Ilegal

written by Fla

Koridor fakultas malam ini tidak terlalu ramai, sedikit tidak biasa mengingat ini adalah malam sabtu. Biasanya, cukup banyak mahasiswa yang sengaja berdiam diri di kampus bersama dengan laptopnya, apalagi kalau bukan demi wi fi super kencang milik kampus.

Saat ini hanya terdapat beberapa mahasiswa yang berlalu-lalang dengan ransel-ranselnya yang terlihat tidak ringan plus jas lab putih yang masih melekat di badan mereka—sepertinya mereka adalah kumpulan mahasiswa yang baru keluar dari laboratorium mikrobiologi, atau lab apapun yang bisa menahan pada mahasiswanya selama 6 jam berturut-turut. Beberapa mahasiswi juga sempat terlihat tengah cekikik-cekikik ria bergosip bersama temannya sembari berjalan, obrolan mereka mulai berbau rencana weekend.

Mata Tania terus berkelana, memastikan bahwa perburuan video kali ini pasti akan berjalan mulus. Beberapa saat kemudian dirinya tersenyum, melangkah girang dengan ranselnya yang sesekali bergerak naik-turun lantaran Tania sangat bersemangat.

Yah, Tania cukup girang dengan suasana yang seperti ini, karena itu artinya dia tidak perlu khawatir sinyal internetnya ‘terebut’ orang lain, plus tidak perlu berebut colokan untuk menghidupkan daya laptop tuanya.

Yeap, ini waktunya mengunduh drama Korea favoritnya plus album terbaru beberapa boyband kesayangannya yang banyak terlewat lantaran terlalu fokus pada tugas akhir.

Alangkah nikmatnya. Angin sepoi-sepoi, segelas es teh instan, dan koneksi kencang. Tania buru-buru mengambil titik yang nyaman untuk duduk lesehan. Pokoknya, kondisi-kondisi seperti ini tidak beda dengan surga dunia—versi Tania. Terlebih ini pertama kalinya sejak dirinya terbebas dari kepenatan skripsi. Besok-besok setelah urusan administrasinya dengan fakultas usai, gadis itu tidak lagi punya hak akses wi fi kampus. Tania berjanji dia akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Membuka berapa belas tab dan jendela perangkat lunak untuk men-download.

Satu setengah jam pertama bisa ia nikmati dengan sempurna, dua episode drama Medical Top Team sudah berhasil tersimpan, plus beberapa video pendek EXO dan SHINee, serta satu album Bangtan Boys—boyband yang belakangan ini menarik perhatiannya.

Sesekali Tania bersenandung mengikuti lirik lagu yang sedang didengarkannya melalui earphone. Suara lagu All Alone Kim Jaejoong merupakan satu-satunya lagu yang masuk dalam playlist Winamp-nya sejak tadi.

Tania begitu menikmati malam. Setidaknya selama 1,5 jam ini.

Namun, menit-menit berikutnya ia tidak bisa lagi fokus pada kegiatannya. Semuanya karena seorang pria aneh yang tiba-tiba duduk di sebelah.

Sebenarnya wajar saja ada orang yang duduk dekat-dekat dengan Tania, mengingat banyak sekali tempat colokan pada dinding yang ada di belakang punggung Tania. Lazimnya, Tania tidak akan peduli dengan orang-orang yang baru datang bergabung. Toh sama-sama sibuk menatap layar masing-masing.

Namun, kali ini beda cerita. Pria di sebelahnya ini cukup mencurigakan. Beberapa kali Tania sempat memergoki pria itu tengah memperhatikan laptopnya.

Apa aku membuka situs-situs yang terlarang? Yang memalukan? Apa tidak wajar membuka situs tempat download drama dan musik Korea? Mengapa orang ini terus mengamatiku? Apa aku sedang melakukan hal aneh?

Waduh, apa jangan-jangan pria ini bagian dari sindikat perampok yang gemar merampas laptop-laptop milik mahasiswa?

Tania terus berprasangka. Pelan-pelan ia mulai mendekatkan laptopnya ke pangkuan kakinya yang bersila. Ia khawatir benda kesayangannya itu tiba-tiba disambar oleh pria asing tadi. Ah, andai tidak ada tujuh jendela download yang masih dalam proses, Tania akan memilih pergi tanpa pikir panjang.

Tidak apa-apa, asal jaga-jaga saja.

Begitulah yang Tania yakini. Toh ia rasa pria di sebelahnya itu masih mirip mahasiswa, dan kini pria itu kini mulai membuka laptopnya sendiri juga. Tania sempat menangkap gambar di desktop pria itu, bentuknya terlihat seperti logo sistem operasi lain, yang jelas bukan Windows versi apapun.

Tania mulai merasa tenang dan kembali pada perburuannya. Masih ada satu mini album SHINee dan satu music video milik Kim Jaejoong yang harus ia dapatkan.

Jemari Tania bergerak lincah mengetikkan alamat-alamat pada kotak isian URL. Kalau mau dapat banyak, tentu harus bergerak cepat. Jangan tanya soal kecepatan, Tania adalah tipikal orang yang lihai dalam urusan yang satu ini.

Gadis itu mulai merasa lututnya linu setelah 20 menit berlalu, Ia mulai menyelonjorkan kakinya dan sedikit menjauhkan letak laptopnya agar tidak terlalu dekat ke alat kelamin, radiasinya konon berbahaya. Sepertinya pria aneh tadi sudah tidak lagi memunculkan gerak-gerik aneh. Sekarang pria itu terlihat sibuk mengamati grafik-grafik—entah apa—pada layarnya.

Mata keduanya sempat bertemu. Pria itu buru-buru menggerakkan bola matanya ke arah lain, yang lagi-lagi menuju laptop Tania. Jelas saja gadis itu buru-buru setengah mendekap benda tersebut, prasangka buruknya semakin mencuat.

Ehm, Dek.” Si Pria bersuara untuk yang pertama kalinya, dan daun telinga Tania sempat sedikit naik mendengarnya.

Tania tidak menjawab, ia hanya menundukkan pandangannya, sebisa mungkin ia memfokuskan seluruh perhatiannya pada hal lain—apapun, asal bukan kepada pria itu. Siapa yang tahu pria ini punya kemampuan hipnotis atau tidak.

Begitu ‘kan tindak-tanduk pencuri handphone di angkutan umum. Awalnya diam-diam adem, lalu cari kesempatan untuk melakukan kontak mata dengan si korban. Si korban tidak sadarkan diri terperangkap dalam jebakan hipnotisnya, merasa pusing seketika dan ingin sekali menelungkupkan kepala. Dan, hola! Begitu terbangun, ponsel si korban sudah raib—dan ia bahkan tidak menyadari sama sekali kalau benda itu sudah hilang. Setibanya di tempat tujuan dan butuh ponsel, barulah ia pontang-panting mencari benda tersebut.

Tidak, tidak. Hal semacam itu tidak boleh terjadi. Tania belum mau kehilangan laptop tuanya. Ia belum bekerja dan tidak akan punya uang untuk membeli yang baru. Kalau benda itu hilang, Tania tidak tahu harus mengisi hari-harinya dengan apa. Menonton, membaca cerita online, mendengarkan musik, browsing, semuanya hanya bisa ia lakukan bersama si laptop.

“Maaf, Dek. Kamu anak Statistik? Di laptopnya punya SAS tidak?”

Tania melirik pelan-pelan pria itu, mulai dengan menghujamkan pandangannya pada grafik-grafik milik si pria tadi. Paling tidak, sekarang ia mulai yakin kalau pria ini bukan orang jahat. Grafik-grafik tersebut sangat khas, output dari software pengolah data bernama SAS.

“Kenapa bisa nebak saya anak Statistik, Kak?” Tania mulai bersikap lunak, ia bertanya balik pada pria itu dan memilih menggunakan kata sapaan ‘Kak’ karena si pria tadi memanggilnya ‘Dek’. Yah, meskipun ia rasa pria itu yang salah memanggil. Seharusnya Tania adalah mahasiswa angkatan tertua yang masih berkeliaran di kampus.

“Saya pernah datang ke Seminar kamu, Oh ya, saya Andi, dua tahun di atas kamu,” pria itu tersenyum.

Tania merasa bersalah karena telah berpikir buruk tentang pria itu. Ia pun merasa malu karena tidak mengetahui kakak tingkatnya sendiri. Oh, masih wajar sebenarnya, kakak tadi memang tidak seharusnya masih ada di kampus pada waktu-waktu seperti ini. Harusnya ia sudah bekerja entah di perusahaan apa.

“Wah, maaf ya saya tidak kenal Kakak sebelumnya. Tapi Kakak sudah kenal nama saya, ‘kan?” Gadis itu terkekeh malu, ia mengusap-ngusap pipinya dengan gerakan menggaruk sesekali.

No problem, saya memang jarang keluyuran di kampus, apalagi sejak perkuliahan usai, saya kabur dan tidak mengurusi skripsi saya. Yah, beginilah ujungnya, saya kalah cepat dari kamu.”

Tania bingung harus membalas apa, topik bahasan mengenai skripsi dan kelulusan merupakan sesuatu yang sensitif. Tania sendiri termasuk anak yang ketinggalan beberapa bulan dari teman-temannya yang sekarang sudah hengkang entah kemana. Dan ia paling tidak suka kalau ada orang yang bertanya mengapa dirinya belum lulus juga. Jadi ia tidak akan menanyakan hal yang sama pada pria bernama Kak Andi itu.

Kak Andi bersuara lagi, “Eh, anu, Tan. Eh, nama kamu Tania bukan, ‘sih? Ini loh, saya boleh pinjam laptop kamu sebentar tidak? Saya butuh nge-running Macro SAS sebentar, tapi di laptop saya tidak bisa pakai SAS.”

“Oh, iya, boleh. Eh, atau mau saya kasih installer-nya saja, Kak? Barangkali besok-besok Kakak butuh lagi.”

Kak Andi menggeleng kuat, ia menunjuk laptop Tania dengan yakin. “Pinjam laptop kamu saja, SAS tidak kompatibel dengan laptop saya. Bukan pengguna Windows, sih. Saya pake sistem operasi berbasis Linux.”

Oh, pantas tampilan desktop-nya tidak familiar.

Tania sebenarnya merasa heran, di antara sekian ratus temannya yang berstatus sebagai mahasiswa, baru kali ini ia menemukan orang yang memilih menggunakan Linux. Pasalnya, Linux tidak begitu populer di kalangan pengguna awam.

Oahh, begitu. Memangnya kenapa tidak pakai Windows, Kak?” Jiwa ingin tahu Tania mencuat. Sepengetahuannya, banyak software populer yang tidak bisa dipasang di Linux, itulah alasannya kenapa dulu ia tidak jadi mencoba pasang Linux.

“Yaaa … saya merasa tidak berkah saja. Windows ‘kan aslinya berbayar, hanya saya orang-orang pakai yang bajakan. Bagaimanapun itu ‘kan hasil kerja keras orang lain, tidak selayaknya kita bajak. Indonesia terlalu hobi membajak, album musik dan film bioskop saja dibajak.”

Pffftt.” Tania berusaha menahan tawanya. Meskipun yang dikatakan Kak Andi sepenuhnya benar, tetap saja ia merasa lucu mendengarnya. Baru kali ini ia kenal orang seperti Kak Andi, yang seharusnya sudah dinobatkan sebagai duta anti-pembajakan.

Lha, kenapa tertawa? Saya benar, ‘kan?”

Tania menggeleng. Untung saja Kak Andi masih membubuhi senyuman di wajahnya, tidak terlihat tersinggung karena sikap Tania.

“Tidak apa-apa, Kak. Ah, Kakak keren! Iya sih, Kak. Siapapun tidak suka karya dan hasil kerja kerasnya dibajak. Ih, tapi … isi laptop saya semuanya bukan original. Windows-nya, Office-nya, Corel-nya, Photoshop-nya. Duh, Kakak bikin saya malu, deh.”

“Yaaaa … nanti kalau kamu sudah kerja dan punya gaji, beli yang asli.” Kak Andi terkekeh, dan buru-buru mengacungkan flashdisk-nya. “Data-nya sudah saya pindah ke sini. Boleh ikut pakai laptop kamu sebentar?”

Tamat

Oke, agak random. Otakku lagi engga bisa mikirin cerita lain. Kisah ini separuhnya fiktif, separuhnya nyata. Ada kakak kelasku yang memang berprinsip seperti Kak Andi, engga mau pake software bajakan. Salut!

Iklan

  1. Nice try for #1Minggu1Cerpen, Fla 🙂
    Aku juga nggak suka bajakan, sih, tapi ya mau gimana, kantong mahasiswa..haha. Salut deh buat kakak kelasnya Fla, bela-belain pake Linux untuk alasan itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s