Ideal Type

A ficlet from Fla

Jongdae dengan suara emasnya yang mampu menggetarkan telinga satu sekolah. Luhan si striker tim sepak bola—dengan senyum memikatnya—telah menjadi buah bibir para gadis pesolek. Kim Jongin tampan—si tukang tidur di bangku belakang—yang selalu bisa menjawab soal matematika terumit dari sang guru. Chanyeol si bintang panggung teater dengan segala keceriaan yang terpancar di wajahnya .

Empat pria keren di empat titik yang tepat. Empat bangku yang melingkari sebuah meja dan berada tepat di tengah-tengah keramaian. Keempatnya bercengkrama di kantin sekolah detik ini, berceloteh tanpa peduli mata-mata yang tengah mengamati mereka.

“Kalian mau tahu kenapa aku terobsesi memacari Hyorin?” Jongdae memberi isyarat agar ketiga temannya segera merapatkan posisi—mendekatkan wajah masing-masing ke tengah meja bundar kantin.

“Suaranya seksi. Apa lagi, sih?” Chanyeol menjadi satu-satunya orang yang tidak terlalu patuh pada titah Jongdae, ia justru memundurkan kursinya dan menyeruput jus alpukat dengan santainya. Chanyeol pikir seorang pemilik suara emas sejenis Jongdae sudah pasti menyukai gadis yang juga bersuara cemerlang.

“Bukan hanya itu. Dia sangat seksi ketika menari. Coba kalian bayangkan liukan tubuhnya.” Mata Jongdae menyipit bersamaan dengan bibir bawahnya yang semakin turun—menampakkan deretan gigi di deretan bawah kepunyaannya. Pria itu benar-benar serius membayangkan sosok yang menurutnya bisa menjadi representasi ‘setan yang justru menggiring Jongdae ke surga dunia’. “Wooooh!” Jongdae berseru dengan penuh semangat, diakhiri dengan senyuman nakal yang terlukis sempurna di wajahnya.

Tiga kawannya menyoraki sekaligus turut membayangkan bagaimana kira-kira gambaran Hyorin yang sedang menari. Lekukan yang sempurna dan meliuk-liuk di bawah sorot lampu eksotis.

Ah terlalu norak, rupanya Luhan lebih suka berimajinasi tentang penari balet yang berputar anggun dengan hanya bertumpu pada jempol kaki.

“Kalau aku, aku lebih tertarik pada Bu Clara, guru Bahasa Inggris kita. Mata cokelatnya itu benar-benar menyeretku ke dalam lautan pesonanya. Aku jadi membayangkan betapa sempurnanya dunia ketika bertatapan lama dengannya,” Chanyeol memecah keheningan, kemudian menautkan dua tangannya dan sedikit mendongakkan kepalanya; berpose layaknya orang sedang berkhayal. Sesaat kemudian ia tenggelam dalam euforia saat dirinya dan Bu Clara duduk di satu bangku ketika minggu lalu guru cantik tersebut menawarkan jok mobilnya untuk mengantar Chanyeol pulang.

“Yaaa! Umurmu berapa, hah? Bu Clara sudah 45 tahun meskipun masing lajang, kau terlalu muda untuk menjadi objek lirikannya. Sebaiknya kau mencari gadis yang lebih wajar untuk kita incar saja!” Jongdae menggebrak meja dan mengakibatkan milkshake dari gelas Luhan bergejolak dan cairan lezat tersebut tumpah sedikit.

“Kalem, Bung, kalem. Ini bukan demo, tidak usah pakai acara gebrak meja.” Jongin melempar gumpalan menyerupai bola yang dibuatnya dari dua helai tisu ke wajah Jongdae, lalu mengelap tumpahan karya Jongdae tadi dengan sebuah jaket yang tersampir di sandaran kursi pada bangku Jongdae. “Kau yang menumpahkan, kau harus bertanggung jawab.”

“Haissss,” Jongdae hanya bisa menggerutu ketika jaket kesayangannya dipakai untuk mengelap. Ia sudah tidak aneh lagi dengan kelakuan teman dekatnya yang satu itu. Tanpa izin, tanpa minta maaf setelahnya.

“Kalau aku … kalian mau tahu seperti apa tipe gadis sasaranku?” Jongin semakin bersemangat, gilirannya tiba. “Jangan bilang-bilang ya. Aku hanya suka pada gadis yang bersedia menampung sel spermaku dan mengandung janin setelahnya.”

“Ya! Jangan-jangan selama ini kau selalu mengkhayalkan hal jorok sambil tidur di bangku kelasmu itu?” Luhan—yang ada di sebelah Jongin—langsung menoyor jidat Jongin.

Chanyeol menyipitkan mata lebarnya. Tidak disangka-sangka orang pendiam macam Jongin punya khayalan yang mengerikan.

“Aku yakin kalian semua sedang berpikiran negatif, nih. Memang ya, manusia hanya menyimpulkan sisi luar dari perkataan seseorang. Pikirkan makna aslinya, dong!” Jongin menggeplak tangan Luhan yang tadi menoyor keningnya dengan asal.

“Lho, memangnya ada maksud tersembunyi apa? Sudah jelas kau mendambakan main dengan seorang gadis,” Jongdae terkikik. Untuk urusan sejenis ini ia bisa memahami apa yang Jongin bayangkan.

“Hih, bukan begitu,” Jongin bersiap untuk meralat. Ia menegakkan posisi duduknya, berdehem 2 kali seolah menyiratkan ‘Aku mau menyampaikan hal penting, loh. Jadi dengarkan dengan perhatian penuh’. Pria tampan itu memulai pemaparannya, “Begini. Maksud pertamaku, di Perancis, pemerintah sampai harus membayar wanita yang bersedia mengandung karena mayoritas penduduk wanitanya menganggap bahwa hamil itu menakutkan dan merusak karir. Di Korea memang belum terjadi kondisi yang seperti itu, sih. Dan maksud keduaku. Banyak gadis yang mudah diajak main seks dengan pacarnya. Tapi gadis itu tidak bertanggung jawab dan memilih menggugurkan kandungannya. Makanya aku bilang aku ingin gadis yang bersedia mengandung setelah spermaku memasuki sel telurnya.”

Setelah Jongin mengatupkan bibir, suasana hening sejenak sampai Jongdae terbahak dan sengaja mengeraskan suaranya demi balas dendam pada Jongin atas jaket kesayangannya, “Haaaaa, sama saja. Maksudmu memang bagus. Tapi tetap saja kau terobsesi memasuki zona sensitif seorang gadis.”

Wajah Jongin memerah. Sialan betul si Jongdae, hal seperti tadi sangatlah memalukan untuk didengar orang banyak. Sekarang ada sekitar 17 pasang mata yang tertuju padanya. “Luhan, bagaimana denganmu? Apa kriteria gadis idamanmu?” Jongin sengaja mengeraskan suaranya agar perhatian orang-orang itu teralih.

“Aku? Seperti Song Ahra,” Luhan menjawab singkat dengan ekspresi wajah penuh keyakinan.

“Hei, kau serius?” Chanyeol tidak percaya pada pilihan Luhan. Ia tahu siapa Song Ahra. Atlet renang jagoan sekolah mereka. Seorang Gadis dari kelas sebelah yang bahkan tidak memiliki kelopak mata serta tulang pipinya relatif menonjol, dan—catat—sama sekali tidak berusaha memperbaiki kekurangan di area wajahnya itu.

Jongdae lebih frontal lagi, “Yang benar saja? Apa menariknya dia? Yah, kecuali talentanya dalam berenang. Selebihnya, dia biasa-biasa saja. Kurasa dia satu-satunya gadis yang tidak berusaha membuat dirinya menarik. Eunsoo yang gemuk saja paling tidak berusaha untuk tampil indah. Tapi Ahra? Apa gunanya kau jadi bintang tim sepak bola kalau kau tidak menggunakan kepopuleranmu untuk mendapatkan gadis cantik?”

Luhan mesem-mesem dan membalas tenang. “Justru karena aku pemain sepak bola makanya aku tertarik pada gadis tidak cantik tapi berpendirian seperti Ahra. Karena dia satu-satunya itulah yang membuat dia menarik. Bayangkan bola di lapangan. Permainan menjadi menarik karena Si Bundar hanya ada satu. Coba ada dua, pasti tidak lagi membuat para pemainnya penasaran.”

Jongdae dan Chanyeol sama-sama memutarkan bola matanya. ‘Kok bisa ada ya manusia yang berpikiran seperti Luhan?’ Kira-kira seperti itulah isi otak mereka.

Bagaimana dengan Kai? Oh, pria itu termenung, sejenak terpejam dan sekilas terlihat seperti memilih untuk tidur sungguhan. Tapi barangkali ia tengah berpikir, seperti yang biasa dilakukannya. Memejam, membuka mata, dan TING! Ia bisa melontarkan jawaban yang tepat. Ei, tapi kali ini tidak. Ia memanyunkan bibirnya, “Ah, gadis seperti Ahra terlalu galak. Diajak ciuman pun dia sudah pasti menamparmu, Luhan-ah.”

FIN

Gelap. Tau deh ini nulis apa .___.

Iklan

  1. Koplak pembicaraan mereka. Aku jadi membayangkan film-film anak sekolahan macam SuckSeed (Thailand) atau You’re The Apple of My Eye (Taiwan). Tiap orang punya kriterianya sendiri, dan selalu ada yang rada ngeres. Kai apaan itu frontal banget -_-, ngomongnya di kantin pula, ketahuan banget cueknya.
    Btw, pas Chanyeol cerita kalau tipe idealnya itu Bu Clara, di sini ditulis kalau Bu Clara itu guru muda. Tapi umurnya 45 tahun. Aku kebayangnya umur beliau itu masih 20-an akhir atau 30-an awal gitu.

    • Mwahahaha, ini emang dodol bgt obrolanna, dan… cowo2 biasanya emang ngomongin hal kayak gini kl ngumpul, tp di kosan siapa gitu, bkn di kantin

      Aku blom nonton yg taiwan itu sih, cm yg Suckseed langsung aku close setelah beberapa menit nonton.

      Wah bener mi, engga konsisten yah. Aku edit deh.
      Thank you Amiiiii

  2. gatau mau komen apa. terlalu shock sama pembicaraan mereka -o-
    mendingan siapa ya? huwaa, gatauu .—.
    Jongdae sama Jongin beneran itu duoJong parah bener =_=
    Andai Jongin itu lebih ngarahin ke ‘cewek yang saha di mata agama dan negara’ xDDD
    #plakk

    mendingan Luhan deh..eh..ato siapa ya?
    #abaikan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s