A

Author: Fla

Main Cast: Zhang Yixing, Song Eunji

Rating: General

Genre: Romance

Length: Vignette

Summary:

Zhang Yixing, aku benci karena kau begitu menawan. Aku lebih membencimu lagi karena kau selalu bersikap baik dan tersenyum pada semua gadis. Heran, kau ini bodoh atau memang hobi memamerkan lesung pipimu itu?

poster-A

Fla © 2013

A

 

Namanya Zhang Yixing, pria keturunan Cina itu tampannya kurang ajar, membuatku gondok menahun. Ya, bagaimana tidak, wajah menawannya itu seringkali membuatku panas, tentu saja ketika banyak junior yang mengerubutinya. Ada saja satu dua ‘dedemit’ yang kegenitan, pura-pura menanyakan acara organisasi, link e-book gratis, bahkan hingga kunci gitar. Sungguh, aku ingin sekali berteriak pada mereka: Hei, kalian tidak punya internet? Cari dulu sebelum bertanya.

Aku kesal, berulang kali hal semacam ini terjadi. Kali ini, berhubung sindrom pra-menstruasiku sedang kumat, tak sengaja aku menyindir halus salah seorang adik tingkat yang begitu getolnya meminta Yixing untuk menjadi guru Kalkulusnya. Aku dengan cueknya, memecahkan balon permen karetku beberapa senti di depan wajah gadis itu, tertawa kecil, kemudian berseloroh, “Adikku yang cantik, kami belajar Kalkulus ketika semester 3. Sekarang kami sudah semester 7, tentu saja tidak begitu menguasai seperti dulu. Kenapa kau tidak cari mahasiswa tingkat 2 saja untuk menjadi gurumu?”

Gadis itu memasang cengiran kuda plus menggaruk-garuk kepala dengan tololnya. Tangannya yang masih mengapit sebuah textbook tebal—mungkin ingin terlihat intelek di mata Yixing—makin memeluk erat buku Aljabar Linear itu. Aku tahu sebenarnya dia mulai grogi setelah kusindir. Tapi, dasar tak punya malu, ia dengan polosnya menjawab, “Kalau guruku tampan, aku jadi semangat belajar. Cacing-cacing khas integral jenis apapun itu tak lagi jadi masalah bagiku.”

Menyebalkan. Manusia yang satu ini memangnya tidak tahu bahwa aku ini kekasih Yixing? Berani sekali ia menjawab sedenotatif itu.

Please, ini bukan lagi dunia anak SMA labil plus norak. Kenapa masih ada juga gadis-gadis tak punya gengsi seperti itu? Kalau saja Yixing tak menaruh telunjuknya di depan mulutku, sudah pasti akan kulontarkan kalimat yang lebih pedas lagi daripada tadi.

“Hmmm… begini saja. Aku bukan mahasiswa jenius dalam hal ini. Bagaimana kalau aku bantu carikan temanku yang kompeten saja? Hmmm, kalau sesekali ingin bertanya padaku sih boleh-boleh saja, akan kujawab selama aku tahu. Bagaimana?” Yixing menanggapi gadis tadi dengan memberi imbuh senyuman.

Yixing! Kau itu bodoh atau memang hobi memamerkan lesung pipimu itu, sih? Jelas saja makin banyak orang yang mendekatimu kalau kau selalu memasang sikap dan tampang baik macam itu. Zhang Yixing, kau tidak ingat bahwa kau telah memacari seorang gadis sejak 2 tahun lalu? Kau tidak sadar bahwa aku—gadismu ini—berjuang setengah mati untuk menahan cemburu?

Oke, aku memang gadis tomboy yang biasanya cuek bebek. Tapi, akan kubunuh kau jika alasanmu memacariku adalah karena tingkat kecuekanku yang setinggi Namsan Tower—dengan begitu kau pikir dirimu masih bisa memberikan celah pada gadis-gadis sejenis tadi, begitu?

Huh, untung kau tampan. Kalau tidak, sudah kutonjok mukamu hingga rontok 3 gigi depanmu itu. Sayangnya, kau kelewat perfect secara fisik. Aku tak tega melihat manusia rupawan tetapi bergigi ompong.

“Ah, baiklah, Oppa. Nanti kalau aku bingung boleh tidak mampir ke kelas Oppa?”

Emosiku mendidih. Hampir saja aku menarik kerah baju anak itu kalau Yixing tidak buru-buru merangkulku. Kau tahu apa yang selanjutnya Yixing lakukan? Nah, hal inilah yang pada ujungnya selalu membuatku tidak jadi marah besar. Ia mengerling singkat ke arahku dan dengan gamblangnya dia membalas permintaan gadis tadi dengan beberapa deretan kata maut. “Boleh-boleh saja, tapi kurasa gadis di sebelahku ini jauh lebih pandai. Jadi akan kuserahkan kau padanya.”

Baik, kali ini penyakit gondokku susut sejenak. Zhang Yixing menang. You’re forgiven but not forgotten. Ya, di lain waktu aku akan kembali mencecar Yixing mengenai kebiasaan buruknya yang selalu membuatku cemburu hebat.

***

Kejadian semacam itu terulang lagi.

Aku sedang malas menyindir ketika ada beberapa adik tingkat yang bertandang ke kelas perkuliahan kami. Samar-samar aku bisa mendengar bahwa mereka berencana mengundang Yixing ke acara ulang tahun salah satu sahabat mereka. Wow, nyali mereka sungguh besar kurasa. Mereka tidak pernah tahu rasanya dihantam bogem mentahku. Ah, tapi aku tidak akan menggunakan kekerasan macam ini hanya untuk urusan cinta. Aku tidak mau bertingkah norak seperti gadis-gadis dalam kisah drama.

“Ehmmm, siapa teman kalian yang punya acara ini? Mengapa ia tidak mengundangku langsung?” Yixing menerima kartu undangan itu dan membukanya sekilas. Aku tidak bisa melihat dengan jelas karena saat ini aku sedang duduk di barisan belakang.

“Ah, dia pengagum Oppa juga, sama seperti kami. Hanya saja dia tidak punya nyali untuk bertemu Oppa, katanya dia selalu gemetar ketika melihat Oppa tersenyum.”

Yaik! Apa barusan yang dikatakannya? Ya Tuhan, beri aku kesabaran sampai aku berhasil membuat Yixing menikahiku. Apapun yang terjadi, betapa pun aku sengsara selama berpacaran dengannya, dan seberapa banyak kekurangan yang terdapat dalam diri Yixing, aku tetap mendambakannya menjadi pendamping hidupku di masa mendatang. Demi Tuhan.

“Woahhh, benarkah? Ah, aku masih kalah tampan dengan Kai Sang Ketua komunitas dancer fakultas kita itu. Kalian terlalu berlebihan mungkin.” Yixing menggaruk-garuk puncak kepalanya. Jemari panjangnya membelah helaian rambut hitamnya yang mampu membuatku terpesona itu.

Rambut. Ya, apa kau tahu apa yang membuatku pertama kali jatuh hati pada Yixing? Rambutnya, alasannya mempertahankan warna rambutnya itu. Pria itu menjawab yakin saat aku bertanya mengapa ia tidak merubah warna rambutnya mengikuti tren terkini—blonde misalnya. Yixing yang sangat bangga dengan rambutnya kala itu berkata, “Untuk apa ikut-ikutan. Menjadi pengikut berarti tak punya pendirian. Kalaupun suatu saat aku merubah warna rambutnya, itu karena aku suka, bukan menyesuaikan diri dengan tren.”

“Hmm, kau itu tampan. Kai mungkin lebih cocok dikategorikan sebagai pria cool. Begitulah hasil diskusi beberapa gadis di forum penggemar pria-pria memukau di seantero fakultas ini.” Adik tingkat tadi membalas lagi, dan jawabannya tadi membuatku jengah sekaligus ternganga.

Astaga, memangnya ada forum menjijikkan seperti itu? Kalau boleh kutebak, anggotanya pasti gadis-gadis jomblowati sejati—yang menjadi single menahun karena terlalu mendambakan sosok pria yang mendekati deskripsi seorang pangeran.

“Ah, begitu ya. Hmmm, omong-omong tentang undangan ini, aku kebetulan senggang malam Minggu besok. Sepertinya bisa datang. Terima kasih sudah mengundangku, ya.”

Oh, karena aku tak bisa menonjok orang lain, boleh tidak kalau aku menonjok dadaku sendiri agar rasa kesal di dadaku ini digantikan oleh rasa sakit akibat pukulan? Kalau tidak boleh, terpaksa aku akan memukul meja saja. Tapi nanti, di meja gadis-gadis itu.

Gadis-gadis tadi menjerit kegirangan, seolah kehadiran Yixing adalah prestasi tersendiri yang bermakna, ‘Eh, lihat! Orang populer sejenis Yixing Sunbae bersedia hadir di pestaku. Berarti aku cukup dilirik olehnya.’

Aku tidak boleh pasrah, tidak boleh juga gegabah. Bisa-bisa Yixing akan memutuskan hubungan kami karena aku dianggap terlalu over-protektif. Padahal di belahan dunia manapun, biasanya pria yang cenderung melindungi gadisnya dari serangan pihak ketiga.

Ya, sudah kuputuskan. Aku harus mencari smart solution. Harus, secepatnya sebelum hatiku gosong ludes dimakan api cemburu.

***

Kutemukan cara yang tepat sebelum undangan ulang tahun itu berhasil Yixing hadiri. Cemburu harus dibayar dengan cemburu, dengan begitu Yixing akan tahu bagaimana rasanya ketika ada pihak ketiga yang mendekatiku. Aku yakin, caraku ini cukup ampuh. Bukan hanya membuat Yixing cemburu, melainkan banyak kepala-kepala genit yang akan iri padaku.

Bagaimana tidak, siapa teman sandiwaraku? Mari ku-review sedikit. Namanya Kim Kibum, atau yang sering disapa Key SHINee. Deskripsi mengenai ketampanannya tak perlu lagi kujabarkan, ia adalah bintang besar yang berhasil merenggut kehisterisan banyak gadis di seluruh penjuru Korea, bahkan Asia.

Key masih tergolong sebagai sanak keluargaku. Ibunya Key adalah kakak ipar dari Ayahku. Meski jarang bertemu wajah dengan Key, hubungan kami sangat dekat. Alasannya satu, kami sama-sama makhluk yang gemar berbicara apa adanya. Di depanku Key bisa menjadi apa yang ia mau—tidak harus bersandiwara seperti di depan kamera—begitu pula sebaliknya. Aku bisa menceritakan semuanya, termasuk tentang hobi anehku, yakni memotongi kuku anggota keluargaku di saat mereka tertidur pulas.

Hentikan tentang Key. Mari kembali pada rencanaku.

Hari itu, sebelum jam pertama kelas perkuliahan, aku—dengan wajah yang dibuat super girang—menghampiri Yixing yang baru saja muncul dari balik pintu. Ia bahkan belum duduk di bangkunya, tetapi aku susah memberondonginya dengan beberapa senyuman usilku.

Yixing yang super kalem itu menatapku aneh, “Kau kerasukan setan ber-spesies apa?”

“Tidak, aku cukup waras, sama sekali tidak tersentuh setan apapun. Dan sepengetahuanku, setan itu bukan makhluk hidup yang punya klasifikasi kingdom,” jawabku dengan tidak kalah kalemnya.

“Aku tidak yakin. Kau bersikap sok imut seperti ini pasti ada maksudnya, ‘kan?” Rupanya Yixing ini sangat mengenali diriku luar-dalam. Ia bisa menebak, yah, meski baru kulitnya.

“Hmmm, akan kujelaskan. Tapi, sebelumnya aku ingin protes. Kau menyebutku sok imut? Kau tahu apa maknanya?” Kudorong pelan bahu Yixing dengan jari telunjuk dan tengahku, pria itu terkekeh.

“Tentu aku tahu makna di balik semua ucapanku. Kau sok imut, artinya selama ini kau tidak imut. Kenyataannya kau memang tidak imut.”

“Ya! Zhang Yixing! Tega sekali kau berkata jujur seperti itu pada kekasihmu.” Aku memanyunkan bibirku, berpura-pura marah pada pria ini.

“Jadi kau ingin disebut imut? Kalau kau imut, aku tidak akan memacarimu. Aku suka kau justru karena tampangmu yang lebih pantas disebut garang daripada imut. Aku suka gadis garang-cuek sepertimu, paling tidak kau bisa menjadi juru bicaraku di saat aku tidak bisa marah pada anak kita nantinya.”

Anak kita? Demi apapun, demi Key yang super memabukkan itu pun, kalimat Yixing barusan benar-benar membuatku terombang-ambing di tengah samudera cinta hasil rekayasa kekasihku itu.

“Yixing-ah, jangan membuat rayuan gombal kalau tidak ingin kugigit daun telingamu itu!” Aku salah tingkah dibuatnya. Nyaris saja aku limbung berdiri saking tidak menyangkanya Yixing akan mengeluarkan jurus terdahsyat macam itu.

“Wowww, seorang perempuan berani mengancam pria? Ah, tidak usah diperpanjang lagi. Sekarang cepat katakan maksudmu di awal tadi.”

Oh, aku terlalu tenggelam dalam pesona Yixing sampai-sampai melupakan ini. Di otakku sungguh tak tersisa lagi barisan-barisan rencana yang tadinya akan kuutarakan pada Yixing. Aku berdiam diri sejenak untuk mengais-ngais barangkali ada serpihan memori yang tertinggal.

Beruntunglah aku segera menyentuh saku celanaku dengan tidak sengaja. Di saku ini ada rencanaku, sebuah undangan.

“Hmmm, aku diundang menghadiri  SHINee Debut 5th Anniversary Special Party, khusus oleh Key sendiri. Kau mau menemani aku ke acara itu? Aku tidak ingin mengecewakan Key yang telah berbaik hati menemuiku hanya untuk menyerahkan undangan ini. Bayangkan, aku termasuk ke dalam 100 fans yang beruntung dapat keistimewaan ini. Tapi sayangnya, aku tidak ingin datang sendiri karena pasti pulangnya sudah dalam keadaan lelah. Ya, lelah. Aku yakin tenagaku akan terkuras habis setelah melebur dalam teriakan histeris ala fans. Untuk itu aku ingin mengajak-”

“Kalau tidak mau, bagaimana?” Yixing memotong sambil meletakkan telunjuknya di bibirku yang masih belum mengatup.

“Kalau aku sampai berteriak-teriak karena ketampanan Minho, bagaimana?” Aku bertanya balik, meletakkan kembali tangan Yixing ke samping tubuhnya.

“Tidak masalah.”

“Tidak masalah? Memangnya kau tidak takut aku akan menjadi kecanduan artis-artis tampan sejenis Choi Minho? Bagaimana kalau nantinya aku berubah menjadi fangirl yang lebih sering mencari tahu tentang idolanya daripada memedulikan pacarnya? Kau masih bilang tidak masalah?”

Yixing hanya membalasku dengan senyum. Ia tidak lagi mengeluarkan sepatah kata pun dan justru mendudukkanku di bangku terdepan, ia sendiri duduk di sebelahku.

“Dengar, Song Eunji yang tidak imut. Aku yakin, wanita garang sepertimu tidak akan jatuh hati pada artis-artis itu. Bagiku, sebenarnya orang tergarang adalah orang yang hatinya paling lembut. Kau akan lebih tersentuh pada cinta dari dunia nyata dibandingkan cinta yang ditebarkan para idola itu. Wanita sepertimu tidak akan goyah hanya karena hal-hal semacam itu.”

“Huh, teori dari mana itu? Zhang Yixing, kau bukan ahli dalam urusan tebak-menebak isi hati orang.” Aku mengelak.

Tentu saja aku tidak akan membenarkan ucapan Yixing tadi, karena itu artinya rencanaku untuk membuat Yixing cemburu telah gagal. Padahal, seratus persen ucapannya itu benar. Aku tidak suka boyband manapun, aku hanya tertarik pada Key karena ia berhubungan denganku di dunia nyata, bukan dalam dunia keartisannya.

“Eunji-ya, aku ini kekasihmu. Aku tahu semua tindak-tandukmu. Hal pertama yang paling membuatku yakin adalah, kau sama sekali tidak suka musik Korea di saat muda-mudi di belahan dunia sana justru menggandrunginya. Kau lebih memilih The Beatles dari segi apapun. Hal kedua, aku tidak akan pernah cemburu kalau kau memang berusaha menciptakan suasana yang akan memicu rasa cemburuku.”

Mwo? Maksudmu?” Aku mulai cemas. Jangan-jangan Yixing sudah bisa menebak bahwa aku ingin balas dendam padanya sekaligus membuatnya tersadar.

“Song Eunji. Aku tahu selama ini kau telah berulang kali menahan cemburu karenaku, dan dari penuturanmu–yang seolah menunjukkan bahwa Key memperlakukanmu secara istimewa–tadi aku bisa mengira-ngira bahwa sebenarnya kau memang ingin menonjolkan sisi itu demi membuatku cemburu.”

Wow, ternyata selain tampan, Yixing ini memiliki kecerdasan yang luar biasa. Meski wajahnya terlihat seperti orang super polos dan tak tahu apa-apa, ternyata ia mengetahui seluk-beluk dunia ramal-meramal pikiran manusia. Aku bangga punya kekasih berotak keren, tapi tidak detik ini. Aku benci karena ia bisa meluluhlantahkan rencanaku.

Belum selesai aku berdiam diri, Yixing sudah berujar lagi, “Kedua. Kau tadi bilang bahwa Key yang mengundangmu, tetapi di belakang kau mengelukan ketampanan Choi Minho. Tidak konsisten. Dari situ aku tahu bahwa kau sebenarnya sama sekali tak tersentuh dengan kebaikan Key, jadi aku tidak perlu cemburu.”

Akurat. Yixing-ah, kau pandai sekali menebak jalan berpikirku. Tapi, mengapa kau sama sekali tidak peka bahwa kecemburuanku ini bisa berbahaya untuk hubungan kita? Aku tidak bisa mengerti apa alasan di balik sikap ramahnya pada seluruh gadis tukang cari perhatian itu.

Kuangkat kedua tanganku sebagai tanda kekalahan, “Yixing-ah, baiklah, aku mengaku. Aku memang sengaja ingin membuatmu cemburu. Kalau kau mau menemaniku, aku memang berencana untuk berteriak sehisteris dan senorak mungkin agar kau merasa bahwa aku lebih tertarik pada member boyband tampan daripada kau yang ada di sampingku. Tadinya aku pun berpikir, kalaupun kau menolak ajakanku, paling tidak aku yakin bahwa kau mulai waspada karena fakta bahwa aku sungguhan akrab dengan Key SHINee. Tapi ternyata kedua prediksiku sama-sama gagal. Sebal.”

“Tidak usah merasa sebal. Aku senang karena kau setidaknya berusaha membuatku cemburu. Itu artinya kau bukan gadis super cuek seperti yang kukira pada saat aku mengenalmu. Terima kasih, ya.” Yixing mengelus kepalaku, ia benar-benar memperlakukanku sebagai gadis super imut.

Ya, gadis-gadis imut dan memiliki tingkat kefeminiman akut tentu akan senang ketika rambutnya dielus oleh sang kekasih. Tapi, aku tidak.

Aku justru memutar bola mataku. “Oke, Yang Mulia. Oh, bolehkah hamba memohon agar kelak Yang Mulia tidak terlalu sering berbaik hati pada selir-selir pengagummu itu?”

“Ya ampun, sejak kapan aku punya selir. Aku bukan raja yang gemar menikah.”

Yixing-ah, mengapa kau sama sekali tidak menanggapi makna inti dari kalimatku? Kucat rambut hitammu itu kalau kau tidak berniat merubah kebiasaanmu itu. Ya, gemar melirik gadis lain berarti tak memiliki pendirian, bukan? Apalah arti filosofis dari keinginanmu untuk mempertahankan warna hitam rambutmu itu? Ia tidak bisa lagi dicap ‘kokoh’.

“Eunji-ah, aku bersikap baik pada mereka hanya satu alasan. Apa kau sama sekali tidak bisa menebak alasanku?”

“Tidak,” kujawab jujur. Aku sama sekali tidak peduli jika nantinya Yixing menganggapku gagal memahaminya. Aku tidak suka berbohong dalam hal mengungkapkan pikiranku.

“Payah, aku saja bisa memahami kau yang cenderung berterus terang. Aku A-type. Prinsip dasar orang-orang berdarah A adalah menjaga hubungan baik dengan manusia manapun. Dibandingkan dengan menjaga image, aku lebih suka menyebut ini sebagai upaya untuk menciptakan keharmonisan. Sekalipun aku tidak suka dan tidak ingin, aku tidak akan mengutarakannya dengan kalimat frontal.”

Oh, aku terima dicap payah. Aku memang tidak pernah tertarik mempelajari karakteristik manusia berdasarkan golongan darahnya. Bagiku hal-hal semacam itu hanya suatu kebetulan yang secara tidak sengaja terjadi di muka Bumi ini, boleh juga disebut mitos.

Sialnya, hatiku justru dipermainkan oleh hal yang sama sekali tidak pernah aku perhatikan, andai aku memahaminya sejak dulu, aku tidak perlu tertangkap basah dan kalah di depan Yixing seperti ini, juga tak perlu gondok sekian lamanya. Bolehkah ini kusebut sebagai suatu kemalangan?

-End-

Iklan

  1. OH MY ZANG YIXING SUAMIKU YANG IMUT NAN TAMPAN
    IZININ AKU BUAT BERHEBOH RIA DULU FLAAAAAA
    ASTAGAAAA YA ALLLAAAAAHHH
    INI AKU DOANG APA EMANG LAY ITU PENUH PESONA DI SINI?! *sesek napas*
    Cinta matiiii cinta mati sama Laaaayy oh my oh my
    kalau aja gak ada fotonya Lay dan summary nya gak bikin aku senewen ngebayangin Lay senyum terus mamerin lesung pipinya, mungkin aku bakal ngelewatin ff super unyu ini hahahha
    waktu Lay bilang ‘untuk anak kita’ aku ngakak, antara meleleh sama mati kutu hahaha
    gila, kalau Yixing beneran ngomong gitu ke aku, berani sumpah aku pingsan
    terus endingnya “Aku A-type” mati. rasanya aku mau teriak di telinga Lay “Aku juga beb! Aku juga A-type! Tapi kalo kamu baiknya sama cewek aja, aku bisa bakar kamu hidup-hidup loh” hahah ngaco banget

    Ih gilaa.. komenku rame amat ._.v maklum ya, ini FF nya Lay sih. Aku lagi kesemsem akut sama si cowok berlesung pipi satu ini xD

    • Samaaaaaa, aku juga lagi kepincut jiwa raga (?) ama manusia yang satu ini, ngetik cerita ini juga ga berenti geduk2 kaki ngebayangin Lay-nya. Duh, daripada pingsan, aku milih berdiri beku sambil melukin Lay deh lan, sayang-sayang momen di deket orang gantengnya kan, mwahahahah

      Makasih ya kunjugannya ke rumahku ini ^^

      • Jiakakaka
        aku pikir dirimu suka sama Luhan *tau darimane laann? sotoy luu*
        Ayyyaaaaaa hahahha aku mah gak sempet meluk juga udah jadi jelly duluan hahahah~
        duh duuuuhh makin jatuh hati nih aku sama si Lay jadinya. Lesung pipi nya ituuuuuuuuu gak nahan bangeeettt. Aku punya tapi kayaknya kaga sebagus punya lay ._. *apa bedanye lan? pan pipi lu bolong juge*

        hahah sama-sama, sebenernya iseng aja. gara2 baca ff yang Shadow itu loohh. Aku udah sering buka tapi gak pernah baca. begitu liat ada foto lay langsung kepicut akakak

        • bener kok, aku emang suka Luhan juga, plus Chen, DO, Baekhyun. Cuma, nyondong ke Lay atau Chen, hhehe… dua pemilik senyum yg sama2 manis tp karakter senyumnya beda

          ahaha, berarti besok2 klo aku bikin ff lay harus aku kasih poto yang gantengnya super yah, biar dirimu kepincut

    • Nooo, Yixingkuuu

      hmmm, aku kl nulis ga milih cast-nya dulu, tp nentuin ceritanya dl baru liat cast yg kira2 cocoknya siapa. Ntar pasti nulis pake Yixing lg kok klo nemu ide cerita yang pas ^^

      Makasih ya untuk kunjungannya ^0^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s