The Mentor’s Student

The-Mentor's-Student

A.N:

Cerita ini terinspirasi setelah membaca satu quote dari Lyod Blankenship, atau yang lebih dikenal dengan julukan The Mentor.

***

Ya, aku adalah penjahat. Kejahatanku adalah keingintahuanku.

(The Mentor, 1986)

***

Wanita itu tidak pernah lupa membentuk ujung runcing di sudut matanya dengan eyeliner, menjadikan sorot matanya yang tajam itu terlihat lebih menakutkan. Lipstick ungu gelapnya mempertegas setiap kata yang keluar dari bibirnya. Ah, membumbui lebih tepatnya, menambahkan sensasi pedas terhadap isi kalimatnya.

Orang-orang memanggilnya Shin Eunji.

Satu gedung mengenalnya, bahkan orang-orang sudah bisa mengetahui keeksistensian wanita itu hanya dengan mendengar suara hak sepatunya ketika membentur marmer. Daun telinga mereka otomatis berdenyut— tegak mendadak—ketika mendengar wanita itu menyapa salah satu dari mereka. Oh, tentu itu bukan sapaan ramah sesama rekan kerja. Shin Eunji lebih sering memanggil sebuah nama karena ingin menegur orang tersebut.

Shin Eunji selalu berjalan tegap dan sedikit mendongak meskipun ia baru saja keluar dari gedung kantornya setelah lembur ataupun rapat penting. Benar-benar mengeluarkan aura intimidasi bagi orang-orang di sekitarnya. Meskipun tidak seorang pun merasa kalau Shin Eunji itu manusia, mereka tetap menaruh hormat terhadapnya. Otak wanita itu adalah kuncinya—menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.

Dua tahun yang lalu wanita itu adalah penyelamat. Ia masuk setelah direktur sebelumnya—sang ayah mulai sakit-sakitan. Secara jabatan, karir Shin Eunji tidak langsung di puncak, tetapi wanita itulah yang  menggagaskan perombakan besar-besaran di dalam perusahaan. Ia adalah seorang aktuaris yang juga pandai dalam hal manajerial. Ia membenahi segalanya, mulai dari merancang sebuah model matematika yang dapat mengsegmentasikan nasabah dan  memprediksi keuntungan, hingga memecat orang-orang yang tidak produktif dan menggantinya dengan SDM yang kompeten.

Shin Eunji tahu semua urusan yang ada di dalam perusahaannya, termasuk kinerja masing-masing karyawannya. Tidak heran jika ayahnya menyerahkan kursi direktur pada gadis itu. Shin Eunji cerdas, tegas, bermata elang, pandai menerka karakter orang, dan memiliki visi misi yang jelas.

***

Kai menyampirkan satu tali ranselnya ke pundak. Pria itu baru saja memasuki lobi sebuah gedung besar berlantai 34. Ia sedikit merasa senang karena akhirnya ada sebuah perusahaan yang tidak menjegalnya di dalam urusan berkas. Dan ia menambah rasa syukurnya setelah tahu bahwa perusahaan ini merupakan satu di antara 10 perusahaan terbaik di Korea Selatan.

Ah, Kai lupa merapikan rambutnya. Ia sama sekali tidak mengingat soal menyisir rambut—hal yang entah kapan ia lakukan terakhir kali. Busana? Yeah, untung saja tidak terlalu berantakan. Setidaknya ia masih rapi di balik kemeja berlengan panjang di tubuhnya, yah … meskipun itu hasil pinjaman dari tetangga kontrakan. Bukan tipe Kai untuk tampil elegan dengan busana formal. Pria itu nyaris menggunakan kaos dan jaket sepala 5 tahun terakhir hidupnya.

Ting.

Pintu lift terbuka dan Kai masih jauh darinya, ia tertinggal gelombang manusia yang berjejalan di dalam lift tadi. Pria itu memanfaatkan jeda waktu menunggu dengan menyugar rambutnya dengan jemari, paling tidak agar terlihat agak tertata.

Klotak, klotak.

Kai mendapati seorang wanita berpostur lumayan jangkung baru saja berdiri di sebelahnya. Aih, cantik juga. Kai bersiul, bermaksud menarik perhatian wanita tadi meskipun hasilnya nihil. Rayuan kelas rendah tidak cocok untuk menggoda wanita bergaya metropolis itu. Kai menjadi malu karenanya.

Pria itu melanjutkan sisa waktunya dengan menggumamkan nada lagu kesukaannya. Hingga kemudian ia dan wanita itu masuk ke dalam lift yang sama, tanpa ada orang lain yang ikut serta. Ya, Kai bisa melihat orang-orang sengaja memperlambat jalannya ataupun mendadak menerima telepon ketika mendekati lift. Kai dapat melihat jelas sandiwara mereka.

Hmm, rupanya Nona di sampingku ini begitu spesial sampai lalat pun tidak sudi mendekat.

***

“Jongin-ssi, silakan perkenalkan diri Anda sebagai permulaan.”

Jongin tahu nona pewawancaranya adalah tipikal orang yang menyukai ketegasan, terlihat dari caranya berdiri sepanjang mereka berduaan di dalam lift. Kim Jongin atau yang biasa menyebut dirinya sendiri dengan ‘Kai’, mengangguk pelan dan kemudian berucap mantap, “Namaku Kim Jongin. Biodata lengkap serta hal-hal yang aku sukai dapat Nona lihat sendiri di resume saya. Aku ingin menceri—”

Stop. Cara Anda buruk. Anda menyuruhku membaca sendiri resume-mu?” Si pewawancara yang tidak lain adalah Shin Eunji, menyela dengan nada sinisnya yang kental.

“Ah, memang. Lalu untuk apa resume itu dibuat kalau bukan untuk dibaca? Maksudku, Nona, saya ingin memaparkan hal-hal yang tidak pernah tertulis di sana. Efektif, bukan?” Kai menjawab santai, ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Namanya juga pewawancara, suka sok menyeramkan untuk membuat gugup si pelamar. Kai yakin dirinya tidak akan terpancing.

Kai menyunggingkan senyum kemenangannya karena wanita di depannya tidak berkutik dan hanya menatapnya tajam. “Nona, boleh saya melanjutkan? Tapi alangkah baiknya Anda juga memperkenalkan nama Anda supaya kita tidak kenal sepihak saja.”

Wanita itu mengangkat satu ujung bibirnya. Anak yang menarik, pikirnya. Ia memang sudah membaca resume kepunyaan Kim Jongin, dan hal yang membuatnya tertarik dari pemuda di depannya ini adalah, quote yang tertulis di bagian motto hidupnya. Menyiratkan bahwa orang di depannya itu merupakan tipikal manusia yang ingin mempelajari banyak hal dan menyukai hal-hal baru serta tantangan.

“Perlukah aku menyebutkan namaku pada seorang penjahat? Wah, nanti hidupku masuk dalam bahaya.”

“Harus, setelah aku memaparkan satu-satunya hal yang ingin aku paparkan.” Kai berdiri dan mengelilingi kursi yang tadi didudukinya sembari mengulum bibir bagian bawahnya.

Pria itu melanjutkan, “Sesuai yang tertulis di resume, saya  akan memperjelas maknanya. Aku adalah penjahat, kejahatanku adalah keingintahuanku. Saya pernah melakukan hal-hal klasik yang sering dilakukan pemula. Memblokir saluran telepon suatu stasiun radio agar saya menjadi satu-satunya orang yang bisa menelepon dan kemudian menjadi pemenang kuisnya, masuk ke situs jejaring sosial publik figur dan menjual informasinya pada fans fanatik mereka, ataupun sekadar iseng menyisipkan spyware pada komputer sebuah komputer seorang pegawai perusahaan ternama hanya karena ingin tahu nomor telepon seorang pegawai cantik perusahaan tersebut.”

“Mulia sekali hidupmu,” sindir Eunji. Wanita itu terlihat benci mendengar penjelasan Kai.

Kai tertawa renyah seakan kalimat nona jutek di depannya itu adalah lelucon lucu yang sedang memujinya. Kai menghampiri meja Eunji dan menopangkan dua tangannya di atas meja.

“Saya adalah mantan hacker underground dan saya tidak ingin menyembunyikan fakta itu. Tapi, saya mulai ingin hidup sebagai Kim Jongin, bukan Kai si penelusup bawah tanah. Nama Kai akan saya kubur dalam-dalam bersama masa laluku.”

Shin Eunji menegakkan tubuhnya. Ia harus meralat penilaiannya terhadap Kim Jongin. Pria itu bukan menarik, tetapi mengerikan. Hacker adalah satu-satunya profesi paling menyeramkan bagi Shin Eunji. Hacker lebih handal dari pencuri manapun. Keberadaannya bahkan tidak disadari, kedatangannya tidak dapat dilacak asal-usulnya dari celah mana, dan identitasnya sangat sulit untuk diketahui. Lalu pria di hadapannya ini adalah seorang hacker. Berarti Eunji sudah mendapatkan kesimpulan.

“Wawancara kita selesai. Aku tidak berminat merekrut orang sepertimu.”

SKAKMAT. Berpuluh-puluh orang akan takluk mendengar kalimat pamungkas Eunji yang satu itu. Beberapa di antara mereka pulang dengan hati yang diliputi ketidakpercayadirian, beberapa lainnya justru merutuki bahwa Shin Eunji akan menyesal karena tidak menerima mereka dalam perusahaannya.

Dan Kai adalah orang yang berbeda dengan ‘mereka’. Pria itu tetap duduk tenang di kursinya dan menganggap kalimat tadi bukanlah akhir dari segalanya. Ia belum berniat meninggalkan ruangan kecil tempatnya berbagi oksigen dengan wanita sok galak di depannya itu.

“Minat bukan segalanya, Nona. Anda harus mempertimbangkan kebutuhanmu. Nyatanya perusahaan ini tengah membutuhkan staf IT.”

Shin Eunji tidak habis pikir dengan pria itu. Seumur hidupnya ia baru menemukan pelamar yang begitu ngotot menantangnya. Ah, memang cocok dengan profil wajahnya. Jongin memiliki garis rahang yang tegas dan sorot mata pria itu dipenuhi dengan rasa percaya diri.

“Aku bisa mencari lulusan IT yang bersih, bukan orang yang pernah melakukan kriminalitas seperti Anda,” Eunji berkata tegas. Ia memperjelasnya dengan menghempaskan resume Kai–yang sejak tadi dipegangnya–kepada pelamar tidak sopan yang berani berdiri santai beberapa senti di depan wajahnya.

Kai meraih resume-nya. Ia membalikkan badan dan mengacungkan lembaran kertas tadi dengan wajah kecewa. Sebelum masuk ruang wawancara ia sangat berharap ini adalah tempat pertama terakhirnya melakukan wawancara, ia sudah lelah berkelana di dunia terlarang.

Pria itu duduk lagi di kursinya dan menepuk pegangan sebelah kiri kursi dengan lembaran omong kosong yang baru saja ditolak terang-terangan oleh Eunji. “Saya sudah pernah dipenjara karena ulah saya itu, dan sekarang saya ingin memulai hidup baru. Dan Anda perlu tahu, saya yakin 9 dari 10 di dunia anak IT pernah melakukan perbuatan terlarang, paling tidak mereka pernah mencoba melacak password demi mendapatkan wi fi gratis, menelusup ke dalam situs jejaring sosial kekasihnya, atau bahkan membobol sandi untuk mendapatkan film porno secara gratis tanpa perlu menjadi member dan membayar.”

Wanita itu memijat keningnya. Meski yang dikatakan pria itu ada benarnya, ia tetap tidak terpengaruh. Jongin membuatnya kesal dan tentu saja membuang waktunya.

Ia memang tidak mewajibkan para pelamar untuk menyertakan surat keterangan kelakuan baik di dalam berkas lamaran mereka. Shin Eunji tahu bahwa seorang penjahat bisa saja berubah menjadi orang baik-baik, dan ia ingin memberi kesempatan untuk itu. Tapi, Jongin adalah seorang hacker. Bukan perampok, bukan pencuri, bukan pencopet, bukan pemerkosa, bukan pembunuh.

Shin Eunji pernah berjanji bahwa dirinya tidak ingin berhubungan dengan orang yang berprofesi sebagai penjahat abstrak tersebut. Semua karena…

***

Di dunianya yang lalu, Eunji adalah gadis cerdas yang gemar memamerkan senyumnya untuk seseorang. Hanya untuk seorang. Gadis itu akan tersenyum super lebar setiap membukakan pintu untuk seseorang sekitar pukul 2 atau 3 dini hari.

Itu adalah Shim Changmin, pemuda yang diadopsi oleh ayahnya dari panti asuhan dan tetap tidak ingin marga aslinya berubah.

Eunji dan Changmin sama-sama kuliah di kampus yang sama di Belanda, dan keduanya memutuskan untuk tinggal bersama mengingat itu adalah negara Eropa yang tidak akan mempermasalahkan apakah dua orang pria dan wanita yang tinggal bersama itu sudah menikah atau belum. Lagi pula, pikir Eunji, ia dan Changmin adalah saudara yang memang sudah terbiasa hidup bersama sejak kecil.

“Kali ini apalagi yang telah kau menangkan dari taruhan, eh?” Eunji bertanya karena Changmin sejak tadi tidak berhenti tersenyum sembari membuka sepatu kets-nya.

“Tidak. Aku tidak lagi main game online bersama kawan-kawanku. Aku terlalu pandai untuk memainkannya, menjadi juara bertahan ternyata membosankan. Aku punya sesuatu yang lebih menarik, kau tahu apa?”

Shin Eunji menggeleng, menandakan ia tidak tahu maksud Changmin. Gadis itu mulai menyibukkan diri menghangatkan sup untuk kakaknya itu. Biarkan Changmin berceloteh sepanjang mungkin, Eunji terbiasa meladeni pria itu bicara sambil melakukan hal lain seperti memasak atau mengetik makalah.

“Aku baru saja bergabung dengan sebuah komunitas. Ini keren, lebih keren dari percobaan main-mainku membobol kata sandi web kampus kita. Kau tahu? Mereka berhasil menembus database kampus kita. Artinya apa?” Changmin menghampiri Eunji dan menggelayuti pundak adiknya itu dari belakang. “Kami bisa menjual jasa informasi. Yeah, karena kami masih pemula, kami berbisnis dalam skala kecil dulu. Kau bisa datang pada kami untuk menanyakan seluk beluk mengenai pria yang kau sukai. Kami akan menceritakan semua yang bersesuaian dengan database kampus, dari situ kau bisa mengetahui hal-hal pokoknya. Dan kalau kau mau membayar lebih, kau bisa tahu sandi situs-situs jejaring sosial kepunyaannya. Kau tertarik mencoba, Eunji-ya?”

“Aku tidak tertarik. Terima kasih.” Eunji menghempaskan tubuh Changmin dari pundaknya. Ia merasa risih setiap kali pria itu melakukannya. Mereka bukan lagi bocah lelaki dan perempuan yang bebas menautkan anggota tubuh. Shin Eunji tidak sanggup menahan getaran yang muncul setiap kali Changmin menyentuhnya, dan ia yakin pria itu tidak akan pernah tahu hal tersebut meskipun Changmin bisa saja mengetahui informasi-informasi mengenai gadis lain lewat kemampuan terlarang­ yang dipromosikannya tadi. Isi otak pria itu hanya game, pseudocode, dan syntax saja, tidak bisa menebak isi hati seorang wanita.

“Bukan tidak tertarik. Akui saja kalau faktanya kau tidak tertarik pada seorang pria pun. Kurasa adikku ini tidak normal, hmm?” Changmin berusaha menarik hidung Eunji meskipun gagal total karena gadis itu menghindar– sudah hafal kebiasaan Changmin yang itu.

“Kau salah. Sudahlah, Oppa. Kubilang tidak tertarik ya tidak tertarik. Kau tidak akan bisa memberikan informasi yang kuminta. Pria yang kusukai adalah seorang alien,” Eunji mementung pelan kepala Changmin dengan centong di tangannya. Kaulah aliennya, Shim Changmin.

***

Shin Eunji menghela napasnya. Baru kali ini ia merasa pikirannya tidak tenang selama berhadapan dengan pelamar yang sedang diwawancarainya. Memori tentang Changmin memang tidak pernah bisa dihapusnya. Memori itu selalu berhasil membuat dirinya menyesal.

Kalau saja ia sempat mencegah Changmin melakukan bisnis skala kecil tadi, Changmin tidak akan mengenal lebih jauh anggota-anggota forum yang menaunginya—forum yang bertahun-tahun kemudian menjelma menjadi organisasi tak resmi yang menampung para hacker mengerikan yang terobsesi membobol jaringan instansi-instansi penting dalam kancah internasional. Kalau saja Eunji memarahi Changmin malam itu, mungkin Changmin masih bisa berada di sisinya sampai sekarang, tidak perlu menjadi buronan FBI.

“Kim Jongin, aku tidak buta dengan dunia Anda itu. Sampai sekarang aku merasa profesi gelap kalian itu candu, susah untuk dihentikan. Seseorang pernah mengaku padaku, ia bahkan selalu ingin kembali setiap kali ia mempunyai sebuah PC yang terkoneksi dengan jaringan internet. Aku tidak bisa percaya bahwa Anda akan berubah. Aku tidak ingin penjahat abadi menghuni perusahaanku.” Eunji teringat penuturan Changmin yang sempat sengaja menemuinya sebelum pria itu melanjutkan aksi persembunyiannya–entah ke negara mana lagi.

Meskipun Kai bisa jadi orang yang tak sewatak dengan Changmin, Eunji tetap tidak bisa memercayai janji taubat yang dilontarkan Kai. Changmin, orang yang dikenalnya dekat saja bisa berkhianat, apalagi Kai yang baru pertama kali bertemu dengannya dan sama sekali tidak ia pahami sifat-sifatnya. Bukan tidak mungkin Kai melakukan tindakan terselubung dengan menggunakan jaringan internet milik perusahaan yang susah payah Eunji selamatkan.

“Sekali kubilang tidak, ya tidak. Kau paham, Kai-ssi?”

Kai tahu kesempatannya makin tipis. Tapi ia masih ingin melakukan sesuatu meskipun itu tidak akan membuatnya diterima. “Nona, tidak masalah kau menerimaku atau tidak nantinya. Tapi aku ingin meluruskan satu hal. Sadar atau tidak, bukan kami penjahat abadi di dunia ini.”

“Ada  seorang hacker legendaris yang dijuluki The Mentor. Ia menggagas sebuah pemikiran yang akhirnya menjadi ideologi mayoritas hacker. Intinya, kami memang bisa menggunakan layanan apapun tanpa harus membayar. Aaa, tentu saja kami tidak sudi membayar kepada orang-orang tamak yang ingin menguasai sumber daya di Bumi ini. Nona, Anda harusnya sadar bahwa orang-orang jahat yang sesungguhnya adalah para pencipta nuklir, pelaku bom, penyeru perang, dan koruptor jahat.”

Shin Eunji semakin terlihat gelisah, ia sudah mengambil ancang-ancang untuk menekan tombol sentuh ponselnya, bersiap memanggil petugas keamanan gedung untuk menghentikan celotehan Kai yang semakin lama semakin membuatnya teringat pada Changmin.

Jongin berdiri dan mengangkat kedua tangannya sebagai pertanda menyerah dan seolah mengatakan ia janji akan keluar setelah menuntaskan apa yang ingin disampaikannya.

“Yang kami lakukan hanyalah mencari informasi yang sejatinya memang sudah ada. Kami hanya mencoba menjadi lebih pintar dan tahu lebih banyak daripada orang-orang lain. Kalau dipikir, sebenarnya perusahaan pun sering melakukan hal yang serupa. Sekarang sudah banyak perusahaan yang melihat isi jejaring sosial calon karyawannya sebagai bahan pertimbangan mereka. Apa bedanya mereka dengan kami? Semuanya hanya karena mereka punya nama resmi dan kami cuma kumpulan orang yang tak terlihat mata.”

Ya, tidak terlihat mata! Itu salah kalian! Eunji geram. Jongin mengungkit-ungkit masalah ‘terlihat mata’. Dua kata itu jelas menyulut emosinya. Shim Changmin yang biasanya bisa ia lihat setiap malam, mendadak menghilang dan tidak lagi terlihat dari pandangannya, Eunji merasa frustasi setiap kali mengingat itu. Ia tidak bisa lagi melihat pria jangkung berotak jenius kesayangannya itu. Semuanya karena Changmin dan kawanannya itu memang sejak awal merupakan perkumpulan tidak terlihat mata.

“Keluar sekarang, Kim Jongin! Ah, aku saja yang keluar kalau Anda tidak mau.” Eunji sudah bersiap membereskan berkas-berkas pelamar yang ada di mejanya, berada di tempat ini hanya membuat ketenangannya semakin menipis.

“Sabar, aku akan keluar. Setelah satu hal. Aku ingin memuji pesona Anda dulu, Nona. Ah, nama Anda Shin Eunji, ‘kan? Anda terlihat berbeda dan seksi kalau sedang berbikini. Lain kali kalau mau berlibur ke Hawaii lagi ajak-ajak aku, kita berfoto bersama. Siapa tahu Anda ingin menambah koleksi foto bikini di laptop Anda.” Kai mengerling nakal, mengeluarkan bunyi ‘cupp’ dari mulutnya, dan kemudian melangkah santai dari ruangan di dalam gedung yang mungkin tidak akan pernah ia masuki lagi dalam dunia nyatanya. Tapi tidak dalam dunia maya.

Fin

Iklan

  1. Kereeeeen…aku salut sama hacker, habisnya dunia mereka itu benar2 ngga terjamah oleh orang awam macam aku
    Kirain penyelesaian ceritanya Kai langsung diterima, ternyata dia jahil juga.
    ditunggu 1 minggu 1 cerpen berikutnya 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s