Empty Space For You

Poster-ESFY

Empty Space For You

A Vignette from Fla

Kim Kibum | Park Nana

Terkadang kau tidak pernah berpikir tentang suatu hal sampai seseorang menanyakannya kepadamu.

***

Suatu saat ketika kami semua berkumpul pada sebuah penghujung acara liburan di Villa, ada hal yang membuatku melakukan evaluasi terhadap diriku sendiri. Semuanya bermula dari pertanyaan Lee Jinki.

“Saat kau lulus nanti, siapa yang akan kau rindukan? Adakah orang tertentu?”

Pertanyaan ini begitu sulit kujawab, mungkin Kim Kibum pun merasa demikian. Bisa kulihat pria itu mengenyitkan alisnya sejenak, plus bibirnya yang sengaja dimanyunkan asal. Aku tahu pasti Kibum akan mengeluarkan ekspresi unik sejenis itu jika dia sedang berpikir.

“Entahlah, mungkin semuanya. Aku sulit memilih, karena aku dekat dengan seluruh anak di kelas,” Kibum menjawab kemudian, yang kemudian—ini sungguhan— disahuti timpukan gumpalan kertas dari berbagai penjuru.

Kalau semua orang menganggap jawaban barusan sebagai sebuah bentuk kenarsisan berbalut candaan yang memicu tawa, aku tidak memandangnya demikian. Hal yang kupikirkan justru, ‘Oh, jawaban yang cukup menyindirku secara tidak langsung’.

Kau tahu kenapa? Aku sama seperti Kibum, sulit memilih orang spesial yang akan kurindukan setelah kami lepas dari kampus ini. Yeah, serupa tapi tidak sama. Alasanku berbeda dengan Kibum, aku tidak bisa memilih karena aku nyaris tidak dekat dengan siapapun. Malang sekali aku.

Hmmm… iya, aku sering merasa diriku sebagai satu di antara kaum middle-middle. Bingung dengan istilahku? Yeah, itu memang kubuat asal saja. Intinya, aku ini anak serba tanggung.

Tidak terlalu jenius, tidak juga bodoh. Jadi, aku tidak berkomplot dengan mahasiswa bernilai akademik tinggi dan juga tidak bersahabat dengan golongan yang menganggap nilai itu tidak lebih dari omong kosong. Aku tidak terlalu aktif berorganisasi, tidak juga bisa disebut kuper—atau manusia yang kerjanya hanya berkutat dengan buku. Aku tidak cantik, tidak juga buruk rupa. Genk tukang mematut diri di depan kaca jelas bukan menjadi himpunanku, dan aku tidak juga satu perasaan dengan orang-orang yang merasa minder karena rupanya tak memiliki sinar barang sedikitpun. Aku tidak bisa disebut supel, tetapi tidak juga terkucilkan. Aku kenal dengan nyaris semua anak di jurusanku, dari kakak tingkat hingga mahasiswa di bawah angkatanku. Tapi mirisnya, selama ini aku hanya sebatas kenal; mengobrol standar—tidak sampai mengumbar kata rindu setelah liburan panjang memisahkan individu, pun tidak pernah bercipika-cipiki merayakan suka-cita bersama kawan-kawanku.

Boleh dibilang aku lebih suka mengamati, ikut tertawa dan menanggapi di saat yang tepat. Bukan tepat sebenarnya, tetapi tepat sasaran. Yah, beberapa temanku beropini tentangku, bahwa aku adalah si pemilik sindiran yang cukup menancap di hati. Aku tidak tersinggung dengan penilaian mereka karena memang seperti itulah aku. Dan aku yang apa adanya ini membuatku tidak dekat dengan banyak orang.

Seringnya aku merasa baik-baik saja dengan kehidupan sosialku yang seperti ini. Aku seperti burung lepas yang tidak ikut bermigrasi bersama seiring pergantian musim. Aku tidak perlu repot-repot memikirkan urusan kantong hanya karena harus hang out bersama kawananku, pun tidak perlu merasa tidak enak saat koordinatku hari ini berada di genk yang satu dan esoknya sudah berganti lagi.

Sering bukan berarti selalu. Terkadang aku merasa sepi, aku butuh seseorang untuk mengisi celah hampa dalam hidupku. Tetapi, rasanya aneh saja kalau tiba-tiba aku meminta seseorang menemaniku di kala aku merasa sepi ataupun butuh bantuan. Aku paling tidak ingin dicap sebagai orang yang mendekat di kala butuh.

Satu dua kali aku pernah berpikir, apa semua caraku selama ini benar? Selama kuliah, sebenarnya aku sengaja tidak terlalu mendekatkan diri pada satu golongan tertentu. Pengalaman masa laluku membuatku menjadi manusia demikian. Sewaktu bersekolah, berkali-kali aku dekat dengan beberapa orang—erat bagaikan amplop dan perangko. Hingga kemudian aku merasa terkhianati, dan kemudian tersakiti bukan main. Yeah, tidak dekat dengan siapapun kupikir bisa meminimalisir resiko merasa terkhianati.

Dan, pertanyaan Lee Jinki barusan benar-benar membuatku berpikir, bahwa sebenarnya akulah makhluk termalang seantero kampus. Masa muda, masa mahasiswa, harusnya digunakan untuk meraup ilmu dan mengukir kisah persahabatan. Setelah memasuki dunia kerja nanti, hidupku bisa jadi penuh persaingan, tersikut sana-sini sekalipun aku tidak pernah berusaha menyingkirkan posisi orang lain. Lalu setelah menikah nanti, aku tidak akan bisa berkata pada anakku, ‘Nak, ibu mau datang reunian dengan sahabat semasa kuliah dulu, ya? Jaga dirimu baik-baik di rumah’. Miris sekali.

“Nana-ya, bagaimana denganmu? Saat kau lulus nanti, siapa yang akan kau rindukan? Adakah orang tertentu? Sekarang giliranmu menjawab.”

Sekali lagi pertanyaan tersebut mengusik otakku, menggelitik membran timpaniku untuk yang kedua kalinya. Andai orang yang melayangkannya bukan orang yang sangat kuhormati—ketua kelas kami—mungkin aku sudah menjawab cuek, ‘Hmmm, ada deh…’, ataupun memelototinya karena dia mendesakku. Ya, aku tidak suka dipaksa—dalam bentuk apapun.

Ehm, aku bingung menjawabnya, Leader-nim. Kalau aku menjawab ‘kau’, bagaimana?”

Seisi ruangan menyorakiku. Biarlah, aku tidak keberatan, aku justru ikut bertepuk tangan riuh meledek diriku sendiri. Toh, aku memang mengagumi kepemimpinan, ehm, sebenarnya semua aspek yang ada pada namja di depanku ini. Dengan cara barusan aku bisa mengutarakannya secara santai.

Hei, hei, sudah, tidak usah iri. Aku memang layak dirindukan oleh semua orang, sih.Sang Leader berusaha meredakan keriuhan dengan kenarsisannya yang jarang-jarang muncul ke permukaan. Pria yang satu ini biasanya lebih suka rendah hati. Itulah yang kusukai darinya, tidak terlalu banyak mengobral janji serta visi misi, tetapi tidak berhenti menunjukkan bukti sikap yang nyata. Lee Jinki yang memang ditakdirkan menjadi pemimpin—sesuai dengan golongan darahnya yang memang kerap dimiliki oleh pemimpin-pemimpin Negara Jepang sana.

Pelan-pelan situasi menjadi normal kembali, meski tidak sepenuhnya tenang. Sang ketua kembali menunjukkan wibawanya dan mulai meminta jawaban dari anak-anak lain, satu per satu. Rasa kagumku terhadap anak ini bertambah satu lagi. Dia mengatakan di awal, dengan cara seperti ini diharapkan bisa membuat setiap anak menyadari bahwa selama ini—selama perkuliahan, di antara tumpukan tugas dan ujian-ujian yang membuat frustasi— banyak atau minimal ada seseorang yang bisa dirindukan yang bisa jadi kenangan manis sepanjang hidup. Ia pun menambahkan, ‘Apa yang tampak, seringkali justru tak bisa kau lihat. Jadi, jangan gunakan mata. Hati mungkin bisa menjadi pemindai yang lebih jenius, dan mulut mungkin bisa menjadi juru bicara yang jujur atas hatimu. So, answer my question honestly, please.’

Ya, alasan yang logis. Terkadang seseorang memang tidak pernah memikirkan sesuatu sebelum ada orang yang mempertanyakannya. Sayangnya, itu tidak berlaku bagiku. Nyatanya aku tetap tidak tahu siapa sosok yang akan kurindukan nanti. How stupid I am.

Oh, aku lupa bilang. Saat ini kami sedang berada di sebuah vila, menikmati liburan terakhir bersama sebelum semester depan disibukkan dengan urusan tugas akhir masing-masing. Aku cukup suka kegiatan macam ini, karena momen seperti inilah yang bisa membuat keheterogenan watak anak-anak melebur menjadi satu dalam tawa dan canda. Yeah, meski anak-anak perempuan tetap saja berkoloni bersama kelompol ‘nyaman’ masing-masing  ketika waktunya tidur dan memilih kamar. Dan kalau kau mau tahu, dua malam kemarin aku sengaja memilih tidur di ruang televisi—menyimak dulu kegiatan anak-anak yang sedang main ramal-meramal amatiran lewat kartu. Udaranya sangat dingin memang, tetapi setidaknya aku tak perlu terjebak di dalam kamar-kamar yang pasti dipenuhi suara-suara gosip pribadi. Sudahlah, tidak usah dibahas lagi soal milih-memilih kamar.

Satu yang pasti, sekarang aku harus segera menormalkan ekspresi wajahku setelah tadi ikut-ikutan menyoraki diriku sendiri. Yep, ini memang cara jitu. Kau mau tahu sebuah rahasia? Kibum pernah berbagi tips denganku. Katanya, kalau kau tidak mau terlihat salah tingkah ataupun membuat orang lain curiga tentang perasaanmu saat kau disoraki. Bergabunglah dalam keriuhan itu seakan kau menikmatinya, dengan begitu orang akan menilai bahwa ucapanmu—yang mereka ributkan—itu tidak berbau keseriusan.

Aku merasa lenganku disikut oleh Kim Kibum yang duduk di sebelahku. “Kau tidak pandai berbohong total, Park Nana.” Bisik Kibum.

“Berbohong? Di sebelah mananya aku berkata tidak jujur?” Aku tidak mengerti dengan maksud ucapannya, jadi aku hanya bisa membalasnya dengan menampakkan wajah bengong.

“Iya, kau baru saja menyembunyikan sebuah fakta,” lanjut Kibum lagi. Kali ini ia membubuhi tawa kecil, dan aku menangkap aura keusilan dalam wajahnya barusan. Tidak aneh lagi, manusia yang satu ini memang banyak aksi. Dan anehnya, dialah satu-satunya orang banyak omong yang tidak bisa kubenci.

“Menyembunyikan bagaimana maksudmu?” Aku masih bingung.

“Menyembunyikan fakta bahwa yang kau ucapkan barusan itu bukan suatu kebohongan. Dan kau baru saja mencuri caraku, Nana-ya.”

Oh, I see. Kim Kibum, please.

Kibum selalu berhasil membuatku memutar bola mata. Kelakuan anak ini … ya pikir saja, dia menyebutku mencuri? Padahal dia sendiri yang berbagi secara sukarela. “Kalau begitu, apa aku harus membayar royalti padamu, Kibum-ah?”

Dia terkikik dan aku sudah maklum dengan sikapnya yang sering tidak jelas itu. Manusia ini memang setengah aneh.

“Ada satu lagi yang kau sembunyikan. Sayang sekali aku dikaruniai mata elang yang bisa mendeteksi perasaan yeoja-yeoja di sekelilingku hingga aku bisa mengetahui isi pikirannya hanya dengan melihat wajahnya dan aku tidak perlu repot-repot bertanya. Aigooo, ternyata aku memang luar biasa. Tidak salah banyak orang yang menganggapku sebagai pria penuh pengertian.”

Kalau Kibum sudah mengoceh panjang sepanjang rentetan gerbong kereta tak berjeda seperti tadi, aku benar-benar tidak berkutik. Kau mau tahu ekspresiku seperti apa? Biasanya bibirku terbuka dan sialnya tidak mau lagi terkatup, bonus mataku yang kian menyipit hingga tersisa satu garis saja. Singkatnya, aku hanya bisa memandanginya seperti orang tolol kehabisan kata setiap kali ia mulai memuji dirinya sendiri.

“Kau terlalu percaya diri dan meninggi, hati-hati jatuh,” celetukku asal, setelah aku berhasil membangunkan otakku yang ‘shock’ tadi.

“Tidak masalah jatuh. Kalau aku jatuh, kau yang harus menangkapku, hm?”

Sialan, dia justru menggodaku.

Siap, Tampan.” Ku-iya-kan saja agar dia senang dan tidak lagi melanjutkan celotehannya tadi, biarkan dia tertawa karena jawabanku (yang menjijikkan) itu.

Sejujurnya aku masih penasaran akan maksud perkataan Kibum sebelum pria ini bernarsis ria dan membuatku-ingin-menonjok-bibirnya-sampai-jontor tadi.

“Bisa kau jelaskan inti percakapan ini, Kim Kibum? Aku tidak merasa sedang berbohong atau menyembunyikan hal remeh sekalipun, kau saja yang terlalu kebanyakan berpikir.” Kudorong pelan keningnya dari samping. Sengaja, aku tahu dia tidak suka kepalanya disentuh. Alasannya, errr … lagi-lagi membuatku ingin menendangnya ke kutub manapun. Dia—dengan nada bicaranya yang menggebu dan tanpa keraguan selalu berkata, ‘Isi kepalaku ini emas, dambaan setiap wanita. Jadi, jangan pernah menyentuhnya sembarangan. Hanya istriku kelak yang kuizinkan.’

Dia menyebalkan, bukan? Menjijikkan lebih tepatnya.

Kibum merapatkan kepalanya ke telingaku. “Begini. Aku tidak tahu kau yang terlalu bodoh atau aku yang terlalu pintar. Kau harusnya bisa mencerna kalimat Jinki di awal sesi tadi. Gunakan hatimu, Nana-ya. Kau sebenarnya bukan ingin berkata ‘akan merindukan Jinki’, karena aku tahu merindukan Jinki bagimu adalah suatu kemutlakan, penggemar sudah pasti merindukan idolanya.”

Kurang ajar. Aku yang tadinya mau menyetujui penuh, mendadak memilih untuk membenarkan dengan nada setengah-setengah lantaran ledekannya di awal. Kutanggapi dengan setengah malas, “Yeah. Lalu?”

“Yang sebenarnya akan kau rindukan itu, aku,” lanjutnya kalem, sambil tersenyum mesem-mesem sekaligus memamerkan lesung pipinya yang super-super menarik (untuk ditonjok) itu.

“Yakin sekali kau!” Aku sungguhan menendangnya, lebit tepatnya menggunakan kaki kiriku untuk mendorong paha kanannya hingga duduknya sedikit tergeser, tidak lagi ajeg.

Tapi perlakuan kasarku rupanya tetap tidak membuat anak itu berceloteh. “Coba kau cerna lagi, Nana-ya. Aku ingat kau pernah bilang padaku bahwa kau tidak pernah merasa dekat dengan siapapun. Kau mengatakan hal yang seharusnya hanya kau simpan seorang diri. Satu fakta yang menunjukkan bahwa kau sebenarnya punya orang dekat.”

Wait, wait. Jangan berpikir aneh-aneh, kau—“ Aku mulai mengerti arah pembicaraannya.

Kibum menaruh telunjuknya di mulutnya sendiri, memberi isyarat agar aku tidak menyela argumentasinya. Masalahnya, aku tidak tahan untuk tidak melemparkan benda apapun padanya saat ini.

“Kedua, aku punya dasar bahwa aku tidak bisa memilih karena … catat, aku merasa dekat dengan siapapun, termasuk kau. Tidak ada satupun kawanku yang tidak dekat denganku. Pernyataan ini bertentangan dengan alasanmu yang tak bisa memilih karena tidak merasa dekat dengan siapapun, padahal di saat yang sama ada orang lain yang merasa dekat denganmu. Sebenarnya, poin pertama dan kedua tadi sudah cukup menjadi bukti, bahwa kau sudah selayaknya menyebutkan namaku kalau Jinki menanyakan ulang. Yah, meskipun tidak akan terulang.”

Stop it, Kim Kibum.” Aku rasa wajahku sekarang mulai memerah. Kim Kibum benar-benar tahu cara membuatku geer.

Semakin kularang, Kibum bertambah semangat. Ia melanjutkan teorinya, “Poin ketiga. Kau memang punya hobi hinggap sana-sini, sama nomadennya denganku. Sadar atau tidak, setiap kali kau berpindah, seringnya aku pun ada di tempat yang sama denganmu. And then we share words, moments, stories, and happiness together. Masih gengsi mengaku?”

Rasa malu yang sebelumnya sempat muncul dalam benakku, pelan-pelan berubah menjadi rasa haru. What? Aku terharu? Tidak, tidak. Kibum tidak boleh menyadari kalau aku tersentuh dengan perkataannya. Kepala anak itu bisa makin ‘membesar’ nantinya.

“Ayolah, mengaku saja.” Kibum mencolek-colek lenganku dengan tatapan genitnya.

Aku menggeleng kuat-kuat dan Kibum terbahak karenanya. Tidak, aku tidak akan mengaku—karena Kibum yang meminta.

Pada malam puncak acara kelas ini, di tengah sorak riuh yang memenuhi ruangan setelah masing-masing orang membuat pengakuan jujurnya atas pertanyaan Jinki, aku mengetahui satu hal yang baru kusadari.

Saat ini aku menyadari dua hal dan terpaksa harus mengakui hal kedua yang kudapati malam ini.

Pertama (ah, aku tersenyum karenanya), Lee Jinki itu jenius. Tidak salah aku mengaguminya, as a leader. Pertanyaan Jinki memang bisa membuat setiap orang tersadar. Bahwa dunia kampus ini manis, bahwa ada rindu yang akan tercipta setelah kisah empat tahun ini usai.

Hal kedua (hih, aku benci mengatakannya), bahwa sebenarnya aku masih melanggar prinsipku sendiri; sekuat apapun aku membuat diriku untuk tidak terlalu dekat dengan siapapun, ternyata aku masih punya satu teman dekat. Dia, Kim Kibum.

Baikah, Kibum. Berhubung singgasana untuk sosok pangeran sudah terisi sejak lama, kuizinkan kau menempati satu tempat kosong lain bernama “Singgasana Untuk Kawan Yang Kurindukan”.

Selamat kalau begitu. Untuk aku pribadi—karena tidak harus menyandang predikat manusia termalang di kampus, dan untuk Kibum yang pada akhirnya berhasil membuatku mengakui secara sukarela bahwa dia memang pria penuh pengertian dan isi kepalanya sangat brilian.

The End

 

Iklan

  1. aaaaaa…topceer!!! ceritanya topceeer~~!!!
    huuh..haah..susah mau ngomen apa lagi ini kak. yang jelas, AKU ITU NANA BANGEEET!!!
    Nana-ya, kita bisa tos-an virtual gak? :”)

    Satu spesies aku sama Nana, kaum middle2 itu aku ngangguk mulu pas baca tiap kalimat penjelasannya.
    Trus pas omongan Kibum, rasanya ada temen aku juga yg pernah ngomong begitu. aku merasa tersadarkan dengan penjelasan Kibum, dan tiba2 aku teringat temen aku yang setipe sama Kibum. Ternyata aku punya orang yang kuanggap penting di dalam dunia kampus :”)

    Kalimat ini yang bikin aku terhening : Aku ingat kau pernah bilang padaku bahwa kau tidak pernah merasa dekat dengan siapapun. Kau mengatakan hal yang seharusnya hanya kau simpan seorang diri. Satu fakta yang menunjukkan bahwa kau sebenarnya punya orang dekat.

    Dan, jadi kepengen (bangeeeettt) punya temen macam Kibum di cerita ini! 😀

    Mantap ceritanya kak!!! Bikin lagi~~~~

    • And then, kamu juga harus tos ama aku karena kita samaaaa: kaum middle2.

      aku punya temen macem kibum, meski ga berembel2 status sahabat tp sadar ato engga, sebenernya deket dan sering berbagi ini itu, aku lebih nyaman yg macem ini. pas bikin ini aku berkaca pda diriku sendiri, dan betapa beruntungny aku pernah kenal orang macem kibum. Sebelum terlambat la, mari banyak2in momen bersama kawan kita yg satu ini, heheeh

      iya sip la, ntar aku bikin lg kalo ada hal2 menarik yg bisa aku ulik tt kehidupan sehari2
      makasih untuk kunjungannya laaa 😀

  2. Biasanya aku pengen ngejitak Kibum untuk setiap dialognya yang super pede dan super narsis, tapi kali ini nggak, aku cuma ngangguk sambil senyum-senyum. Walaupun disampaikan dengan cara yang bikin Nana gemes pengen ngelempar semua barang ke Kibum, omongannya itu bener dan dia jadi terlihat bijak.

    … sebelum pria ini bernarsis ria dan membuatku-ingin-menonjok-bibirnya-sampai-jontor tadi.
    Kayaknya kurang tanda pisah deh, harusnya seperti ini bukan?
    …sebelum pria ini bernarsis ria -dan-membuatku-ingin-menonjok-bibirnya-sampai jontor- tadi. (Eh, bener nggak sih? Nggak yakin juga nih.)

    Malangnya aku, ya?
    Kayaknya kurang pas gitu kalau dibaca. Biasanya ‘malangnya aku’ nggak dikombinasikan dengan ‘,ya’. Jadi dirimu bisa pilih salah satu, mau menggunakan ‘,ya’ atau mempertahankan ‘malangnya aku’. Misalnya ‘Aku benar-benar malang, ya?’ Atau ‘Malangnya aku.’ aja.

    Maaf kepanjangan, Fla. Semoga berkenan dengan komentarku.

  3. lol kibum dan jiwa pedenya =_= ah kebayang bgt gimana jinki ngomong gini hahaha. ah masa-masa di kampus kayaknya harus diukir dengan kisah-kisah manis, ya, kak? aku baru masuk dunia kampus jadi semoga aja aku bisa mengukir kisah manis (?) amin haha (curhat)

    nice fanfic kaaaak. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s