Andai Vs Takdir

Andai Vs Takdir

written by Fla

 

***

Choi Minho

Minho menekan bel pintu rumah Jinki dengan wajah sumringah. Malam ini ia dan Jinki akan melakukan double date. Minho membawa Hwayoung dan Jinki dengan si manis-Jihyo kesayangannya. Kedua pria itu sudah sangat antusias sejak tadi pagi, mereka sibuk membahas hadiah spesial apa yang akan diberikan untuk masing-masing kekasihnya.

“Oh, Minho.” Yang barusan bicara adalah Nyonya Lee, ibunda Jinki. Minho membungkuk untuk menyampaikan salam hormatnya.

“Minho, maaf ya. Bilang pada Jihyo, Jinki batal kencan. Jinki baru bibi suruh ke bandara untuk menjemput ayahnya yang baru pulang dinas dari Cina.”

“Aaaa, baiklah, Bibi. Akan kusampaikan.”

Minho tidak banyak berkata-kata. Kalau Nyonya Lee sudah memberikan perintah kepada anaknya, pertanda titik mati. Jinki sesunguhnya anak yang pantang ingkar janji, tapi ia sangat takut jika tidak mematuhi keinginan ibunya. Terpaksa Minho pergi sendirian dan menemani dua gadis sekaligus berkencan malam ini.

***

Lee Minhwa

Minhwa adalah seorang istri dan seorang ibu dari satu-satunya anak yang bisa ia lahirkan ke dunia ini. Kau tidak perlu meragukan rasa sayangnya untuk sang anak, Lee Jinki.

Minhwa selalu ingin Jinki terlindungi dan bahagia. Minhwa yakin dirinya tahu apa yang terbaik untuk Jinki dan sangat yakin bisa memberikan yang terbaik untuk putranya.

Pada awalnya keinginan Minhwa memang tidak berjalan mulus. Seperti kebanyakan anak laki-laki lainnya, mereka sangat pembangkang. Mereka tidak peduli ketika ibunya mengatakan, ‘Nak, jangan ke sana, nanti kau masuk lubang’,  Jinki pun demikian.

Minhwa rasa Jinki perlu mendapatkan bukti dulu baru percaya. Untunglah prediksinya benar. Setelah beberapa kali Jinki terkena getahnya karena tidak patuh kepada Minhwa, akhirnya anak itu berubah.

Minhwa akhirnya bersyukur ia tidak harus bernasib sama dengan para orang tua lainnya yang nyaris setiap hari beradu mulut dengan anak mereka karena bertentangan sudut pandang dan keinginan. Minhwa beruntung, Jinki sudah menjadi anak yang sangat baik dan penurut. Minhwa rasa anaknya itu sudah paham bahwa apa yang Minhwa inginkan adalah demi keselamatan Jinki.

 Malam ini pun sikap Jinki  menunjukkan bahwa anak itu selalu menjadi anak yang manis bagi Minhwa. Saat Minhwa meminta Jinki untuk menjemput suaminya ke bandara, Minhwa memang sempat melihat Jinki terdiam sebentar dan mendengar Jinki mengeluh samar-samar bahwa ia sudah punya janji double date.

Namun, Minhwa tahu anak itu akan langsung mengangguk patuh jika sekali lagi Minhwa memintanya,  “Jinki, kasihan ayahmu sangat lelah. Kalau dijemput kan bisa tidur di mobil. Dia butuh istirahat. Ayah harus ke Jepang lagi besok pagi, Nak. Apa salahnya batal kencan demi orang yang sudah membiayai hidupmu termasuk kencanmu selama ini. Kencannya lain kali saja. Nurut sama eomma, Nak.”

Benar, anak itu tidak banyak bercakap kata lagi, ia meraih kunci mobil yang sejak awal sudah Minhwa julurkan ke arahnya.

***

Lee Jinki

Percaya atau tidak. Dulu Jinki sangat pembangkang.

Pernah suatu hari ibu Jinki melarang makan permen berlebihan atau katanya, Jinki akan sakit gigi. Tapi Jinki tak mendengarkannya dan ujungnya, dua minggu kemudian gigi Jinki sakit semalaman.

“Lihat, Nak. Apa yang terjadi? Gigimu sakit, kan? Kau sendiri yang susah pada akhirnya. Lain kali nurut apa kata eomma, Nak. Kalau nurut kan tidak ada acara sakit gigi seperti ini!”

Jinki tertunduk dan mengaku menyesal detik itu. Namun, seperti halnya anak lelaki lain yang habis diomelin ibunya, anak itu belum kapok. Terlebih dua hari kemudian sakit giginya sudah lenyap begitu saja tanpa perlu bertemu dokter gigi menyeramkan. Jinki tetap makan permen meski tak sesering sebelumnya dan tentu saja, ia tetap bandel.

Jinki tak menggubris ketika ibunya melarang untuk memainkan laptop ayahnya, Lee Junho. Kata ibunya, Jinki sangat sembrono dan sering merusak barang. Tapi karena penasaran, Jinki kecil justru asyik memainkan laptop tersebut begitu ibunya pergi menelepon sang nenek. Beberapa jam kemudian ayahnya memang sukses dibuat marah besar karena Jinki—yang selalu diliputi rasa ingin tahu—memasukkan dua keping CD sekaligus ke dalam tempat pemutar CD di laptop tersebut. Akibatnya, semalaman Jinki harus mendengarkan ibunya berceloteh, “Kau sih tidak dengar larangan eomma. Coba kau nurut, laptopnya akan baik-baik saja sekarang. Lihat, sekarang ayahmu jadi tidak bisa mem-burning data pentingnya ke CD.”

Banyak lagi pelanggaran yang Jinki lakukan dan sayangnya Jinki belum juga kapok. Hingga akhirnya, ada suatu momentum yang membuat  ia berubah drastis menjadi anak yang tak ingin melanggar perkataan ibunya.

Ceritanya, suatu kali ibu meminta Jinki untuk tidak ikut pergi ke pantai dengan anak-anak tetangga karena ombaknya sedang kencang, tapi Jinki tetap pergi. Apa yang dikatakan ibunya terbukti, Jinki yang tak pandai-pandai amat berenang pada akhirnya nyaris kehilangan nyawa karena tenggelam terseret ombak.

“Kamu sih tidak nurut sama eomma. Coba kau tadi tidak pergi ke pantai, tidak akan ada kejadian seperti ini, Nak. Coba kalau pengawas pantai terlambat sedikit saja?  Ya Tuhan, untung Engkau masih memberi keselamatan untuk anakku…”

Jinki hanya meringkuk tanpa membalas sepatah kata pun.

“Jinki, lain kali nurut sama eomma, Nak. Kalau tidak nurut sama orang tua itu pasti ada saja celakanya…”

Selama beberapa hari berikutnya, sang ibu terus mengulang-ulang kalimat serupa. Ketika Jinki ingin main wahana menantang di Lotte World; ketika Jinki ingin ikut main sepatu roda bersama Minho, anak tetangganya; juga ketika Jinki mogok pergi les dan justru ingin ikut ayahnya pergi Daegu untuk mengunjungi nenek.

Ketika mendengar larangan ibunya, Jinki diam dan tak merajuk lagi karena ia selalu teringat kecelakaan di pantai itu. Jinki ketakutan sekali setiap mengingatnya; kematian yang begitu terasa dekat, ia bahkan sudah pasrah total ketika merasakan seluruh tangannya sudah tidak lagi merasakan udara permukaan.

Jinki tidak ingin nasib buruk menimpanya lagi. Mematuhi titah ibunya adalah satu-satunya jalan agar ia tidak terkena musibah.

Sejak saat itu Jinki berubah. Jinki tidak bermain lari-larian sepulang sekolah dan mengikuti anjuran ibunya untuk mengambil kursus Bahasa Inggris. Jinki tidak ikut ekstrakurikuler basket (padahal Jinki suka sekali main basket), dan justru memasuki klub debat Bahasa Inggris karena ibu bilang basket hanya ditujukan bagi anak-anak yang mengejar popularitas sementara mengasah kemampuan berbicara bahasa Inggris jauh lebih bermanfaat untuk masa depan Jinki. Jinki menjauhi Jungshin karena ibu bilang Junshin adalah tipe anak yang tidak bisa menjaga sopan santunnya dan bermain bersama Jungshin hanya akan membuat Jinki ikut dicap tidak baik oleh para tetangga. Anak itu pun tunduk setiap kali ibunya melarang untuk mengkonsumsi makanan tertentu. Jinki mengikuti petuah ibunya untuk mengambil jurusan Hubungan Internasional dibandingkan masuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris karena menurut ibunya, menjadi seorang diplomat lebih memberikan prestisi dan juga jaminan kesejahteraan yang lebih baik. Jinki tidak protes ketika ibunya menyuruh memakai tiga lapis mantel padahal saat itu baru memasuki awal musim dingin. Jinki bahkan mendengarkan keputusan ibunya ketika ia meminta izin untuk ikut acara perkemahan sekolah atau tidak.

Ibunya bilang A, maka Jinki akan melakukan A. Tak pernah sekalipun lagi Jinki membangkang, dalam hal apapun Jinki selalu mematuhi ibunya. Ia tak ingin mendapatkan ganjaran karena menjadi anak pembangkang.

Termaksuk malam ini ketika Jinki—yang sudah berpakaian rapi dan menyemprotkan parfum terwangi—mendadak harus batal kencan karena ibunya meminta Jinki untuk menjemput ayah di bandara. Jinki tunduk.

Awalnya ia keberatan. Bukan apa-apa, sudah dari jauh-jauh hari ia dan Minho merencanakan malam romantis sejenis ini untuk pergi bersama kekasih masing-masing. Kebetulan Jinki juga sudah penat setelah satu semester penuh menahan dirinya untuk tetap belajar keras demi kelancaran ujian.

Tadinya ia akan menolak dan berniat meminta ibunya untuk menyuruh supir kantor ayahnya saja yang pergi menjemput ke bandara, sayangnya ia tahu bahwa dua hari yang lalu istri sang supir tersebut baru saja meninggal dunia. Meski ia sangat ingin menolak perintah ibunya, ia berubah pikiran saat teringat sesuatu yang membuatnya takut untuk pergi kencan malam ini.

Mungkin kalau aku memilih pergi kencan, aku akan mendapati hal tidak baik dalam kencanku itu. Begitulah pikir Jinki.

***

Lee Junho

Selama dua puluh empat tahun, kami—aku dan istriku—begitu menjaga Lee Jinki. Aku sebagai seorang Ayah memang cukup mengkhawatirkan anakku. Aku sudah sering melihat anak-anak arogan yang hidup tanpa arah, yang melakukan apapun sesuai kehendaknya dan akhirnya mereka mendapatkan ganjaran berupa gunjingan sosial dan kesengsaraan hidup. Aku tidak ingin anakku tumbuh menjadi manusia seperti itu karena jelas, aku tidak ingin anakku menderita. Aku sebagai seorang ayah harus bisa melindungi anggota keluargaku—terlebih anakku—dari ancaman apapun.

Ya, ancaman apapun seperti: Jinki akan menjadi anak bodoh yang hanya bisa memasuki SMA tempat para berandalan berkumpul, Jinki akan celaka jika bepergian ke tempat-tempat berbahaya, Jinki akan sakit kalau terlau banyak mengkonsumsi hidangan A dan B,  maupun Jinki akan menjadi orang miskin karena ia tidak memiliki kemampuan apapun untuk bekerja.

Oleh karena itu, aku yang notabene lebih sering berada di luar rumah, tidak pernah keberatan ketika Minhwa memerintahkan atau melarang apapun kepada Jinki. Aku tahu, ia juga seperti aku. Kami sama-sama ingin yang terbaik untuk anakku.

Tapi, aku rupanya lupa bahwa terjepit pintu rumah pun bisa menjadi ancaman untuk Jinki. Aku sungguh tidak sadar bahwa seberapa keras pun kami menjaga dan mengendalikan, bahaya memang selalu ada di manapun. Di jalan raya pun ada, dan sangat besar.

Aku terlambat menyadari bahwa di dunia ini ada Pengendali yang jauh lebih punya kuasa dibandingkan kami berdua. Sang Pengendali yang juga Pemilik Asli Jinki, telah mengambil sesuatu yang telah lama dititipkan-Nya kepada kami. Jinki diminta kembali ke sisi-Nya.

Ah, seharusnya aku tidak menelepon Minhwa untuk meminta Jinki menjemputku di bandara tiga malam yang lalu. Seharusnya Jinki tidak pernah pergi. Andai aku mau menahan kantukku sebentar saja untuk lebih memilih naik taksi dan terjaga sepanjang jalan, atau andai…

Ah, andai. Aku tahu, ‘sang andai’ tak pernah bisa membuat waktu kembali, ‘andai’ tidak akan pernah bisa mengembalikan sesuatu yang telah terlewati, ‘andai’ selalu terucap setelah sesuatu terjadi.

Sekarang aku hanya bisa mengikhlaskan kepergian abadi anakku. Aku harus sadar bahwa semua yang bernyawa pasti akan pergi pada waktunya. Aku harus rela, melepaskan sesuatu yang sudah sekian lama dijaga hati-jati. Meski terasa sangat berat, aku yakin bisa melakukannya.

Aku yakin diriku mampu untuk tak meratapi nasib yang menimpa pemataku setelah seminggu atau sebulan tragedi ini berlalu. Namun, aku tidak yakin kapan diri ini bisa menghentikan istriku yang nyaris tak berhenti meraung  dengan suara parau,

“Andai, andai, Nak. Andai kau sekali saja tak bertindak sesuai keinginanku. Andai, andai selama ini aku tidak pernah memintamu untuk selalu melakukan apapun yang kuperintahkan. Andai kau membangkang sekali… saja. Andai aku mengizinkan kau pergi bersama Minho saja. Andai, andai, andai… andai aku melakukannya, mungkin kau masih di sisiku.”

Fin

Ummm, aku bingung sendiri.

Di satu sisi aku setuju bahwa nasehat orang tua ada benarnya. Tapi di sisi lain, aku tidak bisa membenarkan para ibu yang hobi sekali berkata, “Coba tadi nurut, kamu engga akan jatuh, kamu engga akan berdarah, lalalala.”

Mereka berhak melarang anaknya memang, tapi tidak sepantasnya menyalahkan anaknya berlebihan jika sesuatu terjadi. Maksudku, kalau si anak jatuh setelah diperingatkan sebelumnya, ya memang itu sudah takdir Tuhan.

Mendengar ucapan sejenis itu selama bertahun-tahun sesungguhnya bukan menjadikan anaknya sebagai anak yang penurut, melainkan patuh karena ia takut. Si anak selalu takut salah memutuskan, takut disalahkan atas segala sesuatu yang menjadi pilihannya.

So, aku berjanji, sebagai calon ibu. Kelak aku hanya akan berkata, “Nak, sebaiknya begini, manfaatnya ini.” Dan tidak akan menyalahkan anakku terus-menerus dan cukup memberi solusi di tengah keterpurukannya, membangkitkannya.

Iklan

  1. Aku setuju. Daripada menakut-nakuti, lebih baik menjelaskan baik-buruknya suatu pilihan. Supaya anak belajar untuk memutuskan (tentunya setelah ia punya pemikiran yang cukup matang untuk itu).
    Ini mirip pengalamanku pribadi. Larangan-larangan itu, memang membuatku taat aturan, tetapi di sisi lain aku menjadi sedikit penakut.
    (komen ttg ceritanya nyusul ya, Fla 🙂

    • Nemu 1 typo: pantan –> pantang
      Soal model cerita, aku ga bisa komen banyak, soalnya vignette (meskipun aku nggak ngerti definisi vignette itu sebenarnya apa).
      Tapi unik ngelihat cerita dengan sudut pandang atau fokus penceritaan yang berbeda seperti ini 🙂 Part Minho, Jinki, dan Minhwa sama-sama menggunakan 3rd POV, tapi beda fokus, dan penutupnya dari sudut pandang Junho.
      Dan kayaknya aku tidak menemukan yang janggal dalam ceritanya 🙂

      • Kan aku terinspirasi dr cerita ami yg pake sudut pandang berbeda d tiap partnya… 🙂

        Aku jd ga yakin. Eh, vignette apa ya? Selama ini aku taunya, vignette itu lebj dr 1000words dan menyoroti satu kejadian utama.

        Yap, ada typo. Ada yg salah ketik juga di bagian Junho. Besok aku benerin kl buka lepi deh. Thanks ya mii 😀

  2. Kak, ini merinding.
    La baru aja ngebahas ttg begitu beragamnya cara ngasuh ortu dan gmna respon kita sama cara asuh tsb, yang masing2 berbeda di antara kami. Aku nyaman dg cara pola asuh A, temenku B. Kalo temenku diasuh dg pola B, dia bilang dia gak bakal kuat, begitu pula sbaliknya dg aku.

    Yah, over emang gak baik. Less pun demikian…

    Muantep kak fla ceritanyaaa ❤

    • Merinding ya la?
      Sebenernya poin yg mau aku blg bukan tt cara asuh ibu jinki yg terlalu ketat, tp kebiasaan ibu jinki yg suka bilang, “coba td dengerin, ga akan gini deh”
      Tp omong2 tr pola asuh, usah lama aku mendambakan yang Less sepertinya, hihihi.

      Thanks la udh berkunjung 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s