Stupid Wish

 poster-stupid-wish

Stupid Wish

A Ficlet from Fla

Kibum | Hyuna

A.N:

Cerita ini boleh dibilang ada kaitannya dengan oneshot berjudul No Perfect Marriage.

Fla © 2013

Dan hanya aku yang jomblo.

Dapat kuingat betul kalimat itu. Orang yang mengetiknya sudah kuhadiahi bogem mentah lantaran melekatkan jalinan kata itu pada fotoku dalam slide show yang ditayangkan di kelas pasca liburan bersama kelas kami usai.

Dalam slide show itu ditampilkan momen curi-curi, atau yang lebih sering disebut candid camera. Salah satu kontennya adalah kumpulan couple yang tertangkap basah sepanjang liburan berlangsung—baik couple sungguhan maupun pasangan pemuda-pemudi yang kebetulan berpose sesuai dengan maksud usil pembuat slide tadi, Kim Kibum. Mirisnya, pada akhir rentetan foto sejoli-sejoli tadi, muncul fotoku yang tengah menutupi wajah yang tertunduk. Di bagian atas foto itulah predikatku secara tidak langsung terpublikasi dengan adanya kalimat menyebalkan tadi. Bunyinya seolah menyindirku: inilah nasib jomblowati sejati.

Sialan.

Pertama kali melihatnya, keki. Kedua kalinya tertawa lebar menertawakan nasib. Ketiga kalinya, barulah aku bisa berpikir santai; biarlah bertahun-tahun menjomblo, nanti sekalinya dapat langsung dipasangkan oleh Tuhan dengan pria yang luar biasa. Ehm, sebenarnya aku ingin meralat sedikit, aku lebih suka disebut ‘menjadi single’. Karena menjadi single itu pilihan, dan dijuluki jomblo itu kutukan.

Dan dua tahun setelah keusilan Kibum itu berlalu, aku bisa sedikit tersenyum lega. Sekarang aku bukan lagi gadis yang akan kesepian setiap malam minggu tiba. Aku tidak perlu lagi menjadi gadis-yang-terpaksa-naik-kendaraan-umum lantaran tidak ada seseorang yang bersedia menjemputku. Dan bolehkah aku meminta Kibum menghapus slide show sialan itu dari grup Facebook angkatanku? Ei, ini mungkin berlebihan. Baiklah, kubatalkan keinginanku yang terakhir tadi.

Ehm, mungkin aku adalah gadis pertama yang dilamar di saat teman-teman yeoja-ku masih sibuk membicarakan si tampan A dari jurusan B sudah berpacaran dengan si seksi C dari jurusan D. Aku patut bersyukur pada Tuhan karena telah dipertemukan dengan seseorang yang luar biasa. Yang tidak pernah menuntutku menjadi anggun, yang tidak pernah menuntutku untuk menjadi wanita yang rutin memoles diri setiap malam dengan bedak super tebal.

Kami memang belum menikah, tetapi aku berharap pria bernama Yoochun dan bermarga Park itu memang sungguhan jodohku.

Meski status kami masih LDR—dia di Australia dengan pekerjaannya dan aku di Korea berkutat bersama tugas akhirku—boleh tidak malam ini aku berjingkrak-jingkrak ria? Ei, kalem sedikit. Baiklah, aku cukup tersenyum malu-malu kucing saja di balik bantal kamarku. Coba aku tanya, apa yang kau rasakan ketika membaca status jejaring sosial yang seperti ini,

Aku baru membeli peralatan masak, hanya kompor gas yang kurang. Persiapan untuk calon istriku tercinta.

Pastinya dia membelikannya untukku, kalau aku mau berpikir norak. Ehm, tapi semoga memang peralatan itu akan menjadi milikku. Meski saat ini aku hanya tahu cara merebus mie, menggoreng-goreng sederhana, dan menanak nasi.

Kalau saja Kibum tahu bahwa aku telah dilamar, harusnya dia secara sukarela mengganti konten slide show itu. Ya ya ya, aku keras kepala sekali karena tetap tidak ingin foto dengan pose menyedihkan itu terselip selamanya di sana.

Kuharap Kibum segera tahu setelah aku menulis di jejaring sosialku: So, itu artinya kau memintaku untuk belajar memasak di sela perjuanganku menyelesaikan tugas akhir?

Dan harusnya Kibum pasti tahu setelah membaca balasan atas pernyataanku tadi, Park Yoochun menulis 9 detik setelahku. Bunyinya seperti ini: Yes, Nona. Aku suka makan dan kuharap kau bersedia memasakkan untukku.

Kalau Kim Kibum sampai tidak menyadarinya ketika dia men-stalk akunku (aku yakin dia selalu melakukan ini setiap malam), akan kutenggelamkan dia ke Sungai Han. Biar tubuh kurus keringnya itu tersiksa di dalam air sana. Yeah, harapan yang tolol dan sangat tidak penting untuk dipanjatkan tatkala malam sudah bertahta separuh waktu. Aku hanya ingin Kibum tahu bahwa diriku tidak lagi senasib sepenanggungan dengan kaum jomblowati abadi.

 

 The End

Kalimat ‘menjadi single itu pilihan, dan dijuluki jomblo itu kutukan’ bukan buatanku. Aku pernah baca di salah satu akun twitter, lupa punya siapa. Kalau tidak salah, akun yeahmahasiswa.

Iklan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s