Kutu Untuk Mama

Kutu Untuk Mama

Written by Fla

Ara tak pernah punya keinginan seperti ini sebelumnya. Semua karena kutu.

***

Persis di depan gerbang rumah, seorang bocah perempuan turun dari motor tukang ojek langganan mamanya. Bocah itu bernama Ara. Usianya baru menginjak lima tahun pada bulan Juli lalu. Setiap hari bocah itu selalu melalui rutinitas yang sama: diantar mama sampai gerbang TK, pulang ke rumah dengan mobil antar-jemput sekolah, dan jam dua pergi dari rumah lagi untuk les ini-itu. Hari-hari Ara tak pernah berubah sejak setahun yang lalu—sejak Ara tidak pernah paham ayahnya sedang pergi ke mana. Begitu pula dengan barang bawaan yang sama pada hari tertentu, dan rambutnya yang selalu ditata dengan cara yang sama: kuncir dua dan diikat dengan karet berhiaskan kepala Piglet.

Sekarang Kamis dan itu artinya Ara baru saja pulang dari rumah Bu Ida, guru les bacanya. Ia selalu menekan bel di dekat pagar rumahnya berkali-kali. Dan seperti biasa pula, seseorang yang masih mengenakan apron tergopoh-gopoh membukakan pintu rumah untuk menyambutnya. Jangan salah tebak. Itu bukan mama Ara. Mamanya jelas tidak pernah ada pada jam-jam seperti ini.

Orang–yang bukan mama Ara—tadi buru-buru mengambil tas ransel mungil dari pundak Ara dan ketika itulah ia melihat sesuatu yang membuatnya mengernyit. Baju dan kening Ara sama basahnya dengan kondisi orang habis berlari kencang. Hal tersebut jelas menimbulkan tanya, “Neng, Keringat Neng Ara kok banyak sekali? Memangnya tadi habis belajar apa saja di rumah bu guru? Susah ya belajarnya, Neng?”

“Iya nih, Teh Uwiiiiii. Ara berkeringat melulu, habisnya Ara lagi kesal! Belajarnya juga lumayan susah, sih…,” bocah itu bersungut dengan memanyunkan bibir sembari membanting tubuhnya ke sofa ruang tamu.

“Lho, kesal kenapa? Dimarahin ya sama bu gurunya?” Orang yang biasa Ara panggil Teh Uwi itu sedikit panik sekaligus penasaran.

“Apa ya…?” Ara tidak lekas menjawab. Bocah itu malah memainkan rambut kuncir duanya dengan telunjuk sambil terus cemberut. Kakinya bergoyang-goyang dengan ritme teratur. Ara cemberut ke arah foto dirinya dan sang mama yang terpajang di dinding ruang tamu. Foto ibu dan anak itu membuatnya berhasil menemukan kosa kata yang tepat untuk menjawab Teh Uwi, “habisnya… tadi bu gurunya lagi marah-marah terus sama anaknya. Eh, Ara kena marah juga pas salah baca huruf ‘da’ jadi ‘pa’, gitu…”

“Bu guru marah-marah karena apa? Bukan karena anaknya ngerjain Ara lagi, kan?” Teh Uwi teringat kejadian saat sepatu Ara hilang dan ternyata itu ulah anaknya sang guru, anak itu memang tergolong jahil.

Ara menggeleng kuat. “Bukan, tadi marahnya gara-gara…,” Ara menunda kalimatnya dan ia justru berpikir untuk menanyakan hal lain, “mmm, Teh Uwi pernah tahu kutu itu apa?”

Teh Uwi mengangguk, tapi ia tidak menjelaskan lanjut karena sepertinya Ara masih punya cerita lanjutan terkait dengan pertanyaannya itu.

“Tadi anaknya bu guru ngerengek terus, dia ribut kepalanya gatal gara-gara kutu. Akhirnya bu gurunya marah-marah, deh. Katanya bu guru, siapa suruh main sama anak kampung belakang, jadi ketularan kutuan, kan.”

Ara terus berceloleh tentang gurunya yang marah-marah terus siang tadi, juga tentang anaknya bu guru. Rupanya Ara juga kesal kepada anak itu, gara-gara anak itu Ara jadi kena imbas dan gara-gara anak itu juga, bu guru bilang besok Ara masih harus mengulang belajar baca halaman sembilan. Teh Uwi tertawa mendengar cerita Ara, anak majikannya itu memang suka lucu ketika bercerita ini-itu.

“Memangnya kutu itu apa sih, Teh?” tanya Ara sekali lagi di ujung ocehannya.

“Kutu itu sejenis binatang kecil, seperti semut gitu.” Teh Uwi sedikit bingung mencari penjelasan yang sederhana untuk dipahami Ara, “kutu itu bisa gigit kepala kita, nanti gatal-gatal deh kepalanya. Kayak habis digigit semut, tapi mungkin lebih gatal lagi karena kutunya nyedot darah kita.”

“Waduh… nyedot darah? Ih, serem, ya?” Ara mendekap dirinya sendiri, imajinasinya sedang membayangkan makhluk jahat penghisap darah. “Kayak drakula. Hiiii!” Ara menutup wajahnya dengan bantal sofa. Teh Uwi puas terpingkal dibuatnya.

“Engga nyedot darah sampai manusianya meninggal, Neng. Tapi memang sih, seram juga karena kata orang tua jaman dulu, orang yang banyak kutunya itu cenderung bodoh. Darah di otaknya kan diambil kutu.”

Ara manggut-manggut. Kini ia maklum kalau anaknya bu guru merengek terus. Kutu ternyata bikin gatal, dan Ara juga curiga kalau anak yang suka sok pintar itu sebenarnya pun takut berubah jadi manusia bodoh karena kutu di kepalanya. Sejenak Ara merasa senang karena ini. Tapi beberapa detik kemudian dia menaruh telunjuknya di dagu dengan mata berkedip-kedip pelan, menandakan masih ada sesuatu yang tak ia pahami dan ia sedang berencana untuk mengajukan pertanyaan lanjutan.

“Teh, tapi Ara heran… memangnya kutu engga bisa diusir pakai shampo, seperti ketombe gitu? Di iklan-iklan kan ketombe bisa hilang kalau rajin keramas pakai shampo.”

Teh Uwi terkikik cukup lama. Ia sungguh dibuat geli oleh pertanyaan Ara. “Ya beda atuh, Neng. Ketombe kan bukan makhluk hidup, jadi bisa terbawa pas diikat sama busanya shampo. Kalau kutu kan bisa lari, atau mungkin pengangan di rambut. Teteh engga paham juga sih kenapa kutu itu susah sekali dibasmi pakai shampo. Tapi sebenarnya memang ada obat pengusir kutu, Neng. Sayangnya kutu kan binatang, jadi dia bisa punya anak.  Seperti ayam saja, kutu itu bertelur. Nanti telurnya menetas jadi kutu baru. Nah, obat pengusir kutu itu cuma bisa bikin mati kutunya saja, tapi telurnya tidak mati. Yah, jadi tumbuh lagi, tumbuh lagi.”

Bocah itu berimajinasi sejenak. Kutu yang berlari super kencang seperti Dafa—temannya yang bisa berlari cepat. Kalau ada aliran air yang tiba-tiba menghampiri, sudah pasti Dafa akan berlari sekuat mungkin dan berpijak ke tempat yang lebih aman. Berarti, Dafa sulit terjangkau air. Kutu pun demikian. Ara menyimpulkan, kutu itu binatang yang sangat susah dibasmi, sama seperti tikus. Jadi, dengan cara apa kutu-kutu itu bisa dibasmi? Itulah yang Ara tanyakan kemudian kepada Teh Uwi.

Teh Uwi nyengir lebar. “Yah… mau engga mau, satu-satunya cara ya… kutunya harus dicari. Tetangga-tetangga teteh kalau siang suka duduk-duduk di teras, cari kutu. Jadi, anaknya bu guru tadi harus duduk dan bu gurunya harus sabar buka-buka rambut anaknya itu, ngambil satu-persatu telur kutunya dulu dan kalau bisa ya sekalian kutunya juga.”

Mendengar jawaban Teh Uwi, mata Ara berbinar seketika. Jadi begitu ya cara menghilangkan kutu. Ara berpikir, seandainya ia punya kutu juga… siang-siang yang akan datang ia punya rutinitas yang lain dan kegiatan barunya itu terdengar menarik. Bocah itu terlonjak dan mendadak kegirangan, “Minggu depan Ara mau minta kutu anaknya bu guru, ah!”

“Lho, kok? Punya kutu itu engga enak, Neng. Repot!” Teh Uwi mengibas-ibas kedua tangannya spontan sebagai bentuk pelarangan. Ia heran mendengar reaksi Ara.

“Iiii, asik dong, Teh. Mama kan jadi harus duduk di teras rumah siang-siang supaya kutu di kepala Ara hilang.”

Teh Uwi menelan ludah.. Kegiatan baru dalam bayangan Ara: duduk-duduk di teras rumah dengan tangan mama yang sibuk membelai-belai rambutnya, demi menangkap kutu. Teh Uwi paham, bocah ini menginginkan sesuatu yang lebih besar dibandingkan pencarian kutunya itu sendiri.

Selesai

Didedikasikan untuk para ibu yang semakin tak punya waktu untuk anaknya di siang hari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s