Half Eye – Part 4

Author: Fla

Main Cast: Kim Kibum, Han Hyuna,  Lee Jinki

Rating: PG-15

Genre: Romance

Length: Sequel

Half-Eye2

 

Disclaimer:

Semua yang ada di dalam cerita ini hanya fiktif belaka. Nama cast hanya dipinjam untuk kepentingan cerita semata.

Fla © 2013

Confession

 

Key baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Di sampingnya, Hyuna masih tak bergerak dengan mata yang terpejam lelap. Key mengamati dengan seksama wajah Hyuna, yeoja itu tampak seperti orang yang kelelahan dan Key sama sekali tidak berani membangunkannya.

Key memilih menunggu hingga yeoja itu terbangun, ia menyibukkan dirinya dengan bermain game di ponsel android-nya. Lima belas menit berlalu, kepala Hyuna tampak melenggut, awalnya terarah ke depan, makin tertunduk, kemudian akhirnya yeoja itu memiringkan kepalanya hingga menyentuh bahu kirinya sendiri.

“Astaga, Hyu, itu pasti pegal. Ckck, apa aku harus mengangkatmu ke dalam rumah? Ah, baiklah.”

Pria itu keluar dari mobilnya, membuka pintu mobil yang ada di sebelah Hyuna. Dibukanya pelan-pelan sealtbelt yang mengunci tubuh Hyuna, lantas ia meraih Hyuna ke dalam gendongannya. Ish, dia cukup berat. Hyuna bukanlah yeoja penggila kerja yang bertubuh kurus, yeoja itu tergolong wanita dengan bobot ideal.

Sayangnya langkah Key terhenti di pintu. Bagaimana bisa ia menekan tombol-tombol yang menjadi password pintu rumah mereka sementara kedua tangannya sedang menggendong Hyuna? Key berpikir sejenak, mencoba mencari celah untuk menyentuhkan tangannya ke deretan angka itu, namun tetap tidak bisa. Wah, harusnya ia membuka pintu dulu sebelum membawa tubuh Hyuna dari mobil tadi. Kalau sudah begini, terpaksa ia meletakkan tubuh Hyuna di lantai, disandarkannya tubuh Hyuna pada tembok.

“Kim Kibum, tidak sopan sekali kau menaruhku di bawah!” protes Hyuna tepat setelah Key akan menekan tombol.

Key berjengit kaget, “Ya! Kau tidak tidur? Hais, kau menguras tenagaku saja. Aigoooo, kau sengaja, Hyu? Wuoooh, kau ingin digendong olehku?” Key berkacak pinggang keki.

“Oooo, yes. Sengaja. Sebenarnya aku sudah bangun sejak kau keluar dari mobil.  Aku hanya ingin tahu kau kuat tidak menggendongku.” Yeoja itu terbahak puas, “Ah, sebenarnya sedikit ingin tahu apakah kau akan membelaiku atau semacamnya, sekadar menguji saja,” aku Hyuna santai. Yeoja itu berdiri dan merangkul bahu Key, lalu mencolek bagian bawah bibir pria itu hingga kemudian gerakan tanganya terhenti di dagu, colekan sebagai penutup manis. “Ternyata kau sungguhan tidak tertarik pada yeoja ya, Tampan?” imbuhnya sembari menggantikan Key menekan angka-angka sandi.

Haiss… dasar kau.” Key segera menangkap telunjuk Hyuna dan menekannya kencang, “lain kali kalau kau nakal, aku tidak akan segan menggigit jarimu ini,” ancam Key main-main.

“Jorok!” Hyuna menempiling pelan pipi Key dengan tangan satunya. Lagi-lagi Key menangkap tangan Hyuna.

Key menyatukan kedua belah tangan itu, lantas menaruhnya di dadanya. Pria itu menunduk penuh senyum jahil, “Omong-omong, Hyu, maafkan aku…,” ucap Key sambil mengalungkan tangan Hyuna ke lehernya dan kemudian pria itu melakukan hal yang sama—melingkarkan tangannya di leher Hyuna.

For what?” Hyuna tak mengerti.

“Sebenarnya Jonghyun sudah tahu mengenai pernikahan kita sebelum kau mengaku… hmmm, kupikir dia memang selayaknya tahu.” Nada bicara Key berubah serius, ia menambah beban Hyuna dengan membenamkan kepalanya di atas pundak Hyuna.

Aigooo, Key, kepalamu berat. Harusnya aku yang ada di posisimu,” Hyuna tak membalas pengakuan Key. Alih-alih menutupi otaknya yang masih berpikir harus membalas apa, ia memposisikan dirinya ke belakang Key. “Gendong aku di punggungmu ya, Key? Aku terlalu lelah hari ini.”

Ish, kau sungguh merepotkan. Oke, oke, tapi habis ini kau harus membuatkan aku makanan enak sebagai pengganti energi yang hilang, ya?” gerutu Key sambil menarik kedua tangan Hyuna ke pundaknya.

“Key, aku tidak pandai memasak, kau sendiri tahu itu. Bagaimana kalau… makan di luar saja lain hari?”

Key tertawa kecil, ia berjalan ke dalam dengan membawa Hyuna. Tidak masalah soal makanan, Key hanya sedikit iseng—dan mendapat bonus jalan keluar bersama Hyuna, binggo! Tentu sebenarnya tidak usah ditanya apakah dirinya ikhlas mengendong Hyuna. Andai ada manusia yang memiliki mata ketiga dengan kemampuan melihat suasana hati Key saat ini, maka ia akan bisa melihat semburat kembang api melambung tinggi di tengah kegelapan diri Key.

‘Ah, sebentar. Hyuna belum menjawab pertanyaanku. Semoga saja ia tidak marah dan bertanya macam-macam. Oh, matilah aku jika saat ini otaknya sedang kritis. Hyu akan curiga apa motifku memancingnya mengaku—padahal sebelumnya aku sudah memberi tahu Jonghyun mengenai kisah pernikahan ini. Hey, tapi sebenarnya apa tujuanku? Cukup konyolkah jika aku hanya ingin dia mengakuinya? Karena semakin ia menyatakan pengakuan, semoga saja ia menyadari sesuatu—bahwa alasannya itu bukan satu-satunya dasar ia ingin menikah, ah, ani, mempertahankan pernikahannya denganku. Aigoo, Kim Kibum, kau terlalu berharap!’ Key segera menepis jauh isi otaknya.

Hmmm, Key… sebenarnya aku juga sudah menceritakan hal serupa pada sahabatku, Tiara, saat kami bertemu di Jepang. Jadi, kita impas ya? Setelah ini tidak ada lagi yang boleh tahu. Hanya aku, kau, Minho, Tiara, dan Jonghyun.” Hyuna memberi jawaban tanpa harus Key minta. Key mendesah lega, berbunyi tipis—namun masih bisa ditangkap oleh telinga Hyuna.

“Siap, Bos. Hmmm, Hyu… bagaimana kalau kita mengobrol dulu sebelum tidur, secangkir kopi di tepi kolam renang mungkin nikmat?”

Kecipak, kecipuk…

Empat kaki memainkan air dengan ritme beraturan. Oh, mereka belum gila dengan memilih berenang di malam hari yang dingin seperti ini, mereka hanya duduk di pinggiran kolam. Sebuah mantel bertengger di bahu Hyuna—tidak ia kenakan, hanya disampirkan. Sementara Key tetap santai dengan kaos hijau polosnya—seakan tidak peduli pada angin malam.

Hyuna kembali menyesap cappuchino-nya, sama sekali tidak sadar diri bahwa seharian ini ia telah memasukkan tiga gelas kopi dengan jenis yang berbeda ke dalam tubuhnya. Ia begitu menggilai kopi, terutama buatan Key. Racikan kopi yang Key tawarkan pertama kali padanya, langsung membuat yeoja itu terkesima—yang lantas membuatnya tidak ragu untuk membiayai seluruh modal awal coffee shop untuk Key.

Pertemuan pertamanya dengan Key pun terjadi di kedai kopi. Kala itu, ia diajak Minho menemui Key di sebuah kedai kopi tempat Key bekerja, bukan sebuah kedai ternama, apalagi besar. Tempat itu hanyalah sebuah bangunan tua yang masih sarat dengan nuansa tradisionalnya, berdiri di sebuah sudut di wilayah Daegu—kampung halaman Key.

“Key, kau masih ingat saat pertama kali bertemu?” Hyuna membuka pembicaraan mengenai masa lalu.

Key tersenyum, sejenak ia membanjiri tenggorokannya dengan aliran cafein. “Tentu. Kita ini dua orang aneh. Bukan cinta pada pandangan pertama, melainkan kesepakatan pada detik pertama. Aku masih ingat betul saat Minho menjelaskan bahwa kau adalah yeoja yang pernah ia ceritakan sebelumnya. Dan hari itu kau membawa sehelai kertas berisikan pernyataan. Aku bahkan belum sempat menyapamu, kau sudah menyodorkan kertas perjanjian.”

“Apa gayaku saat itu terkesan sangat sombong, Key? Menodongmu seolah aku sedang membeli sebuah barang. Errr… tapi kau tahu tidak, detik itu, aku memang tidak sepenuhnya yakin bahwa dirimu seorang gay.”

“Lalu? Kenapa kau sangat berani dengan mengajukan surat kesepakatan itu?”

Hmm, karena saat itu aku yakin kau orang yang menyenangkan. Tidak banyak orang yang bisa tahan dengan sikapku yang sarat dengan arogansi, terutama pada pria. Tapi saat itu kau hanya meraih pulpenku, tersenyum lebar, dan menuliskan permintaan balasanmu. Aku meminta banyak, kau bahkan hanya meminta satu yang menurutku—bukan hal yang menyangkut hidup dan mati.”

“Seperti itukah, Hyu? Aku tidak percaya. Apa bukan karena kau terpikat pada senyumku yang memang manis?” Key menggoda usil, ia mencolek dagu Hyuna, dibalas dengan semburan kopi yang masih sedikit hangat dari mulut Hyuna. “Ya! Jorok, Hyu!” Key sewot.

“Ah, mian, mian. A-a, aku basuh wajahmu dengan air kolam saja dulu, ya?” Hyuna panik sendiri, ia segera mengambil air kolam dengan tangkupan tangannya. Lantas ia melemparkannya pada wajah Key, “Aih… maaf, Key, aku terlalu tergesa.”

Key yang tadi spontan menutup kelopak matanya, segera mengelap wajahnya sendiri. “Aih, Hyu, kau benar-benar mengerjaiku hari ini.”

“Sini, aku lap dengan benar.” Kali ini ia hanya mengelap noda kopi yang ada di permukaan kulit Key. Beberapa lamanya ia terhanyut dalam aktivitas itu. Halus, untuk kesekian kalinya ia terpesona pada kulit Key yang bahkan jauh lebih bagus dari kulit seorang model terkenal. ‘Aih, apa ini? Hei Hyu, kau seperti orang cari kesempatan dalam kesempitan saja! Oh, Hyu, kalau menurutmu kulit Key sangat bagus plus didukung wajah tampan dan tinggil ideal, mengapa tidak kau tawari saja Key untuk menjadi modelmu? Beres, semua bentuk kekagumanmu pada rupa namja itu sudah tersampaikan, bukan?’

“Salahmu sendiri, Key. Pertanyaanmu itu sinting! Mana mungkin aku mencari suami hanya karena senyumnya. Lebih baik aku nikahi saja model-model tampan itu.” Hyuna memalingkan wajahnya dari Key. Kemanapun, ke atas langit, ke dalam permukaan air yang tenang, ke dalam bias bayangan kakinya di dalam air. Oh, kenapa ia baru sadar bahwa kakinya mengapit kedua kaki Key? Ia buru-buru menarik kakinya menjauh.

Key terbahak puas, yeoja itu sangat lucu. Kenapa harus kaget? Seharusnya jawaban atas pertanyaannya itu berupa kata ‘iya’. Dalam persepsi Key, kaget merupakan reaksi spontan yang mungkin timbul karena ketidaksiapan untuk mengakui sesuatu. Tapi ya sudahlah, ia tidak membutuhkan pengakuan spesifik dari Hyuna karena ia sudah bisa menyimpulkan. “Tapi, Hyu… aku senang kau menganggapku orang baik. Kenyataannya aku tidak sebaik yang kau pikirkan,” ujar Key sambil mengusap tengkuk.

Wait. Baik itu relatif. Tapi setidaknya, kau itu paket all in one bagiku,” tanggap Hyuna tanpa pikir panjang.

Ckck, Hyu. Untung aku tidak mudah tersinggung. Aku anggap istilah paket all in one itu sebagai sebuah pujian, meski aku bukan barang…-”

Hyuna memotong, “Aku serius. Kau memang sesempurna itu. Kau tampan, baik, pandai memasak, penyayang, ah, apa lagi ya… andai kau bukan gay…,” yeoja itu tak melanjutkan kata-katanya karena Key terlanjur mengunci mulutnya dengan telunjuk.

“Jangan katakan itu, Hyu! Andai aku bukan gay, maka sudah pasti kita tidak akan bertemu,” kata Key dengan volume yang semakin memelan.

Suara gemerisik jangkrik di semak-semak tanaman perdu pun  mengisi keheningan yang seketika timbul, bahkan sepoi angin berubah menjadi suara sapuan yang begitu mengancam. Saking heningnya, Hyuna menjadi gugup karena khawatir Key mendengar suara debaran jantungnya. Detik ini ia tidak sanggup memandang wajah Key yang tengah serius, ditambah lagi dengan sorot mata teduh plus seulas senyum tipis yang dipertontonkan Key. Konstruksi otak kaum hawa membuat mereka memiliki kepekaan untuk menangkap ekspresi emosi dari orang sekitarnya. Dan melihat cara Key detik ini, Hyuna tahu bahwa Key tidak sedang bercanda ataupun menggombal konyol. Dan Hyuna pun sadar bahwa Key memang tampan tak terkira.

Semua yang ditunjukkan Key itu merupakan paket all in one kedua bagi Han Hyuna—yang mampu membuat detak jantungnya seolah saling mengejar satu sama lain. Serangan dopamine disemburkan oleh otak Hyuna, menjadikannya diliputi sensasi girang bukan kepalang. Tapi, sisi sadarnya masih berkuasa penuh, ia tentu tak bisa spontan memeluk Key dengan penuh kegirangan. ‘Norak, murahan!’ pikirannya men-judge sarkatis.

Gadis itu memprotes ketidakmampuan dirinya sendiri, dalam hati ia mengeluh kesal, ‘Oh, ayolah Hyu, berkutiklah… kau harus menggunakan potensi yang katanya dimiliki seorang wanita. Kaum hawa diberi potensi alami untuk mengucapkan 20.000 kata per hari, manfaatkan itu. Mengapa kau sama sekali takluk bisu, Hyu? Aih, tenang, tenang. Kendalikan dirimu!’

“Ehm, baiklah, Key. Jujur saja, aku sedikit shock ketika menelaah maksud kalimatmu tadi.” Daripada mengelak dan ditodong Key, Hyuna memilih mengaku lebih dulu. “Jadi, intinya, kau bersyukur karena pernah bertemu wanita sepertiku? Begitu?  Wah, aku tersanjung. Gomawo, Key…”

Key tak kalah kagetnya karena tidak menyangka ucapannya itu merupakan sebuah kesalahan besar, ia sama sekali tak memikirkan respon yang akan dilontarkan Hyuna. Gawat kalau sampai Hyuna mencurigai lebih dalam. Tapi, bukan Key namanya kalau ia tak pandai mengendalikan keadaan. “Sekarang aku tanya balik. Kau sendiri bagaimana? Kau juga bersyukur, ‘kan? Jadi, ini impas yang kedua.”

Jawaban yang jenius! Hyuna tersenyum pasrah malu-malu. Key adalah satu-satunya manusia yang bisa bermain kata pada level yang sepadan dengannya. Key menanggapi, menyanggah, menjawab, bahkan terkadang menuding balik—tapi, dengan cara yang membuat Hyuna bisa mengakui kekalahannya sendiri tanpa harus menurunkan gengsi wanita itu.

“Kim Kibum, aku bersyukur karena kau gay. Senang punya partner hidup sepertimu,” pungkas Hyuna sambil menyandarkan kepalanya di bahu Key.

Key membenahi posisi kepala Hyuna agar yeoja itu merasa nyaman, ia mengelus pelan rambut panjang Hyuna nan bergelombang. Dikecupnya pelan puncak kepala Hyuna. “Hyu, aku suka dengan rambutmu, aroma shampo avocado,” ucapnya lembut. Sama sekali tak menganggap bahwa kalimatnya tadi tolol. Ah, jelas saja ia tak bisa mengaku bahwa detik ini ia merasakan kebahagiaan tak terkira, yang akhirnya ia salurkan lewat kecupan tadi. Fakta yang sebenarnya adalah, Kim Kibum menyukai Han Hyuna dari ujung kepala hingga hal remeh-temehnya.

Kini Key paham apa maksud pesan Jonghyun sebelum pergi tadi. Hyuna tidak akan pernah menyadari perasaan pria itu. Dan Key pun tidak tahu apakah dirinya harus bersyukur karena kenyataan bahwa Hyuna hanya melihat dirinya dengan sebelah mata. Tapi, Key berjanji tidak akan memandang Hyuna dengan satu mata. Ia akan menujukan seluruh perhatiannya untuk yeoja itu.

***

“Minho-ya, tadi sore aku menemui Key di kedainya. Aih, terlepas aku sedikit heran kenapa ada wanita seperti Hyuna. Aku lebih heran kenapa kau mengizinkan sahabatmu menikah dengan wanita itu. Kau tahu ‘kan bahwa Key itu pria normal. Kenapa kau berbohong pada yeoja itu?” Tengah malam Jonghyun menelepon Minho. Penyanyi itu tahu bahwa Choi Minho punya hobi akut—menonton pertandingan sepak bola tengah malam.

“Ah, itu… kau tidak tahu apa profesi Key sebelumnya, Jjong,” tanggap Minho santai. “Ia memang seorang barista. Tapi kau tahu? Dia tulang punggung keluarga. Tiga adiknya, dan sudah tak berayah. Tapi Key tetap tak mau menjadi simpanan tante girang meski sudah banyak kawannya yang menawarkan profesi itu.”

“Cih, yang seperti itu bisa disebut profesi, ya? Miris. Tapi, syukurlah, Key memang orang baik,” balas Jonghyun sambil merebahkan tubuhnya di kasur.

“Huahahaha, dia memang tidak bermain dengan ahjumma. Tapi, dia sempat menjadi mainan beberapa pria homoseksual. Jadi, kau jangan lega!” Minho terbahak di seberang sana.

Whattttttt?” Jonghyun memekik kaget, ia spontan terduduk. “Astaga, ini gila. Ya Tuhan… kemana saja aku selama ini sampai tidak bisa menyelamatkan sahabatku sendiri?” Jonghyun lemas bukan kepalang, plus tegang menunggu kelanjutan penjelasan Minho.

“Yah, hidup keras, Jjong. Sekeras suasana disiplin di tempat training calon artis K-pop yang tidak kunjung debut. Key memilih jalan itu karena ia pikir dirinya tidak harus mengotori wanita, tidak akan pernah mengisi janinnya, juga karena Key tahu bahwa ketika seorang wanita bermai—dalam tanda kutip—mereka akan menyisipkan sekecil apapun perasaan. Permainan itu akan berbekas di otak para wanita itu. Key tidak ingin melukai mereka.” Penjelasan Minho membuat Jonghyun tak bisa menggerakkan rahangnya sama sekali, semua yang baru didengarnya itu terlalu ironis.

“Kau pasti kaget mematung, ‘kan? Oke, kulanjutkan, bersiaplah dengan tabung oksigen kalau takut kehabisan napas. Begitulah Jjong, makanya kupikir, lebih baik aku pertemukan saja Key dengan Hyuna. Baik dari pria homo yang biasa menggunakannya maupun Hyuna, Key sama-sama mengincar kemapanan materi. Tapi setidaknya dengan menikahi Hyuna, jalan yang ditempuhnya lebih halus dan aman. Simbiosis mutualisme bagi Key dan Hyuna.”

Jonghyun menarik napasnya berat. “Mutualisme apa? Oke, anggaplah kau memang menyelamatkan Key. Tapi, pernahkah kau berpikir tentang Hyuna? Kau tidak memikirkan perasaan yeoja itu?” Nada bicara Jonghyun semakin meningkat. Andai lawan bicaranya bukan Minho, tentu sudah ia maki habis-habisan.

“Bagi Hyuna, semua akan baik-baik saja asal Key tidak berusaha menjamahnya dalam ranah hubungan tingkat tinggi. Dan kurasa, Key merupakan tipikal yang lebih mengutamakan kestabilan ketimbang perasaan. Aku yakin Key tidak akan pernah melakukan itu pada Hyuna. Ia cukup handal dalam urusan pengendalian diri. Key juga-”

“Minho-ya, kau salah…,” sela Jonghyun lirih. “Hari ini aku melihat sorot mata penuh cinta. Key sudah jatuh hati pada istrinya, bisa jadi sudah merelakan seluruh hidupnya untuk wanita itu. Berhenti berpikir bahwa Key bertahan sampai detik ini karena ia lebih mengutamakan kemapanan, kestabilan—cih, semua istilah halus yang intinya tak jauh dari materialistis. Key bertahan karena satu. Kurasa, ia memang hanya ingin hidup bersama Hyuna selamanya, makanya ia terus bertahan dengan status gay-nya itu…”

Minho yang kehabisan kata kali ini, ia menepuk keningnya sekeras mungkin dan berharap ini semua hanya halusinasi, mimpi, atau telinganya yang belum dibersihkan hingga salah mendengar. Tapi, sayangnya bukan. Ini real, kenyataan yang mematikan. “Bunuh aku! Terkutuklah aku! Yaaaa… Jonghyun-ah, aku harus bagaimana?”

“Jangan tanya aku, itu ulahmu. Kau juga, tanggung jawab karena membuahku harus terjebak sebagai pasangan Key! Dengar, Choi Minho, lebih baik aku jadi pasanganmu. Badanmu sangat kekar, abs-mu tak tertahankan, awwww!” Jonghyun terkikik. Ia sengaja bercanda untuk mencairkan suasana. Ia yakin Choi Minho sedang frustasi di tempatnya sana.

Yaik! Menjijikkan! Berhenti menggoda nista seperti itu. Kau juga harus berkaca, otot lenganmu itu sudah sebesar bulatan baso urat! Kau memang cocok jadi pihak pria, Key si kulit mulus itu yang jadi wanitanya!” Minho membalas asal, otaknya sudah terlalu kacau-balau karena memikirkan kesalahan fatal yang pernah dibuatnya.

‘Oh, Tuhan… ampuni aku… dan jangan kau biarkan Key mencintai Hyuna berkepanjangan. Malangnya dua manusia itu… dan aku lebih malang lagi karena pikiranku yang terlampau sederhana saat menjodohkan mereka. Eh, tapi Tuhan, bukankah jodoh itu ditangan-Mu? Jadi, walau aku yang mempertemukan, tapi tetap Engkau yang menakdirkan mereka bersatu. Jadi, aku tidak sepenuhnya salah, ya?’

***

Omelet nikmat cukup membuat keduanya membuka mata sempurna. Semalam mereka baru tidur pukul dua pagi. Dan pagi ini keduanya sama-sama masih mengantuk, menguap lebar beberapa kali. Key menyendok potongan omelet dan tak sadar jika Hyuna sedang mengamatinya.

“Key, kurasa ketampananmu sangat memenuhi syarat penilaian khalayak umum. Besok-besok, kau mau ikut ke dalam berbagai acara yang harus kuhadiri? Aku tidak keberatan kalau wartawan atau rekan-rekanku bertanya, ‘Hyuna-ssi, kenapa kau bisa punya suami setampan ini’. Waw.”

Makanan yang ada di dalam mulut Key berontak, mereka tersendat di dalam perjalanannya. Key tersedak dan kemudian terbatuk-batuk. “Hyu, uhuk, Hyu… kau… uhuk, Hyu…uhuk, uhuk, uhuk.”

“Kenapa, Key? Kaget? Ucapanku terlalu frontal? Ingin protes? Atau justru membuatmu besar kepala mendadak?” Hyuna terkesan menikmati reaksi Key. Ah, sebetulnya ia lebih mengharapkan ekspresi wajah dengan dua titik mata seperti yang sering diilustrasikan komik. Key akan sangat lucu kalau begitu. Tapi terlepas dari itu semua, yeoja itu tak bisa mengelak bahwa saat ini dirinya merasa begitu lega karena berhasil mengutarakan yang ia mau. Hyuna ingin meminta Key untuk menemaninya, ia ingin namja itu berada tak jauh darinya. Hanya saja, kodrat wanita memang ditakdirkan untuk memilih, bukan mengejar—seperti yang melekat pada pria. Hyuna tidak ingin menampilkan kesan bahwa dirinya yang mengejar dan sangat membutuhkan seorang Kim Kibum. Hyuna tak mau, ia terlalu gengsi.

Key meraih minumnya dan menenggaknya habis. Ia terbatuk untuk yang terakhir kalinya. “Bodoh, bukan itu. Aku hanya ingin bilang, sialan sekali kau, Hyu! Aku tersedak bukannya memberiku air,” dumal Key kesal. Matanya menyipit sempurna dengan satu sisi bibir atas yang meninggi.

Aaaah, maafkan aku. Habis kau sangat lucu. Ah, ya, baiklah, aku salah. Omong-omong Key, ada kejadian apa selama aku di Busan?”

Weits, kau dulu yang bercerita. Kurasa ada hal penting karena kemarin kau terlihat sangat penat, plus tidak biasa-biasanya kau singgah ke tempat lain. Normalnya kau akan langsung pulang ke rumah. Kalau dipikir lanjut, mustahil kau ke tempatku hanya karena ingin menyerahkan oleh-oleh. Itu bisa kau lakukan di rumah. Kutebak, kau sebenarnya ingin bercerita tapi tidak jadi karena ada Jonghyun, ‘kan? Aku betul? Kalau iya, besok-besok aku akan jadi cenayang saja.” Key menyambar, berceloteh ria super panjang dan cepat—membuat Hyuna hanya bisa memutar bola matanya.

Hoaaaah, baiklah. Sekalian kau buka kursus untuk calon cenayang, lumayan untuk lahan bisnis.” Hyuna terkekeh geli. “Ah, Key. Aku tidak suka ber-mellow ria. Intinya aku sedih karena ayahku tidak ada di rumah saat aku berkunjung,  bahkan tidak pernah mengabariku bahwa beliau sedang pergi ke rumah kerabat kami. Dan… satu lagi. Key, aku bertemu cinta lamaku.”

“Wow, kau punya cinta masa lalu? Kurasa itu bagus,” tanggap Key spontan. Di balik rasa cemburunya pada pria yang Hyuna maksud itu, Key pikir sangatlah bagus kalau ternyata seorang Kim Hyuna pernah jatuh cinta. ‘Apa aku punya peluang? Ah, ani, ani. Bisa jadi ia jatuh cinta sebelum punya prinsip bahwa dirinya tidak akan menikah karena takut hamil. Jangan berharap aneh-aneh, Key!’

“Apa yang bagus? Huh, dia bahkan tidak mengingatku. Aku malang sekali, bukan? Ah, ya sudahlah, tidak usah dibahas. Aku tidak ingin memikirkan pria manapun dalam hidupku.”

Hati Key mencelos. Tidak ada pria yang pernah bisa menguasai pikiran Hyuna. Lantas, kenapa selama ini Hyuna selalu mengeluarkan pernyataan yang menyiratkan bahwa yeoja itu sangat bahagia karena seorang Kim Kibum ada di sisinya? Apa semua itu hanya pujian kosong? Karena nyatanya Hyuna sendiri yang mengaku, seakan hidupnya tak pernah dipusingkan oleh urusan yang menyangkut pria. Lalu bagaimana dengan posisi Key di mata Hyuna? Apa betul wanita itu tak pernah memikirkannya? Key pasrah, memang tak selayaknya dirinya menghuni otak Hyuna.

“Ah, begitu. Lalu bagaimana dengan ayahmu? Apa kau tidak berpikir untuk menjemputnya? Atau sekalian saja kau ajak beliau tinggal di sini. Ayahmu sudah sangat tua dan tinggal seorang diri, kasihan sekali, Hyu.” Key langsung menguasai dirinya lagi.

“Dia yang tidak pernah mau, bukan aku yang tidak berusaha mengajaknya, Key. Memang banyak orang tua yang enggan tinggal dengan anaknya. Ada yang beralasan lebih enak di rumahnya sendiri, menikmati hari tua. Ada yang bilang bahwa mereka merasa kesepian di rumah anaknya karena ditinggal pergi kerja, ada juga yang bilang mereka tidak ingin merecoki rumah tangga anaknya. Entah, aku belum tua jadi tidak tahu rasanya, apalagi memastikan kebenaran alasan yang mereka lontarkan itu.”

“Ah, benar juga. Ibuku menganut paham yang terakhir kau sebut itu. Terlebih tiga adikku yang berisik itu akan membuatmu tidak nyaman.” Adik? Key baru teringat sesuatu, tentang permintaan Jiyoung.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ponsel Key bergetar pelan, sebuah pesan masuk bertuliskan:

Oppa, Jiyoung-mu ini akan segera datang, mmuaaah. Setengah jam lagi aku akan mendarat di tempatmu, masih di perjalanan. Siapkan kasur empuk untuk adikmu ini ya? Aku akan menginap selama beberapa waktu.

“Han Hyuna, maafkan aku karena membuatmu telat pergi ke kantor. Tapi pagi ini kita harus membereskan kamar!” Key panik bukan kepalang.

“Hah? Kenapa?

“Adikku akan menginap di sini. Tentu tidak lucu kalau dia tahu kita tidur di tempat yang berbeda. Pindahkan semua barangku ke kamar utama, pasang foto-foto pernikahan kita, dan aku bukan hanya akan sering numpang mandi di kamarmu, melainkan menjadi penghuninya untuk beberapa waktu.”

WWhattttttt? Key, suruh adikmu pulang lagi! Astaga, kita harus tidur sekamar? Tidak, tidak. Tidak ada yang bisa memastikan apa yang terjadi kalau kita sedang tidur.” Hyuna lebih kaget lagi, ia segera berdiri dan bolak-balik tidak jelas.  Tubuh Key digoncangkannya keras, yeoja itu merasa darahnya benar-benar berhenti sesaat. “Jangan, aku takut, Key… maafkan aku, tapi aku benar-benar takut.” Tangan Hyuna bergetar, phobia-nya mencuat. Sesuatu yang telah mengendap lama kembali naik ke permukaan. Kenangannya di kehidupan yang lalu.

“Key… kau tidak mendengarkan aku?” tanyanya lirih karena Key sama sekali tak merespon.

“Hyu…,” Key sama sekali tidak menyangka bahwa Hyuna akan seperti ini. Separah itukah rasa takutnya? Sampai tidur bersama pun tidak mau? Meski yeoja itu tahu bahwa suaminya gay?

Hyuna semakin kalap, ia bahkan menarik-narik rambut Key dengan keras. “Aku belum mau mati, Key! Aku masih punya masa depan cerah! Aku masih mau berkeliling dunia dengan karyaku! Aku tidak ingin hamil. Aku belum ingin meninggalkan dunia ini, Key!”

“Hyu, Hyu. Tenang. Kau tidak akan mati. Siapa yang bilang begitu?” Key berusaha meredam gejolak Hyuna, ia merengkuh yeoja itu ke dalam pelukannya. Bahunya seketika basah oleh air mata Hyuna.

“Key! Jangan sentuh aku! Key, suruh adikmu pulang lagi! Jangan hancurkan hidupku!” Hyuna berusaha menghempaskan Key dengan mendorong dada pria itu.

“Hyu, dia sudah dekat. Ah, baiklah, baiklah, nanti akan kupikirkan cara agar dia cepat pulang. Tapi Hyu, aku ini gay! Aku sama sekali tidak tertarik menyentuhmu. Percayalah padaku, Hyu….” Key tidak menyerah, terus mempertahankan yeoja itu agar tak lepas dari dekapannya. Tangis Key pun ikut pecah. Hatinya begitu sakit melihat Hyuna seperti ini, sakit karena harus membohongi Hyuna sekali lagi, dan sakit karena ia baru saja menelorkan janji yang begitu sakral. “Aku gay, Hyu. Gay. Kau tidak perlu cemas. Sistem hormonku berbeda dengan pria lainnya. Sekalipun kau membuka seluruh bajumu, aku tidak akan tertarik. Hyu, kau boleh memegang kata-kataku. Kau tidak akan hamil karenaku.”

“Key… ibuku meninggal saat berusaha melahirkan adikku ke dunia. Adik bayiku pun menyusulnya tak lama kemudian. Key, mengandung dan melahirkan itu sebuah petaka. Key, aku takut. Aku tidak ingin. Key, aku tidak ingin meninggal dengan cara seperti itu. Banyak wanita yang meninggal di meja persalinan. Key, aku belum mau mengorbankan hidupku demi sebuah janin darimu.”

Deretan kata pembunuh, menusuk Key tepat di jantung. Pria itu mengencangkan pelukannya. Tangisnya pecah melampaui tangis Hyuna. Pria itu tak dapat menahan perasaan kacau yang memberondonginya. Antara ingin berpihak dan berusaha memahami Hyuna secara utuh, atau harus mengasihani nasib hidupnya sendiri. “Aku berjanji, Hyu. Kau akan aman bersamaku. Untuk sementara selama kita sekamar, aku akan tidur di bawah saja pakai selimut. Kita kunci pintunya supaya aman. Yakinlah, Hyu. Tidak akan terjadi apa-apa.”

“Janji, Key? Kubunuh kau kalau sampai melanggar. Key, sering-seringlah bertemu Jonghyun agar kau semakin mesra dengannya. Atau, kalau Jonghyun terlalu sibuk dan kau ingin bermain dengan pria lain, akan kufasilitasi berapa pun biayanya.”

Ini yang lebih menyakitkan bagi Key. Selama ini, sepanjang empat tahun pernikahannya, harga dirinya selalu jatuh karena uang. Apa Hyuna hanya menganggapnya sebagai pria yang ingin menikmati harta yeoja itu? Tidak bisakah Hyuna merasakan bahwa seorang Kim Kibum memiliki dasar yang lebih mulia daripada sekadar uang? Atau paling tidak, jangan pernah ungkit masalah seperti itu di depan Key.

Pria manapun tidak ada yang mau dianggap lebih rendah dari wanita. Para suami yang menggugat cerai istrinya dengan alasan istrinya terlalu sibuk jadi wanita karir—sebetulnya hanyalah kumpulan orang yang merasa minder karena pendapatan sang istri lebih tinggi. Key tidak terima, tapi ia tidak bisa marah. Key memilih diam seribu kata, hanya bisa mengusap air mata Hyuna dengan hati miris. Pria itu terdiam sejenak untuk meredam air matanya sendiri. Perasaannya semakin sakit, tapi semakin sakit dirinya—semakin ia akan menahan penuh semuanya. Hapus sudah air mata. Hidup akan terus berlanjut karena ia memang telah memilih untuk menjadi manusia yang tidak akan menyerah pada garis takdir. Ia akan menanggung semua konsekuensi atas pilihannya. Selamanya, berjanji, tidak akan ‘menyentuh’ Hyuna.

“Hyu, lekas. Sebelum adikku datang. Atau kalau kau tidak kuat, biar aku saja yang membereskan. Kau duduk saja, tenangkan dirimu, Hyu.” Key selalu mengalah, seorang pria yang tingkat pengertiannya selevel dengan psikolog yang mendalami masalah wanita dan segala seluk-beluk jalan berpikirnya.

Sayang, ungkapan ‘orang baik akan berjodoh dengan orang baik’ tidak berlaku dalam hidup Key. Hei, apakah Hyuna bukan yeoja baik? Ani, Key menepis semua pemikiran itu jauh-jauh. Hyuna adalah wanita terbaik dalam hidupnya. Hanya saja, kisah masa lalu wanita itu yang tidak baik.

To Be Continued

Iklan

  1. Akhirnya kelarr… fiuhh
    Part ini emosinya campur aduk (lagi), bagian awal lumayan romantis, bagian Jjong-Minho…agak suram, soalnya membahas masa lalu Key, bagian akhir nyesek.
    Ternyata walaupun Key bukan gay beneran, tapi masa lalunya tidak benar-benar bersih. Hyuna nggak mau hamil bukan cuma karena takut repot dan karirnya terganggu, melainkan juga takut meninggal di meja persalinan. Ah, dua orang ini ….
    Nah iya, dan aku setuju bahwa pria nggak suka dianggap lebih rendah daripada wanita. Tapi, di kasus ini, Key sepertinya harus ekstra bersabar, dan siapa yang tahu limitnya sampai kapan.
    “…..meski sudah banyak kawannya yang menawari profesi itu…” menawari, atau menawarkan?
    Aku baru tahu maksud judul Half Eye itu di part ini, lho, sebelumnya nggak begitu ngeh kenapa judulnya itu. Sebelah mata, kan ya? 😀
    Lanjuut

    • aku ga terlalu suka bikin tokoh yg bersih seolah tanpa cacat mi, hehe

      oh iya bener menawarkan, makasih ya mi 😀

      aku ngerasa part ini alurnya kasar bgd mi, obrolannya juga dari anu lari ke onoh. ami ngerasa gtu ga?

      Iya, sebenernya baik Key maupun Hyuna, sama2 mandang pke sebelah mata aja, ga saling sadar mi… terutama Hyuna

      makasih loh ya mi udh maen k ff ini 😀

      • aku sih nggak terlalu perhatian dengan alur, asal enak dinikmati, it’s ok. mungkin ke depannya diperbagus lagi
        hehe..iya, sama-sama punya pandangan sendiri tentang pasangannya, nih, tapi Hyuna yang lebih kentara ya?
        sama-sama 🙂

  2. eh tapi Tuhan… astaga itu ngakak td gara2 mino.. lol

    Apa gay aku saat itu terkesan sangat sombong, Key? — eh itu kata gay kelepasan diketik ya? hehehe

    jd itu alasan utama hyuna gak mau hamil. td smpt udh menebak yg ky gtu pas hyuna blg gak mau hamil n gak mau meninggal dulu. ternyata di paragraf slnjutnya diuraikan alasan jlsnya. wkwkwk

    bingung komen apa lagi. setuju juga deh sama komen ami. hihihihi

    • omaigad, aku salah nge-italic eon. HArusnya gayaku, karena pke replace all, jd tiap kata gay jd italic

      hahahah, iya nih minho agak2, dasar ga mau disalahin #plakkkk

      makasih ya eon udah visit ff ini 😀

  3. Halo, kak fla. Nisa imnida. Iseng baca ff kamu yg no perfect marriage di salah satu blog trs jadi keterusan baca ff kamu yg half eye.

    Asli suka banget sm gaya penuturannya. Enak dibaca. Karakter hyuna sm key-nya dapet bgt. Dan pacar saya (minho -lol) emang dodol bgt ya di sini haha -_-

    Ditunggu part selanjutnya dan salam kenal! 🙂 *bow*

    • halo nisa, salam kenal ya, selamat berkunjung di rumahku, semoga betah yaaa ^^

      eh, knp manggil kakak? panggil aja fla, mana tau kan siapa yg lebih tua.

      makasih ya udah suka tulisanku, semoga ke depannya makin enak buat dinikmatin 😀

  4. Fla~ aku komennya disini aja ya, biar sekalain #plak

    Demi dewa neptunus di lautan. Aku suka banget ff kamu ini kyaaa~ seriusan deh.

    Kasian banget Key. Aku kira Jjong udah tau skenario yang dibuat Key yang pura-pura gay itu sama Jjong. Ternyata baru tau ya.

    Ini bener-bener Hyuna yang mandang sebelah mata dan selalu gak terlalu mau nyari tau semua tentang Key. Ckck bodoh banget Hyuna.

    Ini Jjong mendadak sarap ya lol *umpetin Minho di lemari*

    Next part ditunggu banget Fla ^^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s