Best Friend

Written by Fla

Lee Jonghyun | Jung Yunji

***

“Jadi kau tidak tahu Jonghyun sudah bertunangan dengan pacarnya?”

Aku menggeleng dan bisa kulihat tatapan aneh yang dilayangkan oleh seorang teman sekolah— namanya Song Ahra—yang tidak sengaja bertemu denganku di coffee shop.

“Kau serius?” Ahra meletakkan cangkir kopinya dan menimbulkan bunyi yang cukup keras untuk dikatakan pelan.

“Sejujurnya aku berimajinasi ini tidak serius. Tapi kenyataannya, ya, aku sedang serius.”

Ahra sedikit tak percaya mendengar responku. Yah, aku paham sebabnya. Karena aku mengaku tidak tahu kabar terhangat mengenai Lee Jonghyun.

Yah, ini mungkin aneh bagi siapapun teman SMA-ku yang mendengar pengakuanku (Uhm, ya, sebenarnya aku hanya punya beberapa teman). Tapi memang, ku tidak tahu-menahu soal hubungan asmara Jonghyun. Bahkan sejujurnya, aku bahkan tidak terlalu mengenal tunangannya. Jonghyun hanya pernah membahasnya dua kali dalam obrolan Kakao kami. Pertama, saat dia merasa ada seorang junior –di tempat kerja paruh waktu—yang menarik perhatiannya. Kedua kalinya, setelah pria itu meminta junior tersebut untuk menjadi kekasihnya. Kalau tidak salah percakapan itu terjadi sekitar dua setengah tahun yang lalu. Setelah itu kami tidak pernah membahas apapun yang berbau kisah percintaan.

“Kau tidak pernah kontak dengan Jonghyun selama kau kuliah di Inggris?” Suara Ahra menyeretku kembali dari lamunan.

Aku buru-buru menggeleng sebagai bentuk bantahan. Tidak, aku bukannya tidak berkomunikasi dengan Jonghyun. Aku melakukannya. Setidaknya selama kurun waktu satu bulan aku mengontaknya dengan mengirimkan foto-foto unik yang tak sengaja kutemukan dalam persinggahanku ke suatu tempat. Dua hari sebelum aku terbang ke Seoul, aku bahkan memberitahunya tentang jadwal kepulanganku.

“Jadi? Kau berkirim pesan dengannya tapi kau tidak tahu. Bagaimana bisa?” Ahra bingung. Saking bingungnya dia sampai sempat menggembungkan pipinya—menahan keberadaan cairan kopi di dalam mulutnya.

Aku mendesah pendek. “Beberapa hari lalu kami chatting, tapi tidak membahas soal asmara sama sekali. Jadi, yah, kau orang pertama yang memberitahuku.”

Aigoo, mungkin Jonghyun terlalu asyik menciptakan lagu untuk dipersembahkan kepada tunangannya itu sampai lupa bercerita padamu.”

Aku mengangguk. Ya, mungkin begitu.

Dalam hal ini aku dan Jonghyun memiliki persamaan, kami sama-sama pelupa. Kadang awalnya aku bermaksud berbagi cerita dengan Jonghyun, tapi kemudian aku terjebak dalam kesibukan dan akhirnya lupa, Jonghyun pun demikian. Aku dan Jonghyun bahkan sama-sama tidak bercerita ketika kami akan menjalani sidang sarjana, tahu-tahu aku memberitahunya tentang kelulusanku, begitupun pada saat ia dinyatakan lulus S1.

“Omong-omong, apa tanggapanmu tentang tunangannya? Hmm, aku pribadi sedikit tidak menyangka Jonghyun memilih seorang yang lebih tua dua tahun darinya untuk menjadi pendamping hidup.”

Aku tersentak, aku hampir saja menyemburkan isi mulutku tapi untungnya sukses kuloloskan ke kerongkongan. Eoh? Apa?

“Dia bertunangan dengan seniornya di kampus.” Ahra memperjelas ucapannya tanpa kuminta.

Aku merasakan sekelilingku tak lagi bergerak dan hanya bibir Ahra yang gerakannya—entah mengapa—terus terulang di bayanganku, dari mulai ucapannya tentang pertunangan Jonghyun sampai perkataannya tentang… senior.

Senior. Kata itu terus menari-nari dalam pikiranku dan seolah ia adalah sesuatu yang hidup dan bisa menjulurkan lidah kepadaku, mengejekku.

“Yah, mereka memang terlihat cocok selama pacaran. Jonghyun cenderung dewasa dan pacarnya itu terkesan masih seperti bocah meskipun usianya lebih tua, jadi bisa dibilang mereka saling melengkapi. Hanya saja, aku heran bagaimana Jonghyun yang biasanya pemilih soal wanita, tiba-tiba mau melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius dengan seorang wanita yang baru dipacarinya selama lima bulan.”

Apa? Kenapa bisa?

Entah berapa banyak kata tanya (dan berapa kali ulangannya) yang terucap dalam pikiranku. Aku mendapati sejenis rasa kebingungan bercampur kaget yang dibumbui dengan sebersit perasaan kecewa.

Ternyata aku tidak hanya tak tahu tentang pertunangannya. Aku bahkan tidak tahu siapa wanita yang beruntung itu. Tapi hal yang sebenarnya paling membuat hatiku mencelos adalah, aku tidak pernah tahu kapan Jonghyun putus dengan juniornya di tempat kerja dan kemudian menjalin hubungan dengan wanita baru—seniornya di kampus.

Mendadak aku merasa diriku ini adalah makhluk yang sangat terisolasi sampai tidak tahu berita dan parahnya, ini tentang satu-satunya sahabatku di SMA. Tubuhku seakan menciut dan aku mulai melihat orang-orang serta benda-benda di sekelilingku membesar dan jumlahnya semakin banyak sehingga aku tidak bisa melihat lagi apapun yang berada di balik orang yang duduk di depanku—Song Ahra. Diriku seolah ini teramat kecil dan tidak tahu apapun. Aku menjadi sedih karenanya.

Beberapa waktu kemudian muncul pertanyaan yang tak berhasil aku putuskan jawabannya meskipun aku sudah mengambil waktu tiga menit untuk memikirkannya selama Ahra membeberkan lebih lanjut tentang wanita itu.

Apakah memang salahku tidak pernah bertanya? Atau Jonghyun memang tidak berniat menceritakannya padaku?

Kalau ternyata opsi kedua yang benar, menelan ludah saja tidak cukup untuk mewakili goresan emosiku.

Yah, bagaimanapun hubunganku dan Lee Jonghyun terbilang lebih dari teman. Jonghyun adalah temanku melewati tahun pertama di bangku SMA, yang ketika itu aku adalah siswa baru dari kota kecil dan tak punya seorang pun teman di Seoul maupun di kelasku. Aku masih ingat betul dia adalah orang pertama yang mengajakku duduk bersamanya di kantin sekolah dan kemudian ia menanyakan banyak hal tentang kota asalku dan perjalanan sekolahku di jenjang sebelumnya.

Jonghyun adalah teman yang selalu mengantarku pulang setiap hari dan di antara perjalanan pulang itu, dia sering mentraktirku makanan favoritnya—Udon—di sebuah restoran Jepang tidak terkenal. Aku pun selalu ingat bagaimana mulutnya yang masih penuh dengan mie tebal itu sibuk bercerita tentang masa kecilnya yang ia lalui di Jepang, tentang ia yang semasa SMP sempat mengikuti kejuaraan Judo dan meraih peringkat pertama, tentang ia yang mendadak kaget ketika harus beradaptasi dengan pergaulan ala anak Korea, tentang ia yang kemudian memutuskan untuk menekuni dunia musik—berubah haluan dari dunia keatlitannya.

Jonghyun adalah teman melewati sore setiap kali ujian menjelang, kami melewati waktu dan ruang bersama untuk belajar meskipun pada kenyataannya kami asyik belajar masing-masing. Jonghyun belajar dengan mengenakan headphone-nya yang kemudian kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama lagu. Sedangkan aku dengan pensilku, merangkum materi pelajaran agar bisa kuingat dengan baik.

Jonghyun adalah seorang teman, yang ketika bersamanya aku tak perlu menjadi siapapun selain diriku. Jonghyun adalah orang yang ketika bersamanya, aku tidak mengingat lagi pem-bully-an macam apa yang kuterima selama aku duduk di bangku SMA. Ia selalu mengisi waktu kosongku –yang sebelumnya sering kupakai untuk merenungi nasib—dengan mengajak berbincang seputar berita politik terbaru, perkembangan sains medis terupdate, atau bahkan berita tentang pemain sepak bola Korea yang berkarir di Liga Eropa.

Masih banyak lagi hal-hal yang kulakukan bersama Jonghyun, mungkin butuh ratusan halaman untuk menuliskannya dalam lembaran kertas. Singkatnya aku yang duduk di bangku SMA kala itu, pernah menuliskan di buku harianku bahwa Lee Jonghyun adalah sahabat pertamaku di bangku SMA dan sahabatku selamanya.

Jonghyun sahabatku selamanya, tadinya aku meyakini hal itu. Tetapi detik ini ada keraguan hebat tentang hubunganku dan Lee Jonghyun.

Apa dia masih sahabatku? Ah, bukan pertanyaan yang tepat. Tentu saja aku akan selalu menganggapnya sahabatku. Aku seharusnya mempertanyakan ‘Apa seorang Lee Jonghyun masih menganggapku sebagai sahabatnya?’.

Kuteguk cairan kopi hitam pekat dari cangkirku dan aku berpura-pura meringis akibat rasa pahitnya itu. Hal tersebut merupakan satu-satunya yang bisa kulakukan untuk menutupi keterkejutanku sekaligus perasaan kecewa yang perlahan menyeruak memenuhi ruang hatiku.

Aku tidak paham lagi hal apa saja yang sedang diceritakan Ahra. Aku hanya tahu Ahra berkali-kali menyebut-nyebut nama Jonghyun. Nama kepunyaan sesosok pria yang mulai detik ini terasa sangat asing bagiku.

***

Aku dan Jonghyun adalah dua orang yang bersahabat.

Pernyataan itu yang sedang berusaha aku tanamkan dalam otakku selama aku duduk di meja makan sembari menunggu kakak laki-lakiku selesai mandi. Ya, aku masih mau yakin kalau Jonghyun juga menganggapku sebagai sahabatnya. Satu-satunya alasanku adalah, aku teringat pada hadiah perpisahan yang diberikan oleh Jonghyun sebelum aku berangkat ke London.

Pria itu memberiku sebuah buku tulis. Sepintas, itu hanya buku tulis bergaris biasa yang digunakan para siswa untuk mencatat materi. Tetapi, yang Jonghyun tuliskan itu membuatku terkesan.

Pada umumnya, seseorang akan menuliskan berpuluh-puluh pesan untuk sahabatnya, atau sebagian yang lain menuliskan doa panjang lebar untuk sahabatnya itu. Jonghyun tidak. Anak itu merangkai ribuan kata dan membagi-baginya dalam paragraf. Setiap paragraf memiliki satu topik, yakni keunggulan yang ada dalam diriku dari sudut pandang Lee Jonghyun. Di halaman terakhir ia menutupnya tiga  kalimat yang membuatku terharu berhari-hari bahkan setiap kali aku mengingatnya. Ia menulis: Kau punya banyak keistimewaan. Tapi kau tidak pernah sadar. Atau membatasi diri untuk sadar.

Ya, ia menuliskan sekian banyak kelebihanku sementara aku sebelumnya yakin bahwa aku tidak punya keunggulan apapun. Jadi kurasa, Jonghyun memang memposisikan aku sebagai sahabatnya. Kalau tidak, mana mungkin ia tahu banyak hal dibandingkan aku sendiri.

Aku dan Jonghyun bersahabat.

Hanya saja banyak hal-hal yang tertunda untuk diceritakan karena manusia memang tempatnya lupa. Atau memang tidak ingin diceritakan, karena bagaimanapun manusia adalah suatu individu terlepas dari jati dirinya sebagai makhluk sosial. Individu tetap punya dunianya masing-masing yang tidak ingin dicampuri oleh orang lain.

Tidak, ada yang salah. Tidak ingin diceritakan atau tidak boleh dicampuri berarti sama dengan disimpan sebagai rahasia dan bersifat pribadi. Apa masih bisa disebut persahabatan jika di dalamnya banyak sekali rahasia?

Aku menjadi bingung sendiri dengan teori-teoriku. Dan aku bisa kesal sendiri kalau terus memikirkannya. Alhasil aku menahan kakakku–Jung Yonghwa—yang baru selesai mandi dan memintanya duduk di depanku. Aku butuh seseorang berbagi sudut pandangnya.

Oppa, kau masih ingat Lee Jonghyun?”

Kakakku berpikir sebentar lalu mengangguk. “Teman yang mengantarmu pulang dari sekolah dengan motor skuternya itu? Omong-omong, bagaimana kabarnya?”

“Ya, dia, Jonghyun yang itu. Dan, eum, sejujurnya aku tidak tahu bagaimana kabarnya.”

Itu sebenarnya bohong. Beberapa hari yang lalu Jonghyun menjawab pesanku dan mengatakan ia dalam keadaan baik. Hanya saja, aku memilih untuk mengaku tak tahu karena khawatir kakakku bertanya lebih lanjut mengenai banyak hal seperti : apa Jonghyun masih memelihara motor skuternya? Apa pekerjaan Jonghyun sekarang? Apa Jonghyun masih sering mengenakan headphone? Bagaimana penampakan Jonghyun sekarang—apakah rambutnya masih gondrong? Bagaimana hubungan asmaranya? Dia punya rencana menikah kapan?

“Oh. Yah, wajar. Kalian sudah lama terpisah negara.”

“Menurutmu wajar kalau aku tidak tahu keadaan teman dekatku sendiri?” Aku sedikit penasaran karena sepertinya kakakku tidak merasa ada yang janggal karena aku mengaku tidak tahu-menahu tentang Jonghyun.

Ia mengangguk lagi, kali ini disusul dengan kekehannya. “Aku juga tidak tahu kabar teman dekatku di kantorku yang lama.”

Aku heran kenapa ia mengatakannya tanpa sedikitpun terdapat rasa sedih atau menyesal di dalam ekspresi wajahnya. Apa memang karena ia pria, yang notabene jauh lebih cuek daripada wanita?

“Kita bukan Google yang dituntut untuk serba tahu.”

Yah, aku membenarkan, tetapi dilanjutkan dengan bantahan, bahwa kita memang bukan mesin google yang harus tahu banyak hal, tetapi setidaknya kita harus tahu mengenai hal-hal paling penting di dunia ini, salah satunya adalah kabar sahabat kita. Kakakku tertawa ringan menyimak celotehanku dan menarik bangkunya mendekatiku.

“Kita ini manusia,” ucapnya dengan nada yang menyiratkan bahwa kalimatnya masih punya lanjutan.

Aku mengangguk. Kita manusia dan kita punya sahabat yang harus kita pedulikan, jawabku dalam hati.

“Manusia pada dasarnya hanya ingin tahu atau peduli di saat hal itu bermanfaat bagi dirinya. Aku tidak rugi karena tidak tahu kabar teman lamaku.”

“Sekalipun itu tentang sahabatmu?”

Kakakku mengangguk mantap, “Begini. Justru karena tentang sahabatmu, kau tidak perlu merasa terlalu aneh kalau dia tidak memberimu kabar. Artinya dia baik-baik saja.”

Aku tidak terlalu memahami penjelasan kakakku, mungkin saat ini tampangku kelihatan sangat tolol sehingga kakakku terkekeh lama sekali sebelum melanjutkan penjelasannya dengan kalimat yang membuatku ingin tersenyum miris (antara separuh membenarkan dan separuh menolak argumennya),

“Kalau dia sedang tidak baik-baik saja, dia pasti akan mencarimu untuk minta tolong, karena kau ‘kan sahabatnya.”

***

Meskipun Yonghwa sudah panjang lebar berceloteh, aku tetap merasa diriku sangat bodoh sekaligus sedih karena Jonghyun tidak juga bercerita padaku, anak itu juga tidak mengajakku bertemu padahal aku baru saja pulang dari tempat yang jauh dan kami sudah lama tidak bertemu.

Apa benar Jonghyun sekarang hanya menganggapku sebagai ‘teman biasa’?

Untuk yang ke-10 kalinya menghampiriku pada hari Minggu ini.

Ketika aku terbangun dan sedang memikirkan sumber yang bisa memberiku informasi lowongan kerja, aku langsung teringat Jonghyun (Ya, di Korea siapa lagi orang yang paling dekat denganku?). Teringat Jonghyun sama saja dengan teringat pertanyaan tadi.

Aku mandi, ingat pesan Jonghyun bahwa sebaiknya aku tidak mandi sambil melamun. Ingat pesannya, jadi ingat si pemberi pesan, dan akhirnya aku justru melamunkan tentangnya dan pertanyaan itu.

Aku makan kentang goreng untuk sarapan, jadi terpikir mengenai isi artikel yang mengatakan bahwa kentang sebaiknya tidak digoreng, terutama pakai minyak goreng biasa. Dan orang yang memberitahuku tentang artikel itu adalah Jonghyun. Ah, aku jadi ingat lagi.

Jadi setelah makan aku sengaja melakukan aktivitas yang tidak memberiku peluang untuk melamun dan teringat ‘hantu’ itu. Aku memutuskan untuk membuka situs penyedia informasi lowongan kerja.

Beberapa menit aku sukses tenggelam, mencatat semua syarat dari lowongan yang sesuai dengan kriteriaku dan bisa kupenuhi persyaratannya. Tapi konsentrasiku bubar semua ketika aku melihat lowongan dari sebuah perusahaan pemilih merek Jewerly, aku jadi ingat cincin pertunangan dan ingat sebuah pertanyaan yang berhubungan dengan Jonghyun tadi lagi.

Aish, otakku bisa sinting kalau tidak segera mendapatkan kejelasan dari mulut Jonghyun sendiri. Yah, anggaplah aku berlebihan. Tapi bagiku selama beberapa tahun belakangan, Jonghyun adalah orang yang paling penting setelah keluargaku. Jadi aku tidak bisa berhenti memikirkan seandainya Jonghyun pada kenyataannya sudah tidak menganggapku sebagai sahabatnya lagi. Hal tersebut membuahku sedih seakan-akan aku baru saja kehilangan bendaku yang paling berharga. Ah, salah, ini Jonghyun. Bukan lagi benda, tapi melebihi benda.

Sempat muncul keinginan untuk menelepon Jonghyun. Tapi apa yang akan kukatakan nanti? Haruskah aku tiba-tiba bertanya: Jonghyun-ah, apa betul kau sudah bertunangan? 2) Kenapa kau tidak cerita padaku? 3) Bagaimana tentang wanita yang jadi tunanganmu itu?

Sepertinya itu bukan pertanyaan yang bagus karena orang sesimpel Jonghyun sepertinya akan menjawab seperti ini: Iya betul. Tidak apa-apa. Oh, ya… dia wanita yang baik, pintar, dan cantik.

Jadi, ya… mungkin aku dulu yang mengajaknya bertemu dan kemudian aku harus bertanya dengan kalimat lain dan mengamati ekspresinya nanti, kemudian melontarkan respon yang bisa mengarahkannya pada jawaban yang ingin kuketahui.

***

Tadinya aku berencana menelepon Jonghyun untuk mengajak bertemu. Tapi, entah nasib baikku atau bagaimana, anak ini tiba-tiba menekan bel dan sudah ada di depan pintu rumahku. Soreitu dia datang dengan mengenakan kemeja dan celana ala orang kantoran.  Aku tidak paham mengapa dia masih juga masuk kerja padahal ini hari minggu, tapi bukan itu hal yang paling pertama ingin kutanyakan padanya.

Annyeong!” Jonghyun menyapaku dengan agak kikuk lantaran aku langsung menampakkan ekspresi wajah berpikir. Pria itu mengibaskan telapak tangannya ke hadapan wajahku, “Boleh aku masuk?”

“Oh, ya ampun. Boleh, tentu saja boleh.” Aku buru-buru menarik bajunya pada bagian dekat tangan dan kami pun berakhir dengan duduk berhadapan di ruan tamu.

“Kau kenapa bengong? Seperti melihat hantu saja.”

Aku menggeleng dan Jonghyun lalu bertanya satu hal dari beberapa hal yang ingin kutanyakan, “Yunji-ya, kau tidak tanya kenapa aku datang kemari?”

Kugelengkan kepalaku, “Mungkin kau rindu,” dan kemudian terbahak karena geli dengan ucapanku sendiri. Jonghyun ikut tertawa. Mungkin ini tidak aneh bagi orang lain. Tapi sepanjang kami berteman, memang tidak ada sekalipun kami bercakap-cakap dengan melontarkan kata ‘rindu’.

“Hei, hei, kau tahu? Kukira kata ‘rindu’ itu sangat sakral, tapi akhirnya kau mengucapkannya juga,” ledeknya sambil berusaha menahan tawanya yang semakin mengeras

“Ya, ya,ya! Aku memang mengucapkannya, tapi bukan aku yang rindu kau, melainkan sebaliknya.”

“Oh, oh, baiklah. Kita sama-sama mengakui saja kalau saling rindu.” Ia mengambil jalan tengah dan aku sama sekali tidak bisa membantahnya. Faktanya aku memang rindu dengan sahabatku ini. Sudah lama sekali kami tidak mengobrol langsung seperti ini.

“Jadi, kenapa kau ke sini?”

Ingin menculikku, itu jawabannya. Jonghyun ingin mengajakku berkuliner ria karena menurutnya aku pasti rindu masakan Korea. Tapi konyolnya, yang pertama dia rencanakan adalah mampir ke warung yang menjual udon, tempat kami biasa makan semasa SMA. Bagaimana aku tidak tergelak, ha!

Tunggu, makan bersama? Eum, ini kesempatan yang bagus untuk memancing. “Jonghyun-ah, pacarmu tidak akan marah kalau kita makan bersama?”

“Siapa yang bilang aku punya pacar?”

“Jadi kau tidak punya?”

“Tidak. Aku hanya punya satu tunangan.”

Plak!

Bermain kata dengan Jonghyun sangat menyebalkan, aku tanpa sadar memukul kepalanya, “Sama saja, Bodoh!”

Ia tidak marah, justru terkikik. “Beda, menurutku,” kilahnya.

“Yah, terserah kau saja. Jonghyun-ah, kau tidak mau bercerita sesuatu padaku?”

“Tentang?”

“Apapun.”

“Misalnya?”

“Tentang tunangan.”

“Kan tadi sudah kubilang aku punya tunangan.”

“Kau tidak mau bilang kenapa baru cerita tentang tunangan atau dengan orang seperti apa kau bertunangan?”

Jonghyun menggeleng dan aku kehilangan kata. Kami sama-sama diam untuk beberapa saat. Aku tidak tahu apa yang Jonghyun pikirkan, tapi sejujurnya aku mulai tidak sabar ingin bertanya secara langsung. Masalahnya, terlalu konyol kalau aku bertanya ‘Apa kau masih menganggapku sebagai sahabatmu?’ karena faktanya ia hari ini datang mengunjungiku hanya untuk mengajakku pergi makan. Dan fakta bahwa ia mengajakku pergi makan Udon membuatku berpikir bahwa aku masih sahabatnya dan dia masih ingat sebuah rutinitas yang pernah ada dalam kisah persahabatan kami.

“Aku tidak suka bercerita tentang hal yang belum pasti,” akunya kemudian. “Baru bertunangan berarti belum fix akan menikah, banyak hal-hal yang bisa membuatnya batal.”

Kalau dipikir-pikir ada benarnya. Aku juga tipe yang seperti itu. Faktanya aku juga baru mengabari tentang kepulanganku setelah pasti mendapatkan tanggal dan juga tiket pesawatnya. Tapi ini pertunangan, sesuatu yang lebih penting untuk dibagi dengan seorang sahabat. Jangankan sahabat, orang-orang pun sering berbagi kisah pertunangan di sosial medianya, lantas memajang foto cincin tunangan dan berfoto dengan orang yang memberi/diberi cincin tersebut. Padahal toh mereka semua tahu kalau pertunangan bisa jadi hanya awal dari gerbang pernikahan.

“Tidak ada salahnya kau cerita padaku, ‘kan?” Aku melanjutkan ketidakpuasanku dengan bertanya iseng.

“Memang tidak salah, sih. Tapi, cerita hal yang tidak pasti sama saja dengan bercerita tentang sesuatu yang kurang penting. Kurasa aku tidak harus bercerita tentang hal-hal yang kurang penting padamu.”

Aku cukup terpaku mendengar ucapannya. Sekilas Jonghyun mengatakan bahwa ia tidak akan menceritakan semua atau sebagian kisah hidupnya padaku. Sesuatu yang sangat berkebalikan dengan prinsip yang ada dalam sebuah persahabatan: sahabat tahu segalanya tentang sahabatnya.

Namun, kata-kata tadi terlontar dari mulut seorang Lee Jonghyun. Seseorang yang jarang berucap panjang tapi ia selalu punya maksud kalimat yang menyentuh ataupun menusuk. Jadi, aku bisa menangkap betul apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan. Dia tidak ingin menceritakan hal-hal yang kurang penting padaku karena… aku orang yang sangat penting baginya, jadi aku hanya mendengar hal-hal yang sangat penting saja darinya. Omo, rasanya pipiku sedikit memanas.

Senyumku mengembang, “Ohoo, Lee Jonghyun, kau orang yang paling keren di dunia ini!”

Entah Jonghyun paham atau tidak alasanku memujinya, tapi ia tertawa sambil melemparkan sebuah kunci padaku, “Jadi terima ajakanku, ‘kan?”

“O, oke. Hei, kau belum jawab pertanyaanku sebelumnya. Nanti tunanganmu marah tidak kalau kau memboncengku?”

Jonghyun memukul kepalaku, “Bodoh, itulah sebabnya kuberikan kunci motor skuterku. Kau yang nyetir, jadi aku tidak membonceng siapapun.”

Ooooow, Lee Jonghyun… kau sungguh pandai berkata-kata! Aku fans mulutmu!

Aku tersenyum sangat lebar dan nyaris terkikik karenanya, tidak berhenti sampai dia menarik bajuku. “Ya, ya, Jonghyun-ah, tapi bagaimana kalau dia marah karena kau mengajakku pergi makan?”

Jonghyun tidak menjawabku, ia terus berjalan ke pekarangan rumahku dan memaksaku duduk di depan serta memakaikan helm ke kepalaku dengan kilat. Dia menarik hidungku dengan keras seraya berkata, “Tidak akan terjadi. Dan kalau sampai terjadi, berarti dia bukan lagi tunanganku karena dia tidak mau menerima sahabatku.”

Ohoooooo, Yonghwa Oppa… sekarang aku sudah mendengar sendiri jawaban dari satu pertanyaan yang menghantuiku belakangan ini serta jawaban atas beberapa pertanyaanku yang lain. Aku juga sekarang bisa memberimu jawaban kalau kau bertanya. Ya, Jonghyun masih memakai motor skuter kunonya ini.

End

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s