Transaction

Transaction

Dulu, saat tingginya masih setinggi tubuh orang dewasa, Soora memiliki seorang teman yang selalu berhasil membuatnya mencibir orang itu setiap minggu.

Namanya Chen dan ia memang mengidolakan Jakie Chen.

Meja Chen nyaris tidak pernah bersih setiap hari Selasa–saat kelas menggambar. Serbuk bekas penghapus dan serutan pensil berserakan di atas maupun kolong meja pria itu.

Chen bukan seseorang pelukis yang mengerti cara memadukan warna hingga cukup nyaman dipandang. Ia bahkan tidak pernah mendapat nilai A dari guru keseniannya; ia sama sekali tidak bisa menggambar dan mewarnai dengan benar. Ia tidak dilahirkan dengan bakat seni.

Soora tidak pernah paham, mengapa orang yang sangat tidak berkemampuan seperti itu justru merupakan orang yang paling bersemangat pada kelas menggambar. Kalau yang lain hanya mengumpulkan satu gambar, teman prianya yang satu itu membuat dua atau tiga gambar yang sudah lengkap dengan warna (Yah, meskipun bu guru hanya bisa menyunggingkan senyum penuh arti ketika mengamati karya Chen tersebut).

***

Dulu, saat tingginya baru mencapai dada orang dewasa, Soora masih punya teman yang bernama Chen, tetapi kali ini pria itu sudah tidak lagi menyukai Jakie Chen-katanya ia lebih tertarik pada Harry Porter dan segala mantera-mantera ajaibnya.

Chen tidak lagi antusias setiap kali kelas kesenian menghampiri harinya. Pasalnya, kali ini sang guru menyuruh para murid untuk menggambar teknik plus tetek-bengek jenis perspektifnya. Chen bukan hanya tidak bisa menggambarnya, ia bahkan tidak lagi ikhlas menekuni arsiran pensil dan pulpen berujung 0.1 mm-nya. Chen tampak lesu setiap kali sang guru sudah berceloteh mengenai trik membentuk sudut sekian derajat dengan akurasi tinggi.

Chen yang ini selalu berbinar setiap kali festival seni setengah tahunan diadakan. Ia akan menjadi orang nomor satu yang maju ke depan kelas untuk mengajak seluruh penghuninya merembukkan persembahan apa yang akan ditampilkan oleh kelas mereka pada malam acara puncak. Dan ia akan menjadi orang pertama yang tidak akan menolak diberi peran apapun, tugas apapun, atau memakai kostum apapun. Chen pernah terlibat dalam klub paduan suara, pernah main pantomim, bahkan pernah menjadi pohon bisu saja.

Chen yang tengah beranjak dewasa memiliki ketertarikan yang berbeda dengan Chen yang ada di bangku sekolah dasar. Meski tetap saja ia punya karakter dasar: Chen yang ini tidak pernah merawat kostum atau properti pentasnya dengan benar. Setiap habis tampil, ia tidak akan lagi peduli di mana benda-benda itu tergeletak.

Namun, kali ini Soora tidak bisa mencibirnya lagi, karena nyatanya Chen yang ini tidak lagi senaas Chen yang ada di kelas menggambar. Chen yang ini bersinar, sampai-sampai penjaga sekolah pun tahu siapa nama asli Chen.

***

Dulu, saat tinggi badannya sudah seleher tubuh orang dewasa, Soora tetap berteman dengan seorang Chen.

Chen yang ini duduk di sebelahnya, di bangku paling belakang dan dekat jendela-tempat terbaik untuk mengukir mimpi di dalam buaian tidur. Namun anehnya, Chen bahkan tidak pernah tertidur sekalipun. Justru Soora yang sering mencuri-curi kesempatan untuk memejamkan mata, misalnya pada saat guru Matematika di depan sana sedang berkonsentrasi penuh menuliskan rumus-rumus integral.

Chen tidak lagi suka tampil di depan dan berteriak-teriak demi menyatukan pikiran seisi kelas. Chen bahkan tidak lagi peduli dengan pentas seni tahunan yang diselenggarakan oleh organisasi kesiswaan. Ia akan menjadi orang pertama yang menghilang saat ada panitia yang meminta anak-anak kelas untuk menyumbangkan suara perihal bintang tamu mana yang akan dihadirkan dalam acara tersebut. Apatis adalah nama belakang Chen untuk urusan yang seperti ini.

Dia adalah Chen yang kerasukan malaikat–begitulah yang dipikir Soora saat berada di dekat Chen selama tiga tahun. Soora tidak akan pernah menyangka, bahwa Chen kecil yang dulu tampak bodoh di matanya, kini berubah total menjadi Chen si brilian yang sanggup memecahkan soal Kinetika serumit apapun. Chen akan menjadi orang pertama yang mengumpulkan berkas ujian dan melenggang tenang keluar dari ruang panas. Chen pula yang tersenyum lebar pertama kali ketika guru membagikan rapor.

Namun, sesempurna apapun sosok Chen yang ini, pria itu tetap memiliki satu kekurangan: ia sering lupa menaruh atau kehilangan bolpoin. Dan Soora selalu menjadi orang pertama yang menawarkan pinjaman. Gadis itu langsung sigap begitu melihat gelagat Chen yang sedang meraba-raba kantong jas sekolah ataupun merogoh-rogoh bagian terluar tas ransel hitamnya.

Soora selalu tersenyum simpul saat menyerahkan bolpoin miliknya pada Chen. Ah, Chen yang sedang dalam kondisi seperti itu menjelaskan satu hal; ia masih sosok Chen yang itu-itu saja, dari dulu.

***

Saat tinggi badan Soora sudah sekuping orang dewasa, ia masih tidak keberatan memiliki teman bernama Chen. Kali ini status Chen bukanlah sebagai teman sekelas Soora, melainkan sebagai tetangga kontrakan saat keduanya menimba ilmu di Yonsei University.

Chen yang ini tidak seberantakan Chen yang dulu. Meskipun ia tetap bukan tipikal pria yang selalu membubuhkan gel pada rambutnya dan jarang menata rambutnya apalagi mengatur belahan rambutnya dengan benar, tetapi setidaknya kini ia memiliki tujuan hidup yang jelas dan Soora cukup mengagumi Chen karenanya.

Chen selalu berangkat saat pagi belum benar-benar menyambut dan pulang setelah sinar matahari tidak lagi menyinari Bumi bagian Korea Selatan. Chen bahkan lebih rajin daripada semut pekerja. Chen seolah mobil yang tidak pernah kehabisan bahan bakarnya. Chen begitu enerjik, pekerja keras, dan jarang sakit.

Chen yang ini selalu menjadi bahan observasi yang menarik bagi Soora. Gadis itu selalu sengaja menghentikan gerakan peregangan ototnya di teras depan begitu ia mendengar suara bel sepeda dari rumah sebelah. Ya, waktunya untuk melambaikan tangan dan berteriak bak idiot, “Chen, ayo semangat kuliah dan kejar setorannya. Awas, jangan sampai punya hobi mengejar mahasiswi ber-rok mini yang singgah di restoran tempat kerjamu, ya! Dia pasti orang miskin karena tidak mampu beli kain untuk memanjangkan bagian bawah pakaiannya. Tidak cocok denganmu yang bercita-cita menjadi orang kaya!”

Dan Chen akan melakukan tiga gerakan yang nyaris selalu sama (terkecuali isi perkataannya); menghentikan sepedanya; memamerkan senyuman semanis gulanya; membalas riang, “Makanya kau jadi wanita berselimutkan lembaran dolar, biar nanti aku nikahi dan kita menjadi pasangan yang kaya-raya! Oh, ya, nanti malam aku berkunjung. Kau tahu? Kue berasmu itu candu!”

Ya, Chen begitu gemar melahap kue beras buatan Soora-meskipun Soora sendiri merasa kuenya itu tidak memiliki rasa yang spesial jika dibandingkan dengan buatan penjaja aslinya. Kalau diizinkan, Soora berharap bukan kue berasnya yang menjadi alasan kunjungan Chen. Semoga Chen memang menyukai senyuman tuan rumah sekaligus si pembuat kuenya saja.

***

Suatu hari setelah keduanya sama-sama bergelar sarjana dan mendapat pekerjaannya masing-masing, Chen menunjukkan rumah mungilnya pada Soora. Hanya berisikan satu kamar besar dan satu kamar yang lebih kecil. Tidak ada ruang khusus televisi, hanya ada dapur minimalis beserta meja bar-nya, dan sebuah kamar mandi tak seberapa luas. Rumahnya tidak besar, tetapi Soora harus mengakui bahwa bangunan tersebut sangat nyaman untuk dihuni, desain interiornya tidak murahan-bergaya ala apartemen; furniture-funiture minimalis dan multifungsi, pembatasnya tidak melulu tembok massive, dan karena Soora datang menjelang matahari tenggelam, Soora bisa melihat warna jingga di langit sana. Indah. Chen ternyata masih punya selera seni.

“Chen, dari mana kau menemukan tempat bagus seperti ini?” Tangan Soora baru saja meletakkan sebuah vas keramik dari rak pajangnya. Gadis itu menyadari bahwa benda seperti itu bukanlah kesukaan Chen. “Dan lagi, sejak kapan kau mempunyai pajangan kecil-kecil seperti ini?” imbuhnya.

Chen meletakkan koper yang sedang diangkutnya menaiki undakan, “Ahh, rumah ini kepunyaan temanku. Ia meninggalkan Korea demi berpetualang mencari koki-koki terbaik di negara lain untuk djadikan gurunya. Singkatnya, ia sedang berjuang menimba ilmu dan tidak ingin menjual rumahnya karena takut suatu saat kembali ke Korea. Ia menyewakannya padaku dengan harga yang murah, tapi dengan satu syarat, aku harus bahagia tinggal di rumahnya. Ia berasumsi, kalau penghuninya senang, maka rumahnya pun tidak akan terlantar.”

Heol. Syarat yang aneh, tapi masuk akal juga. Eumm, tapi Chen,” Soora terlihat menahan tawanya.

“Kenapa? Kau tidak yakin aku akan bahagia? Hei, aku selalu bahagia dengan caraku sendiri.”

“Bukan itu,” Soora meletakkan sikunya di pundak Chen yang ada di sebelahnya, kemudian ia menaikkan kepalanya sedikit, memasang tampang seperti orang yang sedang berpikir keras, “Aku yakin kau bisa bahagia tinggal di sini, tapi aku tidak yakin kau bisa mengurus rumah ini, pffffft.”

Chen terkekeh, ia mengakui kebenaran ucapan Soora. Ia memang sudah memikirkannya jauh sebelum Soora mengatakannya. Tapi tenang saja, bukan Chen namanya kalau ia tidak punya rencana.

Chen menyingkirkan tangan Soora dari pundaknya, ia memutar tubuh gadis itu menghadapnya. Sekarang giliran Chen yang menatap lekat Soora dan kemudian ia terbahak setelah beberapa lama memandangi sosok gadis itu. “Mian, mian. Aku tidak sedang menertawakanmu, aku menertawakan rencana bodohku sendiri. Kau mau tahu tidak?”

“K-kapan memangnya rencanamu tidak bodoh? Eumm, dan sepertinya malaikat di sisi kananku mengatakan agar ‘aku tidak tahu’ saja.” Soora sedikit grogi. Meskipun ia sudah sering berada di dekat Chen selama menimba ilmu di senior high school, ia tidak pernah ditatap Chen seintens barusan.

“Sayangnya, kali ini kau harus terlibat dalam rencana bodohku, jadi kau terpaksa harus tahu.” Chen mendudukkan di bar stool, ditepuknya pelan dua sisi pundak Soora. Chen sendiri agak membungkuk agar wajahnya berada pada garis horizontal yang sama dengan wajah Soora.

“Soora-ya, daripada kau harus menyewa mahal sebuah tempat tinggal, angkutlah barang-barangmu kemari. Rumah ini butuh seorang perawat dan aku butuh seorang koki yang bisa memasak rutin untukku. Kau tahu, ‘kan? Aku bisa bahagia hanya karena makanan enak.”

Soora mengerjapkan matanya tak percaya. Apa Chen baru saja memintanya untuk tinggal seatap? Apa itu berarti pria itu sedang mengajaknya untuk hidup bersama? Begitukah? Oh, tinggal bersama dan menikah dengan Chen memang sempat masuk dalam daftar impian Soora.

Namun, Soora ragu bahwa Chen sedang mengajaknya. Diperjelas, Chen hanya mengajaknya tinggal bersama, bukan menikah. Chen pasti sudah tertular gaya hidup orang barat setelah beberapa bulan kerja di perusahaan milik orang Inggris, begitulah pikir gadis itu. Soora–sebagai orang Korea yang masih kental dengan karakter ‘taat norma’–merasa bimbang. Ia tidak yakin bahwa tingga seatap dengan Chen adalah sesuatu yang lazim di negaranya. Tapi, ia lebih tidak yakin lagi bahwa dirinya bisa menolak ajakan Chen.

Eummm, kau egois, Chen. Kau hanya memikirkan kebahagiaanmu. Kau tidak memikirkan apa kata orang kalau kita tinggal seatap, kau tidak pernah memikirkan bahwa merawat rumah itu cukup melelahkan jika aku harus mengerjakannya setelah aktivitas kantor usai, dan lagi, apa kau pernah berpikir tentang kebahagiaanku jika menerima ajakanmu itu?”

Chen mengangguk mantap, “Kau akan bahagia, karena kau tinggal bersamaku. Bukankah begitu, hmm?”

Kalau sudah begini, Soora enggan menjawab. Pernyataan Chen tadi mutlak kebenarannya. Wanita mana yang tidak bahagia hidup di dekat orang yang dicintainya? Soora hanya perlu menunggu Chen untuk mengajaknya menikah, itupun kalau benar Chen memiliki perasaan yang serupa dengan apa yang bersemayam di hati Soora.

***

Saat tingginya sudah tidak bisa lagi melebihi tinggi orang dewasa, Soora masih menunggu seorang temannya yang bernama Chen.

Chen sudah mulai menata rambutnya dengan benar, bahkan kini ia membubuhkan krim pelindung untuk wajahnya juga. Chen bukan lagi bocah kecil yang tidak memiliki kemampuan, Chen bukan lagi orang yang tertarik pada dunia seni, Chen bukan lagi orang yang memiliki kecanduan belajar akut.

Chen yang ini adalah orang yang terlihat sangat tampan ketika pria itu sedang menatap layar komputer dengan serius.

Soora menyukai pemandangan tersebut setiap malam, sekitar jam 1 atau 2. Chen yang berwajah serius, Chen yang sedang mengamati output-output analisis data yang tidak Soora pahami, dan Chen yang menopangkan dagu di atas punggung tangan. Soora amat menikmatinya.

Soora memang tidak pernah tahu mengapa pria itu begitu bersusah payah bangun tengah malam, dan pada suatu kesempatan Soora menanyakan alasan atas rutinitas tak lazim ala Chen itu, “Chen, kenapa kau selalu lembur tengah malam? Aku yakin pegawai yang posisinya lebih rendah darimu bahkan tengah bermimpi pulas pada waktu-waktu seperti ini. Santai sedikit, Chen.”

Chen hanya tersenyum, ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Soora, “Kau belum ingin melanjutkan tidur, ‘kan? Bagaimana kalau setengah jam lagi kita bertemu di dapur? Aku rindu pancake-mu.”

“Ide bagus. Aku tidak keberatan, asalkan besok malam kau jemput aku. Dengan begitu, transaksi kita deal.”

***

Soora masih jatuh cinta pada Chen yang ini. Iya, Chen yang baru saja menjemputnya, Chen yang baru saja membuka jendela mobilnya, dan melemparkan senyum pada Soora.

Mengenal Chen sejak kanak-kanak cukup membuat Soora yakin bahwa dirinya tidak akan mencintai sosok yang salah. Tinggal seatap dengan Chen membuat kekagumannya pada Chen bertambah. Setiap pagi Soora selalu merasa bahagia bisa melihat tampang Chen yang baru bangun tidur-pemandangan yang tidak akan bisa disaksikan oleh wanita-wanita penggemar Chen yang lain. Orang lain tidak akan pernah tahu bahwa seorang Chen memiliki kebiasaan aneh sebelum tidur-Chen harus mengelus-elus cuping telinganya dulu sebelum tidur, jika tidak, matanya tidak akan bisa terpejam.

Soora begitu bahagia hidup bersama Chen, sama bahagianya seperti sekarang.

“Kau memang supir taksi paling setia, Chen.”

Yeah, kau harus membayar ongkosnya. Masuklah.”

.

.

.

“Soora-ya, aku lapar. Bagaimana kalau kita cari restoran sebentar?” Chen bertanya begitu Soora sudah duduk rapi di jok sebelahnya.

Soora menoleh, menghentikan kegiatan membenahi poni rambutnya, “Tidak masalah. Tapi, ini sedikit tidak biasa. Seperti bukan kau.”

Soora tidak yakin dirinya ingin menuruti permintaan Chen. Hatinya mengatakan ‘jangan’, tetapi sisi rasionalnya masih bimbang-antara berkata ‘tidak ada apa-apa’ atau ‘Chen sedang aneh’.

Sejak kanak-kanak sampai bocah, seorang Chen tidak begitu suka mampir ke restoran, kecuali jika dirinya harus bertemu dengan klien. Terlebih, setiap malam selama empat tahun belakangan, pria itu selalu meminta Soora memasak untuknya. Lalu pria itu akan makan dengan lahap, tak peduli seberapa lelahnya ia, seberapa kenyangnya ia; Chen terlihat seperti orang yang tergila-gila pada masakan partner hidupnya itu.

“Chen, jangan bilang siang tadi kau tidak memakan bekal yang kubuatkan dan sekarang kau super kelaparan sehingga tidak ingin menunggu lama sampai masakanku jadi. Begitu?”

“Bukan, bukan. Nanti kau akan tahu. Aku punya kejutan untukmu. Ini tentang ‘future‘ yang pernah kita bahas–entah beberapa tahun silam.”

***

Future? Ah, ya. Soora ingat dirinya pernah menanyakan pada Chen tentang impian pria itu ke depannya. Chen pernah bilang, dirinya ingin hidup bersama seseorang yang pandai memasak, seseorang yang bisa membuat lelahnya hilang seketika, dan seseorang yang bisa membuatnya termotivasi untuk menjadi manusia yang lebih baik. Hanya saja, Chen tidak pernah mengatakan lebih banyak lagi seperti kapan ia berencana menikah; konsep hidup seperti apa yang ingin diterapkan di dalam rumah tangganya; ingin punya berapa anak; serta di mana ia mencanangkan akan membangun istananya.

Soora tidak begitu ingin tahu, ia tidak ingin memaksa Chen bercerita. Hanya saja, Soora berharap ia masih ada di dalam impian masa depan Chen. Ia ingin terus mengenal nama Chen dalam hidupnya.

“Chen, ada setan apa kau memilih tempat romantis seperti ini?” Soora masih menuntut penjelasan pada Chen yang tidak berhenti tersenyum.

“Bukan masalah romantisnya. Masakan di sini sangat enak. Aku ingin kau mencobanya juga, kau harus belajar untuk membuat yang seperti ini.”

Eoh? Begitukah?” Soora berusaha tidak menyetujui pendapat Chen. Ia tidak suka. Chen seolah mengatakan ada makanan yang lebih enak daripada buatan Soora.

Namun, ternyata Chen benar. Dari tiga jenis makanan yang dipesan Chen, semuanya pas di lidah. Daging sapi yang dimasak dengan baik, bahkan camilannya-pancake-jauh lebih enak daripada buatan Soora. Wanita itu terpaksa mengangguk setelah mencoba semuanya, ia tidak bisa mencegah senyum Chen terkembang.

“Bagus kalau kau suka juga. Besok-besok, entah berapa hari sejak hari ini, kau akan sering merasakan pancake bercita rasa seperti ini.” Chen nyengir lebar.

“Eh?” Soora menghentikan suapannya. Kalimat Chen barusan? Soora tahu betul bahwa seorang Chen tidak suka memasak dan kegiatan itu merupakan satu-satunya hal yang tidak ingin Chen pelajari. Chen tidak mungkin membuatnya sendiri.

“Soora-ya, besok-besok kau bebas.”

Tidak, Soora tidak ingin mendengar kelanjutan penjelasan Chen. Ia tahu benar makna kata ‘bebas’ itu. Bebas berarti Soora tidak perlu lagi menyiapkan masakan untuk Chen, bebas berarti tidak perlu lagi membereskan rumah setiap dua hari sekali, bebas berarti tidak perlu lagi memangkas rumput liar di halaman mini di depan rumah satu bulan sekali, bebas berarti tidak perlu lagi merapikan koleksi buku di rak setiap akhir pekan. Namun, bebas juga berarti tidak ada lagi pemandangan yang sangat Soora sukai, tidak ada lagi senyum Chen setiap kali pria itu datang ke rumah usai kerja. Bebas juga berarti tidak ada lagi dunia Chen dalam hidup Soora.

“Kau bebas, Soora-ya.” Chen mengulangi kalimatnya. Pria itu merasa Soora tidak mengindahkan ucapan pertamanya tadi.

“Aku bukan tawanan, Chen. Kau bukan petugas pengadilan yang berhak memutuskan kebebasanku.” Soora mengetukkan garpunya ke tepian piring pancake, kegiatan makannya tidak ia lanjutkan, ia tidak lagi berminat menikmati pancake yang mungkin dibuat oleh orang yang berada di balik sikap aneh Chen malam ini. Pembuat pancake ini bisa jadi merupakan orang yang akan berada di masa depan Chen.

“Chen, malam ini kau pasti sedang mabuk.” Soora tahu yang diucapkannya adalah sebuah kebodohan. Tidak ada rona merah di wajah Chen, mata pria itu juga tidak tampak teler; Chen masih segar bugar dan sama sekali tidak mabuk. Ah, Soora benci mengakui ini, Chen sedang dimabuk cinta.

“Soora-ya. Dulu kau pernah bertanya kenapa kebiasaanku berubah-ubah setiap pergantian jenjang pendidikan. Dan dulu aku menjawab, hanya karena bosan. Sesungguhnya bukan. Aku hanya berpikir-“

“Jangan lanjutkan, Chen. Biarkan aku dulu yang berkisah.”

Chen mengedipkan mata sekali sebagai isyarat setuju. Raut wajah Soora menunjukkan bahwa gadis itu akan mengatakan hal yang berbau keseriusan, Chen memilih mengalah.

“Waktu di sekolah dasar, aku selalu mencemoohmu yang suka heboh sendiri di kelas menggambar, padahal kau sama sekali tidak bisa melakukannya dengan benar. Berikutnya, aku terheran-eran mengapa ada orang yang begitu bersemangat mengurusi pentas seni, sementara orang itu sama sekali tidak memiliki obsesi untuk menjadi tokoh utama di atas panggung. Lalu saat menghabiskan hari di senior high school, aku pada awalnya dibuat terheran-heran, mengapa orang yang tadinya berisik, tiba-tiba berubah menjadi seorang jenius yang tidak banyak cakap. Aku yakin seorang Chen tidak memiliki kepribadian ganda.”

“Saat kuliah aku baru menemukan jawabannya. Melihat kau yang rela bersusah payah bekerja sambil kuliah, aku tahu bahwa kau hanyalah tipikal orang yang ingin berusaha sekuat tenaga. Kau melakukan hal yang kau butuhkan dengan sangat baik. Kau gencar mengumpulkan lebih dari satu gambar karena kau sedang berusaha untuk bisa menggambar, kau sedang memacu dirimu untuk tidak menyerah, kau tidak ingin kalah.”

Chen memotong, “Minumlah dulu, kau terlalu menggebu bercerita,” titahnya pada Soora yang nampak sedang mengambil oksigen sebanyak mungkin. Tangannya mendekatkan sebuah gelas berisi air putih ke dekat tangan Soora.

“Kau benar. Aku melakukan semua itu karena kebutuhan. Waktu kecil, aku terus berusaha menggambar karena dulu aku bercita-cita menjadi arsitek, seperti mendiang ayahku. Tetapi kemudian aku sadar bahwa aku sama sekali tidak berbakat, dan aku menjadi tidak percaya diri karenanya. Jadi aku berusaha meningkatkan rasa percaya diriku dengan terus berbicara di depan kelas setiap kali ada kesempatan. Aku berusaha untuk tampil di depan siapa pun, bukan karena ingin cari muka, aku hanya ingin melatih diriku.”

“Jadi kau pernah merasa tidak percaya diri?” Soora menelan air di dalam mulutnya pelan-pelan agar tidak tersedak. Ia tidak percaya kalau seorang Chen yang selalu berwajah tenang dan berpenampilan menarik secara fisik, ternyata pernah menjadi orang yang merasa minder. Ah, ternyata ia belum mengenal Chen sepenuhnya. Tidak ada jaminan bahwa dua orang yang bertemu nyaris setiap hari dapat mengenal satu sama lain luar-dalam.

“Ya, begitulah. Lalu saat aku menjadi siswa senior high school, aku mulai memacu diriku untuk menjadi siswa cerdas. Karena orang tidak berbakat sepertiku perlu usaha lebih untuk unggul. Aku belajar setiap malam hingga pukul 1, lalu bangun pagi-pagi untuk membantu ibuku menyiapkan toko. Sambil menata letak barang-barang, aku terus berkomat-kamit menghafal karakteristik bakteri dan virus. Sepanjang jalan aku terus menenggelamkan diriku dalam keheningan, aku sedang membayangkan bagaimana rangkaian peristiwa perang dunia maupun peristiwa bersejarah negara Korea. Sementara untuk Fisika dan Matematika, aku tidak banyak mengeluarkan usaha. Ternyata, di sanalah bakatku. Aku berbakat dalam angka.”

“Aku tahu yang satu itu, Chen,” Soora tersenyum pahit.

“Intinya, aku memang melakukan semuanya karena butuh.” Chen menekankan. Ia tidak berani meneruskan kalimatnya, ia ingin Soora mencerna kalimat terakhirnya tadi dulu. Biar gadis itu yang menyimpulkan sendiri.

“Ya, aku menyadarinya sekarang. Prinsipmu itu tetap kau pakai saat memintaku tinggal bersamaku. Bukan begitu, Chen?”

“Maaf.”

“Tidak perlu minta maaf. Aku juga sama sepertimu. Aku mempertimbangkan untuk menerima ajakanmu karena aku tidak suka hidup sendiri di rumahku, orang tuaku terlalu sering traveling demi bisnis. Aku memutuskan untuk menerimanya karena orang yang mengajakku adalah kau. Aku … membutuhkanmu, jauh lebih butuh ketimbang kau yang menginginkan keberadaanku untuk membantumu.”

Chen melepas dasinya karena benda itu terasa mencekik lehernya. Detik ini ia baru menyadari bahwa dirinya baru saja membuat suatu kesalahan. Ah, sepertinya sejak dulu ia memang telah memupuk kesalahannya itu. Bertahun-tahun sepanjang ia mengenal bahkan hidup bersama Soora, ia selalu merasa yakin bahwa di dunia ini dirinyalah yang paling mengenali Soora. Tapi ternyata ada sesuatu yang luput.

Ia hanya tahu bahwa seorang Soora pandai memasak, pandai merapikan rumah, pandai mengatur keuangan, dan pandai menunjukkan senyum yang membuat Chen ikut tersenyum. Namun, Chen tidak pernah menyadari apa yang ada di balik senyum itu. Ia pikir, senyum Soora itu adalah senyum yang memang sudah manis bawaan lahir. Bukan senyum penuh cinta.

“Sekali lagi, maaf.”

“Manusia saling berinteraksi karena butuh, aku sadar itu, Chen. Aku membuatkanmu pancake dan kau menjemputku, semuanya transaksi yang saling menguntungkan.”

“Terima kasih, kau memang sangat memahamiku. Dan sekarang aku…” Chen menggigitu bibir bagian bawahnya. Ia khawatir kelanjutan perkataannya akan melukai Soora, meskipun ia yakin seorang Jung Soora tidak akan pernah menangis-sesedih apapun kondisinya. Justru sekarang mata Chen yang terasa memanas. Rasa bersalah begitu menguasainya.

Niatnya malam ini sepertinya tidak akan terlaksana. Ia tidak mungkin memperkenalkan tamu undangannya yang sudah menunggu di suatu tempat, karena faktanya ia salah memprediksikan isi hati Soora. Awalnya ia pikir Soora akan memberinya selamat dan bernapas lega karena tidak lagi harus dibebani tugas merawat rumah. Ia lupa mempertimbangkan bahwa Soora adalah anak orang kaya. Gadis itu bisa saja membayar seorang pembantu untuk mengurus rumah. Tapi Soora ingin melakukannya sendiri, karena ia suka melakukannya, dan karena ia melakukannya untuk seorang Chen.

“Dan sekarang kau akan segera memintaku untuk memahamimu lagi, ‘kan? Sekarang apa yang sedang kau butuhkan, Chen?” Soora berhasil menguasai dirinya. Ia tahu Chen adalah orang yang gigih memperjuangkan kebutuhannya, tidak ada yang bisa menghalangi rencananya kecuali Tuhan. “Usiamu sudah mendekati kepala tiga. Kau butuh memiliki seorang istri, dan kau sedang memintaku untuk pindah rumah karena cepat atau lambat kau akan membawa wanita lain ke rumahmu itu, ‘kan?”

“Itu bukan rumahku. Aku hanya menyewanya. Pemiliknya sudah datang. Pemiliknya adalah seniorku sewaktu aku bekerja semasa kuliah. Pemiliknya adalah orang yang bersedia menuntunku dulu sewaktu aku kuliah dan membutuhkan banyak biaya untuk hidupku. Dan sekarang sudah waktunya aku yang menjadi penuntunnya. Cinta selalu berbicara tentang ‘saling’, bukan?”

“Kau sungguhan mencintainya, Chen?” Soora berharap Chen menjawab ‘tidak’. Soora lebih suka Chen berdalih bahwa ia melakukan semua itu karena butuh; Chen butuh membalas jasa orang yang pernah menolongnya.

“Aku butuh hidup bersama orang yang kucintai.”

“Baiklah. Mau tidak mau aku harus menerima fakta bahwa kau sudah tidak lagi membutuhkanku. Tidak apa-apa, aku tidak marah. Hidup memang penuh transaksi dan persetujuan tidak abadi. Jadi, kapan aku harus hengkang dari rumah itu, Chen?” Soora berusaha melawan perasaan tak menentu di hatinya, dan ia berhasil melakukannya. Ia tetap duduk dengan punggung tegak dan wajah tanpa keringat ataupun air mata.

“Kau tidak menangis, Soora-ya? Menangislah, aku tidak keberatan meminjamkan pundakku selama aku belum resmi menikahi seorang gadis.”

Chen berharap Jung Soora menangis saja detik ini. Bukankah apa yang terjadi malam ini seharusnya sangat menghancurkan batin Soora? Harusnya gadis itu berlinang air mata. Chen baru lega kalau Soora sudah melakukannya; Chen tidak ingin Soora menahan pedihnya dan baru akan roboh setelah jauh dari pandangan Chen; Chen tidak ingin Jung Soora tetap teguh memasang wajah tegarnya.

Ckck, aku juga baru tahu ternyata kau telah berubah menjadi orang yang sangat percaya diri. Aku tidak akan pernah mengotori pundakmu dengan air mataku. Aku tidak akan menangis, Chen. Kau seharusnya tahu itu. Tidak akan ada yang berubah hanya karena aku menangis. Kalaupun ada, aku tidak menginginkan perubahan yang berlandaskan iba.”

“Aku percaya karena kau yang mengatakannya. Kau tahu? Itulah alasanku mengajakmu tinggal bersamaku. Kalau aku butuh orang yang bisa membersihkan rumah, aku hanya perlu menyisihkan gajiku untuk membayar seorang pembantu. Tetapi, aku butuh lebih dari itu. Aku butuh seseorang yang bisa menguatkanku sepanjang perjalananku meraih kehidupan yang lebih baik. Aku butuh kau yang tidak pernah menangis meski ditampar oleh seorang teman, kau yang tidak menangis ketika lututmu sobek karena terjatuh dari motor, dan kau yang tidak menangis di saat sakit sekalipun.”

“Kau harus membayar royalti untuk itu, Chen. Kau menggunakan jasaku untuk menopang karirmu. Rekeningku tidak keberatan menampungnya, Chen. Tapi lain ceritanya kalau kau butuh menggunakannya untuk biaya pernikahanmu, kuikhlaskan saja. Aku cukup dermawan.”

“Terima kasih.”

“Sama-sama. Aku juga berterima kasih padamu untuk sekian tahun kebersamaan kita. Pernah mencintaimu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri sepanjang hidupku. Kalau ternyata kau tidak memilikinya juga, berarti kita bukan jodoh dan aku perlu segera berusaha untuk membingkai kenangan manis kita di album persahabatan kita.”

“…”

Chen diam. Mati kata, terharu, dan lega. Ia suka, selalu suka Jung Soora yang kuat seperti ini.

“Baiklah, aku tidak ingin mengganggu kencanmu malam ini, aku juga sama sekali tidak ingin bertemu dengan salah satu koki restoran ini. Kalau orang itu cantik, bisa-bisa aku tertarik melakukan operasi plastik agar aku menjadi yang tercantik. Selamat malam, Chen. Malam ini aku tidak akan membuatkan masakan untukmu.”

Fin

Iklan

  1. Waah..kok ngenes gini, sih? Life is Transaction, kalau dipikir-pikir benar juga, ya?
    Aku suka narasinya Fla di sini. Jadi pengen belajar lagi 🙂 Habisnya aku suka mati kata dan nggak sabaran, sih.

  2. Iya, kan narasiku suka ada kalimat tanya gitu. Kayak ‘Bukankah seharusnya ia begini? Lalu mengapa ia seperti itu?’ Semacam itu deh, Fla. Bukannya pengen menghilangkan ciri khas itu sih, pengen belajar narasi yang lebih objektif aja, seperti pengamat yang menceritakan apa yang dilihatnya, gitu. Nggak melulu ‘menyelami’ perasaan tokoh utama, hehe

  3. Ping balik: Personal Favorite List | The Moving Diary

  4. halo, fla? aduh mulai darimana ini komennya hehehe..
    pertama, maafkeun kalo ada notifikasi pingback dari blogku. aku emang ngelink back fanfic ini buat muncul di postingan rekomendasi di blogku. aku nemu pertama fanfic ini di saladbowl, terus aku suka (banget!) dan aku masukin postingan rekomendasi. tapi daripada yang di saladbowl, aku lebih suka kalo ngelink di blog pribadi penulisnya, jadilah aku di sini.

    maaf banget kalo aku ga minta ijin kamu dulu ya hehe. karena aku juga belum ninggalin komen di sini dan di sana, maksudku biar aku masukin dulu, nah ini bayar utang komen sambil minta ijin. i hope you dont mind sik, hehe.

    apa ya, asli aku baca cerita ini gondok abis. aku pikir di awal ini bakal tipikal love story biasa, aku udah jatuh cinta sama karakter jongdae yang berubah ubah gitu, dan kekonsistenan si cewek buat tetep jatuh cinta. tapi di ending berasa blaar, hancur sudah harapanku huhuhu. tapi keren sih, plot twistnya nggak ketebak dan bikin ini malah nggak pasaran.

    cerita kamu dewasa, pola pikir para tokohnya nunjukin kalo emang mereka udah matang. dan aku suka sekali sih. karakter keduanya juga super banget. basically mau komentar banyak juga bingung, lah bagus gini apa yang mau dikomentarin, hahahaha.

    last, salam kenal fla. tulisan kamu bagus, keep writing. :))

    • Hai, Put… Salam kenal juga… Aduh maaf ya berbulan2 aku baru buka blog lagi… Aku juga bingung mau bales apaan, heheh
      Thanks berat untuk supportnya, aku sedang berusaha memacu diri untuk menulis lg…

  5. Halo Kak! Kenalin aku Helmy 98L nemu fanfic ini dari fav listnya Kak Putri XD

    Aku suka banget sama tulisan kakak. Asik dan enak dibaca tapi endinya.huhuhu kasian Soora padahal aku kira Chen bakal ngelamar dia pas ngajak tinggal bareng itu tapi kok malah gini 😦

    Angstnya jleb banget, Kak. Love it ❤

  6. Ping balik: Recommendation: Letter T | tmd


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s