Blood – Part 2

Author: Fla

Main Cast: Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Jinki

Rating: General

Genre: Sci fi, romance

Length: Sequel

blood-poster

Disclaimer:

Semua yang ada di dalam cerita ini hanya fiktif belaka, aku bukan ilmuwan yang mengerti seluk beluk dunia farmasi dan kedokteran, bukan juga mahasiswa yang bergelut di bidang itu, jadi mohon maaf apabila ada ketidaklogisan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Nama cast hanya dipinjam untuk kepentingan cerita semata.

Fla © 2013

Yeoja: Between Heart and Mind

 

Berkali-kali Key melirik ke arah tempat tinggal Hyuna yang hanya berjarak dua rumah dari punyanya. Malam ini rasanya ia ingin protes, tapi entah apa yang harus diprotesnya. Yang jelas ia kesal dengan nasibnya hari ini. Jomblo-jomblo tak punya destinasi? Hmm, mungkin. Tidak ada yang bisa diajaknya jalan. Bukan tidak ada, sebenarnya mudah saja ia mengajak teman-teman gadisnya, tapi ia tak tertarik. Satu-satunya yang ia inginkan, pupus.

Sore tadi, sekitar pukul 3, ia hampir mengetuk pintu rumah Hyuna, iseng-iseng mencari peruntungan. Siapa tahu gadis itu kembali dilupakan Jinki. Tapi nasibnya apes, Hyuna justru keluar rumah dengan tampilan bak putri cantik yang baru saja lulus dari meja operasi dokter bedah. Astaga, bagaimana bisa Hyuna yang sering tak memedulikan penampilan—bertransformasi menjadi gadis feminim bergaun putih dengan rambut menjuntai? Yah, dari balik mantel yang dikenakan yeoja itu Key bisa melihat gaun cantik membalut tubuh Hyuna, salah sendiri yeoja itu tak mengancingkan mantelnya. Aih, aih, jelas Key merasa cemburu setengah mati pada Lee Jinki—pria yang baru pernah sekali dilihatnya. Beruntungnya pria itu.

Malam itu Key duduk-duduk di teras rumahnya, ditemani segelas cappuchino dan gitar kesayangannya. Ingin bernyanyi merdu, apa daya tidak ada bakat mengiringi. Alhasil ia hanya bisa memetik senarnya, membiarkan jangkrik yang menjadi vokalis naturalnya.

Sekali lagi lehernya gatal untuk menelisik rumah Hyuna, sejak tadi ia belum melihat gadis itu pulang. Padahal ini sudah pukul setengah 9 malam. Hei, jangan bilang Lee Jinki mengajaknya kencan sampai tengah malam? Oi, oi, jangan bilang juga kencan mereka akan berakhir di hotel panas? Hoaaah, Key menjadi gerah bukan kepalang akibat prasangkanya yang berlebihan. Ia memutuskan untuk bangkit, mencoba bertamu ke rumah Hyuna, siapa tahu Nyonya Kim membocorkan sesuatu.

Dan lagi-lagi rencananya gagal. Nyonya Kim keluar dari rumah dengan gelagat yang tampak tergesa. Key menyapanya, dan wanita itu menyempatkan diri untuk berhenti sebelum akhirnya membalas keramahan Key dengan meminta sebuah bantuan, “Key! Ah, ayolah anak tampan dan baik hati. Antar aku ke rumah sakit sekarang juga dengan motormu, nanti kubuatkan kau kimchi jigae [1] special.”

Ahjumma, untuk apa kau ke rumah sakit?” timpal Key bingung. Oh, apa ia harus menghabiskan malam Valentine dengan mengantar seorang ahjumma ke rumah sakit?

“Hyuna ada di sana,” balas Nyonya Kim cepat. Ia merapatkan mantelnya agar dingin tak terlalu menusuk kulit.

Mwo? Hyuna? Kenapa dengan Hyuna? Ah ne, aku antar sekarang juga. Ayo lekas!” Key segera naik ke atas motornya yang terpakir di depan garasi. Apapun yang menyangkut Hyuna, akan Key prioritaskan. Nyonya Kim menyambutnya dengan langsung naik ke motor tersebut begitu mesinnya telah dinyalakan.

Ahjumma, pertanyaanku belum dijawab. Hyuna kenapa? Dia sakit? Ah, tapi tadi sore aku baru melihatnya dan ia baik-baik saja. Ahjumma, jangan bilang Hyuna mengalami kecelakaan?” Key bertanya kembali begitu motornya telah keluar dari pekarangan rumah.

Ani, ani. Bukan Hyuna yang kecelakaan, tapi Jinki. Sekarang anakku pasti shock, kencannya berubah menjadi drama menyedihkan. Aku harus berada di sisinya… katanya ia belum mau pulang sebelum keadaan Jinki dapat dipastikan.”

Aigooo, jadi malam ini harus dihabiskan dengan menyaksikan seorang Kim Hyuna menangisi kekasihnya? Hosh… betapa sedihnya nasib jomblo-jomblo yang ada di muka Bumi. Dan Key merasa dirinya yang termalang.

***

Instalasi gawat darurat masih tak mengizinkan pintunya terbuka. Pihak keluarga menunggu resah. Begitu mereka datang, Jinki sudah berada di dalam ruangan tersebut. Mereka tak tahu bagaimana keadaannya. Nyonya Lee hanya tergugu dengan punggung tegak menegang, ia sama sekali tak bisa memerintahkan syarafnya untuk rileks, mata sembabnya tak kunjung pulih, bahkan tidak jelas lagi apakah jiwanya masih menyatu dengan raga. Sementara Kim Hyuna, gadis itu tak sanggup duduk, sejak tadi ia berlalu-lalang di sekitar kursi tunggu, rasa gelisahnya tersalurkan lewat gerak.

Nyonya Kim berlarian begitu melihat Hyuna dari kejauhan, begitu pula dengan Key. Rumah sakit menjadi sedikit gaduh karena jejak-jejak yang tergesa tadi.

“Bagaimana keadaan Jinki?” Nyonya Kim bertanya cemas—langkahnya bahkan belum benar-benar berhenti.

Eomma, jangan berisik, ini rumah sakit. Jinki masih di IGD, belum tahu kabarnya seperti apa.” Hyuna buru-buru menaruh telapak tangan di mulut eomma-nya sebelum kegaduhan yang lebih besar timbul.

“Ah ne, mian. Separah apakah kecelakaannya?” Kali ini Nyonya Kim memelankan volume-nya.

“Katanya dia kehilangan banyak darah, menurut saksi mata yang membawanya ke rumah sakit, Jinki menghindari sebuah motor yang tiba-tiba menyalip di sebelahnya. Alhasil dia memiringkan stir-nya dan tubuhnya ikut jatuh terseret. Eomma… sepertinya luka luarnya cukup parah… semoga saja tidak ada luka dalam mengingat kaki Jinki tertimpa oleh motornya sendiri. Yah, hanya itu informasi dari perawat yang tadi terburu-buru masuk ke ruangan Jinki. Belum tahu lagi kondisi pastinya,” jawab Hyuna. Beberapa saat kemudian ia sadar bahwa ibunya tidak datang sendirian. “Eomma, mengapa kau bawa playboy amatiran ini bersamamu? Ish, dia hanya ingin mengambil hatimu saja, Eomma. Jangan termakan kebusukannya.”

Aigoo, Hyu. Sebagai tetangga yang baik tentu aku tidak bisa menolak ketika dimintai tolong,” tukas Key malas. “Ckck, ya sudahlah, kalau begitu aku pulang saja, ne?”

Eits, jangan, nanti siapa yang mengantar eomma-ku pulang?” cegah Hyuna. Ia menarik bagian bawah kaos Key.

“Hyu, kau berencana menginap di sini?” sambung Nyonya Kim setelah menangkap sebuah indikasi dari jawaban Hyuna barusan.

Eum, iya, menemani Nyonya Lee. Eomma lihat saja, dalam kondisi seperti ini tak sebaiknya ditinggalkan sendirian.” Hyuna melirik pada Nyonya Lee yang masih shock berat.

“Maaf, di antara kalian, siapakah yang merupakan keluarga dari pasien Lee Jinki?” Obrolan terpaksa berhenti ketika seorang dokter IGD datang.

Nyonya Lee menyambar tak sabar, “Saya. Ada apa, Suster?”

“Pasien kehilangan terlalu banyak darah karena lengan dan kakinya mengalami gesekan dengan aspal, jadi saat ini kami masih menangani pendarahan dan luka-lukanya. Untungnya pasien masih sadar, tapi dari pemeriksaan dan observasi sementara, kami curiga pasien mengalami fraktur tulang betis, tulang telapak kaki, dan tulang lengan bawah, bisa jadi tulang tempurung lutut juga karena pasien mengeluhkan sakit pada bagian itu. Untuk sementara kami urus luka luarnya dan melakukan pembidaian di area-area tadi. Kami masih menunggu kedatangan dokter spesialis tulang untuk pemeriksaan lanjut.

“Tapi nyawa anakku tidak terancam, ‘kan? Asalkan mendapatkan cukup darah, begitu?” Kepanikan melanda Nyonya Lee. Ia tak bisa membayangkan jika Jinki harus mengalami cacat fisik parah apalagi harus terenggut nyawanya. “Kalau hanya fraktur pada bagian kaki, bukankah masih bisa sembuh?” tanya Nyonya Lee seraya menarik tangan dokter IGD tadi.

“Semoga tidak sampai ada fraktur di area kepala, dada, atau bagian atas tubuh lainnya karena akibatnya akan sangat fatal. Yang jelas pasien tidak mengalami kebutaan ataupun masalah dengan pendengarannya. Untuk saat ini, kami memerlukan darah O rhesus negatif lebih banyak lagi karena persediaan yang kami punya tidak cukup, mungkin sekitar 6 atau 7 labu lagi agar stabil. Sayangnya, darah rhesus negatif ini sangat langka, di Asia memang sangat sulit ditemukan orang yang memiliki rhesus negatif,” Sang Suster menjelaskan.

“Dok, rhesus-ku memang negatif, tapi aku pengidap anemia berat.” Nyonya Lee terduduk lemas kembali. Tertekan karena merasa ia tak bisa memberikan bantuan untuk keselamatan jiwa anaknya.

“Sayang sekali, anda tidak bisa menjadi pendonor. Hmmm, apa di antara kalian ada yang bergolongan darah O negatif?” tanya dokter muda yang terbilang cukup tampan itu.

Baik Hyuna, Nyonya Kim maupun Key serempak menggeleng. Ketiganya bergolongan darah sama, B. Raut keputusasaan mulai menghinggapi Nyonya Lee. Atas pengalaman sebelumnya, ia pun pernah bermasalah dengan rhesus. Dua tahun lalu ia sempat mengalami pendarahan—menstruasi hingga 27 hari adalah penyebabnya—ditambah riwayat hemoglobinnya yang tak pernah mencapai angka 11. Alhasil, begitu sulit mencari darah donor ketika suatu saat kadar HB-nya drop hingga menyentuh angka 3.

“Nyonya, sebenarnya ada solusi lain. Kau pernah dengar serum yang diberi nama dagang ‘STB’? Serum ini diklaim dapat mengatasi perbedaan golongan darah dan juga rhesus. Tapi kami belum bisa memastikan jika penggunaannya aman. Sejauh ini memang belum pernah terjadi kasus. Kalau pihak keluarga setuju, kami bisa menggunakan serum itu untuk menyelamatkan pasien Lee Jinki.”

“Ya, lakukan saja yang terbaik,” putus Nyonya Lee tanpa pikir panjang. Dalam posisi seperti ini, ia hanya ingin Jinki selamat. Tanpa serum itu, nyawa Jinki mungkin bisa melayang dalam hitungan cepat. Jadi, tidak ada salahnya mengambil sebuah keputusan meski penuh ketidakamanan. Begitu yang dipikir Nyonya Lee.

Hyuna, setegar apapun dan sejarang apapun ia menangis, detik ini air matanya mengalir deras. Ia baru saja mendapatkan sebuah mimpi buruk. Lee Jinki kehilangan banyak darah… dari yang ia ingat, belakangan Jinki pernah bercerita bahwa pria itu terjangkit anemia ringan karena terlalu sering begadang dan tidak me-manage waktu dengan baik. Lalu bagaimana sekarang setelah kecelakaan yang menghilangkan banyak darahnya? Dan apa betul serum itu bisa membantunya? Bagaimana bisa ada serum semacam itu? Hyuna sadar dirinya sama sekali buta mengenai dunia kedokteran maupun farmasi. Tapi, ada semacam firasat di dasar jiwanya yang mengatakan, bahwa secanggih apapun obat yang ada di dunia ini pasti ada efek sampingnya.

‘Bagaimana jika obat itu memicu reaksi yang buruk di dalam tubuh Jinki? Bagaimana jika terjadi mutasi seperti yang pernah ia lihat di dalam film-film sci fi barat? Tikus saja bisa menjadi super jumbo karena terpapar zat berbahaya. Bagaimana dengan manusia? Menjadi mutan seperti X-men? Oh, tidak tidak, yang terakhir terlalu tolol. Ah, jangan jauh-jauh, obat pilek saja bisa menyebabkan alergi jika tubuh si penderita tidak bisa akur dengan pil tersebut. Bagaimana dengan serum ini? Darah yang menjadi taruhannya. Bayangkan, darah mengalir dari ujung kaki sampai kepala manusia, bisa diibaratkan seperti bensin dalam kendaraan. Kalau mengalami rangsangan asing dan kinerjanya terganggu? Oh, God.’

 

Firasat-firasat itu terus menghantuinya, menjadikan air matanya tak bisa dihentikan. Bahkan, Hyuna tahu bahwa mimpi—yang notabene terjadi di dalam alam bawah sadar saja pun—memiliki sebuah pertanda. Firasat, ini lebih menakutkan baginya. Tapi, apa yang bisa diperbuatnya? Tidak ada. ‘Sudahlah, Hyu. Lee Jinki hanya butuh darah. Kau mau kekasihmu meninggal hanya karena tidak mendapatkan asupan darah segera?’

Gadis itu ingin lari agar tak mendengar lebih lanjut, tapi apa pantas ia kabur di saat seperti ini? Sesesak apapun, sesakit apapun, bukankah masalah dan ujian itu harus dihadapi, bukan dihindari? Meski lututnya sudah lemas bergetar, ia tetap bertahan di tempat itu, memberikan pelukan untuk Nyonya Lee yang menumpukan kepalanya pada bahu Hyuna. Meski sendinya terasa begitu linu untuk berdiri, tak peduli berapa lama pun ia harus bertahan, ia akan tetap pada posisinya. Mungkin, berbagi tangis tak selalu buruk.

Beberapa menit terus seperti itu, Key menyadari bahwa tubuh Hyuna semakin condong ke belakang. Wajah yeoja itupun sudah cukup pucat dengan matanya yang membengkak. Sementara Nyonya Lee, masih setengah meraung meremas-remas bagian belakang mantel Hyuna. Key, namja itu berinisiatif melepaskan pelukan kedua wanita malang itu. Ia memberi kode pada Nyonya Kim agar segera mengajak Nyonya Lee duduk. Sementara Hyuna, gadis itu menjatuhkan kepalanya di pundak Key, “Key, kenapa golongan darahmu bukan O negatif, sih?” keluh Hyuna dalam tangisnya. Kepalan tangannya memukul-mukul punggung Key tanpa ampun

Dalam kondisi normal, Key begitu ingin tertawa, tapi ia memaklumi pertanyaan tolol Hyuna tadi. Gadis itu terlalu shock. Ia bisa mengerti bahwa struktur otak wanita menjadikan mereka lebih mudah mengalami cemas. Key sedikit ragu untuk memeluk Hyuna, tapi toh ia tetap melakukannya. “Omong-omong Hyu, aku ini kurus. Jangan pukul pundakku, tenagamu masih tetap penuh meski dalam keadaan lemah seperti ini,” bisik Key lembut. Hyuna, gadis itu pemegang sabuk hitam taekwondo, urusan tenaga tak perlu diragukan.

“Cih, payah!” Hyuna menghempaskan tubuh Key, ia segera menjauh dari pria itu dan duduk di samping ibunya. Andai ini bukan rumah sakit, Hyuna sudak memaki Key dengan teriakannya, ‘Dasar Kim Kibum payah! Dipukul yeoja saja kesakitan. Hei, sini adu tanding denganku! Kupatahkan tulang lidahmu itu agar tak terlalu banyak cakap! Masa bodoh sebenarnya lidah itu bertulang atau tidak! Jangan protes!

***

Kim Jonghyun berdecak kesal. Acara kunjungannya tadi harus terusik oleh sebuah panggilan di ponselnya, padahal ia tengah asyik bercengkrama dengan nuna-nya. Aih, tapi yang tadi itu berasal dari pihak rumah sakit. Panggilan kemanusian telah datang, saatnya mengesampingkan kesenangan pribadi. Seorang pasien korban kecelakaan baru saja  ditangani oleh Instalasi Gawat Darurat. Pasien itu konon mengeluhkan rasa sakit di beberapa titik, luka luar yang dialaminya cukup parah. Ada indikasi bahwa si pasien mengalami patah tulang. ‘Hmm, bisa jadi ia mengalami fraktur luar.’

Dan kini, mobilnya tak bisa melesat cepat membelah jalanan malam yang cukup padat. Jonghyun mengerang geram , ia tak mau membahayakan nyawa pasiennya hanya karena ia datang terlambat. Kalau benar hanya patah tulang di area kaki, mungkin masih sedikit aman. Tapi, kalau masalahnya di kepala dan parah? Dan ini akan lebih menakutkan jika syaraf si pasien ikut bermasalah. Well, urusan syaraf memang bukan kewenangannya. Tapi tetap saja, ia selalu terpukul plus diliputi rasa bersalah ketika ada korban kecelakaan yang harus menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit.

Ia tahu seperti apa sakitnya perasaan pihak keluarga. Berpuluh kali ia mendengar isak tangis orang tua yang harus berpisah dengan anaknya, wanita yang kehilangan suaminya, pria yang harus ditinggalkan istrinya, dan anak yang tidak akan lagi mendapatkan kasih sayang salah satu orang tuanya. Yang terakhir, ia tahu betul rasanya. Karena orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ayahnya yang terparah karena terus tertahan di dalam mobil yang terbalik selama satu jam hingga meninggal di tempat. Mendiang ibunya masih sedikit beruntung karena masih bisa keluar meski terseok dan mengalami cidera berat. Sampai kapan pun Jonghyun tak akan pernah melupakan kejadian itu, saat ia harus menyaksikan ibunya diseret dengan brangkar, hingga akhirnya harus meninggal dunia karena pihak rumah sakit kekurangan stok darah, ditambah kondisi jantung ibunya memang sudah tidak baik ketika datang ke rumah sakit.

Kim Jonghyun terus membunyikan klaksonnya. Ish, tapi tetap tak merubah keadaan karena dalam posisi seperti ini memang sulit mencari celah, orang pun bingung harus mengalah dengan cara seperti apa. Pria itu berteriak frustasi, ini masih terlalu jauh dari rumah sakit, kalaupun ia keluar dari mobil, tetap tak menyelesaikan permasalahan. Ia meraih telepon genggamnya untuk menelepon ruang IGD.

Yeoboseo, aku Kim Jonghyun… bagaimana keadaan pasien?” Jonghyun segera menyambar begitu ada yang mengangkat.

“Kami baru saja menggunakan serum SBT demi mengatasi masalah transfusi darahnya. Kami juga sudah menjahit luka-lukanya. Oh ya, pasien masih bisa merespon suara dan juga nyeri. Tapi, pasien sepertinya mengalami syok, ia bernapas 34 kali dalam satu menit dan denyut nadinya 157 kali dalam semenit. Pasien mengeluhkan sakit pada beberapa titik gerak. Itu yang kami khawatirkan. Kami membutuhkan anda dan dokter spesialis syaraf untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokter, anda masih jauh? Kami khawatir ada luka di bagian dalam kepala, mengingat tubuh pasien sempat terseret beberapa saat, bukan hal mustahil kepalanya sempat berbenturan.” Itu suster Jung, perawat senior yang sedang berada di dalam ruangan IGD.

Jonghyun menggaruk keningnya yang sudah dibanjiri keringat. “Ishhh, sekarang aku terjebak macet parah. Bisakah kau kirim seseorang untuk membawa motor dan menggantikanku mengemudikan mobil? Aku khawatir tidak bisa sampai dalam waktu dekat.”

“Ah, ne. Baiklah, Dokter.”

***

Kim Soora tersentak kaget begitu ada seseorang yang membekap mulutnya ketika ia akan memasuki mobil. Ia tak sempat berteriak, apalagi memberontak, tangannya dikunci mati oleh seseorang yang mendekapnya begitu kuat. Ah, masih ada kaki. Ia berniat menggerakkan kakinya, berharap bisa melumpuhkan sejenak orang jahat tadi.

Greppp.

Ah sial, kali ini bahkan satu kaki penjahat itu menahan gerak kakinya juga. “Aku sudah hafal kebiasaanmu, Honey.” Si pelaku berbisik seram di telinga Soora.

‘Sial, pria ini.’ Soora hafal betul suara itu. Jantungnya mulai ketar-ketir mengingat sosok tadi. Ini pertemuan pertama mereka selepas putus dua tahun yang lalu. Susah payah Soora bangkit dari keterpurukannya—dibantu dengan perhatian intens yang diberikan oleh adiknya, Kim Jonghyun. Lalu sekarang? Ia harus bertemu lagi dengan pria yang telah merenggut harga dirinya dan lantas kabur, menghilang bagai tertelan Bumi.

“Kim Soora, bekerjasamalah untuk kali ini saja, aku mohon.” Ada nada terdesak di dalam suaranya. Napas pria itu terdengar sedikit tersengal, seperti orang yang baru saja berlari. Hembusan karbon dioksida dari hidung pria itu terasa menusuk tengkuk Soora. Yeoja itu bisa merasakan hawa tak nyaman ketika harus berada di dekat pria ini dengan jarak yang sangat minim.

“Kumohon,” pinta orang itu lagi, kali ini dengan bisikan yang lebih lembut. Benar-benar membuat Kim Soora kalah telak diperintahkan oleh perasaan lamanya sendiri. Soora mengangguk beberapa kali, tidak ada salahnya sedikit bernegosiasi.

“Buka pintu mobilmu, kita bicara di dalam.”

Soora mematuhinya, yeoja itu hanya bisa pasrah saat orang itu mendudukkannya di jok penumpang, sementara kemudi dipegang pria tadi.

Soora melirik sinis pria yang baru saja duduk di jok mobil. Lampu penerangan mobil hanya mampu menunjukkan lubang-lubang kecil di pipi pria itu, Soora tidak bisa tahu apakah kulitnya masih seputih susu atau tidak. Tapi, dari rambut ikal pria itu—yang panjang tanpa terikat dan berantakan—Soora bisa menyimpulkan bahwa mantan kekasihnya itu tidak menjalani sebuah kehidupan yang baik. Karena dulu, pria itu sangat necis dan menjaga penampilannya dengan mumpuni.

“Kenapa menemuiku? Butuh uang, huh? Kau harus tahu, aku bukanlah tisumu lagi, kau tidak bisa memanfaatkanku sembarangan lantas membuangku. Cukup sekali dan untuk yang terakhir kalinya,” sindir Soora sinis. Soora mencibir pria berambut gondrong yang ada di sampingnya itu.

Pria itu tidak menanggapinya, ia hanya menujukan perhatiannya pada kaca spion mobil, menelisik jika sekiranya ada orang yang kebetulan melintas di dekat situ. “Aku datang bukan untuk itu,” kilah orang tadi begitu ia selesai memeriksa keadaan. “Pakai seatbelt-mu,” imbuhnya dingin.

Ekspresi wajah yang tak biasa, benar-benar membuat Soora merinding karena pria itu nyaris jarang memperlihatkan raut super serius jika sedang berhadapan dengannya. Biasanya, pria itu selalu hadir dengan senyum manisnya, sesekali dengan sebuket bunga di tangan.

Soora tak membantah, setidaknya dengan memasang seatbelt ia punya kegiatan lain, tidak harus terpaku pada wajah dingin tadi. “Lalu untuk apa? Cih, kau bahkan sangat kurus. Kenapa? Kelaparan? Kau sungguhan tak butuh uangku, huh?” Alih-alih menunjukkan bahwa dirinya cukup memperhatikan pria itu, Soora justru makin menggencarkan ucapan ketusnya. Rasa sakit hati pada pria ini belum enyah. Wanita mana yang tidak sakit jika harus ditinggalkan kekasih yang baru saja mencumbuinya beberapa hari sebelum pria itu pergi? Janji sok manis untuk bertanggung jawab jika terjadi sesuatu hanyalah omong kosong.

“Soora-ya, kau… aku… apa aku perlu bertanggung jawab atas anak kita?”

Soora ber-hhh ria dengan rasa muak sempurna, “Anak? Hei, Park Yoochun… kalau aku punya anak darimu, lalu apa kau mampu menghidupi kami? Lagipula, kau hanya peduli anak? Kalau ternyata aku tidak punya anak, apa kau sama sekali tidak merasa bertanggung jawab atas kehormatanku?”

Rasa sesak memenuhi rongga dada Soora. Benar-benar penjahat ulung! Karena pria ini, Soora begitu trauma pada pria, ia pun tak pernah berniat untuk menikah. Lagipula, apa masih ada pria yang mau menerima wanita ‘bekas’? Lalu, sekarang apa yang dikatakannya? Anak? Cih!

“Jadi, kau datang menemuiku hanya untuk ini? Sudah selesai? Kalau begitu kumohon pergilah dari hadapanku, kehadiranmu membuatku ingin muntah!” Soora tak mampu lagi mengendalikan ketenangannya, emosinya sudah memuncak. Hanya tinggal disulut sebuah gesekan, mungkin bara api akan berkobar.

Mianhae… aku mungkin layak kau cap sebagai penjahat. Soora-ya, aku bukan bermaksud meninggalkanmu. Justru, aku ingin kau tidak terseret pada kehidupanku yang sulit.”

“Dengar, dari dulu juga aku tahu kau bukan orang kaya, dan aku sudah siap dengan konsekuensi jika aku harus menikah dan masuk ke dalam keluargamu. Jadi, simpan alasan basimu itu! Bagiku, kau hanyalah seorang pengobral janji. Harusnya kau mencoba peruntungan jadi politikus saja!”

Pria itu diam, hanya bunyi ludah tertelan yang dapat ditanggkap telinga Soora. Yeoja itu tahu sifat Yoochun, diam berarti menyetujui dan pasrah. Hati Soora bertambah sakit karena Yoochun tak mencoba membantah, pria itu justru tertunduk. Berarti, apa yang baru Soora tuduhkan itu memang benar? Park Yoochun memang mengakui dirinya adalah pengkhianat.

“Park Yoochun, apa kau bisa membayangkan apa yang terjadi padaku setelah kau pergi? Seberapa besar aku ketakutan karena memikirkan janin yang mungkin timbul, memikirkan konsekuensi untuk menjadi wanita kesepian karena akan single seumur hidup, memikirkan reaksi orang-orang di sekiatarku jika mereka tahu aku sudah dinodai oleh seorang pria—sementara aku tidak ingin bilang bahwa pria itu adalah Park Yoochun?”

Yoochun tetap bungkam.

“Kau tidak bertanya kenapa aku tidak ingin bilang bahwa si brengsek itu adalah kau?” Soora makin kalap diluluhlantakkan oleh emosi khas wanita yang merasa tersakiti oleh cinta.

Masih tak mengucap kata, Yoochun justru mengambil ancang-ancang untuk membuka pintu mobil.

“Hei! Kau mau ke mana? Bodoh, setidaknya berikan aku penjelasan! Bela dirimu kalau semua yang kutuduhkan itu tidak benar! Anggaplah kau sedang menjadi terdakwa dalam persidangan.” Air mata sudah menggenangi pelupuk mata Soora, yeoja itu menahan tangan Yoochun. Hati kecilnya tetap tak ingin pria itu pergi, meski melihatnya hanya akan membuka luka lama.

Yoochun tersenyum kecil dan mengusap air mata Soora, pria itu mati-matian agar tangannya tidak bergetar ketika ia harus menyentuh kulit Soora. Pedih, seribu kisah sesungguhnya ingin dia ungkap, tapi semuanya seakan tertahan di ujung tenggorokannya. Pembelaan macam apa yang sebaiknya ia katakan? Pria itu sama sekali tak berpikir untuk melakukannya. Bagaimanapun ia menyadari kesalahannya. “Yang perlu kau tahu, kau memang berhak memprotes tentang kesetiaanku, tapi tidak dengan cintaku. Kim Soora, aku tidak tahu harus menembus kesalahanku dengan apa. Tapi jika di masa mendatang aku dapat melakukan sesuatu yang berharga untuk membayar ulahku di masa lalu, aku akan merasa terhormat untuk melaksanakannya. Yah, aku tahu kehormatan memang tidak bisa dibayar dengan apapun, itulah sebabnya aku tidak melakukan pembelaan.”

“Soora-ya, kau lulusan IT yang payah, gagap teknologi, gagap berita. Kau tidak pernah membaca internet? Padahal aku sangat popular di beberapa negara.” Giliran Yoochun yang menitikkan air mata. “Kim Soora, jangan sesekali menjadi black hat hacker [3]. Kecuali kalau kau mau bermain petualangan sepertiku, menjelajah banyak negara, bertemu dengan sesama pekerja ‘bawah tanah’.” Tangannya meremas jemari Soora yang bergetar hebat karena tangis. “Kau beruntung. Tahu tidak? Aku ini manusia yang paling susah ditemui, intel 3 negara saja bahkan tidak pernah ada yang bisa membuat deal denganku, mereka nyaris kehabisan napas hanya untuk menangkapku. Hanya untukmu, kalau besok-besok kau merindukanku, aku hanya punya satu port komunikasi. Cukup katakan ‘Seoul, aku rindu padamu’ di salah satu jejaring sosialmu, maka aku akan berusaha datang padamu.”

Kini Soora tahu, sesungguhnya Park Yoochun adalah manusia yang bisa membela diri dengan sempurna. Apa yang barusan pria itu katakan benar-benar telah membuat Soora tak membantah ataupun menuding lanjut. Semuanya sudah terlalu jelas bagi Soora. Park Yoochun pergi karena ia memang harus pergi.

Mendadak Soora merasa dirinya yang terlalu bodoh, tidak mencari tahu, dan hanya terperangkap dalam duka. Ia bahkan tidak tahu masalah yang sedang menimpa Yoochun. Labirin otak wanita memang terlampau kompleks hingga seringkali memperumit jalan berpikirnya. Hei lihat, Yoochun sama sekali bukan pengkhianat, justru ia adalah pelindung sejati—yang berusaha memberikan keamanan untuk wanita terkasihnya. Hei pikir, bukankah Yoochun itu sangat baik hingga ia tidak ingin membawa lari Soora dalam aksi kabur-sembuyinya? Hei rasakan, Park Yoochun bahkan sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap ada dalam dunia abstrak bernama jaringan internet.

“Soora-ya, kuturuti perintahmu, aku pergi sekarang. Hiduplah dengan baik bersama pria yang baik-baik pula, ne? Oh ya, ganti password twitter-mu, jangan lagi menggunakan kombinasi nama dan tanggal lahirku. Aku geli.”

Pria itu keluar dari mobil, menghilang dengan cepat seperti peri yang bisa berpindah tempat setelah mantera terlayang. Malam menelan sosoknya, meninggalkan aneka kesan di dalam benak Soora. Yeoja itu tak bisa memutuskan perasaan jenis apa yang lebih layak mendominasi hatinya.

Senang? Ya, senang karena tahu bahwa Yoochun tidak pernah bermaksud mengkhianatinya. Girang? Ya, karena ia tahu bahwa seorang Park Yoochun tidak pernah berubah—masih menjadi pemerhati nomor 1. Cemas? Ya, khawatir esok tak akan pernah lagi jumpa. Gusar? Ya, mempertanyakan apakah esok-esok ia masih harus menunggu kepulangan pria itu. Bingung? Ya, apa benar hatinya telah memaafkan Yoochun secara utuh. Kaget? Ya, ia tidak pernah menyangka bahwa Park Yoochun termasuk ke dalam daftar ‘most wanted’. Penasaran? Ya, pria itu tak bercerita banyak tentang kejadian yang membrondongi hidupnya. Rindu? Aih, sepertinya. Wahai rindu, mengapa kau begitu nakal dan mendesak untuk hadir? Tidakkah kau begitu manja?

Soora terjebak di antara air mata dan senyum yang mengembang di bibir, “Park Yoochun sialan, jadi selama ini kau menyusup dalam akunku? Curang. Aku bahkan tidak bisa tahu tentang keadaanmu walau hanya sedikit.”

To Be Continued

 

Maaf di part 1 ada kesalahan. Valentine (bulan Februari) itu harusnya musim dingin, aku harusnya ga bikin deskripsi kalo Hyuna cuma pake gaun aja, kutambahin dia pake mantel.

Catatan kaki:

[1] kimchi jigae: sup kimchi

[2] fraktur: sederhananya disebut patah tulang, yaitu  kondisi saat salah satu bagian tulang menjadi tidak utuh/pecah/terpisah. Source

[3] black hat hacker :

Istilah dalam bahasa inggris yang mengacu kepada peretas yaitu mereka yang menerobos keamanan sistem komputer tanpa izin, umumnya dengan maksud untuk mengakses komputer-komputer yang terkoneksi ke jaringan tersebut. Source

Iklan

  1. Ayey, akhirnya part 2 rilis!
    Eh, kenapa aku jadi bingung mau komen apa *getok kepala* tapi sejauh ini masih belum masuk klimaks, kan, ya? Key kasian banget perannnya di sini kayak tokoh penggembira, yang kenal dekat dengan tokoh utama wanita, tetapi ya sebatas itu aja, perasaannya bertepuk sebelah tangan pula. Lucu ngebayangin ibunya Hyu mencegat Key, pakai muji dan ngejanjiin kimchi jiggae pula.
    Oh, yes, Key, kamu terlalu kurus! Haha, syukurlah tuh anak sadar.
    Jadi nama serumnya STB, ya. Waah, Jjong pasti keren sekali memainkan peran sebagai dokter ortopedi di sini. Perawat dan dokter di RS itu tahu nggak kalau serum itu hasil temuannya Jonghyun?
    Dan ada Park Yoochun ternyata, bakalan ada cabang cerita baru, nih 🙂
    Aku ngerasanya sih bahasa yang digunakan lumayan ringan, tetapi nggak meninggalkan ciri khas authornya.
    Good job, lanjuutt!

    • blom mi, masih proses awal2 ini mah. Key…iya ding itungannya kayak penggembira doang, sejenis… aku ga mau kehilangan Key dalam ceritaku, hahahah

      Nah, ga pada tau mi, beberapa aja yang tau, tapi ntar jg pada tau.
      Yoochun, no no no, rencana awalku sih ga ada cerita cabang, semuanya masih satu kisah, aku agak kapok bikin cerita yang bercabang-cabang, susah ngejer alurnya, heheh

      yes! udah ringan ya, syukurlah… makasih ami udah berkunjung yaaa ^^

    • ahaha, emang judulnya sih ya horor, engga ada horornya sedikitpun padahal mah

      ga deh, aku lebih suka pake nama fake, ga tau knp…

      ih kan Key udah sama aku eon, makanya asmaranya ga pernah hoki dlm ff-ku yg manapun, wkwkwk

      makasih eonni udah berkunjung ^^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s