Bintang, Matahari, dan Bulan

bintang-matahari-bulan

Ditulis oleh Fla

Park Nana | Ji Chang Wook | Lee Jongsuk

 

***

Pernah suatu malam Park Nana mengajukan sebuah pertanyaan kepada Lee Jongsuk dan Ji Chang Wook saat ketiganya tengah berlibur bersama di villa milik keluarga Chang Wook, “Kalau kalian bisa menjadi benda antariksa, kira-kira benda apa yang dipilih?”

“Matahari!” Chang Wook berseru sambil meletakkan satu kayu bakar lagi ke api unggun. Sementara itu, Jongsuk melotot ke arah Chang Wook karena respon pria itu super kilat sekali. Jongsuk bahkan belum berpikir dirinya ingin menjadi apa.

“Hebat! Matahari memang terdengar seperti dirimu.” Nana memuji pilihan Chang Wook. Menurut gadis itu, Chang Wook memang cocok menjadi matahari. Kalau Chang Wook memilih matahari, maka… Nana melemparkan pandangannya kepada Jongsuk yang masih terlihat linglung. “Jongsuk-ah? Bagaimana denganmu?”

Jongsuk menggedikkan bahu. Nana tahu Jongsuk masih berpikir, jadi gadis itu mengutarakan pilihannya dulu, “Aku mau jadi bintang!”

Chang Wook terbahak sementara Jongsuk diam. Nana pikir ada sesuatu yang salah dengan pilihannya. Apakah dua temannya ini menganggap Nana tidak pantas menjadi bintang? Mungkin. Tetapi ada sedikit rasa tidak terima di hati Nana kalaulah betul Chang Wook bermaksud mencemooh impiannya itu. Dua anak ini perlu tahu, menurut Nana. Bahwa dirinya memilih bintang bukan karena merasa bersinar dan memiliki keistimewaan layaknya para pria medefinisikan seorang gadis. Nana hanya ingin menjadi bintang karena, ah, Nana berpikir untuk menjelaskannya pada Chang Wook dan Jongsuk agar mereka tidak salah paham.

“Aku ingin jadi bintang. Ya, bintang.  Aku ingin jadi bintang karena…” Ada jeda panjang sebelum Nana melanjutkan, “aku bisa menemani siapa pun yang kesepian dalam malam.”

“Kurasa tadi kita tidak diminta menyebutkan alasannya,” Chang Wook protes. Dia sebenarnya tidak keberatan jika Nana memaparkan alasannya. Chang Wook memilih protes itu karena dua hal. Pertama, protesnya bisa mendobrak keheningan janggal yang tadi muncul. Kedua, ia mendadak merasa tidak nyaman karena melihat Jongsuk yang seketika mendongak sedih ke arah langit dengan sorot mata kuyu—seolah orang yang kesepian menurut Nana adalah Jongsuk.

Nana melemparkan cengirannya dan menyenggol siku Jongsuk, “Giliranmu.”

Jongsuk menggeleng lemah, “Aku ingin menjadi diriku sendiri saja, manusia.”

Makhluk Bumi yang ditemani bintang di langit, lanjut Jongsuk dalam hati.

***

Park Nana yang Jongsuk kenali pertama kali adalah sosok bocah kecil –yang entah bagaimana caranya—tiba-tiba berdiri di ruang tamu rumahnya saat Jongsuk tengah menikmati ASI sang ibunda.

Bocah itu menarik-narik rok ibunya. Biasanya Jongsuk tidak keberatan kalau seseorang menanggu keasyikannya, selama tidak merebut sesuatu yang menjadi sumber keasyikannya. Terutama puting susu ibunya, Jongsuk kecil berpikir bahwa itu adalah satu-satunya yang hanya boleh dimilikinya dan tidak akan dibagi dengan orang lain. Tetapi, Nana justru merengek dan Jongsuk jadi meraung-raung ketika ibunya mendudukkannya di sofa sebelah sementara tangan wanita itu meraih Nana ke dalam gendongannya untuk kemudian disusui.

Ibunya hanya minta Jongsuk bersabar lima menit. Tapi Jongsuk bahkan tidak tahu lima dan menit itu apa artinya, jadi Jongsuk terus menangis. Protes Jongsuk terus berlangsung sampai ibu Nana datang tergopoh-gopoh seakan ia habis panik mencari keberadaan Nana. Ibu bocah perempuan tersebut memekik ketika melihat anaknya disusui oleh tetangga barunya, padahal (a) ia merasa belum berkenalan dengan tetangganya (b) Nana sudah dua bulan dilatih untuk tidak menyusu ASI.

Perjumpaan pertama Jongsuk dengan Nana tidak terlalu bagus, tetapi kali kedua dan seterusnya, Jongsuk dan Nana ibarat pulpen dan kertas. Tinta pulpen bisa digoreskan pada selain kertas, begitu juga kertas yang bisa dipenuhi coretan yang bukan berasal dari pulpen. Tetapi tentu saja nyaris semua orang berpikir bahwa itu tidak ideal. Tidak ada Nana memang tidak membuat Jongsuk menderita, tetapi juga tidak bisa disebut bahagia.

Setiap pagi Nana selalu menyahut ‘Apa, Suk Suk?’ sembari berlarian kecil ke arah rumah Jongsuk padahal Jongsuk sama sekali tidak memanggilnya, tapi ajaibnya Jongsuk akan langsung melirik ibunya—seolah meminta kepastian bahwa ia tidak salah dengar—dan berseru spontan setelahnya, “Nayaaaaa.”

Kemudian mereka bermain bersama, dan karena Jongsuk baru bisa merangkak, Nana—yang sebenarnya sudah bisa berjalan—ikut merangkak bersama Jongsuk mengejar bola-bola karet.

Kalau Nana sedang pergi dengan orang tuanya ke luar kota, Jongsuk hanya akan mendekam di rumah. Dan ketika Jongsuk yang sedang tidak ada, Park Nana tidak akan merengek pada ibunya untuk main di luar.

Nana di mata Jongsuk adalah seorang bocah cilik (karena badan Nana kecil jauh lebih mungil daripada Jongsuk yang berusia tujuh bulan lebih muda) yang tidak akan menangis ketika pertama kali ibu mereka mengajak berenang, padahal Jongsuk harus menjerit berkali-kali ketika ibunya memasukkan kakinya ke dalam air kolam renang. Nana bahkan berani menapaki jembatan goyang-goyang yang ada pada arena outbond sementara Jongsuk bahkan tidak berani menaiki tangga kayu untuk menuju jembatan tersebut.

Jongsuk merasa Nana bukan hanya sekadar teman atau sahabat, tetapi sesuatu yang lebih menyerupai seseorang yang mengajarinya tentang arti keberanian. Kekaguman Jongsuk di masa kecil terus bertambah dan bertambah. Nyaris segala sesuatu dalam diri Nana berhasil membuat Jongsuk terpesona.

Jadi kalau Nana mengatakan dirinya adalah Bintang, maka tidaklah salah menurut Jongsuk. Setidaknya, Nana adalah bintang yang begitu terang bagi Jongsuk.

***

Aigooo, aku sebal pada senior kita yang bernama Chanyeol itu!” Chang Wook mengeluh pada Jongsuk saat keduanya tengah menghabiskan sore di kamar Jongsuk—tanpa Nana.

“Kenapa?” Jongsuk meletakkan buku yang sedang dibacanya, menunjukkan kernyitan alisnya ke arah Chang Wook. Jongsuk heran kenapa Chang Wook tiba-tiba berkata seperti itu. Senior bernama Chanyeol itu sepertinya terlihat baik dan menyenangkan—yeah, kecuali fakta kalau belakangan ini Jongsuk pernah melihat pria itu mengobrol dengan Nana di kantin.

“Dia baru saja menyatakan cinta pada Nana, dan aku rasa Nana juga suka padanya. Kau lihat sendiri Nana selalu tersenyum pada senior yang satu itu.”

“Apa?” Daun telinga Jongsuk mendadak tegak. Sebetulnya ia sudah memprediksi kalau Nana juga memiliki ketertarikan terhadap Chanyeol. Seniornya itu bukan hanya tampan, atletis, dan populer, tetapi juga memiliki karakter yang sangat disukai Nana: hangat, asyik diajak diskusi, pintar, tidak suka mendiskriminasikan orang. Jongsuk tidak heran kalau akhirnya Nana dan Chanyeol pacaran.

Jongsuk justru lebih heran lagi karena Chang Wook menyatakan kekesalannya seolah anak itu baru saja mengalami kekalahan besar. Sepengetahuan Jongsuk, Chang Wook sama sekali tidak pernah memiliki perasaan untuk Nana. Justru Jongsuk lah yang selama ini diam-diam menahan dirinya untuk tidak menyukai sahabatnya itu. Harusnya Jongsuk yang kesal, bukan Chang Wook.

“Jongsuk-ah, kau tidak marah bintang kita direbut?” Chang Wook tidak suka dengan respon pendek Jongsuk.

“Sejak kapan kau menyebut dia bintang? Bukankah dulu kau menertawakannya pada saat Nana memilih bintang?” Jongsuk menatap lurus Chang Wook, tapi yang ditatapnya tidak sadar makna dari sorot mata Jongsuk.

Chang Wook memalingkan pandangannya kemudian memanyunkan bibirnya dengan sebal, “Kau juga waktu itu tak bereaksi.”

“Diam adalah sebuah reaksi, dan itu jelas merupakan bagian dari reaksiku,” Jongsuk menyahut datar.

Keduanya kemudian terdiam. Sampai akhirnya Jongsuk buka mulut, “Sejak kecil sebelum kau datang, bagiku Nana memang bintang.”

***

Aku mau jadi bintang!

Chang Wook ingat betul bagaimana bersemangatnya seorang Park Nana ketika mengutarakan jawabannya itu. Chang Wook sebetulnya ingin memberikan julukan itu kepada Nana sebelum gadis itu sempat menjawabnya. Mungkin jauh sebelum Nana berpikir untuk menjadi bintang, Chang Wook sesungguhnya sudah menyadari bahwa seorang Nana memang punya sinar yang begitu memukau. Seperti bintang.

Chang Wook ingat ketika pertama kali dirinya bertemu Nana, gadis itu bahkan sudah menunjukkan sinarnya dengan mengajak Chang Wook ikut bergabung. Park Nana adalah seorang yang baik hati. Bukan hanya baik hati, tetapi juga pandai dalam fisika, bernyanyi, dan memasak.

Pada awalnya Chang Wook memang tersenyum ketika membayangkan seorang Park Nana memang cocok menjadi Bintang. Tetapi setelah ia berdiskusi tentang Bintang bersama Jongsuk, Chang Wook mendadak tidak ingin Nana menjadi bintang.

Jadi aku bisa menemani siapapun yang kesepian dalam malam.

Oh, shit! Chang Wook merutuk kesal ketika teringat sederet kalimat Nana dan bertambah kesal ketika ia teringat kelanjutan momen itu.

***

Lee Jongsuk berkata dirinya ingin menjadi manusia saja. Mana bisa, manusia bukan merupakan benda antariksa, setidaknya menurut Chang Wook yang awam tentang definisi benda antariksa. Jadi pria itu mendesak Jongsuk untuk memberikan jawaban yang benar, tetapi sialnya Jongsuk tetap diam tanpa sorot mata yang menandakan bahwa ia sedang berpikir.

“Kau cocok jadi bulan,” celetuk Nana bertepatan dengan mulut Jongsuk yang hendak berkata bahwa dirinya ingin jadi Bumi saja (lantaran tidak bisa menjadi makhluk Bumi).

Jongsuk sedikit kaget dengan ucapan Nana. Bagaimana bisa dirinya menjadi Bulan. Oke, Jongsuk memang putih, terang warna kulitnya. Tetapi di mata orang lain, Jongsuk merasa dirinya tidak lebih dari seorang pendiam yang jarang tersenyum dan terkesan redup. Bermimpi menjadi Bulan sama halnya dengan berkata, “Don’t give up on your dreams. So, keep sleeping.” Dan itu artinya, mustahil terjadi kecuali dalam bunga tidur saja.

Aniyo, itu berlebihan.” Jongsuk akhirnya menanggapi sorot mata Nana yang sepertinya sudah menunggu respon darinya sejak tadi.

“Tidak, menurutku itu cocok untukmu. Kau itu makhluk yang diam-diam punya banyak kelebihan. Uhm, ya, meskipun kau lebih sering menampilkan sisi gelapmu kepada orang-orang. Tapi begini, kau tahu tidak, Bulan itu punya sisi terang dan sisi gelat, dan saat Bulan menampakkan dirinya secara penuh di langit, orang-orang terpesona. Mungkin aku satu di antaranya yang berdecak kagum.”

Uhuk.

Jongsuk tersedak, dan kemudian diikuti dengan Chang Wook yang tertawa geli.

“Nana-ya, kau terdengar seperti orang yang sedang mulai memuji pujaan hati,” Chang Wook berkomentar sambil mendorong pelan bibir atas Nana.

Yeah, anggaplah begitu. Tapi aku tidak sedang menggombal, nih!” Raut wajah Nana berubah menjadi serius, ia menarik Jongsuk ke dalam rangkulannya  tangan kanannya.

“Dengar, Lee Jongsuk dalam kacamataku adalah seseorang yang ketika aku masuk ke dalamnya, aku seperti masuk ke dunia hening. Sekilas membosankan. Tapi jika aku jeli mengamati keheningan itu, ada banyak hal menakjubkan di sana. Kau pandai melukis, dan itu dilakukan dalam keheningan. Kau memang bukan tipe orang yang banyak omong, tapi kau selalu bisa mengeluarkan pernyataan yang tepat di saat yang dibutuhkan. Lee Jongsuk bukan tipe orang yang senang tampil menakjubkan di depan guru, tetapi kau selalu bisa menjawab soal apapun dalam ujian dan mendapatkan nilai nyaris sempurna. Berlebihankah kalau aku katakan kau punya banyak sisi terang yang sama bagusnya dengan sisi terang bulan, Jongsuk-ah?”

Jongsuk buru-buru mengarahkan bola matanya kepada Chang Wook seolah-olah meminta temannya itu untuk buru-buru melontarkan celetukan yang bisa mengambil-alih jeda. Jongsuk tahu pada saat-saat seperti ini, tidak ada tanggapan yang bisa ia lakukan. Otaknya bahkan mendadak kosong saking semua isinya berterbangan akibat mendengar pujian Nana yang sama sekali tidak pernah ia sangka. Jongsuk sekali lagi memberi kode kepada Chang Wook. Ia sudah tidak tahan dengan suhu dingin yang seakan merambati tubuhnya dan membuatnya kaku beku seperti ini.

Namun, rupanya Chang Wook sendiri terlalu terhenyak mendengar rentetan kalimat Nana, otaknya sedang berpikir keras untuk memprediksi kebenaran dalam kalimat tersebut: Nana hanya sedang berusaha membuat Jongsuk senang, bukan sungguhan memuji Jongsuk, kan?

***

Chang Wook takut jawabannya adalah opsi yang kedua. Bukan tidak boleh Nana memuji Jongsuk. Tetapi, dalam hati kecilnya Chang Wook enggan menerima kenyataan bahwa Nana sungguhan menganggap Jongsuk itu Bulan.

“Sejak kecil sebelum kau datang, bagiku Nana memang bintang.”

“Chang Wook-ah, kau tahu tidak kenapa aku ingin jadi manusia saja? Karena dengan menjadi manusia, aku tidak kesepian. Ada matahari yang menerangi siangku, dan ada bintang yang menghiasi malamku. Kau tahu, malam itu sepi. Tapi aku beruntung karena di langit da bintang”

Chang Wook masih tak berkutik.

“Chang Wook-ah, Ji Chang Wook. Entah mengapa aku ingin mengatakannya padamu. Bintang itu ada banyak. Tapi anehnya, hanya ada satu yang terlihat dalam jangkauanku.”

“Chang Wook-ah, tentang ceritaku barusan, kau harus tetap jadi matahari yang tidak punya mulut. Jadi, diam saja, ya!”

Pengakuan Jongsuk barusan memang tersirat saja, tapi Chang Wook tahu maknanya. Ia bingung harus bereaksi seperti apa. Chang Wook tahu, wajar kalau Jongsuk menganggap Nana itu Bintang. Tapi kalimat ‘sejak kecil sebelum kau datang’ itu berhasil membuat Chang Wook kesal karena ia merasa kalah. Kalah oleh waktu, kalah karena kenyataannya Park Nana sudah akrab dengan Lee Jongsuk sebelum dirinya datang. Kalah oleh Jongsuk? Bisa jadi.

Karena Jongsuk adalah Bulan, dan Park Nana sendiri yang mengatakan itu.

Chang Wook tidak suka, bahkan benci memikirkannya. Bintang muncul di malam hari, bersama bulan. Sedangkan matahari selalu muncul pada siang hari. Bagaimanapun, Chang Wook gelisah ketika mengingat bahwa matahari dan bintang tidak akan pernah bertemu, sementara bulan dan bintang nyaris selalu bersama dan bisa menjadi satu-kesatuan yang memunculkan keindahan di malam yang redup.

Memikirkan tentang Jongsuk dan bulan membuat Chang Wook lebih frustasi dibandingkan dengan mengingat bahwa mungkin Nana sekarang sudah dan sedang terikat oleh Chanyeol sunbae.

Semuanya karena Park Nana mengatakan Jongsuk adalah Bulan. Dan bulan bersanding dengan bintang.

 ***

Nana tidak pernah menyangka ada orang yang sungguhan menganggapnya seperti bintang. Seorang seniornya, Park Chanyeol, baru saja mengatakan bahwa senyum Nana bak bintang yang bersinar terang di langit sana dan menanyakan apa boleh bintang itu menjadi penerang dirinya.

Dari sekian banyak perumpamaan, Nana sedikit heran kenapa Chanyeol memilih bintang sebagai asosiasi. Suatu kebetulan yang indah.

Indah, tapi anehnya tidak terlalu menyenangkan.

Untuk sesaat ia memang senang mendengar ucapan Chanyeol beberapa waktu lalu. Ya, senang karena tidak menyangka bahwa orang yang baru saja mengatakannya adalah Chanyeol, senior tampan yang sudah lama menjadi teman berbincang seru.

Tetapi, beberapa saat kemudian hatinya berbisik bahwa itu bukanlah kesenangan yang akan berlangsung lama. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam batinnya sejak lama dan tiba-tiba muncul lagi ke permukaan sebagai sesuatu yang besar dan mendesak untuk tampil. Sesuatu yang panas.

Tentang Bintang, yang sesungguhnya bertalian erat dengan matahari.

Sudah sangat lama Nana merasa bahwa Chang Wook memang matahari. Ia membawa suatu sinar yang positif yang bisa menerangi kehidupan, ia memiliki senyum yang hangat sekaligus kehangatan pada karakternya, tetapi di sisi lain Chang Wook berhasil membakar sesuatu yang ada di dalam diri Nana.

Dulu seorang Ji Chang Wook memang aneh menurut Nana. Pemalu sekaligus penakut. Tetapi kemudian bocah kecil itu bertransformasi dari seorang yang pemalu menjadi seorang periang yang dengan mudahnya tertawa dan mengajak orang di sekitarnya untuk bergembira bersamanya. Selama belasan tahun Nana tumbuh bersama Chang Wook, dan juga Jongsuk. Nana menyadari bahwa kebahagiaan yang ada di dalam dirinya, yang kemudian—yang menurut Chanyeol—terpancar dalam rupa senyuman, adalah buah hasil keberadaan Chang Wook di dekatnya.

Ya. Sesungguhnya, ia memilih bintang bukan karena alasan yang dilontarkannya kala itu. Ia memilih bintang karena sebelumnya Chang Wook memilih menjadi matahari.

Sayangnya, baik Chang Wook maupun Jongsuk tidak pernah tahu satu fakta, bahwa matahari adalah bagian dari bintang.

Nana ingin Chang Wook menjadi bagian dari dirinya dan tidak berada jauh dari sisinya karena Nana tahu satu kenyataan lagi, bahwa di alam semesta ini ada jenis bintang yang tidak memiliki sinar dan hanya memantulkan sinar dari bintang terang lainnya. Nana adalah bintang yang redup itu, dan Chang Wook adalah bintang yang terang—sesuatu yang bernama matahari.

Nana tidak ingin matahari menjauh darinya ataupun dirinya sendiri yang menjauh dari matahari. Menerima pernyataan cinta Chanyeol sama artinya dengan menjauhkan diri dari Chang Wook. Ketika statusnya sudah menjadi pacar seseorang, Nana yakin dirinya tidak akan bisa sebebas dulu berdekatan dengan sahabatnya, terutama dengan Chang Wook. Jadi, hal yang harus dilakukannya saat ini adalah menjaga keeksistensiannya.

Oppa, kau menganggapku sebagai bintang… aku berterima kasih, aku senang. Tapi, Oppa, bagiku Oppa hanya teman yang menyenangkan, kakak senior yang baik. Oppa tanya apa aku bisa menerangimu? Berarti mungkin Oppa  adalah awan di malam atau bumi. Sedangkan yang aku butuhkan adalah… matahari.”

Karena aku tidak akan bersinar tanpa matahari.

*** 

Dunia Jongsuk memang hening—seperti yang dikatakan Nana—dan mungkin membosankan. Tetapi, setiap kali teringat pujian yang Nana lontarkan, rasa percaya diri sekaligus senang muncul di benak Jongsuk. Ia menjadi bersemangat tenggelam dalam keheningan ketika ia melukis. Jongsuk semakin produktif dan kemampuannya dalam menggoreskan cat di atas kanvas semakin meningkat.

Tiba-tiba untuk sekali dalam hidupnya, entah mengapa Jongsuk ingin menujukkan kepada Nana bahwa ia cocok menjadi bulan. Hanya kepada Nana. Ia tidak peduli dirinya seperti apa di dalam mata orang lain. Untuk mewujudkan keinginannya itu, Jongsuk menarik Nana ke halaman belakang rumahnya pada suatu minggu pagi yang cerah. Jongsuk meminta Nana duduk di kursi yang sudah ia persiapkan, duduk tenang tanpa bergerak sementara Jongsuk memainkan kuasnya.

“Jadi ceritanya kau sedang melukisku atau bagaimana ini? Kau melukisku? Ah, tidak aneh, kau kan memang suka melukis. Aku baru akan memujimu hebat kalau kau bisa menyelesaikannya dalam hitungan tidak lebih dari 10 menit.”

“Kubilang diam,” Jongsuk tidak menanggapi panjang, ia masih sibuk berkonsentrasi.

Nana mematuhi titah sahabatnya. Meskipun ia merasa bosan, ia menahannya sampai kemudian Jongsuk beranjak dari ‘kursi kerjanya’. Nana buru-buru menghampiri Jongsuk, tetapi yang menyebalkan justru Jongsuk meneriaki dirinya ketika kakinya baru melangkah dua kali, “Ya! Tetap diam di situ. Kau baru boleh melihat setelah aku menyelesaikan tiga pertanyaanku yang harus kau jawab.”

Pertanyaan? Alis Nana mengernyit. Dan kernyitan tersebut lenyap tergantikan anggukan kepala riang ketika Jongsuk usai melontarkan pertanyaan pertamanya: aku menyelesaikan ini dalam waktu 7 menit. Kalau lukisan ini sungguh mirip denganmu, kau janji menyebutku hebat, kan?”

Jongsuk tersenyum puas melihat anggukan Nana. Baginya tidak ada yang lebih penting daripada dianggap hebat oleh Bintangnya. Butuh perjuangan panjang untuk bisa melukis wajah Nana dalam waktu cepat. Jongsuk berlatih berkali-kali dengan menggunakan foto Nana sebagai contohnya. Baginya, melukis Nana adalah hal yang paling sulit karena setiap bagian dari wajah Nana adalah sebuah keindahan yang tidak boleh terlewatkan.

“Kalau aku sungguhan hebat, kau mau memberiku hadiah apa?”

Apapun yang kau minta. Itu jawaban Nana dan Jongsuk mulai merinding. Ia tidak pernah membayangkan jawaban seperti ini. Awalnya ia bahkan sempat menganggap ini adalah pertanyaan konyol yang hanya akan dijawab Nana dengan tawa keras. Tetapi, apa yang barusan didengarnya? Park Nana tidak mengatakannya dengan nada bercanda dan ini seolah-olah membuka pintu dari sebuah khayalan yang sudah lama ada.

Jongsuk ingin sekali segera mengatakan keinginannya, tetapi ia ragu. Beberapa opsi pilihan berkeliaran dalam ruang otaknya. Kombinasi kata yang mana yang tepat untuk diucapkannya pada situasi seperti ini: 1) Nana-ya, kau mau jadi pacarku? 2) Nana-ya, aku tahu kita masih sekolah, tapi aku sungguhan mencintaimu, maukah kau menjalin komitmen denganku? 3) Na-ya, bolehkah kau merubah ucapanmu? Aku tidak ingin jadi bulan, aku ingin jadi manusia saja, yang kau terangi, yang bisa bebas memandangmu setiap malam.

“Hei, kau melamunkan apa?” Sial, Jongsuk belum menemukan pilihan yang bagus tetapi Nana sudah membuyarkan pikirannya.

“A, a, itu… Nana-ya… bisakah kau putus dengan Chanyeol Sunbae?  

“Huahahahahaha!” Nana terbahak super kencang, ia berlari mendekati Jongsuk dan mencubit pipi pria itu berulang-ulang. “Huahahahahaha! Ya ampun, Jongsuk, aku tidak pernah menyangka kau bisa selucu ini! Sumpah, kau punya bakat terpendam lainnya ternyata.”

Maksudnya? Jadi, dia tidak menerima pernyataan cinta Chanyeol Sunbae? Jongsuk membeku tanpa menepis sedikitpun cubitan Nana. Ini memalukan tetapi melegakan.

“Ya! Lee Jongsuk! Kau ini ada-ada saja. Aku menolaknya, tahu! Siapa yang bilang aku pacaran dengan Chanyeol Oppa?”

“Aaaa, begitu, ya. Syukurlah…”

“Ya, aku juga bersyukur karena berhasil menolaknya.” Nana tertawa sendiri ketika teringat ia sempat terlena dengan kegembiraan sesaat pasca pernyataan cinta Chanyeol. “Bagaimana ceritanya kau mengira aku pacaran dengan Chanyeol Oppa?”

“Chang Wook, dia bilang kau sepertinya naksir Chanyeol Sunbae. Jadi kukira kau memang pacaran dengannya. Saat Chang Wook mengatakannya, kami…,”

Kami sama-sama frustasi sepertinya. Jongsuk tidak sempat mengatakan lanjutan ucapannya karena Nana membungkam mulut Jongsuk dengan tangkai kuas yang ada di palet dekat kanvas.

“Chang Wook yang mengatakannya?”  Nana menunggu jawaban Jongsuk dengan rasa penasaran. Apa yang dilontarkan Jongsuk nanti bisa menjadi tolak ukur bagi Nana. Jongsuk mengangguk dan Nana mendesah pelan namun panjang, “Yah, aku sedikit kecewa karena dia salah menebak, berarti dia tidak menyadari sebuah kenyataan.”

Sebuah kenyataan?

Kenyataan apa yang Nana maksud? Jongsuk mulai berpikir dan ketika ia mulai berpikir, biasanya ia akan menjadi seorang  brilian yang bisa menemukan sesuatu sekalipun itu tersembunyi. Kenyataan apa yang dimaksud Nana sampai gadis itu bisa menolak Park Chanyeol yang luar biasa sempurna? Lalu apakah kenyataan itu ada kaitannya dengan seorang Ji Chang Wook?

Tidak. Jongsuk yakin tebakannya kali ini tidak salah. Park Nana tadi berkata dengan lirih seolah-olah ia baru saja mendapatkan sebuah kesedihan. Jongsuk berharap Nana tidak mengatakannya sekarang. Setidaknya bukan di waktu ketika seharusnya Jongsuklah yang mengakui sebuah kenyataan mengenai perasaannya untuk Nana.

“Ah, kau tidak paham. Sudahlah, lupakan. Sini, kulihat lukisan…” Nana terbelalak melihat gambar yang terbentang di kanvas Jongsuk. Ini benar-benar melampaui ekspektasinya. Sosok dirinya di kanvas itu sama persis dengan keadaannya saat dilukis, tetapi ada satu hal yang membuatnya takjub memandangi lukisan yang di bawahnya dibubuhi tanda tangan si pelukis. “Whoahhhh, ini bagus sekali! Ini seperti aku dalam versi yang lebih cantik berkali-kali lipat dari kenyataannya! Kau memang hebat, Lee Jongsuk!”

Jongsuk mengangguk ala kadarnya. Rasanya, sekarang pujian itu tidak seberapa berarti lagi setelah ia paham bahwa dirinya memang lebih baik tidur saja dan bermimpi indah dalam istirahatnya itu. “Yah, aku hebat, terima kasih.”

“Hei, hei, kenapa kau cemberut? Kau marah karena aku melihat hasilnya sebelum pertanyaan ketigamu kau berikan? Hei, hei, kalau begitu cepat katakan, apa pertanyaan ketigamu?”

“Tidak perlu, kurasa aku sudah tahu jawabannya. Sekarang aku hanya perlu menambahkan beberapa goresan di bagian bawahnya.”

Jongsuk mengambil sebuah lidi yang dari awal sudah dipersiapkannya untuk menggantikan kuas. Dengan bantuan lidi itu ia menuliskan beberapa deret kata yang berhasil membuat Nana memeluknya erat berkali-kali.

“Whoaaaa, Lee Jongsuk! Kau memang sahabatku yang paling memahamiku. Gomapta. Sungguh, kau itu keren sekali!”

***

Matahari.

Jongsuk tidak pernah menyangka kalau Chang Wook bisa menjadi matahari. Seingat Jongsuk, saat pertama kali Chang Wook muncul dalam hidupnya, anak itu bahkan tidak lebih terang dari dirinya. Jongsuk waktu itu bahkan sering meledek Chang Wook sebagai Si Hitam.

Chang Wook dan neneknya pindah ke seberang rumah Jongsuk pada saat Jongsuk berusia empat tahun. Kala itu, Jongsuk dan Nana tengah bermain pasir berdua, kemudian muncul seorang bocah berambut terbakar matahari dan bersorot mata kuyu yang bibirnya melengkung ke bawah. Bocah itu hanya mengintip-intip dari balik pagar kayu taman dan mungkin tidak akan pernah bergabung jika Nana tidak menyapa dan menghampirinya lebih dulu.

Sejujurnya, Jongsuk tidak menyukai Chang Wook pada perjumpaan pertamanya itu, sama halnya seperti ketika Nana pertama kali muncul di depan rumahnya. Jongsuk tidak suka Chang Wook karena anak itu baru saja merebut kawan bermainnya, Nana. Jongsuk cemburu ketika Nana mengambil sekop plastik milik gadis itu dari tangannya dan memberikan benda itu kepada Chang Wook.

Jongsuk pun tidak pernah suka ketika Nana yang biasanya senang bermain salju bersamanya, tiba-tiba lebih memilih bermain ular tangga di depan perapian bersama Chang Wook dan neneknya. Sementara Jongsuk  yang waktu itu belum mengenal huruf dan angka, hanya bisa berlarian pulang ke rumah sambil menangis.

Dan sesungguhnya Jongsuk heran jika ternyata dirinya bisa bersahabat dengan Chang Wook pada saat keduanya menginjak bangku SMP. Mungkin karena Chang Wook adalah satu-satunya siswa di kelas yang tidak tergiur bermain bola bersama Luhan dan yang lainnya serta lebih memilih menemani Jongsuk bermain badminton. Ya, mungkin itulah titik asal yang membuat Jongsuk nyaris selalu menempel dengan Chang Wook—bertiga plus Nana.

Dan ketika Chang Wook memilih menjadi Matahari, Jongsuk baru menyadari bahwa anak itu memang cocok menjadi matahari. Jongsuk teringat beberapa fakta.

Jongsuk yang selalu bersama Chang Wook, awalnya tidak pernah terlalu sadar bahwa kemana pun keduanya melangkah, selalu ada yang menyapa mereka. Seingat Jongsuk, dia bahkan tak kenal dan tidak pernah menyapa duluan orang yang baru saja memanggil namanya dan Chang Wook.

Jongsuk juga tidak tahu sejak kapan dirinya memiliki pesona hingga membuat beberapa gadis menaruh surat kaleng di lokernya –yang kenyataannya hanya ia lihat nama si pengirimnya saja. Seingat Jongsuk, dirinya tidak pernah memiliki kelebihan apapun yang bisa membuatnya populer.

Jongsuk bahkan heran kenapa setiap kali pulang sekolah selalu ada yang menawarkan tumpangan mobil kepadanya, Chang Wook, dan Nana. Seingat Jongsuk, gadis super kaya yang duduk di sebelah supirnya itu bahkan tidak terlalu dekat dengan Jongsuk.

Berkali-kali Jongsuk menganggap itu sebagai keberuntungannya, tidak mau repot-repot memikirkannya lebih lanjut. Akan tetapi, Jongsuk berubah pikiran ketika suatu hari Chang Wook tampil menyanyi di atas panggung pada festival kesenian tahunan yang diadakan sekolah mereka. Saat itu, sekalipun gadis-gadis—yang Jongsuk tahu bahwa nama-nama mereka tertera di surat dalam lokernya—sedang berada di sekelilingnya dalam deretan penonton, mata para gadis itu hanya tertuju pada Chang Wook, begitupun sorakan riuh mereka.

Jongsuk baru menyadari bahwa semua keanehan yang terjadi dalam hidupnya belakangan, bukan disebabkan karena dirinya.

Bukan karena sinar yang ada pada dirinya, melainkan sinar dari seorang Chang Wook.

Chang Wook itu matahari.

Dan itu berarti, Jongsuk adalah bulannya. Jongsuk cocok menjadi bulan, seperti yang pernah Nana bilang. Seketika ia sedih.

Bulan. Malang. Hanya terang karena matahari itu ada.

Jongsuk iri dengan Chang Wook untuk beberapa saat. Tetapi rasa iri itu buru-buru ia tepis ketika mengingat bahwa Chang Wook adalah satu dari dua sahabatnya dan tidak ada hal yang lebih penting dari persahabatan.

Perasaan iri itu kini muncul lagi ketika ia paham bahwa selama ini ia luput memperhatikan sesuatu. Ada cinta untuk Chang Wook yang tertanam di dalam diri Nana. Ada cinta di dalam hubungan persahabatan bisa jadi merupakan sebuah peluang terjadinya petaka. Ya, petaka. Buktinya, sekarang Jongsuk harus susah payah meredam rasa irinya karena Nana yang ia cintai mengatakan secara tersirat bahwa gadis itu mencintai sahabatnya, Ji Chang Wook.

Ada cinta dalam hubungan persahabatan akan sungguhan menjadi petaka jika Jongsuk membiarkan rasa iri itu terus menjalar. Ia tahu itu salah dan tidak boleh dilakukannya. Ia harus mengusir kuat-kuat segala hal yang bisa menjadikan siangnya mendung dan malamnya redup.

Jongsuk cukup berhasil,  ia sukses meneguhkan hatinya ketika ia menuliskan beberapa baris kata sebagai penutup lukisannya:

Untuk Matahari, agar selalu mengingat Bintang.

Meski begitu, Jongsuk tetap tidak bisa mengusir satu pemikirannya. Sekarang, deskripsinya tentang Bulan bertambah.

Bulan. Tak berdaya. Tidak bisa jadi sumber cahaya bagi Bintang.

 

Tamat

 

Klasik? Iya, pffft. Tapi entah kenapa aku pingin nulis ini sejak lama. Dan tulisanku ini benar-benar bisa selesai (meski dengan susah payah) setelah aku menemukan Lee Jongsuk dengan dunia heningnya dan Ji Chang Wook dengan dunia konyolnya.

 

Iklan

      • Aku nggak kenal cast-nya, tapi cerita ini bagus sekali. Jadi mau nangis karena Jongsuk menyadari arti sebenarnya dari matahari, bintang, dan bulan itu. Kebawa aura melankolisnya Jongsuk nih kayaknya.
        Btw, aku baru tahu ada bintang yang mengandalkan sinar dari bintang lainnya.

        • Iya ada mi. Bintang itu ada banyak, dan engga semuanya punya sinar. Sebagian dari bintang itu hanya memantulkan sinar dr matahari. Dan aku jg baru tau dr wiki, kalau matahari itu adalah bintang terbesar yg punya sinar paling terang dan paling deket ke bumi. Setelah baca itu, aku dpt ilham buat bikin ending draft yg udah berbulan2 ada d lepi, wkwkwk

  1. Aw Fla selalu bisa bikin penjelasan yg kece. memang ceritanya klasik tapi penyampaiannya tetep oke. bwahahaha gara2 gila sama JCW dan LJS. tentang LJH nya mana nih?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s