Pangeran Berkuda Seira

Pangeran Berkuda Seira

Seira Lee | Aaron Yan

– Written by Fla-

Seira Lee merasa pusing setengah mati pagi ini.

Bukan karena setumpuk beban yang bertahun-tahun menekan pundaknya, bukan karena penagih hutang yang terus mengajaknya bermain petak umpat (karena di dunia ini Seira sudah tidak punya hutang), dan bukan pula karena pria tua kurang ajar yang membuat hidupnya seperti ini.

Sepertinya karena semalam. Kepalanya tak bisa diajak berkompromi karena hantaman alkohol yang ia tenggak pasca kepergian seorang pria yang mengucapkan pernyataan pembuka berisi lima jalinan kata.

“Kau ini sesungguhnya seorang putri.”

***

Aku putri?

Pertanyaan itu berhasil membuat kepalanya migrain berat, membuatnya terpaksa mengais-ais kembali serpihan kenangan tentang kata ‘putri’ yang biasanya selalu dikaitkan dengan pasangannya—pangeran.

Bertahun-tahun yang lalu ia memang sering mengkhayalkan dirinya menjadi seorang putri sungguhan. Putri yang ada di negeri-negeri dongeng. Putri cantik yang tinggal di istana megah, dilayani oleh dayang, dikawal para pengawal kemana pun dia pergi, dan juga berjodoh dengan seorang pangeran berkuda.

Dongeng dan Seira adalah satu-kesatuan.

Seira Lee adalah seorang bocah perempuan kecil yang hari-harinya selalu dipenuhi dengan cerita dongeng sebelum tidur dari ibunya. Gadis itu selalu antusias setiap kali ibunya sudah naik ke atas kasur, itu artinya sang ibu sudah siap menceritakan berbagai kisah menakjubkan yang boleh dibilang sudah ada di luar kepalanya.

Putri Tidur dan Tujuh Kurcaci, Cinderlela, Peter Pan dan Tinker Bell, atau bahkan kisah yang mencatut Barbie sebagai tokoh utamanya.

Dan di antara semua kisah dongeng yang pernah didengarnya dari sang ibu, ada satu cerita yang menjadi favoritnya. Kisah seorang pangeran penyelamat putri yang terkurung di puncak menara.

Ibunya nyaris selalu menceritakan kisah itu setiap malam selasa—entah apa alasannya. Dan setiap malam itu pula Seira kecil selalu meminta ibunya untuk mengulang kisah itu hingga ia benar-benar tertidur pulas dengan senyum terulas di wajah. Alhasil dalam satu malam itu, ibunya selalu mengisahkan hingga empat-lima kali tentang tokoh yang sama, alur yang sama, dan akhir yang sama: pangeran dan putri hidup bahagia selamanya di istana.

Seira kecil punya sebuah kebiasaan. Ia selalu mengajukan pertanyaan yang sama kepada ibunya setiap rabu pagi—sebelum ia benar-benar membuka matanya secara penuh. “Bu, apakah suatu saat pangeran berkuda itu akan datang dalam hidupku?”

Ibunya selalu menanggapi dengan kekehan kecil dan jawaban yang persis sama, “Pangerannya mungkin masih mengasah pedang. Supaya ia punya senjata untuk mengalahkan penyihir jahat dan bisa menyelamatkan putri.”

Saat itu, Seira Lee meyakini penuh kata-kata ibunya.

***

Seira kecil adalah seorang pengkhayal ulung. Setiap kali ia punya waktu yang bisa dimanfaatkan untuk melamun—saat menunggu bus, saat duduk di atas toilet, saat menunggu ibunya mengantri di kasir supermarket, bahkan saat menunggu bu guru menyebutkan namanya ketika mengabsen siswa yang hadir—Seira Lee selalu berimajinasi. Bahwa suatu hari akan datang seorang—yang menyerupai pangeran berkuda dalam dongeng —ke dalam hidupnya.

Ia pun mendeskripsikan sendiri seperti apa wujud pangeran berkudanya. Seorang pangeran sudahlah pasti tampan, itu hal pertama yang ia tanamkan di dalam imajinasinya. Seorang pangeran seharusnya memiliki postur tegap, sorot mata yang tajam sekaligus teduh, dan orang itu haruslah memiliki tangan yang bisa menggenggam erat—tentu saja karena ia harus kuat memegang kekang kudanya dan karena ia adalah pangeran berkuda.

Seira Lee selalu beranggapan bahwa seorang pangeran haruslah berani karena ia akan menembus semak-belukar yang mengepung sekeliling menara menyeramkan dan mengalahkan penyihir jahat berkekuatan dahsyat. Pangerannya juga harus rela berkorban, karena bisa jadi pria itu harus merelakan hidupnya dalam aksi penyelamatan putri, serta setia—tidak akan meninggalkan putri kalau tiba-tiba sang penyihir datang dan mengusik aksi penyelamatan.

Gambaran sempurna tentang pangeran terus bertahan di dalam otak Seira untuk waktu yang lama. Meskipun begitu, tentang siapa sosok pangeran berkudanya itu, Seira kecil tidak tahu.

Dan menjelang ia kelas 5 SD, ia baru tahu satu hal. Bahwa pangerannya sudah pasti bukan orang yang berperangai seperti ayahnya: tidak bertanggung jawab terhadap keluarganya, meninggalkan ia dan ibunya tanpa kabar dan kemudian mendadak muncul dengan tubuh beraroma campuran antara rokok-alkohol untuk kemudian menghadiahkan keluarganya sumpah serapah serta hantaman bertubi-tubi di kepala—hingga menyebabkan ibunya meninggal.

***

Sayangnya, dunia tidaklah semenakjubkan gambaran yang ada di dalam buku dongeng, tidaklah semulus alur cerita dalam kisah Barbie, tidaklah seindah jalinan kata yang terlontar dari mulut ibunya.

Dunia adalah sisi kebalikan dari imajinasi, begitulah yang Seira rasakan selepas kepergian ibunya. Ia benar-benar menderita hidup di bawah asuhan ayahnya yang sama sekali tak memberinya celah untuk kabur. Pergi kemanapun ujungnya selalu ditemukan oleh pria itu.

Dan dunia bertambah menakutkan—bahkan seribu kali lipat lebih mengerikan dari menara milik si penyihir—tatkala ia menginjak bangku SMP. Saat itu, definisi orang tentang keindahan paras dan batasan antara si kaya dan miskin adalah titik mati bagi kehidupannya.

Gadis itu tidak bisa dibilang cantik berkat keabsenan lipatan di atas matanya. Dan ia tidak punya hidung mancung ataupun bentuk bibir yang bisa membuatnya terlihat manis saat tersenyum. Ia tidak bisa masuk ke dalam kumpulan orang-orang cantik yang biasa berkumpul di dekat Choi Sulli.

Gadis itu sama sekali tidak memiliki uang, jadi apa pula yang bisa diandalkan? Untuk beli tiket  nonton bioskop tidak punya, bagaimana mau diajak jalan-jalan? Seira Lee bahkan tidak pernah mampu untuk membeli makanan yang ada di kantin.

Gadis itu juga sama sekali tidak jago berolahraga ataupun bermusik, jadi ia tidak bisa masuk dalam klub basket yang digawangi oleh Jung Soojung maupun tidak bisa bergabung dengan komunitas pecinta musik yang diketuai oleh Kim Taeyeon.

Tak ada yang pernah mau duduk di samping Seira karena takut barang-barangnya dicuri oleh si miskin Seira dan takut membuat keelokan rupanya tersamarkan oleh keburukan rupa Seira. Kata mereka—orang-orang yang merasa dirinya sempurna—Seira Lee bukanlah bagian dari manusia yang layak dijadikan teman.

Seira Lee sadar dirinya sama sekali bukan putri. Dilihat dengan ujung sedotan sekalipun sudah akan membuat para pria tahu bahwa gadis di depannya bukanlah sosok yang layak dipanggil putri. Seira Lee merasa dirinya hanyalah semak belukar yang menyesakkan pekarangan istana.

Mana ada pangeran berkuda putih yang sudi datang menyelamatkan hidupnya yang bagaikan neraka itu? Pengawal bermodalkan betis kuat (tentu saja betis kuat untuk berjalan, menggantikan fungsi kuda) saja tidak akan pernah tertarik mendekat.

***

“Hei!”

Suatu hari saat langit Seoul sedang kegirangan menurunkan saljunya, Seira menyadari ada seseorang yang memangilnya dari arah belakang. Gadis itu membenahi letak tali ransel di punggungnya, membuat posisi tali tersebut menjadi nyaman sehingga ia bisa berjalan cepat atau bahkan berlari. Seira tahu ini adalah saatnya mempercepat gerak kaki, tak peduli seberapa membekunya tulang-belulang dan persendian akibat suhu saat ini.

“Ya! Tunggu aku! Aku hanya ingin menyerahkan ini.”

Seira tidak menengok. Ia memutuskan untuk mengerahkan segala kemampuannya dalam berlari, kalau diibaratkan dengan motor, Seira berusaha memacu dirinya hingga titik kecepatan maksimal. Hanya itu yang bisa diperbuatnya karena ia sadar kakinya terlalu pendek sehingga langkahnya tidak bisa lebar.

“Hei, kenapa tidak mau mendengarkanku? Aku tahu kau sama sekali tidak tuli.”

Tepat dengan tidak terdengarnya suara tadi, kaki Seira terantuk sesuatu—mungkin batu yang tertimbun salju—dan ia terjatuh. Ia berusaha bangun lagi, tapi ia sadar  sesuatu yang tidak baik telah terjadi, pergelangan kakinya terkilir dan kini ia kesulitan berjalan. Gadis itu mulai menunduk ketakutan.

Seira ingat saat pertama kali ada teman sekelas yang menyapanya (setelah sekian lama tidak ada yang pernah memanggilnya), orang itu tidaklah lebih dari seonggok daging yang hanya tahu bahwa kesenangan hidup dapat diperoleh jika dan hanya jika memperolok orang lain. Padahal, awalnya Seira begitu gembira hanya karena ada orang yang ingat namanya.

Kali kedua ada kawan yang menyebut namanya, Seira mendapatkan tonjokan bertubi-tubi di perut dan diakhiri dengan cairan lengket bening-kuning berbau amis yang mengotori rambutnya.

Kali ketiga, ini yang paling membuatnya enggan lagi menengok ketika namanya dipanggil. Ia mendapatkan bogem mentah yang kemudian diikuti kutukan serta kecaman; bahwa seorang Seira Lee berusaha cari perhatian dengan nilai pelajaran matematikanya, bahwa Seira Lee ingin menjatuhkan Kim Soyeon si pemegang juara bertahan selama tigak tahun, dan bahwa esok tidak akan ada kata ‘selamat’ lagi jika dirinya memperoleh nilai ujian tinggi—mengungguli Soyeon.

***

Pernah suatu kali Seira kecil bertanya pada ibunya, tentang bagaimana cara pangeran itu akan muncul. Apakah dari dalam hutan yang penuh pepohonan dan binatang buas? Ataukah dari dalam perairan yang dipenuhi aneka jenis ikan dan anemon-anemon laut? Atau, jangan-jangan pangerannya bisa muncul dari dalam buku dongeng?

Sang ibu membelai rambut Seira dan tersenyum teduh kepada putri kesayangannya itu. Putri kecilnya ini sungguh polos dan sangat memercayai dongeng. Tapi tak apa, memang itu yang diinginkannya. Ia ingin Seira percaya bahwa hidup itu seindah dongeng, ia ingin Seira meyakini bahwa sesengsara apapun hidupnya nanti, akan ada ujung indah seperti dalam kisah dongeng asalkan Seira bersabar dan berusaha, serta tidak lupa belajar menjadi tokoh baik seperti yang ada di dalam kisah dongeng.

Eomma, jebal. Aku ingin tahu jawabannya.”

Ibunya tersenyum lagi, kali ini ia tidak mengelus rambuk Seira, tetapi menunjuk dada dan kepala Seira bersamaan dengan kedua telunjuknya. “Tergantung, Sayang. Terserah pangerannya mau muncul darimana. Tapi, kau akan langsung tahu keberadaannya kalau kau menggunakan pikiran dan hatimu secara bersamaan.”

Seira kecil mengangguk saja meski ia belum paham maksud ibunya kala itu.

Sekarang, detik ini, ia baru mengerti maksud ibunya ketika pria yang memanggilnya tadi tidak memberinya sumpah serapah ataupun hantaman fisik. Pria sebaya yang sebenarnya tidak berwajah ramah itu justru memberinya uluran bantuan. Pria itu duduk di dekatnya yang belum sanggup berdiri seraya berkata, “Ambil bukumu yang terjatuh ini dan cepat naik ke punggungku dan beri tahu arah jalan pulangmu, Seira Lee.”

Dia mungkin pangeranku, batin Seira seketika. Entah bagaimana, rasa takut Seira lenyap begitu saja dan ia naik ke punggung yang terlihat tak seberapa kokoh seperti bayangan pangeran dalam imajinasinya yang lalu.

***

Sayangnya, ternyata memang dunia telah berevolusi. Dunia bukanlah masa lampau atau zaman dahulu kala seperti yang tertuang menakjubkan dalam buku dongeng. Orang itu bukan pangeran penyelamatnya. Buktinya, orang itu tak pernah muncul lagi pada hari-hari Seira berikutnya. Orang yang dikira pangeran itu tidak menyelamatkannya dan justru tak tahu apa-apa tentang kondisi Seira saat ini.

Apa yang Seira kenakan;apa yang Seira makan setiap pagi berganti;cairan apa yang memenuhi rongga mulut Seira setiap malam menjelang;rokok merek apa yang terjepit di antara kedua bibir merah Seira setiap malam tatkala menunggu orang demi orang datang menjemputnya dari apartemen mewah hadiah seorang konglomerat pengusaha properti, pria itu mana tahu.

Pria yang menggendongnya itu jelas bukan pangeran. Dan tidak ada pangeran-pangeran lain yang memenuhi ruang prasangka Seira pada tahun-tahun berikutnya hingga ia tumbuh dewasa.

Oh, ada. Pangeran masih ada, Seira baru ingat dan mau tidak mau harus ingat. Pangeran itu… pangeran yang didefinisikan oleh makelarnya, atau pangeran musiman yang sering ditunjukkan ayahnya—yang konon punya vila mewah di bukit-bukit sepi dan mobil-mobil mewah di istana tengah kotanya, yang konon juga akan mampu memberikan kehidupan aman dan tenteram kepada Seira jika dan hanya jika Seira mau memuaskan nafsu birahinya selama bertandang ke Seoul. Pangeran lainnya, yang kata ayah sok pahlawannya itu adalah sosok yang akan menghadiahi Seira paket operasi wajah lengkap, yang bagi Seira sendiri tak lebih dari sosok yang hanya berpedang. Pedang yang hanya dalam hitungan jam mampu merobek-robek masa depannya, merenggut kesuciannya.

Dan, olala, satu lagi sepertinya. Sore tadi ia baru mendapat pesan singkat di ponselnya. Ajakan berkencan dari seseorang yang mengaku mengetahui nomornya dari rekan bisnisnya yang juga pernah menikmati kemolekan Seira. Orang itu akan menjadi pangeran berkuda Seira yang kesekian urutan, dan urutannya akan Seira tetapkan tergantung mobil bertenaga kuda merek apa yang dibawanya ketika menjemputnya menuju hotel bintang lima.

Seira bersiap-siap, membersihkan tubuhnya dengan aneka rupa sabun dan lulur mandi, menggosok-gosok dakinya hingga tak ada satu pun yang menodai kemulusan kulitnya. Ia kemudian menghanduki tubuhnya hingga kering, menyisir rambutnya dengan hati-hati, dan berdiri di depan lemari bajunya. Memilih apakah di musim dingin seperti ini ia akan mengenakan mantel, atau cukup membalut tubuhnya cukup dengan blazer saja. Ah, khusus hari ini ia akan menutup rapat tubuhnya, mumpung ada kesempatan khusus.

Biasanya, para pangeran ‘definisi baru’ Seira akan memintanya mengenakan pakaian terbuka, tentu dengan menggunakan kata-kata yang terselubung seperti: kaki jenjangmu konon lebih indah dari kepunyaan member SNSD, kau seindah pegunungan berpuncak dua. Tapi, calon pangeran yang menghubunginya sore tadi tidak meminta apapun. Ia hanya memberi kode berupa: aku menyukai partner unik.

***

Sungguh. Tadinya Seira ingin menempatkan pria ini pada urutan ketiga lantaran mobil yang menjemputnya ini merupakan mobil bergengsi keluaran terbaru Eropa. Namun rasa-rasanya sangatlah sayang menganugerahkan peringkat itu kepada kakek tua berdasi yang muncul dari dalam mobil tersebut.

Ah, Seira sadar dirinya tidak seratus persen materialistis. Paling tidak Seira masih mempertimbangkan tampang calon penerima urutan tertentu. Kalau sebatas tidak terlalu jelek tapi bertabur harta, bolehlah dipertimbangkan.

Seira hendak duduk di jok depan mobil tersebut, tapi kakek tua tadi menggeleng dan memintanya duduk di bangku baris kedua. “Aneh. Pria kaya seperti Anda lebih suka orang menganggap Anda sebagai supirku,” Seira berseloroh dan mengikuti keinginan sang kakek.

Tak ada jawaban, pun tak ada satu pun percakapan yang terjalin selama mobil itu melaju dengan suara mesin yang begitu halus. Yang ada hanyalah audio dari sebuah USB yang bermenit-menit lamanya terus berputar ulang. Suara seorang yang menyanyikan lagu You Raise Me Up–yang sungguh ingin membuat Seira mencibir lagu tersebut lantaran bertahun-tahun lamanya isi lagu itu tidak pernah ada wujud nyatanya dalam hidup Seira.

Satu-satunya percakapan yang ada hanyalah terjadi ketika sang kakek menghentikan mobilnya di depan sebuah hotel berpenampilan  eksterior megah ala Italia.

“Nona, minta kunci nomor 524 kepada petugas resepsionis. Tuanku sudah menunggu anda di atas sana.”

Seira cukup dibuat bengong. Ia salah sangka rupanya. Sepertinya sebentar lagi ia harus mulai mempertimbangkan urutan mana yang pantas untuk Tuan Di Atas Sana. “Aaah, baik. Terima kasih, Kakek,” jawabnya singkat seraya mengumbar senyuman penuh kelegaan.

***

Mungkin dari sekian ratus atau ribu dalam harinya, ini adalah pemandangan terlangka selama beberapa tahun.

Normalnya, di dalam kamar hotel mewah seperti ini akan Seira dapati seorang pria dengan segelas sampanye, sesekali dalam kondisi kancing kemeja pria itu yang sudah terbuka dua biji dan dengan dasi yang sudah tidak lagi terpasang sebagaimana mestinya. Kali yang lain, Seira mendapati seorang pria yang tengah menyetel film dewasa romantis dan pria itu akan mengajaknya nonton bersama sebagai pemanasan. Dan sekian kali yang lain, ada pria yang sudah menyambutnya dengan kasar—yang begitu pintu tertutup, akan langsung menggiringnya ke tempat petaka bernama kasur.

Namun kali ini, Seira justru mendapati seorang pria yang… sangat muda. Mungkin ini pria termuda di antara empat pria berusia di bawah tiga puluh tahun yang dalam dua bulan terakhir memenuhi malamnya. Pria itu tidak tampak seperti orang Korea meski bermata sipit. Ia lebih mirip pria dengan darah keturunan Cina. Dan ah, bukan perkara tampang dan usia yang menjadikan pria ini sangat berbeda. Yang janggal bagi Seira adalah, pria itu tengah duduk di sofa, menyantap santai kue beras Korea yang dikemas ala jajanan pinggir jalan.

Seira mendapat kode untuk duduk di sofa bersama pria yang belum ia ketahui namanya itu. Ia duduk ragu-ragu dan bingung bersikap. Untuk pertama kalinya ia tidak tahu harus berbuat apa karena orang yang di hadapinya ini seperti kawan sepermainan yang mengajak jalan-jalan dan makan di kedai jajanan kaki lima. Mau menggoda atau memamerkan pesona jelas bukan sikap berkelas yang layak dipertontonkan di depan makhluk jenis ini.

“Kau tahu tidak. Sejak kecil setiap kali mengunjungi rumah bibiku di Korea, aku selalu ingin makan yang sejenis ini. Sayangnya ayahku melarang, katanya jajanan di jalanan tidak bersih. Padahal selama di Taipei pun aku sering jajan sembarangan tanpa sepengetahuan ayahku dan sehat-sehat saja.”

Eum…”

“Omong-omong, kau boleh buka bungkusan yang ada di meja depanmu itu, tapi jangan bilang-bilang pada ayahku ya kalau aku makan ini.”

Kekehan pria itu sangat lucu, saking lucunya Seira Lee tidak yakin apakah tawanya nanti bisa lebih lucu dan menarik di mata sang pria.

“Aku tidak akan bilang kau makan ini. Tapi aku akan bilang pada ayahmu kalau kau membelikan ini untukku yang diundang datang ke penginapanmu.”

Si pria terkikik. “Aku sudah dewasa sekarang, Nona. Urusan siapa yang kuajak masuk ke kamar dalam perjalanan bisnisku, ayahku mungkin hanya akan berdecak ketika tahu.”

Seira Lee urung memakan kue beras yang ditawarkan si pria. Dari perkataannya barusan Seira mendapat kesan bahwa pria ini sesungguhnya sama saja dengan pria berjuluk pangeran lainnya: gemar mengajak masuk wanita cantik ke kamar hotelnya. Mungkin sedikit pancingan akan membuat pria ini membuka kedoknya. Sejujurnya Seira ingin segera melakukan pekerjaannya, tuntas, dan besok pagi terbangun seorang diri berbalutkan sehelai selimut dengan selembar cek di nakas.

“Tapi mungkin ayahmu juga akan terpingkal kalau tahu anaknya mengundang seseorang hanya untuk diajak makan kue beras saja. Kurasa kau harus mengajakku melakukan hal lain.”

“Ah, ya, tentu. Tapi santap saja dulu kenikmatan sederhana dari kue beras ini. Besok aku sudah tidak di Seoul, itu artinya hanya malam ini aku bisa makan ini sampai kunjunganku berikutnya entah di bulan apa.”

Seira menghargai keinginan lugu pria itu. Paling tidak, biarkan ia menikmati kebahagian kecil nan suci di tengah kehidupan bisnisnya yang mungkin sangat kotor. Namun tetap saja Seira tidak ingin makan kue tersebut. Ia tidak suka makan sebelum bercinta. Perutnya akan terasa sesak dan ia tentu tak ingin sedikitpun terlihat buncit di mata pasangan temporalnya. Karenanya, Seira memilih berdiri di jendela kamar hotel, membuka tirainya dan memandangi kosong papan reklame yang menampilkan sosok wanita cantik dan sebaris kalimat embel-embel tentang hakikat kecantikan ala produsen kosmetik terkemuka.

Kira-kira, wanita cantik itu sebenarnya harus merayu tokoh penting di dunia hiburan juga tidak ya sampai bisa setenar itu? Selintas pertanyaan tidak penting menyembul dari pemikiran bodoh Seira.

Ah, pasti iya. Tidak mungkin tidak. Tidak ada wanita beruntung di dunia nyata ini, semua hal harus dimulai dari mengemis pada si Jahat. Wanita beruntung hanya ada dalam kisah dongeng.

Khayalan Seira selanjutnya menggambarkan tentang seorang wanita muda yang pada awalnya ditawari peran figuran dalam sebuah drama. Aktingnya tidak bagus-bagus amat tetapi ia punya wajah yang menjual. Sutradara kemudian meliriknya dan berpikir bahwa semua kekurangan gadis itu akan terlihat baik-baik saja asal diberi peran yang standar: kekasih yang cemburu pada prianya, teman sekolah yang iri atas kepopuleran seorang gadis pandai dari kalangan orang miskin, dan sejenisnya. Tapi kemudian ketika sang sutradara berbincang dengan si aktris tersebut, bermunculanlah setan-setan yang membisikkan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang gratis, semua butuh pengorbanan. Si sutradara merasa, gadis itu harus mengorbankan sesuatu demi dirinya yang akan memberikan posisi peran pendukung yang notabene sederajat lebih tinggi dari pemeran figuran.

Atau jangan-jangan, wanita di papan reklame itu dulunya memang pelacur sejenis dirinya, pikir Seira. Beruntungnya, wanita itu memiliki klien yang punya posisi penting dalam industri hiburan. Dan selanjutnya kisah klasik akan terjadi.

Oh, entah mengapa secara mendadak Seira merasakan betapa indahnya khayalan, bahkan lebih indah dari akhir dongeng yang sudah bertahun-tahun diimpikannya. Sungguh Seira berpikir alangkah beruntungnya ia kalau sampai ditemukan oleh klien sejenis itu. Wajahnya yang elok akan terpampang di titik-titik penting Korea Selatan, dan hal itu menjadi sejenis pembuktian kepada teman-teman sekolahnya yang dulu menghinanya sebagai si buruk rupa, si miskin, atau bahkan ‘si tidak layak hidup’.

Lamunan Seira terpecahkan oleh dehaman sang pria yang rupanya sudah membersihkan bekas makannya tadi. “Kau seperti wanita yang iri dengan bintang iklan di papan reklame itu.”

Seira melirik, lantas membenarkan tebakan kliennya.

“Begitulah memang yang diinginkan sang produsen. Semua wanita harus iri dan kelak ingin menjadi seperti apa yang terpampang di papan iklan. Jangan tertipu oleh iklan, kenyataannya sangat berbeda. Rasanya, realita yang boleh indah itu hanya akhir dari sebuah kisah dongeng.”

Dongeng? Pria ini salah mencetuskan kata. Ia seolah mencemooh dongeng di depan seorang wanita yang sampai saat ini memuja dongeng. “Kau salah. Di manapun, dongeng memang selalu indah, dan mayoritas orang menanggap dongeng bukanlah sebuah realita. Harusnya kau menggunakan istilah khayalan. Khayalan bisa indah bisa tidak, tergatung pelakunya. Dan ketika melihat papan reklame itu, mayoritas wanita akan berkhayal indah. Aku pun demikian. Tapi, aku berkhayal indah dalam versi yang lain.”

“Wah, wah, rupanya aku sedang bersama wanita yang menyukai dongeng. Tidak apa-apa, Nona. Memang aneh di tengah abad modern ini ada seseorang yang memercayai dongeng, ia pasti ditertawakan oleh siapapun yang mendengarnya. Tapi, kau tidak akan percaya, bahwa di tengah dunia yang semakin bisa membuktikan sesuatu secara ilmiah ini, ada seseorang sejenisku yang mempercayai bahwa reinkarnasi itu ada.”

Reinkarnasi? Sungguh pria yang menarik. Seira yang seorang pemuja dongeng dan pria yang meyakini reinkarnasi ada di Bumi ini. “Kurasa, kau dan aku sangat cocok.”

“Hmm, mungkin. Jadi tidak percuma aku mengundangmu malam ini.”

“Tapi percuma kalau kau hanya mengajak makan kue beras. Uangmu melayang sia-sia.”

“Tentu aku bukan hanya ingin punya teman makan kue beras, Nona. Ah, aku lupa ini sudah semakin malam ya… tapi bagaimana ya? Aku masih kenyang karena terlalu serakah makan. Bagaimana kalau kita duduk-duduk dulu di kasur. Aku ingin membahas dongeng dan reinkarnasi.”

***

Dongeng dan reinkarnasi.

Seira tidak pernah menyangka kalau topik pembicaraan ini akan ada. Dan ia tidak pernah menyangka lagi kalau setelah kematian ibunya—akan ada seseorang yang akan berbincang denganya membahas dongeng dan membuatnya kembali mendambakan keberadaan putri, pangeran, dan akhir hidup yang bahagia.

Pria yang mengaku bermarga Yan dan meminta Seira memanggil nama palsunya saja—Aaron—itu sungguhlah pria yang sangat berbeda.

Pria itu baru saja berceloteh bahwa dongeng dan reinkarnasi adalah satu-kesatuan dan memiliki persamaan bahwa keduanya sama-sama dianggap mustahil keeksistensiannya oleh sebagian orang.

Reinkarnasi adalah bagian dari kisah dongeng, himpunan bagian dari kisah dongeng. Tapi tidak semua kisah dongeng menyelipkan kisah tentang reinkarnasi. Begitulah Seira menambahkan. Dan di akhir penuturannya Seira tetap membubuhi kode, bahwa dirinya dan Aaron cukup sepemikiran dan layak jadi pasangan serasi, berharap Aaron akan mulai meminta Seira membuka mantelnya. Namun usahanya belum menuai hasil, Aaron masih asyik dengan bahasan yang dicetuskannya.

“Ya, memang begitulah. Tapi, sadarkah kau bahwa dongeng dan reinkarnasi memiliki poin yang berbeda ketika dikisahkan oleh para leluhur kita?

“Leluhur? Ibuku belum setua itu sampai disebut leluhur!”

Aaron meminta maaf karena salah berucap, ia tidak tahu kalau dari ibunyalah Seira mendengar kisah dongeng. Dan ia mulai cukup sadar bahwa wanita di depannya sangat sensitif, itu artinya Aaron harus cermat memilih kata. Ia merangkul Seira sebagai bentuk permintaan maaf yang tulus.

Satu awal yang baik, Seira tersenyum penuh kemenangan.

“Jadi, jelaskan padaku apa perbedaan poin yang kau maksud itu?” Seira menyandarkan manja kepalanya ke bahu Aaron, memulai serangan berikutnya perlahan.

Aaron bertutur. Dongeng dikisahkan dengan tujuan agar pendengarnya memiliki pola pikir bahwa hidup hanya sekali oleh karena itu kau harus menjadi si baik agar memperoleh kebahagiaan berkali-kali dan bahkan abadi. Dalam kisah tiga anak babi misalnya, anak babi yang memiliki pemikiran matang terselamatkan dari serangan serigala karena ia membangun rumahnya dengan cermat. Dalam kisah Cinderlela pun demikian, anak yang sabar ketika ditindas ibu dan saudara tirinya akan mendapatkan kemenangan di akhir kisahnya.

“Lalu apa bedanya dengan mitos tentang reinkarnasi?” Seira cukup tertarik untuk membantah. “Kurasa leluhur menceritakan reinkarnasi kepada keturunannya pun karena didasari oleh tujuan yang sama. Kau harus jadi orang baik supaya mendapat kebahagiaan agung.”

Aaron menggeleng. “Aku berpikir lain. Sedikit mirip tapi menurutku sebenarnya berbeda. Reinkarnasi dikisahkan agar kita  memiliki pola pikir bahwa kemenangan yang sekali itu hanya bisa diraih kalau kau jadi orang baik, dan kita bisa hidup berkali-kali kalau kau tidak juga jadi orang baik”

Seira belum paham tapi Aaron sudah melanjutkan kuliah dadakannya. “Jadi kau beruntung karena yang diceritakan ibumu adalah dongeng, bukan tentang reinkarnasi. Coba bayangkan, ada banyak orang yang mati-matian jadi orang baik demi kebahagiaan abadi? Aku sebagai orang yang percaya reinkarnasi itu ada… kadang berpikir betapa lelahnya kalau jiwa kita harus hidup berkali-kali.”

“Jadi maksudmu, kau tidak ikhlas menjadi orang baik?”

Tuduhan sembarang yang dilakukan Seira rupanya cukup menohok Aaron. “Bukan begitu juga. Kau diminta jadi orang baik karena maksud baik. Aku jadi orang baik karena maksud yang baik juga, tetapi juga disisipi motif ketakutan.”

Seira mulai paham letak perbedaaan yang dimaksud Aaron. Dongeng menawarkan impian indah dengan cara indah pula. Sementara reinkarnasi sedikit menyelipkan ancaman dalam rangka pencapaian kebahagiaan.

Tapi ada sesuatu yang kontradiktif antara pernyataan Aaron dan kenyataan.Sebuah pertanyaan sederhana yang beberapa jam kemudia membuat Seira menyesal telah mengatakannya. “Sadarkah kau bahwa besok mungkin kau akan mati dan mungkin besok-besok arwahmu terlahir dalam wujud yang lain, hanya karena malam ini kau menjadi manusia yang tidak baik?”

Tawa keras Aaron menyembur. Seira sungguh teman bicara yang jujur. Tapi, ia tidaklah seperti yang Seira tuduhkan. Sesungguhnya sejak awal ia punya tujuan lain, dan karena momentum tepat mengenai dongeng dan reinkarnasi, ia punya pemikiran lain tentang tujuannya itu.

“Ah, kau benar juga, Nona.” Aaron tersenyum simpul. Ia bangun dari ranjang dan menghampiri tas kerjanya yang ditaruh di dalam lemari penyimpanan. Aaron menuliskan sesuatu disecarik memo yang disediakan pihak hotel, sebuah nomer telepon. “Ini nomer sekretaris kepercayaanku di kantor cabang Seoul. Aku sudah berpesan padanya untuk percaya pada ucapan apapun yang dikatakan oleh seorang yang bernama Seira Lee. Jadi jangan sungkan untuk mengambil hakmu atas malam ini.”

“Tadinya aku ingin bermain-main sebentar, tapi kau mengingatkanku dan rasanya kau pun memang sejak awal sengaja menutup rapat pakaianmu supaya aku tidak menjadikanmu orang tidak benar malam ini.”

 “Oh, ya, omong-omong terima kasih untuk menyisakan kue beras jatahmu untukku. Ini sangat enak buatku, tapi mungkin bisa membuatmu gemuk dan berat untuk digendong ke ranjang oleh pangeran yang datang besok-besok.”

“Kau sesungguhnya seorang putri…”

“Yang akan mendapatkan kebahagiaan sesuai dengan kisah dongeng yang diceritakan ibumu…”

***

Aku putri?

Aku putri yang akan mendapatkan kebahagian sesuai dengan kisah dongeng yang diceritakan ibuku?

Merenungi percakapan semalam makin membuat Seira frustasi, bukan lagi migrain. Saat yang dikatakan ibunya sungguh telah tiba. Kemunculan pangeran akan terdeteksi kalau pikiran dan hati digunakan bersamaan. Bertahun-tahun yang lalu Seira hanya menggunakan hati ketika mengira pria yang menggendongnya pasca terjatuh adalah pangerannya. Tapi, migrain berat dan perasaan janggal bukan main yang ia dapati pagi hari ini menjadi sebuah pertanda bahwa Seira baru saja menggunakan pikiran dan hatinya.

Aaron Yan memang pangeran dalam arti yang sebenarnya. Namun kini Seira mulai berpikir, Aaron adalah pangeran yang tidak pantas untuknya. Entah karena Seira merasa dirinya sama sekali bukan putri, atau karena ia yakin bahwa dirinya hanya putri dalam definisi yang baru. Yang tidak penting kebersihan hatinya, yang hanya dipandang kecantikan ragawinya oleh para pria di dunia. Putri yang nyaris setiap malamnya dipuji begitu agung oleh pangeran-pangeran berkudakan mobil.

Aku putri?

Seperti yang dikisahkan dalam dongeng ibuku?

Mustahil. Seira merasa dirinya tidak memiliki kesabaran seperti Cinderlela, tidak punya hati yang bersih, tidak punya kerendahan hati, tidak melakukan apapun yang tergolong sebagai perbuatan terpuji.

Aaron mungkin pangeran tetapi aku pasti bukan putri.

Dan tadi malam ketika sesungguhnya Aaron secara tidak langsung tengah meminta Seira untuk menjadi seorang putri, Seira dalam hati membantah keras. Setelah semua yang dilakukannya untuk menafkahi hidupnya dan memuaskan keserahakan ayah biadabnya itu, mana mungkin dirinya mampu bertransformasi menjadi tokoh dongeng nan baik hati? Aaron terlalu bermimpi muluk.

Dongen, reinkarnasi, putri, pangeran? Omong kosong apa yang terjadi semalam.

***

Namun realitanya, sekuat apapun Seira menganggapnya sebagai omong-kosong yang konyol, ia terus memikirkan kejadian dan setiap detail ucapan Aaron. Kata demi kata yang dilontarkan pria itu seakan memiliki maksud tersendiri dan memang sengaja dipilih oleh Aaron.

Hengkang dari hotel sama sekali tidak berhasil membuat Seira berhasil melenyapkan migrainnya. Justru rasa sakitnya kian bertambah ketika ia masuk restoran ayam cepat saji setelahnya.

Ini sangat aneh. Seira tak pernah merasa kepalanya sesakit ini dan selama ini dalam beberapa tahun terakhir meski ia sudah menenggak berpuluh-puluh botol minuman keras. Seira berencana hari ini dirinya harus mengunjungi dokter umum.

Ia berusaha melupakan rasa sakitnya dengan menyantap dada ayam yang tersaji di depannya. Namun lagi-lagi pikiran aneh menyambanginya hanya karena ia memerhatikan ayam tersebut.

Reinkarnasi? Apa betul reinkarnasi ada sama seperti keberadaan kisah yang menyerupai dongeng? Kalau betul ada, kenapa harus manusia yang bereinkarnasi? Bagaimana dengan ayam ini? Atau, apa mungkin jiwa manusia akan terlahir kembali sesuai perbuatannya di kehidupan yang sebelumnya? Kalau iya, apa jika manusia tersebut berperilaku layaknya hewan kelak ia pun akan terlahir kembali dalam wujud hewan?

Tapi, bukankah kisah dongeng juga sangat tidak masuk akal? Pangeran yang terjebak dalam wujud kodok, dan sebagainya. Dan apa itu bisa juga disebut reinkarnasi temporal? Pangeran itu sesungguhnya hanya terlahir kembali dalam wujud kodok dan nantinya akan menjadi manusia kembali jika sebuah syarat telah terpenuhi?

Dongeng dan reinkarnasi. Kisah akhir nan indah hanya ada di dunia dongeng dan reinkarnasi adalah himpunan bagian dari dongeng itu sendiri? Kalau begitu, apa seseorang harus melalui proses reinkarnasi dulu untuk mendapatkan akhir yang indah?

Bagaimana kalau ternyata aku ini memang putri, namun aku masih harus melewati beberapa fase kehidupan untuk menemukan identitas dan kebahagiaanku itu?

Fase reinkarnasikah yang bisa membuat Seira jadi seorang putri baik hati yang pantas hidup bahagia bersama pangeran? Apakah jika ia terlahir kembali akan punya kesempatan untuk berubah?

Kalau iya, mungkin itulah maksud Aaron mengundangku semalam. Entah atas dasar apa, ia ingin aku berubah.

Lalu bagaimana jika aku sungguhan berubah di kehidupan mendatang? Eomma pastilah tersenyum di surga sana. Ya, mungkin itu pula lah maksud eomma menceritakan kisah dongeng kepadaku. Agar aku jadi orang baik, yang menjalani kehidupan dengan bermodalkan sikap-sikap terpuji agar aku bisa bahagia di ujung hidupku.

Reinkarnasi dan dongeng. Mungkinkah itu jalan yang Tuhan gariskan Seira? Melalui dua istilah itu Tuhan menunjukkan kasih sayang-Nya dan ingin Seira jadi manusia baik.

Reinkarnasi? Itukah solusi untuk kebuntuanku di kehidupan yang ini?

Untuk bereinkarnasi, bukankah aku harus mati?

Fin

 

Iklan

  1. Waa…jangan Seira! Jangaaan….. 😦
    Ini bangus dan dalam, agak berat, sih, tapi aku suka cerita yang seperti ini 🙂
    Ngomong-ngomong, udah lama banget nggak denger nama Aaron Yan 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s