Mirror Mirror in The Dark [2]

MMTD

A.N: Ide awal FF ini aslinya punya Bibib. Tetapi karena beberapa alasan, Bibib memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Prolog dan Part 1 bisa dibaca di blog Bibib di sini dan ini.

Slice 2 : New Home

Fla’s Story

Hari pertamaku di Seoul.

Kau tahu tidak, aku merasa ini semua bagaikan mimpi. Akhirnya aku benar-benar menjadi perantau di negara orang. Aku tidak pernah menyangka bahwa negara pertama yang menjadi tempat hijrahku adalah Korea Selatan. Tahun-tahun sebelumnya aku bermimpi untuk membangun istana hari tua di negara Filandia—negara yang diklaim memiliki penduduk paling bahagia di dunia.

Bertahun-tahun aku menabung, mengembangkan usaha orang tuaku, dan juga membentuk bisnisku sendiri. Dulu aku hanya bercita-cita menjadi orang kaya, lantas bertemu Yixing-ku entah di masa kapan, hari apa, dan jam berapa.

Namun, ada satu titik yang membuat semuanya tidak lagi sama. Semua perubahan itu dimulai sejak dua tahun lalu. Setelah aku tidak sengaja melihat sebuah video Youtube di notebook penjaga butikku. Hari itu, semua haluan hidupku berubah.

Melalui kumpulan teaser yang memperkenalkan anggota boyband bernama EXO, hari itu, untuk yang pertama kalinya aku tahu di mana Yixing-ku berada, apakah ia baik-baik saja, dan bagaimana wujudnya sekarang. Rasanya itu jauh lebih membahagiakan dari apapun, kebahagian jenis itu bahkan melampaui perasaan ketika lukisan pertamaku berhasil menembus sebuah galeri terkenal.

Aku kehilangan jejaknya, aku hanya tahu bahwa ia merantau ke negara luar— nyaris bersamaan dengan keluargaku yang pindah ke Beijing. Maka begitu aku tahu, aku seperti menemukan kembali morfinku. Detik itu juga, kudekap erat layar notebook itu, begitu kuat, penuh tekanan, dan tidak ingin melepaskannya sampai hatiku tidak lagi bergetar begitu kencang.

Hari itu, kubatalkan semua agendaku dan kuhabiskan satu hari penuh untuk melihat video tadi dan mencari tahu seluk-beluk mengenai pihak yang merilis video tersebut. SM Entertaiment, ke sanalah Yixing pergi, menimba ilmu, dan muncul kembali sebagai Lay yang lincah menari.

Bocah itu, awalnya aku tidak mengerti bagaimana ia bisa pandai menari. Terakhir kali ia tampil di televisi Cina, gerakannya masih sangat aneh. Tapi di teaser video itu, Yixing-ku begitu keren. Aku sampai menitikkan air mata berulang kali. Pria ini, dia benar-benar membuktikan ucapannya, bahwa dia akan menjadi orang terkenal suatu saat nanti. Aku tahu dia pasti sangat bersungguh-sungguh berlatih menari, aku kenal Yixing-ku—dia pantang menyerah.

Namun, ada satu yang masih kutunggu hingga detik ini. Yixing yang menyanyi seorang diri di atas panggung dengan penuh kebanggaan. Yixing yang bersuara cempreng tetapi memiliki keinginan kuat untuk menjadi penyanyi. Faktanya, posisi Yixing di grupnya bukanlah penyanyi utama, melainkan jagoan dance. Aku tidak tahu kapan momen itu terjadi, aku akan menunggu.

Satu yang pasti, aku baru saja menemukan kebahagian baruku. Karena kini aku berada di atas daratan yang sama dengan Yixing-ku.

***

Aku menempati sebuah apartemen tidak mewah di pinggiran Seoul, yah, bisa juga disebut rumah susun—tapi tidak begitu kumuh. Rumah baruku tidak begitu besar, tetapi masih cukup nyaman untuk kutinggali, masih muat untuk menampung peralatan melukis dan perlengkapan mendesainku.

Sebenarnya bisa saja aku menyewa yang lebih baik dari ini, tapi aku memutuskan untuk melihat-lihat keadaan sekitar lebih dulu, untuk kemudian mencari kawasan yang tepat. Kalau perlu, aku akan pindah ke bangunan yang paling dekat dengan lokasi kediaman Yixing, di dekat dorm EXO. Alasan lainnya, aku suka dengan apartemenku ini. Seluruh perabotan utama seperti sofa, kasur, lemari pakaian, lemari baju, dan cermin. Yah, aku tidak mengerti kenapa cermin bisa ada di sini, itu adalah satu-satunya benda kecil yang sudah disediakan oleh pihak apartemen. Yang jelas aku merasa cukup terbantu karena tidak harus kelimpungan membeli perabotan pada hari pertamaku.

Barulah hari kedua di Korea kuhabiskan dengan membereskan semua barang-barangku dan membeli sisa perabotan-perabotan yang kubutuhkan.

Kompor, mesin pembuat kopi, gantungan baju dan mantel, bed cover set, keset, gorden baru, karpet, kebutuhan pokok bulanan, serta beberapa benda remeh-temeh lainnya tergeletak begitu saja setelah tadi petugas pengantar barang dari toko menaruhnya di depan pintu apartemenku. Belum lagi aku membeli beberapa perabotan besar seperti meja kerja, rak buku, mesin cuci, serta

Paman Kim, petugas keamanan apartemen, sempat menawarkan bantuan untuk meringankan bebanku, tentu saja aku tidak keberatan. Meski aku sudah terbiasa mengerjakan banyak hal sendirian, tetap saja tenaga pria jauh lebih kuat dalam urusan geser-menggeser barang.

Sekitar 80 persen dari ruangan di rumahku sudah tertata rapi. Rasanya tenagaku mulai terkuras habis, begitu pula dengan Paman Kim—ia seperti orang habis mandi, seragam dinas hitamnya basah oleh keringat. Maka kuajak Paman Kim itu untuk beristirahat sembari menikmati jus botolan yang sempat aku beli di supermarket dekat toko perabotan.

Pria yang ternyata berusia 51 tahun itu sumringah dan menyambut ajakanku. Ia segera menyelonjorkan kakinya di lantai sembari mengelap peluhnya. Aku merasa sedikit bersalah menerima bantuannya, harusnya aku sadar usianya tidak lagi muda untuk melakukan hal seperti ini.

Gwenchanayo, Agassi. Paman mana tega membiarkan wanita mengerjakan semua ini seorang diri. Lagipula kalau badan tidak dipakai bekerja justru akan semakin terasa lemah. Omong-omong, wajahmu bukan seperti orang Korea, kau lebih terlihat seperti orang Cina. Logat bicaramu juga masih sedikit aneh. Ini cuma perasaanku saja atau kau memang pendatang?”

“Ah, ne. Aku memang orang Cina, aku datang dari Beijing.”

“Beijing? Wah, ada apa gerangan jauh-jauh datang kemari? Jangan bilang kau tertarik mengikuti audisi girlband? Sekarang ini kudengar banyak orang luar sengaja datang ke Korea untuk mencari peruntungan di dalam industri hiburan.”

Aku terkikik mendengar ucapannya, ditambah lagi ia mengatakannya dalam tempo yang sangat cepat dengan logat yang sejujurnya (juga) terasa aneh di telingaku. Yah, maklum, aku baru dua hari tiba di Korea. Yixing yang sudah lama saja logatnya masih janggal.

Menjadi artis? Yang benar saja. Aku bahkan tidak suka diriku tereskpos. Aku seorang pelukis yang belakangan melebarkan sayap ke dalam bidang desain busana. Sepanjang karirku menjadi pelukis yang karyanya terbilang populer saja aku tidak pernah mau menampakkan diriku ke media manapun. Kalau ada yang ingin wawancara aku meladeninya dengan senang hati, tapi lewat email.

Aniyo, bukan, bukan. Usiaku sudah cukup tua untuk menjadi trainee. Bukankah para agensi itu selalu mencari anak-anak yang masih sangat muda?”

“Benar juga. Lalu, kau kemari untuk bekerja? Kau pindah tugas atau bagaimana?”

Kutuangkan lagi jus ke dalam gelas Paman Kim, pria ini sepertinya kehausan betul sampai-sampai ia tahan menghabiskan lima gelas sejak kami berbincang beberapa waktu lalu. Sejujurnya ini hanya bentuk pengalihanku, aku tidak tahu mesti menjawab apa atas pertanyaannya tadi.

Jelas tidak mungkin jika aku mengatakan tujuan kedatanganku kemari adalah untuk mencari Zhang Yixing, untuk dekat-dekat dengan pria pujaanku itu. Ahjussi yang satu ini pasti akan tertawa terbahak-bahak jika mendengarnya.

“Ooo, atau kau sedang mencari sanak-famili? Atau cari jodoh tampan, mungkin? Ah, Nona. Kalau mau cari pria tampan kau salah tempat. Warga Korea asli sesungguhnya tidak setampan yang disaksikan di televisi, penduduk kami sangat keranjingan operasi, apalagi para artis. Anak gadisku saja minta dihadiahi operasi kelopak mata pada ulang tahunnya yang ke-17 nanti. Aigooo, dari mana aku mendapatkan uang untuk hal-hal tidak penting seperti itu. Huh, pemerintah menganggap artis-artis itu berjasa dalam mempromosikan negaraku, menurutku tetap saja mereka itu membawa pengaruh buruk untuk anak muda lainnya.”

Kurasa paman di depanku ini tipikal orang yang senang bicara tanpa memikirkan image. Dia begitu mudahnya berceloteh panjang lebar mengenai sisi buruk negaranya kepada orang asing yang bahkan baru menjejakkan kaki ke Korea. Aku bahkan belum menjawab pertanyaan awalnya, tapi ia terus saja berbicara. Dan di akhir perkataannya aku bisa mendengar suara napasnya yang terengah-engah. Sepertinya ia memang terlalu menggebu bercerita tadi.

“Paman, sebaiknya habiskan saja dulu minumannya.” Aku mencoba untuk sopan, padahal sebenarnya inti dari ucapanku barusan adalah ‘Jangan terlalu banyak bicara, terlebih Anda adalah orang yang usianya tidak lagi muda’.

“Ah, ne. Khamsahamnida. Kau baik sekali, Seira-ssi. Aku heran kenapa anakku pernah cerita kalau para trainee dari Cina sering di-bully, padahal kurasa orang Cina sepertimu memiliki karakter yang baik dan juga sopan.”

Aku hanya menanggapi dengan kekehan kecil. paman itu menarik napas sejenak dan lantas menenggak habis minumannya. Aku tidak terlalu suka menanggapi panjang lebar—terlebih pada orang asing yang belum aku pahami tabiatnya.

Aku tidak terlalu peduli dengan pujiannya, karena sebenarnya aku tidak sebaik itu. Aku lebih tertarik pada kalimatnya yang terakhir.

Aku memang pernah membaca fakta-fakta yang seperti ini. Aku rasa semua itu hanya karena persaingan, bukan masalah kewarganegaraan. Semua trainee itu saling sikut untuk bisa didebutkan lebih dulu oleh perusahaan.

Saat membaca artikel itu, jelas aku langsung teringat Yixing. Aku tidak yakin Yixing aman, pria itu cukup terlihat diam dan berwajah kalem—dan jelas kondisi seperti ini membuatnya mudah sekali menjadi korban pem-bully-an. Beda halnya dengan sahabatnya, Luhan. Artikel yang kubaca menceritakan bahwa Luhan adalah trainee yang cukup disenangi karena kepribadiannya yang sangat hangat, ia tidak pernah di-bully.

“Putriku itu, dia benar-benar menggilai member boyband, apalagi itu … siapa ya? Ah, iya, EXO. Aku tidak habis pikir, artis-artis itu benar-benar telah merusak otak anakku. Di tengah kondisi perekonomian kami yang serba minim saja putriku masih ngotot menyisihkan uang untuk membeli album, dan apa itu … official merchandise. Aigooo, benar-benar tidak tahu diri.”

Kujawab sebisanya karena aku sedikit banyak bisa memahami apa yang dirasakan putrinya itu, “Wajar saja, Paman. Usia-usia segitu memang sedang mudah terpesona oleh member boyband.” Bahkan aku yang sudah lebih tua saja masih tergila-gila pada Zhang Yixing.

Ish, jinja. Harusnya usia muda itu waktunya produktif, bukan mengurusi para idola. Hidup itu realistis saja. Masih banyak hal bermanfaat yang masih bisa dilakukan, dan masih banyak cita-cita lain yang lebih menjanjikan daripada menjadi artis. Aku heran mengapa Nyonya Oh sangat mendukung ketertarikan putranya pada musik dan mengizinkan putranya menjadi trainee di SM.”

Langit sore semakin gelap terlihat dari satu di antara dua jendela yang ada di apartemenku. Pembicaraan kami berhenti ketika kurir pengantar mesin cuci datang. Setelah itu Paman Kim tidak lagi memiliki celah untuk menggerutu tentang ketidaksukaannya kepada pada bintang idola Korea Selatan, pria itu sudah harus siaga lagi di pos depan setelah urusan di apartemenku usai. Aku benar-benar harus berterima kasih pada paman yang satu ini, karena telah membantuku dan memberikanku petunjuk awal.

Dari pembicaraan ini aku jadi tahu, bahwa tidak semua warga Korea senang negaranya disesaki oleh boyband dan girlband. Tapi sejujurnya, bukan itu intinya. Ada informasi yang sejak tadi membuatku mati-matian menahan senyum ataupun berteriak girang.

Pertama, putri paman itu adalah penggemar EXO. Ia jelas orang kedua yang harus aku dekati, mungkin aku bisa mendapatkan banyak info tentang EXO darinya. Entah hanya hal remeh-temeh seperti Yixing suka pakai tas apa, atau bisa jadi –kalau beruntung—gadis itu bisa memberitahuku di mana letak dorm EXO.

Aku harus segera menemui putri Paman Kim.

Sepertinya tipikal orang macam Paman Kim tidak terlalu sulit untuk memberikan info tentang keberadaan anaknya, meski aku harus memintanya dengan cara lihai; tidak boleh ketahuan kalau yang kubutuhkan dari putrinya adalah informasi mengenai bintang K-pop—sesuatu yang dikutuki Paman Kim sejak tadi.

Kedua, ada satu orang lagi yang mungkin bisa membantuku untuk mendekat pada dunia Zhang Yixing. Putra Nyonya Oh.

Untuk itu, hal yang akan kulakukan pada hari ketigaku adalah, berkenalan dengan Nyonya Oh. Kuharap ahjumma yang satu ini cukup bersahabat, tidak seperti sosok ahjumma-ahjumma dalam drama – cerewet dan selalu ingin tahu urusan orang.

 Slice 1 End

Iklan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s