak mampu lagi diredam, ia bukan orang yang terbiasa berbohong sekalipun pihak manajemennya telah berulang kali memberikan pelatihan mengenai cara bersikap dan pengendalian diri.

“Aaaah, sepertinya di sini pengap. Bagaimana kalau kita turun ke teras belakang dan menikmati kopi bersama?” Key segera mengendalikan suasana dan menggiring bahu keduanya keluar dari ruangan. Ia rasa pertanyaan-pertanyaan Hyuna akan bertambah parah jika dibiarkan. Setidaknya jika mereka berbincang di teras—tempat yang agak umum—Hyuna tidak akan telalu berani melontarkan sembarang kata.

***

Hyuna menyesap marachino[4]-nya sekali lagi. Di hadapannya ada Kim Jonghyun yang masih menganggurkan frappe[5]-nya dan lebih memilih mengutak-atik smartphone-nya. Hyuna mengamati pria itu. Memang tampan. Hmmm, apakah benar selentingan yang sering ia dengar, bahwa biasanya pasangan gay itu sama-sama tampan, sama sekali tak menampakkan ciri kelainan seksualnya itu melalui penampakan diri?

Meski Hyuna begitu mengagumi keelokan paras Honghyun, ia belum yakin bahwa pria ini merupakan tipikal orang yang baik, atau minimal sopan. Sejak tadi pria itu bahkan tak menujukan perhatiannya pada orang yang ada di depan—Hyuna. Ia juga tidak menyentuh sama sekali kopi yang dibuatkan langsung oleh sahabatnya. Sungguh tidak menghargai.

Hyuna sama sekali tak tahu bahwa yang sedang dilakukan Jonghyun adalah berkomunikasi dengan Key melalui pesan singkat. Lebih tepatnya, Jonghyun sedang menerima instruksi-instruksi kecil dan beberapa siasat dari Key—perihal apa yang harus dimainkannya dan apa yang tidak boleh dibicarakan di depan Hyuna. Penyanyi itu menghela napas berat begitu ia memberi balasan terakhir untuk Key, ia menyetujui permohonan sahabatnya itu.

“Hmm, maafkan aku, Nona. Tadi ada sedikit urusan penting. Ehmm, ngomong-ngomong, maukah kau mendesain sebuah busana panggung untuk konserku nanti?” Jonghyun mengikuti titah pertama Key; jangan membahas hal yang berhubungan dengan pernikahan.

“Tentu, kita bahas ini lain kali, bagaimana konsep konser dan panggungnya, juga tentang seleramu. Hmm, omong-omong, kenapa Key lama sekali ya?” tukas Hyuna.

“Wohoho, telingaku gatal. Ada yang sedang membicarakan diriku?” Key yang sebenarnya sudah ada di balik pintu sejak tadi—mendadak muncul dengan senyum riangnya. Tentu saja setelah mengenyahkan bulir keringat dingin dari keningnya.

Yeah, kuakui kau memang sering membuat rindu,” balas Hyuna sambil menarik tangan Key agar duduk di kursi di sebelahnya. Pria itu patuh.

“Hmm, aku sedikit heran juga. Kenapa kau mampir dulu kemari? Biasanya kau selalu pulang ke rumah setelah kegiatanmu di luar kota. Ada apa, Hyu? Hanya karena merindukanku sajakah?”

“Oh, tentu saja bukan. Aku kemari karena… hei, Key… kurasa aku tak pantas mengatakannya di depan Jonghyun. Kalian baru saja bertemu, ‘kan? Sebaiknya jangan membahas masalah aku dan kita, Key. Nanti dia cemburu.”

Aigoo, kalau aku mau cemburu, sekarang pun aku cemburu karena Key lebih memilih duduk di sebelahmu. Sahabatku tak memilih diriku.” Jonghyun mulai memainkan perannya dengan baik. “Key, pindah kemari!” lanjutnya dengan sedikit galak.

Key tertawa serba salah, sedikit bersyukur karena Jonghyun ternyata bisa juga berlakon. Tapi di sisi lain, ia merasa bersalah karena terlalu banyak berbohong pada Hyuna, bahkan kali ini cenderung mempermainkan. “Oww, tentu saja. Dengan senang hati, Jjong,” tanggap Key sumringah. Ia segera beranjak ke sebelah Jonghyun.

“Wow, aku kalah sepertinya,” balas Hyuna sedikit sengit. Sekali lagi gadis itu merasa kalah dengan harapannya, mengenai pertemuannya dengan Jinki di bandara tadi dan kenyataan detik ini—Key lebih memilih meninggalkannya. ‘Hei, Hyu. Jangan kekanakan, ini hanya masalah tempat duduk,’ tekannya dalam hati.

Hyuna memilih meneguk kopinya sekali lagi agar aksi menelan ludahnya tak terlalu kentara. Ia tahu ini bukan waktunya untuk marah ataupun protes. Key baru saja bertemu dengan pujaan hatinya, siapa yang tidak ingin melewati waktu bersama? Hyuna sekali lagi berusaha mengerti bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa, tentu saja Kim Jonghyun memiliki posisi yang lebih tinggi di mata Key. Dan lihatlah apa yang sedang dilakukan kedua pria itu. Osh, sedikit menggelikan mengingat ini dilakukan di ruang terbuka: Telapak Key menindih punggung tangan Jonghyun, suaminya itu mengelus-elus jemari sang penyanyi tampan tadi. Hyuna sama sekali tak berharap untuk menggantikan posisi tangan Jonghyun, hanya saja wanita itu terlalu memainkan imajinasinya. Ia sedikit membayangkan rasa geli yang merasuk jika dirinya yang seorang lesbi. Oh, ini bahkan baru bersentuhan tangan. Bagaimana jika kedua pria itu sedang melakukan aksi yang lebih parah, ciuman di kamar tadi misalnya? Hyuna menggeleng-gelengkan kepalanya, ini menjijikkan. Key memang gay, tapi tentu saja mereka tak boleh memamerkan kemesraan apapun di depan seorang wanita.

“Hmmm… kalian, apa hubungan kalian sangat mesra? Sejauh apa?” Sebetulnya Hyuna ingin menyindir, tapi ucapannya barusan lebih mirip dengan seseorang yang sedang berusaha menggali informasi. Wanita itu terlalu kehabisan kata dan siasat.

Jonghyun dan Key saling pandang, seakan-akan mencari kesepakatan melalui gerakan mata. Sebaiknya menjawab apa dan siapa yang menjadi juru bicara. Jonghyun berinisiatif setelah berhasil merangkai kata yang akan mengunci Hyuna. “Hei, Nona. Kami ini sahabat, kau pikir apa?”

Key tersenyum menang. Benar yang diduganya, Hyuna tidak akan berani mengaku pada Jonghyun bahwa wanita itu telah mengetahui sesuatu tentang ‘gay’, sekalipun gadis itu telah memergoki sebuah adegan ciuman. Dan prediksinya mengatakan, wanita itu pada akhirnya akan terdesak karena secara logika, harusnya yeoja itu berpikir bahwa Jonghyun telah mengetahui jalan berpikirnya setelah adegan panas itu. Lalu dengan sendirinya Hyuna akan menyadari bahwa dirinya telah salah bicara, dan setelah itu akan terperangkap dalam… yah, itu.

Wanita itu terbahak, ia menyadari bahwa memang cara bertanyanya konyol, tapi ia masih tak sadar bahwa ia telah ceroboh. Barulah beberapa saat kemudian ia berpikir, ‘Oh, aku lupa. Sepertinya Jonghyun belum tahu bahwa aku sudah tahu tentang hubungan mereka. Wait, penyanyi itu tidak bodoh, ‘kan? Harusnya ia sadar kalau aku sudah tahu. Omo, omo. Sebentar. Kalau penyanyi itu tahu, tentu dia akan mempertanyakan tingkat kewarasanku karena mau menikah dengan seorang gay. Aaaaaargggh… Han Hyuna, mengapa otakmu tidak jalan sejak awal? Harusnya kau berpura-pura tidak melihat adegan ciuman itu saja.’

Hyuna berusaha mengendalikan rasa paniknya. Ya, terlanjur. Mungkin sebaiknya Jonghyun pun tahu tentang rahasia pernikahannya karena namja itu pasti sudah curiga. Lagipula ini adil, Hyuna tahu tentang rahasia hubungan pasangan itu, dan Jonghyun pun harus tahu fakta pernikahannya. “Hmmm… mungkin aku yang salah memakai kata. Begini. Kalian… ya, sepasang. Baiklah… setelah ini kau mungkin bertanya kenapa aku mau menikah dengan seorang gay. Tapi, aku yang akan bertanya lebih dulu. Kau tidak marah mengetahui bahwa pasanganmu telah menikah dengan seorang wanita, Kim Jonghyun?”

Sekali lagi Jonghyun dan Key saling melirik. Semua ini telah masuk ke dalam perkiraan Key, segala kemungkinan telah Key perhitungkan. Dan kali ini Key yang ambil alih menjawab, “Begini Hyu. Bagi kami, justru ini lebih baik. Hubungan kami tidak akan pernah dicurigai orang karena faktanya aku telah menikahi seorang gadis.”

Key memang selalu bisa berargumen dengan baik. Sekarang Hyuna yang terjebak dengan pikiran dan perasaannya sendiri. Jika wanita itu diberi kesempatan untuk mengaku, detik ini ia merasakan sedih. Alam bawah sadarnya tidak terima atas keputusan yang pernah dibuat oleh si sadar. Tiara benar, wanita yang menikah dengan seorang gay, cepat atau lambat akan merasakan kesepian, seakan-akan pendamping hidupnya itu hanyalah teman biasa. Ini seakan menjadi bumerang bagi Hyuna. Ya, yeoja itu sendiri yang memutuskan untuk menikah tanpa harus ada cinta, semua salahnya sendiri.

Hyuna menjadi ragu apakah semua yang dipilihnya ini benar atau salah. Jinki, bahkan tak mengingatnya, Key… apakah suatu saat nanti pria itu akan meninggalkannya setelah jenuh dengan semua permainan ini? Hyuna tak yakin Key akan bertahan di sisinya sampai akhir hayat. Alasannya jelas, karena tak ada cinta yang mendasari.

Lalu, kenapa pula seorang Hyuna mendadak menginginkan Key agar selalu berada di sisinya? Bukankah alasannya menikah hanya untuk meredam pertanyaan orang-orang sekitar sekaligus ingin mengusir secara halus pria-pria yang selama ini berusaha mendekatinya? Harusnya Hyuna sama sekali tak keberatan. Tak sadar mulai kapan, Hyuna merasa, bahwa Key telah menjadi candu baginya. Key tak boleh pergi dari hidupnya, sekalipun menuju pelukan Kim Jonghyun.

Tapi, apa hakmu, Hyu? Bukankah tidak pernah ada kesepakatan bahwa pernikahan ini akan berlangsung seumur hidup?’ Wanita itu segera mematahkan perasaan tak wajar yang sempat membludak di hatinya beberapa detik lalu.

“Ah ya, kau benar juga, Key. Tapi… tetap saja, aku ingin minta maaf pada Jonghyun, entah karena apa dan untuk kesalahanku yang mana. Ehm… baiklah, sebenarnya aku mau memberikan ini padamu, Key…,” ujar Hyuna setelah usai dengan perdebatan di dalam dirinya. Ia meraih dua paper bag berisikan pakaian yang dibelinya di bandara tadi.

“Woah… gomawo, Hyu.” Key menyambutnya dengan girang, ia segera membongkar isi bungkusan itu. “Ini sangat bagus, Hyu,” pujinya kemudian.

“Ya, bagus. Tapi sayangnya aku mendapatkannya dengan membeli karya orang, bukan rancanganku sendiri. Lain kali aku akan membuat sendiri busana untukmu, Key,” timpal Hyuna. Rasa sedihnya menguap entah kemana ketika ia mendapati senyum kebahagiaan Key.

“Tidak apa-apa, Hyu. Aku senang kau membelikanku oleh-oleh. Itu tandanya kau mengingatku, Honey.” Key segera meluruskan, ia sama sekali tidak mempermasalahkan hadiah itu rancangan Hyuna atau bukan.

Kim Jonghyun tersenyum melihat tingkah kedua sejoli itu. Detik ini ia yakin bahwa Key bukan pria brengsek yang menikahi seorang perancang terkenal hanya karena materi. Jonghyun tidak tahu apa alasan awal Key karena memang ia belum mendengar pengakuan dari mulut Key sendiri. Yang jelas, sekarang Jonghyun tahu bahwa Key tidak semata-mata menjalani rumah tangganya dengan sandiwara belaka. Sorot mata Key bercerita segalanya, pria itu telah menggunakan cinta dalam hubungannya dengan Hyuna. Wanita itu saja yang mungkin bodoh, atau memang tidak pernah tahu rasanya dicintai hingga tidak bisa menebak perasaan Key? Harusnya ia bisa tahu dengan mengamati bagaimana Key tidak lantas memfokuskan perhatiannya pada baju tadi—ia bukan pria tamak penggila hadiah gratis. Key hanya membuka dan mengamati sejenak. Setelah itu Key tersenyum lebar tanpa surut, layaknya idiot yang hanya tahu bahwa makhluk berjuluk bidadari memang sangat memikat hatinya. Atau… lebih mirip anak kecil yang girang karena berhasil mendapatkan perhatian orang tuanya.

“Ah, aku harus ke KBS sebentar lagi. Key, thank you atas frappe-nya.” Jonghyun segera memecah situasi aneh yang dirasakannya. Pria itu segera menyeruput minumannya sampai habis. Lalu tanpa mengunggu waktu lama, ia segera pamit undur diri karena memang tak ingin merusak kebahagiaan sahabatnya. Sebelum pergi, ia hanya berpesan, “Gunakan kedua mata kalian untuk menjalani hidup, ne?”

To Be Continued

Something wrong with my style TT

Ga ngerti kenapa gaya nulisnya jadi gini, apa efek abis baca novel metro pop? Miskin narasi banget part ini.

Footnote:

[1] netizen: Sederhananya, netizen adalah pengguna internet yang berpartisipasi aktif (berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, berkolaborasi, dll) dalam media internet.

[2] jumper:short coat

[3] vest: busana tanpa lengan yang membalut kemeja; baju luar tanpa lengan baik rajutan maupun tenun.

[4] marachino: kopi khas orang Maroko, merupakan espresso ditambah busa susu panas dan taburan coklat diatasnya. Disajikan dalam cangkir kecil.

[5] frappe: kopi yang disajikan dingin. Kopi, gula, air, dan es disajikan dengan takaran satu hingga 2 sendok teh, lalu ditempatkan ke dalam gelas panjang engan diberi es batu dan susu.

Iklan

  1. aww…
    Eh, btw aku nggak nyadar lho, kalau gaya tulisan di part ini beda dgn sebelumnya, terlalu serius membaca, sepertinya
    Ternyata ada Jinki, tapi dianya nggak ingat sama Hyuna. *pukpuk Hyuna*
    Hyuna mulai membutuhkan Key lebih dari sekadar teman curhat dan teman serumah nih…hoho, pengen tahu perkembangan perasaan Hyuna.
    Aku senyum-senyum geli lho pas baca Jonghyun-Key pura-pura bermesraan, lucu aja ngebayangin Key yang awalnya panik mengatur strategi bisa tersenyum menang ngeliat reaksi Hyuna.
    Oya, tadi ada kata ‘space’ lupa ditulis miring
    Sepertinya semakin seru…lanjut!

    • Ada kok mi bedanya, dan aku kurang suka. Kalo dibandingin sama part sebelumnya emang ga gitu beda krn pas nulis part itu aku emang udah sedang baca novel yg kumaksud itu. Di ff ini, aku cenderung pake dialog ataupun narasi yang terlalu… kayak aku lagi ngedongeng ama temenku sendiri, semacem gosip ama temen gitu mi… bukan kyk lg nulis sebuah cerita kyk yg biasa aku lakuin. Dan krn gaya bahasaku lg gini, aku nahan dulu nulis blood plus 1 ff-ku yg laen, krn ga cocok klo terlalu lepas gini, ga ada bau serius2nya.

      Jinki… ntar juga inget. Tp dr part ini aku cuma mau gambarin klo JInki bukan termasuk orang yg mengingat dengan detail plus ga terlalu merhatiin sesuatu kl dia lg fokus ama hal yg menarik baginya, bahkan sampe sempet kehilangan anaknya. Semacem ntar jd perbandingan ama Key gitu…

      Ah iya iya mi, aku aja ngikik2 ga jelas pas ngetik bagian jongkey itu. Tp emang jongkey udah mesra dari aslinya sih, jd ga gitu aneh ngebayangnya.
      Yuhuuu, dilanjut 😀
      Makasih ami udah mampir di ff coba2 ini, hehe

  2. sedikit trjwb mngenai pertanyaan yg berseliweran di otakku ttg apa alasan hyuna menikah dgn kibum yg hyuna ketahui klo kibum itu gay.

    nebak di awal2 kibum dijodohkn mino sm hyuna krna mino gak ingin kibum terjerumus dlm “dunia” itu soalnya kan di awal diblgin kibum prnh kerja jd bartender gtu. jd smpt mikir mino pngn mnyelamatkn kibum

    pas bc part 3 ini, jd lbh jls lah gtu. klo aku nebak kibum mengaku gay itu karena apa itu perjanjian yg diajukan hyuna sblm menikah sm kibum itu yg bkin kibum mengaku sbg gay. wkwkwk

    enak bacanya. lbh ringan aja gtu… malah ngakak tdi pas bagian jjong “mesra2an” sm kibum. mana tgh malam pula aku bacanya. wakakaka

    oh iya.. blm terungkap ya ibu dr anak kcl di bandara itu. wkwkwk dr deskripsinya kynya jinki nikah sama bule. wahahaha ato jgn2 anak adopsi lagi?

    ditunggu lanjutannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s