Lucky

Lucky-poster

 Lucky

A vignette from Fla

Fla © 2013

Sudah sembilan kutangkap kelebihannya. Kalau berhasil kugenapi menjadi sepuluh, maka aku tidak akan ragu memilih pria mengesankan di hadapanku ini. Begitulah janjiku.

***

Miracle is another name of hardwork.

Mungkin, kata-kata Kang Taejun dalam drama To The Beautiful You itu tidaklah tepat. Entah, ini hanya persepsiku. Aku tidak setuju, kalau kau tahu.

Miracle dan hardwork tidak bisa disamakan, juga dijadikan sebuah analogi. Mungkin lebih tepat disebut dua komponen yang bisa saling melengkapi. Seperti halnya yang terjadi hari ini, mungkin Tuhan sudah kasihan dengan perjuanganku, dan lantas menurunkan keajaibannya untukku.

***

Pagi-pagi seharusnya aku sudah bangun dan mempersiapkan segalanya dengan baik. Sayangnya, rencana hanyalah milik manusia semata. Aku tidak bisa tidur semalam, banyak kerjaan kantor yang harus aku selesaikan kalau ingin tenang menikmati liburan weekend-ku hari ini. Bukan menikmati sebenarnya, tetapi tidak memikirkan tugas kantor selama aku menempuh sebuah usaha yang satu ini.

Alhasil, gerakanku begitu serabutan tatkala aku menyadari bahwa mataku baru terbuka setelah 10 menit berlalu dari waktu perjanjian. Aku bahkan hanya sempat menggosok gigiku, sabun sama sekali tidak bisa kujamah, apalagi berkeramas ria sambil bersenandung.

Rambutku tidak sempat kutata, hanya kusisir dan kuikat seadanya. Lantas aku tergesa meraih tasku, oh, bahkan yang kubawa itu adalah tas kantor. Isi-isinya belum aku keluarkan secuil pun. Kaos dan celana putih kedodoran pun masih melekat di tubuhku, bagian atas hanya kututup seadanya dengan jaket.

Pagi pukul sembilan kurang empat puluh menit, saat café-café di sekitar distrik Gangnam mulai berkeciap perlahan, aku memasuki salah satunya. Biasanya aku selalu menjadi pengunjung pertama di café dekat gedung apartemenku ini, saking rajinnya menenggak kafein berbalut rasa sedap yang disebut kopi. Sayangnya kali ini tidak, sudah ada seseorang yang datang lebih dulu.

Dari belakang aku bisa melihat rambut cokelat gelapnya, ia menyerahkan punggungnya pada sandaran kursi, pun kedua belah tangannya yang menjuntai ke belakang. Outfit-nya … sangat casual. Jaket blue jeans yang dipadukan dengan celana putih. Wajar memang, berdasarkan informasi yang kudapat, umurnya belum mencapai dua puluh lima. Osh, tak apalah, tidak ada salahnya dicoba.

Eum, selamat pagi. Maaf terlambat empat puluh delapan menit dua puluh satu detik,” kupastikan dengan melirik jam yang tergantung di salah satu dinding ruangan agar yakin aku tidak salah bicara. Oh, tepat perhitunganku. “Tapi, masih bolehkah aku duduk di sini?” lanjutku kemudian.

Ini sudah bukan pertama kalinya lagi, wajarlah jika tidak ada lagi perasaan gemetar seperti ketika awal-awal masa pencarian. Dulu aku bisa sampai bolak-balik WC karena ginjalku rupanya sensitif, mudah terpicu oleh rasa gugup. Bisa jadi itu terjadi karena aku terlalu banyak menjejali tubuhku dengan kopi dan minuman turunannya.

Ehm, permisi. Apa bangku ini belum ada pemiliknya?” Aku kembali bertanya karena pria di depanku ini tampak celingak-celinguk bingung. Omong-omong, pertanyaanku tadi sangatlah bodoh. Tentu saja bangku di café manapun hanyalah kepunyaan owner café-nya, bukan pengunjung.

Eoh, silakan.” Pria itu akhirnya menjawab kikuk, tetapi tidak lama kemudian ia buru-buru membereskan barang-barang kecilnya yang bertebaran asal di atas meja. Sekilas kutangkap, itu adalah beberapa koleksi gantungan kunci berbentuk landmark negara asalnya.

“Sudah lama datang?” tanyaku sekadar berbasa-basi. Kubenahi ikatan rambutku yang mulai mengendur, sementara pria itu tampak mengerjapkan matanya empat atau lima kali.

“Kira-kira begitu. Pukul tujuh aku sudah duduk di sini.”

Ajaib. Pria ini bahkan jauh dari tepat waktu. Ia datang sebelum satu jam waktu perjanjian. Ehm, syarat dasar terpenuhi. Mungkin aku memang butuh pria yang disiplin dalam hal waktu. Fungsinya tentu saja untuk mengingatkanku, yang sering melanggar jam makan dan tidur demi menyelesaikan tumpukan pekerjaanku, dari mulai pekerjaan kantor hingga urusan beres-beres rumah. Maklum, umurku tiga puluh empat (dan sedang dalam masa mengejar puncak karir), masih single, tidak punya pembantu dan sialnya, sudah didepak dari rumah orang tuaku sejak hari pertama aku kerja—katanya biar mandiri.

“Aku selalu memesan espresso dimana pun aku singgah. Kau boleh menyebutku penganut kesederhanaan tulen karena begitu menggilai kopi hitam sederhana yang satu itu. Bagaimana denganmu, mau pesan apa?”

Pria itu masih bertahan dengan ekspresi tololnya, ia bahkan menggaruk keningnya dua detik sebelum aku mengakhiri kalimatku. “Ikut denganmu saja, Nona,” jawabnya berapa saat kemudian.

“Kenapa pasrah begitu saja mengikutiku? Kau tidak punya selera pribadi?” Sekadar penasaran, iseng bertanya. Bukan apa-apa, aku tidak terlalu suka para pria yang hanya mengintil saja, menjadi follower sama saja dengan tidak berani memperjuangkan keyakinan diri.

“Bukan begitu, aku hanya … eum, ngomong-omong, bukankah menu andalah café ini memang espresso-nya? Kujamin sensasi rasanya sedikit berbeda daripada minuman sejenis yang ditawarkan oleh café lain.”

Nice. Selain ia bukan tipe pengikut, ia juga sepertinya menyukai kopi, sampai-sampai tahu fakta mengenai menu andalan di tempat ini.

“Benar juga. Ya sudah. Kita pesan dua espresso, ya? Sebentar kupanggilkan pelayan dulu.”

“Tidak perlu repot berteriak, Nona. Biarkan mereka menyelesaikan kewajibannya di balik layar dulu. Aku saja yang memesan.”

Poin ketiga yang kusuka darinya, wajahnya begitu tulus ketika menawarkan diri untuk menggantikan tugas pelayan. Biasanya, pria-pria lain hanya bertingkah sok manis, mencari perhatian, atau paling tidak—menjaga image di depanku. Tapi aku sama sekali tidak menangkap kesan itu dari wajah pria ini.

Omong-omong, sebenarnya poin keempat kelebihan pria ini sudah terhampar di depanku sejak awal. Ia tampan, dan penipu ulung. Iya, wajahnya mirip bocah baru lulus sekolah dasar. Imut tak terkira, padahal umurnya sudah dua puluh empat tahun lebih tujuh bulan—errr, kalau aku tidak salah menghitung dan mengingat.

Poin kelima pun mengiringi, pria itu terlihat begitu sopan saat memesan pada pelayan di meja front office. Diam-diam aku mengamatinya dari tempat dudukku, hihihi

Poin keenam pun datang tidak lama kemudian—setelah kurang lebih aku menunggu tujuh menit sembari mengecek pesan masuk di Line-ku. Dia datang sudah lengkap dengan dua cangkir putih espresso di tangannya. Wow, dia sabar sekali menunggu sampai benar-benar membuahkan hasil.

Thanks, Dear.” Kuraih cangkir yang disuguhkannya. Pria itu membalasku dengan senyuman tipisnya. Astaga, kalau aku berjodoh bisa bertemu dengannya lagi di lain kesempatan, aku wajib melihat tanda pengenalnya. Aku tidak yakin dengan informasi tentang umurnya.

You’re welcome. Selamat menikmati,” dia membalasku. Singkat tapi meninggalkan kesan mendalam.

Kusesap kopi pertamaku hari ini. Dia benar, rasanya berbeda. Serupa dengan pria tampan di depanku ini. Di luar sana mungkin banyak pria yang tidak kalah tampannya, tapi dia yang paling berbeda.

Minggu lalu aku dipertemukan dengan seorang pria yang berprofesi sebagai model. Urusan rupa dan perawakan, sudah pasti jagoan. Gajinya pun fantastis, paling tidak nyaris menyamai pendapatan bulananku. Hanya saja, aku merasa ia terlalu mendewakan keelokan fisiknya. Aku kurang simpati.

Bulan sebelumnya, aku dipasangkan dengan seorang petinggi corporate. Usiaanya dua tahun di atasku. Kali ini tidak bisa disebut super tampan, tetapi paling tidak wajahnya menyiratkan bahwa pria itu adalah makhluk penuh wibawa. Awalnya aku tertarik bukan main, tetapi tidak setelah aku tahu bahwasannya dia adalah tipikal orang yang menganggap ‘tugas wanita hanya di dapur, biar aku yang memenuhi semua kebutuhanmu’. Tentu saja aku enggan, susah payah aku merangkak dari bawah demi mendapatkan jenjang karir yang jauh lebih baik. Bayangkan saja, dua belas tahun sejak aku lulus dan melamar kerja, kantorku yang sekarang bisa disebut sebagai keabadian dunia. Aku tidak pernah dan memang tidak berniat untuk pindah kerja.

“Aku sempat melihat koleksimu tadi. Itu adalah hobimu?” Aku memulai pembicaraan dari level terendah. Kurasa dengan mengorek informasi tentang hobi, aku bisa mengira-ngira karakter dasar pria yang akan kupilih untuk menjadi pendamping hidupku.

Oh, aku lupa menjelaskan. Usaha yang kumaksud adalah mendaftarkan diri dalam biro jodoh dan mengikuti kencan buta yang dicanangkan oleh pihak sana. Yeah, ini menyedihkan. Aku tidak buruk, otakku bahkan sangat jenius, tetapi mirisnya aku tidak punya waktu untuk bertemu banyak pria. Rekan kantor atau partner bisnisku rata-rata sudah berkeluarga.

“Oh iya, aku hobi mengoleksi gantungan kunci dari berbagai negara. Terkadang menyinggahi tempatnya sendiri, tetapi tidak jarang pula menitip beli pada teman atau sanak keluarga yang sedang bertandang ke negeri orang.”

“Sedikit mirip denganku. Sama-sama mengoleksi benda, kadang berburu sendiri tetapi beberapa kali menitip pada kawan. Bedanya, aku mengoleksi stiletto,” kusahuti penuturannya setelah ia membubuhkan senyum tipis penutup—yang … oh, sigh! Manis tidak tertandingkan.

Stiletto? Dari berbagai negara? Apa kau tidak khawatir temanmu salah beli? Ah, maksudku … gantungan yang kubeli selalu berbentuk bangunan-bangunan khas asal negara lain, tidak sulit memilih mana yang bagusnya. Namun, stiletto adalah perkara lain. Memilih benda sejenis itu bukankah sangat dipengaruhi selera? Menitip pada kawan belum tentu sepaham dengan penilaianmu akan barang yang dipilihnya.”

Poin ke berapa ini? Oh, tujuh barangkali. Dia terbilang teliti dan kritis, tidak menelan ucapanku begitu saja dan  memilih mencernanya dengan cekatan. Aku benar-benar mengagumi pria ini, setidaknya sejauh pertemuan kami berlangsung.

Sedetik kemudian aku yang mendominasi pembicaraan. Aku berkisah mengenai cara menyiasati selera. Biasanya aku mencari tahu lebih dulu apa mereknya, di mana lokasi untuk membelinya, dan terakhir menitipkan fotonya di ponsel kawanku yang akan bepergian ke luar negeri. Menit berikutnya berganti dengan membeberkan alasanku memilih stiletto sebagai koleksiku. Menurutku, stiletto itu dapat memperindah kakiku, sekaligus membuat badanku yang pendek ini menjadi lebih tinggi beberapa senti. Dan ide berikutnya sudah berpindah pada beberapa kisah perjalananku selama mencari stiletto yang unik namun tetap nyaman di kaki.

Semua yang kulakukan ini bertujuan. Ada dua hal yang menjadi dasarku. Calon pasanganku harus mengetahui hobiku juga, itu asas kedua. Landasan utama dan pertamanya, sepanjang perjalanan hidupku, aku tahu pria biasanya jemu ketika topik berbincangan sudah terarah pada produk fashion. Mereka tidak paham, sementara sang wanita begitu menggebu bercerita—seolah tidak mau mengerti ketidakpahaman kaum pria. Aku ingin tahu, apa pria ini berusaha untuk paham atau tidak tentang sisi lumrah dari seorang wanita.

Dan kau tahu apa? Pria ini sama sekali tidak terlihat jemu. Ia justru menampakkan kilata sinar matanya yang begitu antusias menyimak. Keunggulan urutan delapan yang berhasil kutangkap.

“Kau tidak bosan mendengarkanku bicara panjang lebar?” Kuputuskan untuk bertanya daripada hanya menerka.

“Tidak, mengapa harus bosan? Mendengarkan adalah pelajaran hidup paling sulit di dunia. Lagipula aku merasa kisahmu menarik. Dari penuturanmu, aku bisa tahu sudut pandang wanita ketika memilih benda, lebih spesifiknya stiletto. Siapa tahu besok-besok aku punya kesempatan untuk menggeluti bisnis ini dan berhasil. Seharusnya aku mengucapkan terima kasih padamu di awal.”

Amazing. Baru pertama kali aku mendengar jawaban menyenangkan, masuk akal sekaligus terkesan jujur. Pria-pria sebelumnya mayoritas langsung menyelaku dan menyatakan ketidaksukaannya tentang topik yang kuusung, beberapa persennya lagi berusaha mengalihkan pembicaraan perlahan, dan sisanya memilih mendengarkan dengan menampakkan wajah yang terkantuk-kantuk dan sesekali menguap panjang.

Baik, aku berharap ini kencan terakhirku. Aku bosan melajang. Aku tidak keberatan bersanding dengan pria berusia yang usianya 10 tahun lebih muda dariku. Kenyataannya, bisa jadi ia lebih dewasa daripada aku. Aku rangkum lagi dari awal agar diriku yakin. Pria di depanku ini disiplin soal waktu,bukan follower pasrah, tulus melakukan hal yang bukan menjadi tugasnya, tampan, sopan, sabar menunggu, teliti dan kritis, tidak mudah merasa bosan, memiliki pandangan positif terhadap hal yang bisanya terdengar membosankan bagi pria, dan keunggulan nomor sembilan—memiliki jiwa bisnis.

Sudah sembilan kutangkap kelebihannya. Kalau berhasil kugenapi menjadi sepuluh, maka aku tidak akan ragu memilih pria mengesankan di hadapanku ini. Ei, jangan terlalu percaya diri. Belum tentu pria ini juga menaruh rasa tertarik pada kepribadian maupun penampilanku. Terlebih … satu hal yang begitu sakral dan beberapa kali pernah membuatku tidak percaya diri. Sebentar, aku harus mencoba mencari tahu apa yang ia pikirkan tentangku.

Biasanya, aku mulai dari hal terpelik. “Senang berkenalan denganmu. Ehm, sejak tadi aku belum memperkenalkan diriku.” Meskipun kurasa dia sudah mengenal identitas dasarku, sama seperti aku telah mengetahui namanya. “Namaku Jung Soyeon. Usiaku meninjak tiga puluh empat minggu depan nanti.”

Kujulurkan telapak tangan dengan mantap. Aku tidak yakin dia akan menyambutnya dengan ikhlas, tetapi menyerah di awal bukanlah bagian dari personality-ku. Sikapku barusan memiliki tujuan paling inti dari semua perjalananku, pengembaraanku dalam mencari jodoh. Aku harus mendapatkan keunggulan nomor sepuluhnya, dia menerima fakta tentang umurku atau tidak.

Pria itu memang luar biasa. Dia menjabatku dengan hangat. Iya, aku bisa merasakan kehangatan yang terhantarkan melalui kulit telapak tangannya. Eit, tapi tunggu dulu. Ada satu yang sepertinya meragukan. Kenapa sejak pertama kedatanganku, pria ini masih juga menampakkan mimik linglungnya? Yah, meski perlahan memudar seiring dengan mengalirnya pembicaraan kami.

Baiklah, kuanggap dia sedang grogi. Pria semuda dia … mungkin ini adalah momen pertamanya mengikuti kencan buta. Dia pasti belum terbiasa masuk dalam situasi ketika dirinya harus bertemu dengan orang baru—yang lantas harus dipilihnya sebagai teman hidup atau tidak. Minimalnya, aku tahu dia tidak menolakku. Bisa kurasakan dari jabatan tangannya yang juga mantap.

“Aku tidak pernah menyangka bisa bertemu pria semenarik dirimu, paling tidak pandanganmu ketika kita membahas stiletto. Kalau saja aku bisa memiliki suami seperti dirimu, tentulah tidak ada lagi hal yang tidak bisa kusyukuri dalam hidup. Terima kasih untuk kesempatan pagi ini, Kim Jongdae.”

Alisnya mengernyit sesaat. Hei, apa ada yang salah dengan deretan kataku? Apa aku terlihat begitu konyol dan murahan di hadapannya? Mengapa sekarang ia tersenyum geli?

“Nona, eh, Nuna. Margaku bahkan bukan Kim. Aku Xi Luhan. Senang bisa berbincang denganmu hari ini. Mampirlah lagi ke café-ku ini besok-besok, mungkin kau bisa memberiku petunjuk atau tips untuk berbisnis stiletto. Kebetulan aku masih single, jadi tidak akan ada wanita yang cemburu jika kita berbincang cukup lama.”

Oh, sialan agen biro jodohku! Setelah kucek ponselku, ada pemberitahuan bahwa lokasi dan waktu kencannya dipindah.

Baru saja aku dipermalukan telak! Oh, Tuhan … tunjukkan aku tempat untuk menyembunyikan wajah. Aku tidak ingin dicap tolol dan menggelikan oleh pria yang memiliki sepuluh keunggulan ini. Dia terlalu sempurna untuk bisa dibentak karena sedang terkikik geli detik ini.

Berpikirlah jernih, Jung Soyeon. Eits, sebentar. Apa yang baru saja dikatakannya? Dia single? Dia memintaku berkunjung lagi?

Osh, ini memalukan, sangat. Aku tidak yakin masih punya nyali untuk bertemu dengannya di lain waktu.

Namun setelah dipikir, kalau aku bisa menebalkan mukaku tiga senti saja, sesungguhnya yang barusan itu adalah sebuah keajaiban. Belasan tahun aku mengembara di negeri antah-berantah, mencari pria-pria aneka jenis karakternya, dan menyeleksi sosok yang tepat untukku—aku selalu tidak tertarik pada ujungnya.

Hari ini, aku memang baru saja salah sasaran, tapi siapa tahu ini adalah jalan Tuhan untukku. Tuhan mungkin sudah mulai merestui usaha dan kerja kerasku.

Xi Luhan, baiklah, besok akan kutemani kau berbincang. Tentang stiletto, atau tentang masa depan pun aku bersedia.

 Astaga, mengapa otakku masih juga berpikir konyol?

The End

 

Iklan

  1. Do you want to kill me dear ??!!
    SUCH A LUCKY GIRL IN THIS WORLD..
    a noona, 10 years apart, omaigat !!
    salah sasaran yang berbuntut er kebahagiaan mungkin..
    Keren ini cerita, lucu 😀

    • Luhan kan yak yg ngebunuh eonni? Bukan aku kannn?

      hihihi, emang hokiiiii.
      Aku buat ini dalam rangka menghibur diriku sendiri yg semalem migren berat dan perut melilit, sampe akhirnya bisa tidur senyum gegara ngebayang Luhannya, nyahahahaha

      MAkasih eonni udah berkunjung ^^

  2. Aaakkk..apa-apaan ini? Ini bener-bener keberuntungan!
    Pantes aja muka Luhan bingung gitu, ternyata si Soyeon salah tempat. Udah ah, kalian berdua nikah sana *eh*
    Oya, tadi aku nemu typo satu: bejodoh >> berjodoh
    Keren nih ff, bkin aku senyum-senyum ngakak *?*

  3. gubraaaaaaaakkkkk =.=”
    udah cakep2 ini..udah dibikin menggelantung di awang2 *?* pas baca tiap kelebihan yg dimiliki si cowok, eh ternyata salah orang. udah diduga sih krna mimik wajahnya yg kebingungan itu, tapi mikirnya krna emang wajah Luhan itu emg kayak gitu. Ternyata emang salah orang =_________=”

    Bagus bangeeet kaaak!!! bikin lagiii bikin lagiii 😀

      • oiya bener salah la, udah aku perbaiki sekaligus ngebuang beberapa kata.

        Luhan emang wajah bengong ya? Kalo Lay sih iya, Luhan masih lebih ‘siaga’ rasanya, hihihi

        makasih ya la udah berkunjung ke sini, semoga tulisanku makin membaik terus ^^

  4. apa-apaan iniiiiii??
    akakakaka gelaaaaa, kalo aku jadi Soyeon udah mati kutu parah
    untuk reaksinya Luhan bagus banget. Kalo cowok lain palingan senyum-senyum usil ngeselin gitu
    xDD
    kaget juga, sempet mikir “masa cowok sekeren Luhan gini, yang intelek macem ini bminta tolong sama biro jodoh?” eeehh ternyata.. hahahah

  5. Menariiiiiiiiiiikkkkk!!!!!!!
    Sebenernya pas awal bagian si cowok linglung udah nebak pasti ceweknya salah orang. dan ternyata bener hahaha ngakak xD
    Walaupun gitu cara penyampainnya bagus, tulisannya enak dibaca. Nice ff deh pokoknya!
    Btw suka kutipan “Mendengarkan adalah pelajaran hidup paling sulit di dunia.“ (Y)

  6. pas dibilang mukanya linglung, aku udah nebak nih jangan-jangan si soyeon salah orang dan ternyata bener hahahahahaha dudul dasar si noona satu ini. kalo aku jadi soyeon pasti malu berat lah =_= tapi durian runtuh bgt ya dia blm mandi, trs tau-tau salah orang dapetnya yg cakep lagi haha

    nice fanfic anyway, kak! 🙂 enak banget buat dibaca dari segi bahasanya hehehe good job kaak

  7. Ping balik: Personal Favorite List | The Moving Diary

  8. nah aku juga nemu ini di saladbowl. antara mau ngakak atau mangap aja baca tulisanmu yg pola pikirnya dewasa bangeet. si ceweknya kayanya emang juga udah tua sih ya hehehe. aku sama sekali ga ada pikiran si soyeon salah orang hahahaha, tapi malah berkah buat dia.

    you did awesome job, by the way. 🙂

  9. Ping balik: Recommendation: Letter L | tmd

  10. Aku baca ff ini dr rekomen kakput yg komennya pas diatas aku hehe. Ini gokil parah, aseli mesti keluar dr cafe pake topeng tuh si soyeon nya hahaha. Plot twistnya keren, surprise sih, soalnya aku gak ada kepikiran aja gitu sm sikap Luhan yg linglung itu hahaha. Dan, aku suka dialog nya, kata kata nya. Ini berasa banget apa yg dipikirin sm wanita lajang umur diatas 30-an. Keep writing ya ^^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s